Episode 5

Bab 005: Rahasia Kamar Tertutup

"Orang yang menolak pemeriksaan seperti ini biasanya hanya punya satu alasan: dia tahu hasilnya bisa menghabisi dirinya."

Hendra Wijaya menatap Arka seperti ingin membakar wajahnya dengan mata.

"Anda menuduh saya?"

Arka tidak mundur. "Saya meminta luka Anda diperiksa. Tuduhan lahir dari bukti. Saya hanya meminta pemeriksaan."

Adira Larasati mengetuk meja sekali. "Cukup. Saudara Hendra, kita lanjut dari awal. Korban ditemukan tergantung. Pintu kamar terkunci dari dalam. Anda mengatakan tukang kunci membuka pintu di depan penjaga kos. Benar?"

"Benar."

"Jendela?"

"Terkunci juga."

"Anda yakin?"

"Saya melihat sendiri." Hendra cepat menjawab. "Semua tertutup. Tidak mungkin ada orang masuk atau keluar. Itu sebabnya saya pikir... saya pikir Sari bunuh diri."

Adira mendorong tiga foto autopsi ke tengah meja. Tidak semua detail terlihat jelas, tapi cukup untuk menunjukkan leher korban.

"Masalahnya, tubuh Sari mengatakan hal lain. Otot leher berdarah saat dia masih hidup. Kartilago tiroid retak. Ada alur tipis dua milimeter di bawah bekas tali besar."

Hendra menatap foto itu, lalu segera memalingkan wajah. "Saya tidak mengerti foto medis."

"Tidak perlu mengerti semuanya," kata Adira. "Cukup mengerti bahwa dia dicekik sebelum digantung."

Rahang Hendra mengeras.

Label merah [Pelaku] di atas kepalanya berdenyut.

Arka melihat Adira mengambil spidol dan berdiri. Di papan putih kecil, ia menggambar denah kasar kamar kos: pintu, ranjang, kamar mandi, jendela dapur kecil, dan posisi tubuh ditemukan.

"Kami punya masalah," kata Adira. "Kalau Sari dibunuh, pelaku harus keluar. Tapi pintu terkunci dari dalam. Jendela juga tampak terkunci. Jadi bagaimana?"

Hendra menelan ludah. "Itu yang saya bilang, Bu. Tidak mungkin."

"Tidak mungkin bukan berarti tidak terjadi." Adira menaruh spidol di meja. "Dok Arka."

Arka maju satu langkah.

Hendra langsung tegang. "Kenapa dia lagi? Dia bukan polisi."

"Benar," kata Adira. "Dia dokter. Dan malam ini, dokter itu menyelamatkan perkara ini dari kesimpulan salah. Dengarkan."

Bambang berdiri di dekat pintu, tangan terlipat. Di luar kaca, dr. Suherman Priyanto tampak di koridor, diam, tidak masuk. Ia mendengar, tapi belum berani mengambil tempat di dalam ruangan.

Arka mengambil spidol.

"Kamar Sari ada di lantai tiga," katanya. "Pintu utama terkunci dari dalam. Itu membuat semua orang fokus ke pintu. Tapi dari foto TKP, jendela dapur memakai model kait pegas. Kalau ditarik dari luar dengan benang atau tali tipis, kait bisa jatuh kembali ke posisi terkunci setelah jendela ditutup."

Hendra tertawa pendek. "Teori."

Arka menggambar garis dari jendela ke luar. "Pelaku mencekik korban dengan tali kecil atau kabel. Setelah korban mati, dia menggantung tubuh korban dengan tali besar agar terlihat bunuh diri. Lalu dia keluar lewat jendela dapur, menutup jendela dari luar, menarik benang yang sudah dikaitkan ke pegas, dan membuat kait jatuh kembali."

"Omong kosong. Lantai tiga. Siapa yang bisa turun dari sana?"

Bambang akhirnya berbicara. "Orang yang tahu pipa saluran di sisi bangunan cukup kuat untuk dipijak. Anak Inafis sudah kirim foto awal. Ada bekas gesekan baru di pipa luar dekat jendela dapur."

Wajah Hendra berubah cepat.

Adira langsung menangkapnya. "Anda tahu soal pipa itu?"

"Semua penghuni tahu. Itu bangunan lama."

"Tapi Anda bukan penghuni."

Hendra terdiam.

Arka melanjutkan sebelum Hendra menemukan jawaban baru. "Pelaku tidak perlu membuka pintu dari dalam setelah keluar. Dia hanya perlu datang lagi sebagai orang pertama yang 'khawatir'. Dia membawa penjaga kos, memanggil tukang kunci, lalu membuka pintu secara resmi. Semua orang melihat pintu terkunci. Semua orang percaya itu kamar tertutup."

Adira menatap Hendra. "Dan Anda punya kunci cadangan kamar Sari, kan?"

"Tidak."

"Kami akan tanya pemilik kos. Kami akan cek chat Anda. Kami akan cek apakah Sari pernah memberi Anda akses."

"Silakan." Hendra memaksa tersenyum. "Saya tidak takut. Saya punya absensi kantor. Sidik jari. CCTV. Jam satu sampai empat saya di Rungkut. Sari ditemukan hampir jam lima."

Arka menatap papan.

"Sari tidak dibunuh setelah jam empat."

Hendra menoleh. "Apa?"

"Rigor mortis awal, suhu tubuh, dan kondisi lebam menunjukkan kematian lebih awal dari perkiraan awal. Pemeriksaan lengkap perlu dilakukan, tapi dari tanda leher dan kondisi tubuh, kemungkinan besar dia sudah meninggal sebelum Anda masuk shift."

Adira segera menekan. "Jadi absensi jam satu sampai empat hanya membuktikan Anda berada di kantor setelah pembunuhan. Bukan saat pembunuhan."

Hendra menggenggam tangan kanan. Tangan kiri masih disembunyikan.

"Saya tidak membunuh dia."

"Kalau begitu jelaskan luka di tangan kiri," kata Arka.

"Kucing."

"Sari punya kucing?"

Hendra membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Bambang menoleh ke catatan di ponselnya. "Penjaga kos bilang tidak ada hewan peliharaan di lantai tiga. Aturan kos melarang."

Adira menambahkan, "Kami juga akan cek kamera sekitar kantor Anda. Jam masuk dan pulang saja belum cukup. Kami akan cek apakah sebelum jam satu Anda pergi ke kos Sari. Kami akan cek ojek online, parkir, riwayat lokasi ponsel, dan WA Anda."

Hendra mulai berkeringat.

Arka melihat label [Pelaku] berkedip lebih cepat.

"Ada satu hal lagi," kata Arka. "Luka gesekan di tangan kiri sesuai dengan orang yang menarik tali kecil dengan kuat. Jika tali itu dipakai untuk mencekik, seratnya bisa tertinggal di luka. Kalau kami swab sekarang dan cocok dengan serat di leher korban atau jendela, penjelasan kucing tidak akan berguna."

"Cukup!" Hendra memukul meja dengan tangan kanan.

Adira tidak bergerak.

Kamera merekam semuanya.

Hendra sadar terlambat. Ia menarik napas, mencoba kembali menangis, tapi suaranya pecah dengan cara yang salah.

"Saya mencintai Sari."

"Cinta tidak membuat orang menyembunyikan luka," kata Adira.

"Dia menghancurkan saya!" Hendra mendadak berteriak. "Dia bilang uang itu untuk rumah kami. Rp 800.000.000, Bu! Uang muka, tabungan, pinjaman keluarga saya. Lalu dia mau batal menikah. Dia bilang tidak bisa hidup dengan saya. Dia sudah memindahkan uang itu ke rekening lain. Apa saya harus diam?"

Ruangan berhenti.

Bambang langsung berdiri tegak.

Adira menurunkan suara. "Saudara Hendra, kalimat terakhir Anda masuk rekaman. Anda paham?"

Hendra terengah-engah. Matanya merah. Kali ini kepanikannya nyata.

"Saya cuma mau dia takut. Saya cuma mau dia mengembalikan uang itu. Dia melawan. Dia menggigit tangan saya. Saya panik. Tali itu... saya tarik terlalu kuat."

Arka tidak berkedip.

"Lalu Anda menggantungnya," kata Adira.

Hendra menutup wajah. "Saya tidak mau masuk penjara. Saya pikir kalau semua orang percaya dia bunuh diri, selesai. Dia memang pernah depresi. Semua orang tahu."

"Benang untuk kait jendela?" tanya Bambang.

"Di saku jaket saya. Saya buang di selokan belakang kos. Kabelnya... saya potong dan buang di tempat sampah dekat warung."

Adira memberi isyarat kepada Bambang. "Kirim tim sekarang. Amankan selokan belakang kos dan tempat sampah dekat warung. Minta Inafis cari serat dan kabel."

"Siap."

Bambang keluar cepat.

Arka melihat label di atas kepala Hendra.

Merah darah itu bergetar, memudar sedikit, lalu berubah menjadi abu-abu gelap.

[Pelaku]

Statusnya tidak hilang, tapi tekanannya berubah. Seperti sistem menandai bahwa inti perkara sudah terbuka.

Adira menatap Hendra. "Mulai saat ini, status Anda kami tingkatkan menjadi tersangka. Pemeriksaan akan dilanjutkan dalam BAP resmi dengan hak-hak Anda sebagai tersangka."

Hendra menunduk. Bahunya tidak lagi memainkan duka. Kali ini ia hanya runtuh.

Di balik kaca, dr. Suherman masih berdiri. Wajahnya pucat. Ia menatap Arka, lalu menatap foto leher korban di meja.

Jika Arka tidak mengunci pintu itu, kasus ini akan ditutup sebagai bunuh diri.

Adira merapikan map, lalu berkata tanpa melihat Arka, "Dok Arka."

"Ya, Bu Iptu."

"Setelah ini Anda tulis catatan medis pendukung untuk Dokter Suherman. Jelas, rapi, prosedural. Besok pagi akan ada orang yang bertanya kenapa seorang Dokter Muda berani mengunci ruang autopsi."

Arka mengerti.

Pembunuh sudah runtuh.

Tapi masalahnya sendiri belum selesai.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!