Chapter 3: The Royal Bully's Taunt

Suara lengkingan dan jeritan dramatis Leng Yan yang diseret paksa oleh adik kembarnya perlahan memudar di kejauhan lorong istana. Keheningan kembali melingkupi kediaman Pangeran Ke-14.

Feng Wuchen menyarungkan kembali pedangnya yang sempat terangkat beberapa inci, sementara Gu Juechen menggeleng-gelengkan kepala seraya menghela napas panjang.

"Tuan Leng Yan dari Paviliun Redup itu benar-benar ancaman bagi ketenangan jiwa," gumam Gu Juechen sambil merapikan letak meja kayu yang sempat bergeser.

"Sensor spiritualnya sangat tajam. Jika Yang Mulia tidak bertindak cepat memoles hidungnya dengan noda hitam tadi, dia mungkin akan terus menekan hingga aura kekuatan Anda terpancing."

Mu Xuanyuan terkekeh pelan, melangkah santai menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Ia menatap pantulan wajahnya paras tampan rupawan dengan sepasang mata jernih yang memikat, meski rambutnya sengaja diacak-acak sedikit untuk menjaga kesan "pangeran kurang akal".

"Leng Yan bukan orang bodoh," ujar Xuanyuan tenang. Aura seorang Immortal Emperor Puncak samar-samar berdesir di sekeliling tubuhnya sebelum kembali menguap tanpa bekas.

"Dia menguasai jaringan informasi rahasia di lima benua. Intuisi pengamatannya dibentuk dari beribu-ribu intrik dunia bawah. Namun justru karena dia sangat pintar, dia akan lebih mudah terkecoh oleh tindakan yang paling konyol."

"Tetapi Yang Mulia," interupsi Feng Wuchen dengan suara berat khasnya, "tatapan mata Pemilik Rumah Bordil itu saat menatap Anda... terasa sangat mengganggu. Apakah hamba perlu memberi sedikit peringatan agar dia tidak bertindak terlalu jauh?"

Xuanyuan melambaikan tangannya santai. "Tidak perlu, Wuchen. Biarkan saja si flamboyan itu bermain dengan imajinasinya. Selama dia tidak mengganggu jaringan bisnis Balai Lelang Xingzhou dan Pasukan Bayaran Po Jun, dia adalah sekutu yang menarik. Lagi pula..." Xuanyuan menyeringai tipis, "...melihat adiknya menyeretnya seperti karung beras adalah hiburan gratis yang cukup menghibur."

Belum sempat Gu Juechen membalas ucapan majikannya, dari luar kediaman mendadak terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan bising. Langkah kaki itu tidak berasal dari satu atau dua orang, melainkan rombongan pengawal berzirah berat.

Brak!

Pintu gerbang luar Kediaman Awan Merah didobrak dengan kasar.

Suara benturan besi dan kayu menggemakan keheningan pagi di taman istana.

"Pangeran Ke-14! Keluar kau sekarang!" sebuah teriakan lantang bermuatan energi spiritual mengguncang udara.

Xuanyuan mengedipkan matanya, lalu dalam sekejap mata memundurkan bahunya, memasang raut wajah bingung, dan mengembalikan ekspresi "pangeran lugu" yang menjadi ciri khas penyamarannya.

"Ah, tampaknya hiburan kita yang sebenarnya sudah tiba," bisik Xuanyuan pelan pada kedua pengawalnya sebelum melangkah keluar kamar dengan tawa ceria yang agak dipaksakan.

Di halaman taman, Lu Cangqiong—Pangeran Ke-3 Kekaisaran Tianming berdiri gagah dengan jubah ungu gelapnya yang mewah. Di sampingnya berdiri delapan pengawal berbadan tegap dengan pedang terhunus di pinggang. Tak hanya itu, di belakang Lu Cangqiong tampak pula Pangeran Ke-5 dan Pangeran Ke-7 yang ikut hadir dengan wajah penuh cemoohan.

"Ada apa ini? Wah, Kakak Ke-3 datang lagi! Kakak Ke-5 dan Kakak Ke-7 juga ada!" seru Xuanyuan gembira sambil menepuk-nepuk tangannya seperti anak kecil.

"Apakah kalian membawa burung kayu baru untukku?"

Lu Cangqiong meludah ke tanah, menatap Xuanyuan dengan pandangan jijik yang sangat tajam.

"Tutup mulutmu, idiot!" bentak Lu Cangqiong kasar.

"Baginda Raja baru saja menyelesaikan rapat agung di Aula Utama. Ayahanda sangat kecewa karena di antara seluruh 21 pangeran dan putri, hanya kau si sampah Pangeran Ke-14 yang tidak hadir untuk memberi hormat dan menunjukkan hasil kemajuan kultivasi!"

Pangeran Ke-5 melangkah maju sambil terkekeh sinis.

"Kakak Ke-3, untuk apa menanyakan kemajuan kultivasi pada si gila ini? Dia bahkan tidak bisa merasakan aliran Qi di udara. Di matanya, batu spiritual mungkin hanya dikira batu kali untuk dilemparkan ke sungai!"

Tawa ejekan meledak di antara para pangeran dan pengawal kerajaan.

Feng Wuchen dan Gu Juechen yang berdiri beberapa langkah di belakang Xuanyuan mengepal erat jemari mereka. Rahang Feng Wuchen mengeras. Betapa mudahnya bagi mereka berdua untuk meratakan Lu Cangqiong dan rombongannya menjadi debu dalam satu kedipan mata jika saja sang majikan memberi perintah. Namun, Mu Xuanyuan justru melangkah semakin mendekati Pangeran Ke-3 dengan wajah polos tanpa dosa.

"Tapi Kakak Ke-3... aku tadi sedang menangkap kupu-kupu biru di taman!" ujar Xuanyuan seraya memiringkan kepalanya.

"Kupu-kupunya sangat cantik! Bukankah menangkap kupu-kupu lebih menyenangkan daripada duduk diam mendengarkan para tetua berpidato?"

"Kupu-kupu?!" wajah Lu Cangqiong memerah karena marah. Rasa terhina merayapi dadanya melihat betapa santainya si pangeran bodoh ini merespons kemarahannya.

"Kau benar-benar memalu-malukan nama besar keluarga Kekaisaran Tianming! Kakak Pertama sibuk mengurus perbatasan, aku sibuk menerobos ranah Pendekar Spirit, sedangkan kau malah sibuk mengurusi serangga!"

Dengan gerakan cepat yang dipenuhi niat mempermalukan, Lu Cangqiong mengangkat tangan kanannya. Energi Qi berwarna merah menyala terkumpul di telapak tangannya. Ia bermaksud melancarkan tamparan berenergi ke wajah Xuanyuan bukan untuk membunuh, tetapi cukup untuk membuat sang pangeran tersungkur dan babak bunur di tanah di depan para pengawal.

"Hari ini, sebagai Kakak Ke-3, aku akan mengajarimu cara bersikap sopan!" gertak Lu Cangqiong seraya mengayunkan telapak tangannya yang membara.

Ayunan tangan itu melesat cepat membelah udara menuju pipi Mu Xuanyuan.

Namun, di mata Mu Xuanyuan yang merupakan seorang Immortal Emperor Puncak, pergerakan Lu Cangqiong terasa begitu lambat—bagaikan seekor siput yang merayap di atas lumpur.

Xuanyuan tidak membalas dengan kekuatan. Dengan kecerdikan dan akting luar biasa, ia sengaja melangkah agak sempoyongan ke depan seraya berpura-pura hendak mengambil sesuatu di tanah.

"Eh, ada semut merah!" seru Xuanyuan mendadak sambil membungkukkan tubuhnya.

Wusss!

Tamparan bertenaga Qi milik Lu Cangqiong meleset total, melintas persis beberapa milimeter di atas kepala Xuanyuan. Karena Lu Cangqiong mengerahkan tenaga cukup besar dan tidak menyangka pukulannya akan luput, tubuh Pangeran Ke-3 itu kehilangan keseimbangan.

Brak! Gedebuk!

Lu Cangqiong tersandung kakinya sendiri dan terperosok jatuh ke dalam semak-semak berduri di tepi kolam taman, wajahnya menabrak lumpur hitam dengan keras.

Suasana taman seketika menjadi hening mencekam.

Pangeran Ke-5, Pangeran Ke-7, dan seluruh pengawal kerajaan mematung dengan mata melotot tak percaya. Pangeran Ke-3 yang agung dan sakti baru saja jatuh terjerembap ke dalam lumpur hanya karena si pangeran bodoh mendadak membungkuk menghindari pukulannya secara tidak sengaja.

"Kakak Ke-3!" Xuanyuan langsung berbalik dengan raut wajah panik yang teramat sangat, namun matanya berkilat penuh kejahilan. Ia berlutut di tepi semak-semak dan memegang tangan Lu Cangqiong yang kotor.

"Wah! Kenapa Kakak Ke-3 malah tidur di semak berduri? Lumpur di wajah Kakak baunya aneh sekali! Mari kubantu bangun!"

Dengan berpura-pura berniat baik menarik tubuh Lu Cangqiong, Xuanyuan secara diam-diam menyalurkan sekelumit kecil—hanya seperseribu persen—energi berat tak terlihat ke pundak Lu Cangqiong.

"A-aduh! Kenapa tubuhku berat sekali?!" pekik Lu Cangqiong yang berusaha bangkit, tetapi mendadak merasa seolah-olah ada gunung raksasa yang menindih punggungnya. Punggungnya kembali terhempas makin dalam ke lumpur hitam kolam.

"Kakak Ke-3! Jangan main lumpur terus, nanti bajumu kotor!" celetuk Xuanyuan dengan senyum paling polos di dunia, memegang pundak kakaknya yang kini basah kuyup oleh lumpur busuk.

"BANGSAT KAU, MU XUANYUAN!" raung Lu Cangqiong dengan wajah penuh lumpur dan daun-daun kering yang menempel di rambutnya, matanya menyala merah penuh murka.

Episodes
1 Season 1: The Smiling Emperor Chapter 1: The Foolish Fourteenth Prince
2 Chapter 2: Gold, Jade, and a Hidden Realm
3 Chapter 3: The Royal Bully's Taunt
4 Chapter 4: Smiling Through the Insults
5 Chapter 5: Two Loyal Shadows
6 Chapter 6: The Master of Xingzhou Pavilion
7 Chapter 7: A Million Year Herb for Tea
8 Chapter 8: The Commander of Po Jun Mercenaries
9 Chapter 9: The Flamboyant Master of Brothel
10 Chapter 10: Beauty Belongs to the Fool
11 Chapter 11: Leng Shuang’s Scolding Iron Fist
12 Chapter 12: Flirting with an Immortal
13 Chapter 13: The Auction House Mystery
14 Chapter 14: Brotherly Mockery at the Feast
15 Chapter 15: Acting Crazy to Save Trouble
16 Chapter 16: A Dimension Full of Precious Fruit
17 Chapter 17: Leng Yan’s Uninvited Visit
18 Chapter 18: The Tomboy Sister’s Apology
19 Chapter 19: Pushing the Third Prince’s Buttons
20 Chapter 20: Mercenary Signal in the Capital
21 Chapter 21: The Secret Pill Collection
22 Chapter 22: Who Is the True Master?
23 Dramatic Flirting and Cooking Herbs
24 The Prince’s Silly Smile
25 A Sudden Cultivation Trap
26 Overpowered in Silence
27 Leng Yan’s Flamboyant Rescue Plan
28 Backfire at the Imperial Court
29 The Fool’s Secret Victory
30 A Toast Among Shadows
31 Season 2: Shadows of the Realm :The Underworld Shifts
32 The Third Prince's Scheme
33 Leng Yan’s Bold Proposal
34 Sisterly Violence to the Rescue
35 The Spatial Treasury Revealed
36 Poison, Tea, and Big Smiles
37 The Mercenary King’s Secret Order
38 A Night at the Brothel Roof
39 Chapter 39: The Handsome Fool’s Charm
40 Chapter 40: Xingzhou Pavilion’s Grand Sale
41 Chapter 41: Bidding Against the Imperial Family
42 Chapter 42: The Third Prince Loses His Temper
43 Chapter 43: A Secret Meeting of 21 Siblings
44 Chapter 44: Playing the Victim Perfectly
45 Chapter 45: Leng Shuang’s Suspicions
46 Chapter 46: The Flamboyant Fan and Flying Swords
47 Chapter 47: An Immortal Emperor’s Sneeze
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Season 1: The Smiling Emperor Chapter 1: The Foolish Fourteenth Prince
2
Chapter 2: Gold, Jade, and a Hidden Realm
3
Chapter 3: The Royal Bully's Taunt
4
Chapter 4: Smiling Through the Insults
5
Chapter 5: Two Loyal Shadows
6
Chapter 6: The Master of Xingzhou Pavilion
7
Chapter 7: A Million Year Herb for Tea
8
Chapter 8: The Commander of Po Jun Mercenaries
9
Chapter 9: The Flamboyant Master of Brothel
10
Chapter 10: Beauty Belongs to the Fool
11
Chapter 11: Leng Shuang’s Scolding Iron Fist
12
Chapter 12: Flirting with an Immortal
13
Chapter 13: The Auction House Mystery
14
Chapter 14: Brotherly Mockery at the Feast
15
Chapter 15: Acting Crazy to Save Trouble
16
Chapter 16: A Dimension Full of Precious Fruit
17
Chapter 17: Leng Yan’s Uninvited Visit
18
Chapter 18: The Tomboy Sister’s Apology
19
Chapter 19: Pushing the Third Prince’s Buttons
20
Chapter 20: Mercenary Signal in the Capital
21
Chapter 21: The Secret Pill Collection
22
Chapter 22: Who Is the True Master?
23
Dramatic Flirting and Cooking Herbs
24
The Prince’s Silly Smile
25
A Sudden Cultivation Trap
26
Overpowered in Silence
27
Leng Yan’s Flamboyant Rescue Plan
28
Backfire at the Imperial Court
29
The Fool’s Secret Victory
30
A Toast Among Shadows
31
Season 2: Shadows of the Realm :The Underworld Shifts
32
The Third Prince's Scheme
33
Leng Yan’s Bold Proposal
34
Sisterly Violence to the Rescue
35
The Spatial Treasury Revealed
36
Poison, Tea, and Big Smiles
37
The Mercenary King’s Secret Order
38
A Night at the Brothel Roof
39
Chapter 39: The Handsome Fool’s Charm
40
Chapter 40: Xingzhou Pavilion’s Grand Sale
41
Chapter 41: Bidding Against the Imperial Family
42
Chapter 42: The Third Prince Loses His Temper
43
Chapter 43: A Secret Meeting of 21 Siblings
44
Chapter 44: Playing the Victim Perfectly
45
Chapter 45: Leng Shuang’s Suspicions
46
Chapter 46: The Flamboyant Fan and Flying Swords
47
Chapter 47: An Immortal Emperor’s Sneeze

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!