2. Janji untuk Pergi

Di sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, terdengar suara musik dari sebuah ponsel. Dentuman musik itu berasal dari ruang keluarga, tempat seorang gadis sibuk berjoget di depan kamera.

Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi juga tidak bisa disebut sederhana. Di sanalah Jayadi tinggal bersama Cepi, istri keduanya, serta kedua putrinya. Aynara Ayu Puspita (Nara), anak dari pernikahan pertamanya, dan Carissa Cahyani Puspita (Caca), putri Cepi dan Jayadi.

Jayadi merupakan pemilik toko sembako grosir yang cukup besar. Usaha itu merupakan peninggalan keluarga mendiang istri pertamanya dan kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka.

Sore itu, suara Cepi terdengar mulai meninggi. Wanita itu mendengus kesal ketika melihat lantai ruang keluarga yang belum disapu dan tumpukan piring kotor memenuhi wastafel.

"Nara!" seru Cepi.

Aynara yang duduk di meja makan hanya mengangkat wajah sebentar.

"Kamu ngapain aja sih seharian?" Cepi berkacak pinggang. "Lantai kotor, cucian piring numpuk. Cepetan disapu sama dicuci!"

Aynara kembali menatap layar ponselnya. "Aku lagi ngelamar kerja, Bu."

"Kerja?" Nada suara Cepi terdengar mencibir. "Kerja, kerja, kerja. Dari tadi yang kamu pegang cuma HP. Rumah berantakan begini masih sempat-sempatnya main HP."

"Aku bukan main HP, Bu." Suara Aynara tetap tenang. "Aku lagi ngisi formulir lamaran."

Cepi langsung menoleh ke arah Jayadi yang sedang duduk santai menikmati kopi. "Yah!"

Jayadi tersentak kecil hingga hampir menumpahkan air putih di tangannya. "Apa sih, Bu?"

"Lihat anakmu itu," Cepi menunjuk Aynara. "Disuruh beres-beres malah banyak alesan. Dibilangin juga gak didengar. Rumah berantakan gini malah mantengin HP mulu." Cepi beralih menatap Aynara. "Kamu pikir Ibu tidak capek seharian jagain oko?"

Jayadi menghela napas panjang sebelum menoleh kepada Aynara. "Nara, cuci piring sama nyapu sana."

Aynara mendesah pelan. "Yah, aku benar-benar lagi ngelamar kerja."

"Nanti lagi juga bisa." Jayadi meletakkan gelasnya. "Kalau kuotanya habis, nanti Ayah beliin."

Aynara terdiam beberapa saat. "Yah... Kuota paket data memang bisa dibeli lagi. Tapi kuota lamaran kerja belum tentu."

Jayadi mengernyit. "Maksudnya?"

"Lowongan ini cuma nerima sejumlah pelamar. Kalau kuotanya sudah penuh, aku gak bisa ngirim lamaran lagi."

Aynara menunjukkan layar ponselnya. "Ini tinggal beberapa orang lagi."

Cepi mendengus. "Halah. Itu cuma alesan biar kamu bisa malas-malasan."

Aynara menggeleng. "Aku benar-benar sedang nyari kerja, Bu."

Ia kemudian menoleh ke arah Caca. Adiknya itu masih sibuk berjoget di depan ponsel yang diletakkan di atas tripod kecil. Musik terdengar cukup keras hingga memenuhi ruangan.

"Itu Caca dari tadi juga gak ada kerjaan. Kenapa gak suruh dia dulu?"

Caca yang mendengar namanya disebut langsung menghentikan gerakan. "Aku?"

Cepi menoleh kepada putrinya. "Caca, matiin dulu musiknya."

Caca langsung mengerucutkan bibir. "Kenapa aku?"

"Bantu kakakmu," ujar Jayadi.

"Aku lagi bikin video, Yah." Caca menunjuk ponselnya dengan kesal. "Ini bukan main HP."

Cepi mengerutkan kening. "Video apa?"

"Konten TikTok." Caca kembali berdiri di depan kamera. "Kalau videoku viral, aku bisa dapet uang banyak."

Aynara menatapnya beberapa detik. "Kamu sudah punya berapa penghasilan dari TikTok?"

Caca langsung menoleh tajam. "Belum ada. Memangnya kenapa?"

"Berarti sekarang bantu dulu," ujar Aynara.

"Aku bukan pembantu!" Caca membuang muka. "Aku punya cita-cita jadi content creator."

Aynara menahan napas.

Sementara itu, Jayadi hanya diam. Ia tahu Aynara sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. Ia juga tahu putrinya itu membiayai sekolah hingga kuliah dengan beasiswa dan hasil kerja sambilan.

Tetapi seperti biasa, Jayadi memilih tidak memperpanjang masalah. "Nara," katanya akhirnya, "bantu Ibu dulu. Lamaran kerja itu bisa kamu lanjutkan nanti malam."

Aynara menatap ayahnya. "Tapi..."

"Nara." Nada suara Jayadi kali ini lebih tegas.

Aynara terdiam. Ia melihat kembali layar ponselnya, waktu pendaftaran tinggal beberapa menit. Dengan berat hati, ia menyimpan ponselnya.

"Ya sudah." Aynara berdiri.

Namun sebelum berjalan menuju dapur, matanya kembali jatuh pada Caca yang sudah melanjutkan joget di depan kamera. Ia hanya bisa menghela napas.

Ada hal-hal yang tidak pernah berubah di rumah ini. Ketika Caca melakukan apa yang dia suka, semua orang harus memakluminya. Ketika Aynara berusaha membangun masa depannya, ia selalu dianggap sedang mencari alasan untuk bermalas-malasan.

Aynara mengambil penyapu dari sudut ruangan. Dalam hati, ia kembali berjanji pada dirinya sendiri.

"Suatu hari nanti, aku akan pergi dari rumah ini."

Bukan karena diusir, tetapi karena ia sudah mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

 

Cepi sedang duduk santai di ruang keluarga. Ia mengerutkan kening ketika melihat mobil mengilap berhenti.

"Yah," panggilnya kepada sang suami yang sedang menyeruput kopi. "Ada mobil mewah berhenti di depan rumah kita."

Jayadi mengambil sepotong pisang goreng dari piring. "Ya biarin saja, Bu. Asal jangan berhenti tepat di depan gerbang sampai menghalangi jalan."

Cepi hendak menjawab, tetapi perhatiannya teralihkan ketika pintu pengemudi mobil itu terbuka.

Seorang pria keluar dari balik kemudi, lalu buru-buru berjalan ke sisi lain dan membukakan pintu penumpang. Dari dalam mobil, seorang pria tua turun dengan tenang.

Kemeja sederhana dan celana panjang yang dikenakannya sama sekali tidak terlihat mencolok, namun pembawaannya berbeda. Tubuhnya masih tegap dan terlihat bugar meski usianya telah lanjut. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat yang lebih tampak seperti kebiasaan daripada alat bantu berjalan. Tangan kirinya memegang sebuah map berwarna coklat.

Langkahnya mantap. Ia bahkan tidak terlihat bertumpu pada tongkat tersebut. Sesekali ujung tongkat itu hanya mengetuk permukaan jalan, menghasilkan bunyi kecil yang justru membuat kehadirannya terasa semakin berwibawa. Pria tua itu kemudian berjalan menuju pekarangan rumah Jayadi.

Cepi kembali memanggil suaminya. "Yah."

Jayadi masih sibuk dengan pisang gorengnya. "Apalagi?"

"Pria tua yang tadi turun dari mobil itu menuju rumah kita." Perhatian Cepi tak beralih dari pria itu.

Jayadi akhirnya menoleh ke arah jendela. Gerakannya terhenti, ia bahkan tidak jadi mengunyah pisang goreng yang masih berada di mulutnya. Matanya menyipit ketika mengenali sosok yang kini hanya berjarak beberapa meter dari pintu rumahnya.

"Pak Wicaksono..." gumamnya.

Cepi langsung menoleh. "Wicaksono? Siapa?"

"Beliau sahabat ayah mertuaku." Jayadi bangkit dari duduknya.

Cepi kembali menatap ke arah pria tua yang semakin mendekati pintu. "Mau apa dia datang ke sini, Yah?"

Jayadi tidak menjawab. Wajahnya yang semula santai berubah serius. Ia segera meletakkan pisang goreng di atas piring, kemudian beranjak menuju ruang tamu.

"Ada urusan apa Pak Wicaksono ke sini?" batin Jayadi. "Datang tanpa ngabarin dulu. Kok aku ngerasa beliau gak sekadar datang buat bertamu, ya?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Terkadang, keinginan untuk pergi bukan karena kita membenci rumah, tetapi karena kita terlalu lama merasa tidak dihargai di dalamnya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Bagus itu! Kalau jadi keoala keluarga itu memang harus tegas Jayadi! Jangan bisanya menurut saja, kayak kerbau yang di cucuk hudungnya! 😂😂😂 Kau harus tegas menjadi kepala Keluarga! Contoh Noh Tuan Rahardja! Dia tegas sama anak dan istrinya. Dan sekwli saja Tuan Rahardja mengambil keputsan, istri dan anak-anaknya, tidak berani menentang keputusan sang Kepala Keluarga. 😂😂😂 Seharysnya, kau juga begitu Jayadi! Kau harus tegas. Jangan Seperti Kerbau yang di cucuk hidungnya, kau itu. Menurut aja apa kata istri. Pasrah aja gitu! 😂😂😂

2026-08-23

1

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Lah, ngapain di jagain terus tuh toko? Kalau di jagain terus, yaaa tentulah Capek! Tapi kan, itu bukan alasan kau, untuk tifak beres-beres kan? ha?! Apa salahnya ha, di saat pelanggan lengang, kau membersikan rumahmu dulu? Atau kalau nggk, suruh noh, putri keduamu yang pemalas itu untuk jagain toko! Atau kalau nggk, suruh noh suamimu yang tidak berguna itu, untuk jagain toko! Toh, toko sembako itu kan Penghasilan keluarga kalian! Kalian juga, yang akan menikmati uangnya kan? bukan orang lain? Terus? Ngapain perhitungan gitu sih? ha? 🤬🤬🤬

2026-08-23

1

asih

asih

di jayadi g sadar diri harta peninggalan utk bertahan hidup Dr keluarga aynara,setelah menikah lagi Dan punya anak kenapa malah mengutaman keluarga barunya drpada nara ..utk kuliah aja dià biaya sendiri Dari hasil kerjanya

kalian bertiga akan tau rasanya jika nara sudah pergi nanti

2026-08-21

3

lihat semua
Episodes
1 1. Ketika Warisan Bukan Lagi Jaminan.
2 2. Janji untuk Pergi
3 3. Janji yang Tak Bisa Dibatalkan
4 4. Pernikahan yang Tak Pernah Kupilih
5 5. Malam Sebelum Pernikahan
6 6. Rencana di Balik Senyuman
7 7. Dua Pengantin yang Terpaksa
8 8. Akad Tanpa Cinta
9 9. Satu Panggilan yang Mengubah Segalanya.
10 10. Ketika Takdir Mengambil Alih
11 11. Hari yang Mengubah Segalanya
12 12. Tak Diinginkan di Dua Rumah
13 13. Saat Harga Diri Tak Lagi Bisa Ditawar
14 14. Masih Istrinya
15 15. Jangan Buat Aku Berubah Pikiran
16 16. Pembantu di Rumah Sendiri
17 17. Diamku Bukan Kelemahan
18 18. Ibu si Merak Rimba
19 19. Rahasia di Balik Sebuah Foto
20 20. Bukan Orang Asing
21 21. Amanah Sang Kakek
22 22. Kontrakan Elite
23 23. Ketika Takdir Mempersempit Jarak
24 24. Berpapasan Seperti Orang Asing
25 25. Ketika Masa Lalu Kembali
26 26. Seperti Putri Sendiri
27 27. Awal Baru, Takdir Baru
28 28. Bukan Lagi Aynara yang Dulu
29 29. Bukan Lagi Perempuan yang Sama
30 30. Bekerja Tanpa Nama Besar
31 31. Sang Pewaris Naik Tahta
32 32. Takdir yang Terus Mempertemukan
33 33. Semakin Kesal, Semakin Penasaran
34 34. Memilih Melangkah
35 35. Tak Bisa Menghindar
36 36. CEO Tak Mengenali Istrinya.
37 37. Pertemuan Mengejutkan
38 38. Jejak yang Membingungkan
39 39. Perintah Sang CEO
40 40. Ternyata Dia Istriku
41 41. Pewaris yang Tak Diakui
42 42. Kata-kata yang Tak Terlupakan
43 43. Identitas yang Dicuri
44 44. Kekayaan Hanyalah Titipan
45 45. Ketika Regan Menjadi Aksa
46 46. Sentuhan yang Mengingatkan Rumah
47 47. Ternyata Istri Aksa
48 48. Dulu Hanya Seorang Kurir
49 49. Kehidupan yang Bukan Milikku
50 50. Pura-pura Lupa
51 51. Istri yang Harus Kupelajari
52 52. Satu Kesalahan Kecil
53 53. Pria yang Bukan Diriku
54 54. Mewarisi Kesalahan Aksa
55 55. Awal yang Tak Pernah Direncanakan
56 56. Mendengar dari Sisi Aynara
57 57. Satu Tahun untuk Memilih
58 58. Aksa yang Berbeda
59 59. Perubahan yang Terlalu Jelas
60 60. Kebenaran yang Mulai Terusik
61 61. Darah yang Disembunyikan
62 62. Ketegasan yang Berbeda
63 63. Kecurigaan yang Mulai Berakar
64 64. Rahasia di Balik Nama Aksara
65 65. Nama yang Menyatukan Tiga Kehidupan
66 66. Tragedi di Balik Nama Arsa
67 67. Rahasia di Balik Kesederhanaan
68 68. Demi Melindungi Aynara
69 69. Jejak di Balik Kematian Arsa
70 70. Jejak Lama di Balik Kecelakaan
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1. Ketika Warisan Bukan Lagi Jaminan.
2
2. Janji untuk Pergi
3
3. Janji yang Tak Bisa Dibatalkan
4
4. Pernikahan yang Tak Pernah Kupilih
5
5. Malam Sebelum Pernikahan
6
6. Rencana di Balik Senyuman
7
7. Dua Pengantin yang Terpaksa
8
8. Akad Tanpa Cinta
9
9. Satu Panggilan yang Mengubah Segalanya.
10
10. Ketika Takdir Mengambil Alih
11
11. Hari yang Mengubah Segalanya
12
12. Tak Diinginkan di Dua Rumah
13
13. Saat Harga Diri Tak Lagi Bisa Ditawar
14
14. Masih Istrinya
15
15. Jangan Buat Aku Berubah Pikiran
16
16. Pembantu di Rumah Sendiri
17
17. Diamku Bukan Kelemahan
18
18. Ibu si Merak Rimba
19
19. Rahasia di Balik Sebuah Foto
20
20. Bukan Orang Asing
21
21. Amanah Sang Kakek
22
22. Kontrakan Elite
23
23. Ketika Takdir Mempersempit Jarak
24
24. Berpapasan Seperti Orang Asing
25
25. Ketika Masa Lalu Kembali
26
26. Seperti Putri Sendiri
27
27. Awal Baru, Takdir Baru
28
28. Bukan Lagi Aynara yang Dulu
29
29. Bukan Lagi Perempuan yang Sama
30
30. Bekerja Tanpa Nama Besar
31
31. Sang Pewaris Naik Tahta
32
32. Takdir yang Terus Mempertemukan
33
33. Semakin Kesal, Semakin Penasaran
34
34. Memilih Melangkah
35
35. Tak Bisa Menghindar
36
36. CEO Tak Mengenali Istrinya.
37
37. Pertemuan Mengejutkan
38
38. Jejak yang Membingungkan
39
39. Perintah Sang CEO
40
40. Ternyata Dia Istriku
41
41. Pewaris yang Tak Diakui
42
42. Kata-kata yang Tak Terlupakan
43
43. Identitas yang Dicuri
44
44. Kekayaan Hanyalah Titipan
45
45. Ketika Regan Menjadi Aksa
46
46. Sentuhan yang Mengingatkan Rumah
47
47. Ternyata Istri Aksa
48
48. Dulu Hanya Seorang Kurir
49
49. Kehidupan yang Bukan Milikku
50
50. Pura-pura Lupa
51
51. Istri yang Harus Kupelajari
52
52. Satu Kesalahan Kecil
53
53. Pria yang Bukan Diriku
54
54. Mewarisi Kesalahan Aksa
55
55. Awal yang Tak Pernah Direncanakan
56
56. Mendengar dari Sisi Aynara
57
57. Satu Tahun untuk Memilih
58
58. Aksa yang Berbeda
59
59. Perubahan yang Terlalu Jelas
60
60. Kebenaran yang Mulai Terusik
61
61. Darah yang Disembunyikan
62
62. Ketegasan yang Berbeda
63
63. Kecurigaan yang Mulai Berakar
64
64. Rahasia di Balik Nama Aksara
65
65. Nama yang Menyatukan Tiga Kehidupan
66
66. Tragedi di Balik Nama Arsa
67
67. Rahasia di Balik Kesederhanaan
68
68. Demi Melindungi Aynara
69
69. Jejak di Balik Kematian Arsa
70
70. Jejak Lama di Balik Kecelakaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!