Seseorang datang, mengunjungiku, seraya menepuk salah satu bahuku dari belakang. Aku yang melirik sejemang ke arahnya, hanya mendengus pelan. Asap putih tipis membumbung tinggi ke udara kala aku menghela napas, perlahan-lahan hilang bersama dengan polusi udara dan lelehan salju tatkala cuaca siang itu lebih hangat—tidak seperti pagi tadi; walaupun suhu hanya mencapai 2 derajat celcius. Di suasana ramai kota London, orang-orang tidak akan peduli akan urusan suatu kelompok ataupun seseorang. Khas orang-orang Eropa, tidak mau ikut campur, yang membuatku betah berlama-lama di sini. Bahkan tidak peduli dengan kedatanganku di sela-sela trotoar menunggu seseorang sejak tadi, dengan jaket tebal berwarna coklat tua, celana jins panjang, sepatu boots, serta syal merah marun yang dipadukan kacamata berlensa bulat milikku. Selama tidak mengganggu ketertiban umum, mereka tidak akan peduli akan kehadiranku.
Seseorang yang tadi datang, memberi isyarat jemarinya agar aku mengikutinya. Orang itu sama denganku—menggunakan jaket tebal dan sepatu boots, serta syal tebal di dekat leher. Bedanya, dia tidak menggunakan kacamata. Pria yang diperkirakan berumur sekitar tiga puluh itu kadang membuatku terbesit rasa iri. Dia tidak akan merasakan embun angin yang terjebak dalam lensa kacamata saat pagi, atau lensa yang tertutup embun dingin pada saat musim dingin ini, walaupun embun itu kupastikan tidak akan betah berlama-lama hinggap di sana karena aku kini menggunakan lensa khusus. Aku membiarkan orang itu berjalan mendahuluiku, melewati sebuah gang kecil di sisi jalan, membiarkanku mengekori di belakangnya, walaupun aku paham kita akan menuju kemana.
Sebuah tempat terpencil kota, sekitar lima ratus meter dari selatan menara jam terbesar kedua dunia Big Ben, ada sebuah rumah petak kecil yang tanpa ada siapapun berkunjung. Aku yang bukan pertama kali datang ke tempat itu, hanya melangkah ke dalam bersamanya dengan santai. Kami harus tetap berhati-hati karena jalanan yang sedikit licin selama musim dingin. Beruntung saja, salju tidak lagi turun dengan lebat siang ini, membuat kami bisa melenggang bebas kemanapun. Mobil patroli kota juga terlihat sudah siap menyapu salju yang menghalangi jalanan ibukota. Kami hanya berdua di tempat itu, disambut dengan bau lembab kayu dan juga arak di dalam ruangan berpintu dan beratap berkedok rumah singgah ini. Siapa yang terakhir kali menggunakan tempat ini, pasti berpesta semalam suntuk, dengan meninggalkan sisa remahan biskuit di atas meja, serta bau alkohol yang menusuk hidung. Aku mengambil tempat duduk di atas meja, dengan mataku menelusuri seisi ruangan. Masih sama seperti terakhir aku berkunjung sekitar dua tahun lalu. Ruangan ini remang tanpa cahaya matahari menyinari; hanya lampu kuning yang kadang-kadang suka mati sendiri. Lokasi ini masih agak dekat dengan menara jam Big Ben. Jika waktu London menunjukkan pukul sebelas tepat, dua belas tepat, dan jam-jam tepat lainnya, gema loncengnya bergetar hingga mengganggu pendengaran kami, seolah-olah menembus rumah petak ini. Jika sudah begitu, kami akan berhenti berbicara sejenak, hingga satu menit berlalu, dan lonceng pada jam itu dapat berhenti dengan sendirinya.
"Xavier," orang itu memanggilku, dan aku segera menoleh ke arahnya, membuatku melihat gerak-geriknya di samping kiriku.
Dia menarik sebuah laci kayu tua yang agak lapuk dimakan usia dan lembab, yang terletak pada sebuah sisi tembok, di sebelah kiri posisiku. Dia melempar sebuah benda padaku, yang dengan segera kutangkap dengan kedua tanganku. Sejenak, aku tidak begitu memperhatikan benda tadi itu apa, namun setelah aku melihatnya dari dekat, aku paham apa yang ingin dikatakan olehnya.
Aku menatap lamat benda itu. Sebuah arloji perak serta bandulan yang menyerupai tetesan air. Bundaran jamnya diukir dengan cantik dan artistik, dengan jarum dan angka romawi pada jam tersebut berwarna emas. Lingkar jamnya tergolong kecil, hanya ber diameter sekitar 1,5 sentimeter. Arloji ini tertulis namaku di sana: Xavier—dan aku sudah menduga ini dari siapa. Aku mengangguk pelan.
"Terima kasih. Berkatmu, aku tahu bahwa ada permainan di sini," ucapku tanpa menoleh dari arloji, yang dibalas dengan anggukan pelan darinya, serta tepukan pelan ke bahuku.
"Saya sudah menyelidiki yang bersangkutan, benar keduanya seperti itu."
"Padahal saya sudah … " aku hanya menghela napas. Kini hanya menatap benda tadi dengan gusar, sebelum melempar ke atas meja dengan sembarangan. Aku menghembuskan nafas panjang, hingga nafasku menjadi putih, pertanda bahwa kini hawa semakin dingin. Aku mulai merapatkan syalku, menghalangi suhu sekitar yang tiba-tiba menusuk kulitku.
Abigail, merupakan kekasihku sekitar tiga tahun lalu. Kami sama-sama berada pada jenjang yang sama, yaitu Strata satu, di Universitas Cambridge. Aku mengambil jurusan Ekonomi, sedangkan dia jurusan Studi Asia dan Timur Tengah. Kami seringkali bertemu saat senggang, dan tempat favorit kami adalah Perpustakaan Fakultas Sejarah di West Road, Universitas Cambridge. Walaupun aku dengan Abigail hanya bertemu sekali dua kali dalam seminggu—atau bahkan rentang sepuluh hari—kami selalu meluangkan waktu untuk bersama, entah untuk sekedar berbincang ringan, menggambar, atau membaca bersama. Setelah itu biasanya kami akan ke kantin terdekat untuk makan makanan Asia bersama. Favoritnya adalah katsudon¹, dan aku lebih memilih beef tortilla sandwich atau bentuk sandwich lain. Jika liburan musim panas, kami biasanya mengunjungi kota kelahirannya di Varna, Bulgaria. Tempat favorit kami di sana adalah Sea Garden, Pantai Ostrov, atau Bukit Rila.
Kami berpacaran hanya satu tahun lebih di saat kami berada pada tahun kedua perkuliahan. Perpisahan kami juga bukan karena ada konflik di antara kita, bukan juga karena pendidikan yang berbeda karena kami akan memilih jalur yang sama, bukan juga karena perbedaan budaya yang mengharuskan berpisah. Kami berpisah karena kecelakaan, yang menewaskan Abigail di puncak air terjun Orlov Stone. Aku sangat menyesal akibat keteledoranku. Abigail terkilir dan terjatuh di hamparan bebatuan air terjun, dan tewas seketika. Luka yang sampai saat ini membekas dari tiga tahun lalu.
"Bagaimana selanjutnya sekarang?" tanya orang itu meminta konfirmasi dariku. Aku masih menatapnya gusar, kemudian bangkit dari tempat duduk, dan berbalik badan hendak pergi ke pintu luar. Langkahku terhenti sejenak saat melihat bagaimana bangunan istana kerajaan di depan pandangan mataku. Bangunan itu besar, kaya akan loyalty ala kerajaan. Bertabur emas dan kekayaan. Aku terdiam, hingga menutup mata. Selang beberapa menit, aku berbalik badan. Aku melirik pada orang itu yang masih berdiri pada tempatnya, tersenyum ramah, dan aku membalas senyum itu sama ramahnya. Kendati senyuman itu terlihat ramah, namun tersirat sesuatu.
Dua puluh enam bulan kedua belas. Varna, sebuah kota kecil di Bulgaria membutakan para turis dengan keindahan alamnya. Tidak terbatas pada Varna, ibukota Sofia dan pegunungan Rila juga tidak kalah indah dengan tanaman hijau dan aneka bunga berkelopak merah muda saat musim semi. Kota Sofia kala itu diselimuti salju, namun tidak menyelimuti keindahan kota. Bukan sebuah rutinitas tahunan untuk berkunjung ke rumah keluarga mendiang Abigail pasca Natal. Kunjungan kali ini memang ingin menyelidiki sesuatu yang berhasil didapatkan dua hari sebelumnya, dan banyak informasi yang kudapatkan dari pengakuan keluarga, dan kerabat. Berangkatlah dari semua ini, menjadi pembalasan kepada orang-orang itu.
Tanggal dua puluh delapan, aku kembali menjejakkan kaki-kakiku di London. Suasananya mirip dengan ibukota Sofia; sama-sama bersalju. Bedanya, London kini sedikit lebih hangat. Di sinilah aku kembali meneliti, dan mencari tahu tentang apa yang tersembunyi dengan bantuan rekan dan ilmu pengetahuan terkait teknologi dan komputer yang kuketahui.
Hasilnya, pembunuh itu berada di Cambridge. Aku menemukannya, yang baru kusadari mereka datang saat upacara pemakaman Abigail saat itu.
Pembunuh itu kejam. Walaupun mereka tidak menyentuh Abigail secara langsung, namun dengan pasang jarinya, mereka mampu menebar opini menyakitkan hati bagi Abigail. Orang itu menulis dalam blognya, bahwa ada seorang mahasiswi bernama Abigail dari Cambridge yang licik dan suka membawa bencana, dan menuturkan bahwa mahasiswi itu menjual segala bentuk cerita sedih dan berujung penipuan demi biaya kuliah dan asramanya. Kemudian di tulisan itu juga disebutkan terkait orang tuanya di luar Inggris, dan pasangan itu sering terlihat membuat onar. Orang itu menulis dengan identitas anonim, menyebarkannya ke internet, dan menjadikannya viral di media sosial dengan kata-kata kasar dan menyuruh Abigail untuk mati. Aku yang memahami bahwa ini merupakan perundungan, berjanji pada diri sendiri, untuk melindungi Abigail, dan melakukan apapun demi menutup mulut orang-orang jahat itu. Aku berusaha untuk selalu ada di sisinya, menutup setiap cuitan negatif itu, sampai pada Abigail mendapatkan teror di asramanya, mendapat kekerasan fisik dan pelecehan, namun orang-orang menganggapnya bahwa dia pantas menerimanya. Mereka melakukannya di belakangku—saat aku kembali ke asrama, atau kami berpisah di jalan, atau aku jauh dari pandangannya. Puncaknya, Abigail berkata ingin melompat dari Tower Bridge, namun aku berusaha agar tidak akan terjadi, dan berjanji akan selalu melindunginya, karena aku tidak akan pernah terpengaruh dengan segala sensasi negatif itu, bagaimanapun caranya. Esoknya, Abigail terlihat lebih cerah, senyumnya merekah, hingga aku berpikir bahwa dia sudah lebih baik, aku sangat senang. Namun, rupanya aku salah mengira. Aku mengajaknya ke wisata air terjun Orlov Stone di hari Minggu, dan di sanalah kecelakaan itu terjadi.
Setelah kembali ke London, aku mulai membuka surat yang ditinggalkan kepada keluarga mendiang untukku sebelum kematiannya. Dia menjelaskan, bahwa dia sangat mencintaiku, sehingga dia tidak ingin terlalu bergantung padaku. Setelah menyelidiki, sampailah pada tahap ini, tersebar rumor lain, bahwa Abigail sengaja bunuh diri di puncak air terjun dengan melewati pagar pembatas, dan melompat tanpa ingin membawaku, karena semata tidak ingin ada lagi yang menerornya selama dia menjalin hubungan denganku, dan dicap sebagai perempuan jalang yang merebut gebetan orang.
Aku tidak perlu menggunakan kedua tanganku untuk membunuhnya, tidak perlu. Aku cukup memanipulasi data pada komputer, kemudian mencuri data mereka, menduplikat identitas milik mereka, sehingga mereka merasakan adanya ketidakadilan, kehilangan keluarga dan sahabat, serta hilangnya kepercayaan diri. Kemudian, pada saat tanggal enam Januari pukul sebelas malam, aku mendengar kabar bahwa salah satu dari mereka itu bunuh diri di rumahnya, dan lainnya di tanggal sepuluh Januari, di penjara akibat memanipulasi laporan keuangan toko tempat dia bekerja yang tidak pernah dilakukannya.
Mudah, bukan?
Kalian layak mati.
Kamu, laki-laki bernama Johnson, bersama perempuan bernama Violet, yang menulis di blog, yang meneror Abigail hingga depresi, pantas mati.
Johnson merupakan pekerja paruh waktu di sebuah restoran, yang sangat akrab dengan sosial media, sedangkan Violet merupakan teman seasrama Abigail yang sakit hati karena perempuan itu mencintaiku, dan tidak rela dengan hubungan kami. Mereka bekerja sama untuk menyingkirkan kekasihku, dan fakta-fakta itu bukan sesuatu yang sulit untuk ditemukan. Itulah mengapa aku mengandalkan orang-orang kepercayaanku untuk menemukan mereka.
"Biarkan saja. Terima kasih sudah melakukannya untukku," aku berucap tenang menjawabnya, dan respon lawan bicaraku hanya mengangguk pelan pertanda mengerti.
"Bagaimana jika kita minum kopi?" ajak orang itu, yang tanpa pikir panjang kuterima dengan sebuah anggukan.
"Kita ke Buckingham saja," kataku memberi saran padanya.
"Mengapa Buckingham? Kukira kau akan rindu Cambridge."
"Sekali-kali menerobos area kerajaan daerah utara, siapa tahu kita bisa bertemu Ratu Elizabeth."
Dia mengangguk, kemudian mengikutiku ke arah Buckingham. Cambridge, terlalu indah untuk di romantitasi, dan dikenang.
—
¹katsudon: makanan khas Jepang yang berisi semangkuk nasi yang di atasnya diberikan potongan daging babi goreng, telur, sayuran, dan bumbu.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 5 Episodes
Comments
HEEJIN
Wow, what a powerful story! I'm still thinking about it.
2024-01-21
1