2. Ada Apa dengan Nasya?

Bruuk...

Nasya menabrak seseorang yang ada di belakangnya. Orang itu adalah Ervan, yang kata Radha cowok ter-keren seantero sekolah.

Aku melihat Nasya menundukkan badannya ke Ervan sambil minta maaf. Bukannya marah, Ervan membalasnya dengan senyuman. Membuat para fans Ervan kecewa berat. Ada juga yang berteriak histeris dan merasa iri dengan Nasya. Apa-apaan mereka itu?

"Anjir beruntung banget tuh cewek."

"Gue mau dong disenyumin dan ditatap begitu sama Ervan."

"Ih apa sih sok cantik banget deh tuh cewek. Cabut yuk ah."

Begitulah tanggapan mereka setelah melihat kehebohan di kantin.

"Wah Nasya keren. Coba gue yang tadi nabrak Ervan." Komentar Radha terlihat iri. Namun matanya berbinar-binar melihat mereka berdua.

Kriiing.......

Bel berbunyi nyaring yang artinya pelajaran selanjutnya akan dimulai.

"Ke kelas yuk." Ajak Nadia.

Kami bertiga pun kembali ke kelas.

****

"Key, kita duluan yah. Udah dijemput soalnya. Kamu belum mau pulang?" Tanya Nadia setelah kami keluar dari kelas.

"Duluan aja. Gapapa kok." Jawabku.

"Oke deh, yok Nad. Bye Key!" Sahut Radha sembari memasukkan cermin kecil di saku seragamnya.

"Lo di mana? Pulang bareng nggak?"

Aku mengirimi Nasya pesan singkat lewat sebuah aplikasi chat.

Ting.

"Iya, tunggu bentar lagi."

Balasnya.

Aku langsung memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku. Ah, di sini bebas, perempuan boleh memakai rok ataupun celana layaknya siswa laki-laki. Tapi tidak boleh terlalu ketat. Aku lebih suka menggunakan celana panjang seperti ini daripada rok. Ribet kalau bawa motor.

"Keyra!" Seru Nasya setelah keluar dari kelasnya, dia langsung menghampiriku dan kami berdua jalan bersama menuju garasi.

"Key, nanti mampir dulu bentar ya di supermarket depan sana. Ada yang mau aku beli. Gapapa kan?"tanya Nasya saat kami sedang di atas motor.

"Iya." Jawabku seadanya.

Setelah lampu merah aku belok kanan dan berhenti di depan supermarket yang Nasya maksud.

"Ayo Key!" Ajak Nasya setelah turun dari motor.

Aku meletakkan helmku dan mengikuti langkah Nasya di belakang.

"Lo mau beli apa?"

"Pembalut."

"Oke, gue ke sana ya." Ucapku lalu berjalan menelusuri rak beberapa cemilan dan minuman ringan.

Aku memborong yang kuinginkan dan membawanya ke kasir.

"64.300 kak." Ujar si mbak kasir. Aku mengeluarkan dompetku.

"Ini satu aja mbak?" Tanya mbak satunya lagi ke Nasya. Ia mengangguk. Lalu merogoh tasnya, sepertinya dia lupa membawa dompetnya. Iyalah, tadi di kantin dia bilang begitu padaku. Ckck. Dia sendiri lupa.

"Mbak sekalian sama punya dia."

"Oke. Semuanya jadi 76.000 ya. Ini kembaliannya. Silahkan kembali." Ucap si mbak kasir dengan ramah.

"Makasih." Sahutku sembari mengambil kembaliannya.

"Key, sorry ya. Nanti aku ganti deh uangnya. Sama yang di kantin tadi juga." Kata Nasya.

"Gausah. Gapapa kok."

"Tapi kan aku nggak enak."

"Kaya sama siapa aja sih. Kita temenan udah dari kecil. Udahlah nggak perlu diganti. Itu nggak seberapa doang lagian gue ikhlas kok."

"Hmmm ...yaudah deh. Thanks ya Key." Nasya tersenyum padaku dan mencium pipiku sekilas.

Deg..

Perasaan ini lagi? Kenapa jantungku rasanya deg-degan seperti ini? Kurasa pipiku memanas saat ini. Padahal hanya kecupan biasa di pipi. Dan di keluargaku sudah sering aku diperlakukan seperti ini, Mama, Bang Abym dan Papa sering mencium pipiku aku merasa biasa saja, tapi kenapa saat Nasya yang melakukannya darahku berdesir hebat? Jantungku seperti sedang lari marathon di dalam sana. Berdebar-debar tak keruan.

"Keyra, kok malah bengong? Ayo jalan." Nasya menepuk pundakku. Aku keasyikan melamun hingga tak sadar dia sudah duduk di belakangku.

Bruum...

Aku lansung tancap gas setelah Nasya membuyarkan lamunanku. Nasya terkejut dan langsung memelukku.

Duk!

Tak sengaja helm kami berbenturan.

"Aw..." ringisnya pelan sekali. Nyaris tak terdengar olehku. Yang kudengar hanyalah bunyi detak jatungku yang kencang karena tangan Nasya masih melingkar di perutku.

"Sorry.. sorry." Ucapku.

Nasya hanya diam dan langsung melepaskan tangannya dari badanku. Dia terdiam hingga kami tiba di halaman rumah Nasya.

"Nih helmnya. Makasih." Ucap Nasya sambil memberikan helm yang dipakainya padaku. Nasya menunduk dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Hey, ada apa dengannya? Apa dia marah padaku?

Aku langsung keluar dari halaman rumah besar itu dan menjalankan motorku menuju rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi dari rumah Nasya.

***

Aku mengerjapkan mataku sambil menguap. Kulihat jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 8 malam. Sudah berapa lama aku tertidur?

Aku bangkit dari tempat tidur sembari merenggangkan otot-ototku.

"Eh kebo. Bangun juga kamu. Tidur apa pingsan?" Seru Bang Abym langsung masuk ke kamarku. Membuatku kaget saja.

"Apa sih Bang. Main masuk aja. Ketuk dulu kek pintunya."

"Salah siapa nggak dikunci?"

"Kebiasaan."

"Buruan turun, udah pada nungguin tuh di meja makan. Tidur mulu kerjaannya. Pulang sekolah langsung tidur. Itu juga kenapa seragam belum diganti? Jorok banget sih jadi cewek?" Omelnya padaku.

"Iya abangku yang bawel kaya emak-emak nggak kebagian arisan. Sana keluar. Dedek imut mau ganti baju!" Aku mengusirnya dari kamarku.

"Iiih apa sih abang ganteng bisa jalan sendiri." Ia menepis tanganku yang mendorong bahunya.

"Iya bawel. Sana" aku langsung menutup pintu kamarku setelah Bang Abym keluar. Menyebalkan.

Aku segera membersihkan badanku yang terasa lengket karena keringat. Setelah itu aku turun ke bawah untuk makan malam dan kembali lagi ke kamar.

Aku berniat membaca novel sambil duduk santai di atas balkon kamar.

Aku memandanginya yang sedang duduk di meja belajarnya. Rajin sekali dia.

Dari atas sini, aku bisa melihatnya setiap hari. Kamar kami saling berhadapan di atas sini. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi delapan meter. Kamarku ada di lantai dua.

Aku sampai lupa dengan niatku untuk membaca novel. Entah kenapa memandanginya menjadi hobiku untuk saat ini.

Aku tersenyum sendiri saat melihat Nasya merenggangkan otot-ototnya. Tak sengaja pandangan kami bertemu. Aku melambaikan tanganku padanya seperti biasa. Namun dia langsung menutup tirainya dan mematikan lampu kamarnya begitu melihatku. Senyuman di wajahku memudar. Ada apa dengannya? Biasanya kami akan mengobrol dari atas sini sampai pagi. Bercerita apa saja tanpa bosan. Tapi hari ini berbeda, dia seolah menghindar dariku, sejak tadi siang sepulang sekolah. Ada apa dengannya? Tiba-tiba berubah seperti ini. Rasanya aku tidak berbuat kesalahan padanya? Tapi apa yang membuatnya bersikap seperti ini padaku? Sikapnya kadang membuatku bingung sendiri.

"Ah. Bodo amatlah. Besok aja tanya langsung di sekolah"

Aku langsung menutup jendela kaca kamarku dan segera merebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku tiba-tiba merasakan kantuk dan aku pun terlelap.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play