Air Mata Palsu

​Dokter melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan dan raut wajah yang sengaja dibuat berat. Di tangannya, ia menggenggam papan rekam medis yang baru saja dimanipulasi secara rahasia—seseorang wanita muda di dalam sana telah menukar kebenarannya dengan sebuah kebohongan besar demi menyingkap kebusukan dua orang paling ia sayangi. Suasana koridor rumah sakit yang berbau karbol dingin itu seketika menegang saat derap langkah sang dokter terhenti di hadapan dua orang yang sejak tadi menunggu dengan gelisah.

​Melihat pintu ruang rawat terbuka, Zidan dan Zahra langsung bangkit dari kursi tunggu stainless steel. Wajah mereka secara instan bertransformasi, memasang raut kecemasan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata publik. Dengan nada suara yang ditahan dan sedikit bergetar, sang dokter mulai menyampaikan vonis medis yang telah disepakati bersama Amanda. Ia menjelaskan bahwa benturan hebat pada bagian tengkorak belakang tidak hanya merusak saraf penglihatan Amanda hingga menyebabkan kebutaan permanen, tetapi juga memicu trauma selebral yang berakibat pada amnesia sementara. Sang dokter menegaskan bahwa Amanda kehilangan ingatan mengenai peristiwa-peristiwa penting dalam beberapa bulan terakhir, termasuk memori spesifik yang terjadi tepat sebelum kecelakaan maut itu menghantamnya.

​Seketika itu juga, panggung sandiwara di koridor rumah sakit mencapai puncaknya. Zidan langsung meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi sembari mengeluarkan suara isakan pelan yang terdengar begitu hancur. Ia berakting seolah dunia di sekitarnya baru saja runtuh mendengar kemalangan yang menimpa istri tercintanya. Di sampingnya, Zahra memegangi dadanya sendiri, menutup mulut dengan jemarinya yang gemetar sembari meneteskan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Bagi siapa saja yang melintas di koridor tersebut, Zahra tampak seperti seorang sahabat sejati yang hatinya hancur berkeping-keping melihat penderitaan Amanda.

​Namun, drama penuh kedukaan itu tidak bertahan lama. Begitu sang dokter menyampaikan salam empati dan berbalik memunggungi mereka untuk berjalan menjauh menelusuri koridor, topeng penderitaan itu perlahan terlepas. Di balik telapak tangan yang masih menutupi bagian bawah wajahnya, Zidan perlahan menurunkan jemarinya. Isakan tangisnya mendadak berhenti total. Ia menoleh ke arah Zahra, dan pada detik itulah tatapan mata mereka saling mengunci di tengah kesunyian lorong rumah sakit.

​Tidak ada lagi raut kepedihan, kecemasan, atau rasa guilty di antara mereka. Iris mata kedua orang itu justru berkilat memancarkan kepuasan dan kebahagiaan yang amat pekat. Senyum tipis yang sarat akan kemenangan perlahan terukir di sudut bibir Zidan. Zahra, yang tadinya menyapu air mata dengan tisu, kini menarik napas lega seraya membalas senyuman itu dengan tatapan penuh arti. Bagi mereka berdua, vonis medis yang baru saja diucapkan oleh dokter tidak kurang dari sebuah keajaiban yang melengkapi rencana tersembunyi mereka.

​Kebutaan fisik yang dialami Amanda berarti wanita itu tidak akan pernah lagi bisa mengawasi gerak-gerik mereka, tidak akan bisa membaca isi pesan di telepon genggam, dan tidak akan bisa melihat tatapan terlarang yang mereka bagikan di dalam rumah. Ditambah lagi dengan kondisi amnesia sementara, Zidan dan Zahra merasa berada di atas angin. Mereka yakin sepenuhnya bahwa alasan sebenarnya di balik kecelakaan tragis itu telah terkubur rapat di dalam ingatan Amanda yang terhapus. Rahasia perselingkuhan yang mereka rajut sejak awal pernikahan kini terasa benar-benar aman dari ancaman pembongkaran.

​Di dalam ruang perawatan, Amanda terbaring kaku di atas ranjang dengan perban yang melingkari sebagian kepalanya. Suasana ruangan yang hening membuat pendengarannya yang kini sengaja dipertajam menjadi jauh lebih peka. Amanda mendengarkan setiap ketukan langkah, setiap bisikan pelan, dan perubahan ritme napas dari dua orang yang berdiri tepat di luar pintunya. Ia tahu pasti, di balik tawa dan bisikan lega yang nyaris tak terdengar dari koridor, Zidan dan Zahra sedang merayakan kelumpuhan hidupnya.

​Perlahan, Zidan merangkul pundak Zahra dengan erat, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya—bukan sebagai bentuk saling menguatkan di tengah duka cita, melainkan sebagai selebrasi atas kebebasan terlarang yang baru saja mereka dapatkan. Mereka menyandarkan harapan di atas kebohongan yang mereka anggap nyata. Tanpa mereka sadari, dari balik kegelapan buatan dan mata yang terpejam di dalam kamar rawat, Amanda sedang menyusun jaring penjerat. Kebutaannya adalah senjata, dan amnesianya adalah umpan paling mematikan untuk menyaksikan setiap detik kebusukan mereka hingga saat pembalasan itu tiba.

Terpopuler

Comments

Ade Chubi

Ade Chubi

cerita nya bagus menguras emosi

2026-08-13

0

Ryuu

Ryuu

oh iya kue jatuh depan kamar

2026-08-13

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan Dan Duri Dalam Selimut
2 Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan
3 Air Mata Palsu
4 Langkah Pertama Diatas Duri
5 Jeritan Yang Terbungkus Rencana
6 Sinyal Dalam Kegelapan
7 Mata-mata tersembunyi
8 Sentuhan Hangat Ditengah Badai
9 Umpan Yang Terpasang Lengkap
10 Kepekaan Yang Tak Pernah Dimiliki
11 Rutinitas Dalam Diam
12 Alasan Murahan
13 Perangkap Ruang Tamu
14 Janji Dibawah Kegelapan
15 Topeng Yang Lepas
16 Terbongkarnya Kebutaan Palsu
17 Penolakan Tanpa Ampun
18 Rumah Untuk Berlabuh
19 Retaknya Musuh Bersama
20 Menuju Medan Pertempuran
21 Kehancuran Tanpa Sisa
22 Pelukan Hangat Diambang Pintu
23 Rahasia Dibawah Langit Malam
24 Percakapan Di Sepertiga Malam
25 Dermaga Perasaan
26 Kedamaian Yang Dinanti
27 Diabawah Ketukan Palu Hakim
28 Keputusasaan Zidan
29 Gema Ketukan Palu Untuk Zahra
30 Kehangatan Sebuah Rumah
31 Keputusan Menutup Lembaran Baru
32 Perpisahan Yang Dewasa
33 Langkah Pertama Menuju Lembaran Baru
34 Penyesalan Di Sel Yang Berbeda
35 Aroma Masakan Dan Rumah Baru
36 Ucapan Dari Kedalaman Hati
37 Langkah Awal Meniti Karier
38 Batas Profesional Dan Hari Pertama
39 Wibawa Dan Perintah Yang Tak Tertolak
40 Pengakuan Dan Batas Waktu
41 Kepedulian Yang Hangat
42 Kehangatan Di depan Pintu Rumah
43 Pertanyaan Sang Ibu
44 Ketenangan Dibawah Langit Sore
45 Secangkir Kopi Dan Kehangatan Malam
46 Kesadaran Dan Rasa Sakit Yang Tertahan
47 Senyuman Dibalik Kebahagiaan
48 Rumah untuk Hati yang Pulih
Episodes

Updated 48 Episodes

1
Pernikahan Dan Duri Dalam Selimut
2
Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan
3
Air Mata Palsu
4
Langkah Pertama Diatas Duri
5
Jeritan Yang Terbungkus Rencana
6
Sinyal Dalam Kegelapan
7
Mata-mata tersembunyi
8
Sentuhan Hangat Ditengah Badai
9
Umpan Yang Terpasang Lengkap
10
Kepekaan Yang Tak Pernah Dimiliki
11
Rutinitas Dalam Diam
12
Alasan Murahan
13
Perangkap Ruang Tamu
14
Janji Dibawah Kegelapan
15
Topeng Yang Lepas
16
Terbongkarnya Kebutaan Palsu
17
Penolakan Tanpa Ampun
18
Rumah Untuk Berlabuh
19
Retaknya Musuh Bersama
20
Menuju Medan Pertempuran
21
Kehancuran Tanpa Sisa
22
Pelukan Hangat Diambang Pintu
23
Rahasia Dibawah Langit Malam
24
Percakapan Di Sepertiga Malam
25
Dermaga Perasaan
26
Kedamaian Yang Dinanti
27
Diabawah Ketukan Palu Hakim
28
Keputusasaan Zidan
29
Gema Ketukan Palu Untuk Zahra
30
Kehangatan Sebuah Rumah
31
Keputusan Menutup Lembaran Baru
32
Perpisahan Yang Dewasa
33
Langkah Pertama Menuju Lembaran Baru
34
Penyesalan Di Sel Yang Berbeda
35
Aroma Masakan Dan Rumah Baru
36
Ucapan Dari Kedalaman Hati
37
Langkah Awal Meniti Karier
38
Batas Profesional Dan Hari Pertama
39
Wibawa Dan Perintah Yang Tak Tertolak
40
Pengakuan Dan Batas Waktu
41
Kepedulian Yang Hangat
42
Kehangatan Di depan Pintu Rumah
43
Pertanyaan Sang Ibu
44
Ketenangan Dibawah Langit Sore
45
Secangkir Kopi Dan Kehangatan Malam
46
Kesadaran Dan Rasa Sakit Yang Tertahan
47
Senyuman Dibalik Kebahagiaan
48
Rumah untuk Hati yang Pulih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!