Aku Dan Dia (GxG)

Aku Dan Dia (GxG)

1. Keyra Namaku

"Dek, pelan-pelan bawa motornya. Nanti jatuh."

Teriak seorang laki-laki yang usianya lebih tua enam tahun dariku. Dia kakakku, Abym. Perkenalkan namaku Keyra Anindita Laurinda, umurku 15 tahun. Dan sekarang aku sudah kelas 1 SMA. Hari ini adalah hari pertamaku masuk setelah melewati masa MOS selama tiga hari kemarin. Tidak usah diceritakan masa menyebalkan itu. Sama saja seperti pada umumnya. Membosankan, tapi aku sudah memiliki beberapa teman baru yang baik dan menyenangkan. Nanti saja kukenalkan saat ku sudah tiba di sekolah. Saat ini aku harus cepat-cepat agar tidak terlambat.

"Iya bang. Emang aku anak kecil apa?" Balasku berteriak. Aku segera melajukan motorku dengan kencang.

Untung saja aku tidak terlambat, saat aku baru sampai di kelas Bu Asmi menyusul masuk.

"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita mulai pelajaran pertama ya. Silahkan buka buku lks kalian masing-masing pada halaman berikut." Perintah bu Asmi, guru Bahasa Indonesia setelah menulis nomor halaman di papan tulis. Kenapa tidak disebutkan saja? Ribet sekali.

"Baik Bu." Sahut seisi kelas. Pelajaran pertama berlangsung cukup menyenangkan. Bu Asmi kelihatannya saja garang tapi aslinya humoris. Suasana kelas menjadi tidak membosankan, aku suka.

"Eh Key, pelajaran kedua nanti apa ya?" Tanya perempuan di sebelahku. Namanya Radha.

"Fisika. Lo nggak nyatet jadwal apa?" Sahutku.

"Hehe. Enggak. Nanti minta sama lo aja ya?" Jawabnya santai. Dasar.

"Iya." Balasku.

Selang beberapa waktu, Pak Mustakim yang mengajar Fisika masuk ke kelas.

Pelajaran pun dimulai.

"Sst.. Keyra. Bagi liat dong bukunya. Gue nggak bawa." Bisik Radha pelan. Aku meletakkan buku paket Fisikaku di tengah-tengah meja. Astaga, anak ini niat sekolah tidak sih?

"Hehe makasih." Ucapnya nyengir.

>>istirahat>>

"Gila ya, gue ngantuk banget tadi pas pelajaran Fisika." Keluh Radha sambil menyeruput es jeruk miliknya.

"Iya, aku juga. Bapak itu jelasin materinya cuman baca doang. Mana susah lagi pelajarannya. Puyeng aku." Sahut Nadia. Aku hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka. Aku fokus melahap nasi goreng di hadapanku.

Saat ini kami bertiga sedang berada di kantin. Mereka berdua ini adalah sahabat baruku di kelas X IpA 1

"Lo diem aja dari tadi Key?" Ucap Radha. Aku menoleh ke mereka setelah menghabiskan makananku.

"Sorry ya, gue kalo lagi makan nggak boleh sambil ngobrol, hehe." Ucapku tak enak. Mereka ber-oh ria.

"Cepet amat makannya Key. Laper apa doyan?" Timpal Nadia.

"Iya nih Nad. Haha. Gue nggak sempet sarapan tadi pagi." Jawabku.

"Eh eh itu lihat deh. Ya ampun ganteng banget ya? Huwaa kereen!" Seru salah satu siswi di belakangku. Teman-temannya yang lain ikut nimbrung. Ada yang nyamperin si doi, ada yang berfoto ria sama dia, bahkan ada yang ngasih bunga. Siapakah dia? Apa setampan itu wajahnya sampai-sampai dikerumunin para cewek alay satu sekolahan.

"Siapa sih?" Tanyaku penasaran.

"Astaga, Keyra yang cantiknya di bawah Radha. Lo nggak kenal? Lo nggak tau dia siapa? Seriusan?" Tanya Radha heboh. Saking hebohnya dia sambil gebrak meja.

"Radha! Untung bakso gue nggak tumpah!" keluarlah kata 'gue' dari seorang Nadia. Dia mendelik kesal ke arah Radha. Radha hanya cengar-cengir sambil berkata maaf.

"Serius Key lo nggak tau?" Tanya Radha lagi. Aku menggeleng.

"Dia itu Ervan Wijaya. Anak kepala sekolah yang juga si kapten basket, ketua osis, dan siswa kebanggaan sekolah ini dengan segudang prestasi, baik di bidang musik, olahraga, dan akademik. Dia siswa ter-famous dan terkeren seantero sekolah and then lo nggak tau itu? Seriously?" Ucap Radha dalam satu tarikan napas. Aku hanya melongo melihat reaksi berlebihannya itu.

"Emang iya?" Tanyaku tak percaya. Mana ada yang seperti itu di dunia ini. Tidak ada orang yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Allah swt. , Sang pencipta alam semesta.

"Lebay kamu Nad. Bagiku Ervan biasa aja. Nggak sekeren dan seganteng itu, iya kan Ra?"

"Iya bener tuh."

"Ugh. Kalian nggak asyik. Gue ke sana dulu ya. Daah. Gue mau foto sama Ervan. Jangan kangen kalian sama gue. Bye." Dasar Radha. Dia menghampiri kerumunan itu dengan kasar. Dapat kulihat dari sini dia berhasil berfoto dengan doi.

"Radha ... Radha." Nadia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Radha. Akupun sama.

"Lebay banget ya mereka. Kurang kerjaan aja"

Komentar Nadia memandangi kerumunan cewek-cewek di meja tempat Ervan duduk. Kantin yang tadinya sepi tiba-tiba jadi ramai karena kedatangan cowok bernama Ervan itu.

"Hai Key." Sapa Nasya di kejauhan. Dia berjalan ke arahku sambil membawa nampan berisi pesanannya.

"Boleh duduk di sini kan?" Tanyanya sambil melirik kursi di sebelahku.

" iya duduk aja. Kosong kok." Sahutku.

Nasya pun duduk di sebelahku.

Nadia menatapku seakan bertanya siapa yang kini duduk di sampingku.

"Kenalin Nad, ini Nasya. Sahabat gue dari kecil. Nasya ini Nadia." Aku memperkenalkan mereka berdua.

"Nadia."

"Nasya Evacska, panggil aja Nasya."

Ucap mereka saling berjabat tangan. Tak lama Radha kembali dengan senyuman lebar. Dia mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Nadia.

"Girang banget kamu Dha?" Ujar Nadia.

"Hehe iya dong. Kapan lagi bisa foto bareng sama orang ganteng." Sahutnya bangga. Nadia terlihat mengikuti gerak bibir Radha seolah dia yang bicara. Lucu sekali mereka.

"Eh siapa Key?" Tanya Radha sembari melirik Nasya sekilas.

"Nasya. Sahabat gue, dia kelas XIpa2." Jawabku.

"Hai. Kenalin gue Radha."

"Nasya."

Mereka saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing.

"Kok lo nggak bilang punya temen secantik ini, Key. Ah nggak asyik lo. Baru ngenalin ke kita." Seru Radha.

"Hah?" Ucapku bingung. Random sekali anak ini. Tiba-tiba berkata seperti itu. Memangnya kenapa kalau Nasya cantik?

"Hehe makasih. Kalian berdua juga cantik kok. Aku mah kalah." Ucap Nasya. Hidung Radha kembang kempis mendengar pujian dari Nasya. Sedangkan Nadia tetap kalem.

"Ah itu mah dari lahir. Haha." Radha menyombongkan diri.

Aku melempar wajahnya dengan tisu bekasku tadi.

"Eh lo bilang apa tadi Sya? Kalian berdua maksudnya gue sama Nadia ya? Berarti Keyra enggak dong? Hahaha" ucap Radha mengejekku.

Aku melemparinya lagi dengan tisu.

"Apa sih Key? Iri lo ya sama kecantikan gue? Hah?" Radha mengibaskan rambutnya bak iklan sampo (sampo hewan).

"Ih ngapain iri sama muka boros lo itu. Wle. Gak usah sok imut gitu muka lo nggak cocok." Gurauku.

"Enak aja. Ngatain gue muka boros. Elo tuh muka lo yang boros. Jelek! Wlee!" Ejek Radha tak mau kalah. Aku mengambil sendok di tempatnya itu lalu menjitak dahinya dengan benda tersebut.

"Awh.. sakit ogeb!" Ringis Radha sambil mengusap-usap dahinya. Haha. Rasain.

"Ngeselin sih."

"Nad sakit Nad. Marahin dia Nad." Adu Radha ke Nadia. Ia menggoyang-goyangkan lengan Nadia.

"Ih lepasin Dha. Risih tau nggak." Nadia menyingkirkan kepala Radha yang menempel di pundak Nadia.

"Hmm .. jahats.." Ucap Radha pura-pura menangis.

Aku cukup terhibur melihat kelakuan temanku itu.

"Eh aku duluan ya. Bye Nad, Dha, kalian lucu deh. Kapan-kapan ke kantin bareng ya?" Ucap Nasya beranjak dari tempat duduknya.

"Iya samperin aja kita di kelas Sya." Sahut Radha.

"Bye Key." Nasya melambaikan tangannya ke arahku.

Dan...

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play