Jeritan Yang Terbungkus Rencana

​Malam mulai melingkupi rumah dengan keheningan yang mencekam. Suasana kamar utama terasa begitu dingin, hanya dihiasi deru pendingin udara dan temaram lampu tidur di sudut ruangan. Amanda terbaring kaku di atas kasur empuknya, menyandarkan tubuh dengan posisi telentang sembari berpura-pura terlelap dalam keletihan. Di balik selimut tebal yang menutup hingga dada, setiap indranya diasah tajam. Kacamata hitam yang tadi siang ia kenakan kini sudah dilepas, namun ia tetap mempertahankan kelopak matanya tertutup rapat, memberikan kesan sempurna bahwa ia adalah seorang pasien yang sedang tertidur lelap akibat efek obat-obatan.

​Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, suara derap langkah pelan terdengar mendekat. Zahra melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, dihantarkan oleh Zidan yang berjalan tepat di belakangnya. Zahra berhenti di samping ranjang, menatap tubuh Amanda yang tak bergerak dengan ulasan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Dengan suara yang direndahkan serendah mungkin agar tak memicu kebisingan, Zahra berbisik pura-pura pamit. "Amanda... aku pulang dulu ya. Kamu istirahat yang nyenyak. Besok aku akan datang lagi untuk menjagamu," ucapnya lembut, mengusap pelan dahi Amanda dengan jemarinya yang dingin. Amanda tidak bergerak sedikit pun, hanya mengatur napasnya agar tetap stabil layaknya orang yang tenggelam dalam tidur nyenyak.

​Merasa situasi benar-benar aman dan Amanda telah terbuai di alam mimpi, Zidan menuntun Zahra keluar menuju ambang pintu kamar. Namun, tepat sebelum Zahra melangkah melewati pintu, Zidan meraih pinggang wanita itu dan menariknya mendekat. Tanpa ragu sedikit pun, di hadapan sosok istri yang mereka anggap buta dan amnesia itu, Zidan mendaratkan ciuman lembut di bibir Zahra. Momen itu berlangsung hening tanpa suara sedikit pun, sebuah gestur terlarang yang dipenuhi gairah dan keberanian liar karena mereka yakin tak ada mata yang melihat. Zahra membalas kecupan itu dengan usapan pelan di dada Zidan sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di kegelapan koridor.

​Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pada detik yang sama ketika bibir mereka bertaut, Amanda sengaja membuka sedikit kelopak matanya dari balik remang cahaya kamar. Dari celah tipis itu, mata tajam Amanda menyaksikan dengan sangat jelas adegan menjijikkan tersebut. Rasa mual yang teramat sangat bergejolak hebat di dalam perutnya, dan gelombang jijik yang mendalam menusuk-nusuk dadanya. Mengabaikan amarah yang membakar jiwa, Amanda segera memejamkan matanya kembali erat-erat. Ia meremas jemarinya di bawah selimut hingga kukunya memutih, menahan gejolak emosi agar tidak merusak sandiwara besarnya. Di dalam kegelapan hatinya, sumpah pembalasan dendam itu kini terpatri makin dalam dan makin mematikan.

​Dada Amanda bergemuruh hebat seolah ingin meledak di tempat. Tenggorokannya terasa tercekat, menahan rasa sakit yang teramat sangat dan gejolak emosi yang membakar seluruh tubuhnya. Dalam kegelapan kamar itu, Amanda meremas sprei dengan jemarinya hingga memutih. Keinginan untuk melompat dari kasur, mencakar wajah kedua pengkhianat itu, dan menjerit setinggi langit membumbung tinggi sampai ke batas ketahanannya. Rasa mual atas ciuman manis namun beracun yang baru saja disaksikannya tepat di depan mata hampir saja meruntuhkan pertahanan dirinya.

​Namun, di tengah badai amarah yang nyaris membakar habis kesadarannya, dinginnya akal sehat Amanda perlahan menariknya kembali. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, membiarkan gejolak panas di dadanya mereda menjadi kepalan tekad yang membeku. Ini baru awal. Jika ia berteriak dan membongkar kepura-puraannya malam ini, Zidan dan Zahra hanya akan mencari alasan, merasa bersalah sejenak, atau bahkan berniat menyingkirkannya dengan cara lain. Meluapkan emosi sekarang hanya akan memberikan mereka jalan keluar yang terlalu mudah, sementara rasa sakit yang ditanamkan kedua orang itu dalam hidupnya tidak akan pernah sebanding dengan jeritan kemarahan semata.

​Amanda mengatur kembali helaan napasnya, membuatnya berembus teratur dan tenang seolah-olah ia masih terbuai dalam tidur lelap. Di balik mata yang terpejam rapat, ia membiarkan air mata dingin menetes pelan menyusuri pelipisnya, menyerap seluruh rasa sakit itu menjadi bahan bakar untuk rencananya. Kebutaan palsunya adalah panggung, dan amnesia buatannya adalah jebakan terhebat yang tak akan pernah mereka sadari. Amanda bersumpah dalam hati, suara jeritan yang seharusnya keluar dari tenggorokannya malam ini, suatu hari nanti akan berganti menjadi jeritan penyesalan dan tangisan kehancuran dari mulut Zidan dan Zahra sendiri.

Episodes
1 Pernikahan Dan Duri Dalam Selimut
2 Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan
3 Air Mata Palsu
4 Langkah Pertama Diatas Duri
5 Jeritan Yang Terbungkus Rencana
6 Sinyal Dalam Kegelapan
7 Mata-mata tersembunyi
8 Sentuhan Hangat Ditengah Badai
9 Umpan Yang Terpasang Lengkap
10 Kepekaan Yang Tak Pernah Dimiliki
11 Rutinitas Dalam Diam
12 Alasan Murahan
13 Perangkap Ruang Tamu
14 Janji Dibawah Kegelapan
15 Topeng Yang Lepas
16 Terbongkarnya Kebutaan Palsu
17 Penolakan Tanpa Ampun
18 Rumah Untuk Berlabuh
19 Retaknya Musuh Bersama
20 Menuju Medan Pertempuran
21 Kehancuran Tanpa Sisa
22 Pelukan Hangat Diambang Pintu
23 Rahasia Dibawah Langit Malam
24 Percakapan Di Sepertiga Malam
25 Dermaga Perasaan
26 Kedamaian Yang Dinanti
27 Diabawah Ketukan Palu Hakim
28 Keputusasaan Zidan
29 Gema Ketukan Palu Untuk Zahra
30 Kehangatan Sebuah Rumah
31 Keputusan Menutup Lembaran Baru
32 Perpisahan Yang Dewasa
33 Langkah Pertama Menuju Lembaran Baru
34 Penyesalan Di Sel Yang Berbeda
35 Aroma Masakan Dan Rumah Baru
36 Ucapan Dari Kedalaman Hati
37 Langkah Awal Meniti Karier
38 Batas Profesional Dan Hari Pertama
39 Wibawa Dan Perintah Yang Tak Tertolak
40 Pengakuan Dan Batas Waktu
41 Kepedulian Yang Hangat
42 Kehangatan Di depan Pintu Rumah
43 Pertanyaan Sang Ibu
44 Ketenangan Dibawah Langit Sore
45 Secangkir Kopi Dan Kehangatan Malam
46 Kesadaran Dan Rasa Sakit Yang Tertahan
47 Senyuman Dibalik Kebahagiaan
48 Rumah untuk Hati yang Pulih
Episodes

Updated 48 Episodes

1
Pernikahan Dan Duri Dalam Selimut
2
Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan
3
Air Mata Palsu
4
Langkah Pertama Diatas Duri
5
Jeritan Yang Terbungkus Rencana
6
Sinyal Dalam Kegelapan
7
Mata-mata tersembunyi
8
Sentuhan Hangat Ditengah Badai
9
Umpan Yang Terpasang Lengkap
10
Kepekaan Yang Tak Pernah Dimiliki
11
Rutinitas Dalam Diam
12
Alasan Murahan
13
Perangkap Ruang Tamu
14
Janji Dibawah Kegelapan
15
Topeng Yang Lepas
16
Terbongkarnya Kebutaan Palsu
17
Penolakan Tanpa Ampun
18
Rumah Untuk Berlabuh
19
Retaknya Musuh Bersama
20
Menuju Medan Pertempuran
21
Kehancuran Tanpa Sisa
22
Pelukan Hangat Diambang Pintu
23
Rahasia Dibawah Langit Malam
24
Percakapan Di Sepertiga Malam
25
Dermaga Perasaan
26
Kedamaian Yang Dinanti
27
Diabawah Ketukan Palu Hakim
28
Keputusasaan Zidan
29
Gema Ketukan Palu Untuk Zahra
30
Kehangatan Sebuah Rumah
31
Keputusan Menutup Lembaran Baru
32
Perpisahan Yang Dewasa
33
Langkah Pertama Menuju Lembaran Baru
34
Penyesalan Di Sel Yang Berbeda
35
Aroma Masakan Dan Rumah Baru
36
Ucapan Dari Kedalaman Hati
37
Langkah Awal Meniti Karier
38
Batas Profesional Dan Hari Pertama
39
Wibawa Dan Perintah Yang Tak Tertolak
40
Pengakuan Dan Batas Waktu
41
Kepedulian Yang Hangat
42
Kehangatan Di depan Pintu Rumah
43
Pertanyaan Sang Ibu
44
Ketenangan Dibawah Langit Sore
45
Secangkir Kopi Dan Kehangatan Malam
46
Kesadaran Dan Rasa Sakit Yang Tertahan
47
Senyuman Dibalik Kebahagiaan
48
Rumah untuk Hati yang Pulih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!