EXTRA CHAPTER - Raditya's Birthday [21/03]

Berharap, hari ini tidak pernah ada

21 Maret 2024, Tanjung Barat

Sore ini, tepat pukul enam sore Ditya baru pulang dari kampus. Kegiatannya hari ini cukup padat sejak pagi, hingga ia melewatkan makan siangnya hanya demi bolak-balik kelas sebagai mahasiswa juga asisten dosen. Saat perjalanan kembali ke rumah pun, pemuda itu menggunakan transportasi umum, turun di depan komplek dan berjalan kaki sekitar lima ratusan meter, sampai lupa untuk membeli cemilan manis demi mengisi tenaga setelah beraktivitas seharian. Jika dirimu sedang fit, jarak itu memang bukan masalah. Namun, seorang Raditya yang secara fisik memang agak lemah, ia benar-benar seperti puding yang berjalan di atas aspal. Hingga sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya ia saat mendapati pagar rumah terbuka. Karena seingatnya, seharusnya baik ayah maupun kakaknya pulang ke rumah agak malam.

"Eh? Ada tamu, kah? Baba udah pulang?" gumamnya seorang diri, yang perlahan-lahan memasuki rumah.

Pintu rumah juga sudah terbuka, juga sepasang alas kaki perempuan juga ada di teras. Ditya sejenak menerka-nerka, siapa gerangan yang datang, dan siapa yang ingin ditemui. Semakin rasa penasaran memuncak, ia memasuki rumah. Terkejutlah ia, tatkala di ruang tengah terdapat dua sosok orang tua paruh baya, pria dan wanita, yang sedang duduk saling berhadapan di atas sofa panjang yang dipisahkan oleh sebuah meja kayu. Ditya tentu saja mengenal keduanya, namun tamu yang itu tidak disangka olehnya.

"Mama?" panggil sang pemuda pelan, yang diikuti dua pasang mata menengok ke arahnya.

"Liú Láng¹?" seorang wanita paruh baya memasang senyum senang, sambil berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Ditya yang masih termangu di sisi pintu, pun diikuti oleh sang ayah yang hanya berdiri di posisinya. Ditya yang mendengar panggilan itu, serta melihat bagaimana penampilan sang ibu di hadapan, ia merasa asing.

Wanita itu menggunakan hijab berwarna hijau lumut, dengan pakaian seperti gamis yang memiliki warna senada. Semenjak menikah dengan suami barunya yang seorang Muslim, wajar saja jika penampilan sang ibu mengikuti layaknya Muslimah. Wajahnya masih terlihat awet muda, walaupun beberapa kerutan tipis di wajah mulai terlihat saat tersenyum tadi. Selain itu, tubuhnya masih kurus. Atau mungkin ... lebih kurus semenjak kurang lebih setahun yang lalu tidah pernah melihatnya lagi.

Ditya sadar, sang ibu benar-benar berbeda semenjak perceraian kedua orang tuanya.

Pemuda itu hanya mengambil tempat duduk di sebuah sofa di samping sang ayah, dengan ekspresi wajahnya yang sulit diprediksi. Sang ayah hanya menatap mereka dalam diam, kembali duduk di sofa lalu memainkan ponselnya. Sedangkan sang ibu, mulai menghampiri Ditya, sambil menyerahkan sebuket bunga serta boks kue lapis talas yang tadi berada atas meja ke arahnya. Sejenak, Ditya terkejut karena tidak sadar akan keberadaan buket bunga tadi. Mungkin karena terlalu syok akan kedatangan sang ibu.

"Happy Birthday, sayang. Mama bawain kado buat kamu. Tadi mama sengaja datang ke sini buat surprise, tapi kamu kayaknya makin sibuk, ya?" ucap sang ibu sambil bercerita, sedangkan Ditya merasakan emosi yang campur aduk di dada.

Satu sisi, ia ingin kabur dari sini, namun ia tidak tega jika tidak menerima pemberian sang ibu. Akhirnya, dengan kedua tangan Ditya menerimanya, mengangguk pelan sambil tersenyum yang dipaksakan. "Terima kasih."

"Mama tau, kamu kecewa sama mama, tapi mama sampai kapanpun gak pernah lupa sama anak-anak mama," ibunya kembali berbicara, yang kini membuat perasaan Ditya semakin tidak karuan.

Buket itu ia genggam, namun agak sedikit diremas. Perasaannya semakin kacau, apalagi melihat bagaimana cantiknya bunga ini. Akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari duduk, lalu berjalan menuju kamarnya di dekat sana tanpa mengatakan apapun. Sebelum benar-benar masuk, Ditya berkata, "Terima kasih sudah ingat, tapi bagaimana dengan jiějiě²? Kayaknya mama lupa sama dia."

Mendengar pernyataan itu, wanita paruh baya itu tiba-tiba terdiam dan terkejut, dan tidak bisa menjawab, kemudian menunduk. Seakan-akan tidak peduli dengan reaksinya, Ditya masuk kamar dan menutup pintunya, kemudian menyimpan buket bunga dan kue tadi di atas meja belajarnya.

Sementara di ruang tengah, sang ayah mulai membuka suara. "Sudah kubilang, anak-anakmu itu udah benci sama kamu!"

"Diam, Liú Yáng³!" sanggah sang ibu sambil berteriak dan menatap nyalang ke sang mantan suaminya itu. "Mereka juga sama bencinya ke kamu yang suka main pukul!"

"Itu karena salahmu juga suka main sana-sini seperti 贱女人⁴! Anak ingin punya ibu seperti itu?" sang ayah bersikeras, kembali bangkit untuk membalas perkataan wanita itu.

"Cukup! Kalo kamu lebih sayang anak, aku gaakan milih orang lain!" sang ibu masih membela diri.

"Aku selalu memberikan semua yang kalian inginkan, kamu malah milih selingkuh terus di belakangku!"

"Apa yang diberikan? Trauma? Pukulan?"

"Memang kamu pernah ngasih apa ke mereka? Kasih apapun ke selingkuhanmu tapi tidak anakmu! Dua kali berselingkuh tapi masih alasan aku yang salah? 不要脸⁵!"

"Tentu aku kasih mereka perlindungan! Kamu bisa apa?!" kini sang ibu mulai bergetar suaranya.

"Selingkuh lalu kabur ke selingkuhanmu apakah itu melindungi mereka?" sang ayah seolah-olah tidak peduli, bahkan membentak mantan istri di hadapan, membuat wanita itu tidak berdaya.

"Cukup!" sebuah teriakan menghentikan cekcok mereka, disusul sebuah gelas kaca yang dilempar begitu saja hingga mengenai dinding di dekat sang ayah dan pecah. Suara pecahan kaca itu sukses mendistraksi kegiatan mereka, dan keduanya saling mencari sumber suara. Rupanya ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka—yaitu Ditya—yang sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak mengambil langkah.

"Kalian semua salah! Semuanya salah! Percuma saling membela diri! Kalian semua orang-orang egois!" Ditya pun berteriak, benar-benar sudah lelah dengan kondisi sekarang. Wajahnya memerah, dengan kedua tangan mengepal di samping tubuh. Ia sudah lelah semuanya.

"Masuk kamar sana! Ini bukan urusanmu!" bentak sang ayah kepada sang anak di sana, namun pemuda itu malah mengangkat dagunya; menatap sinis sang ayah.

"Oke, kalau bukan urusanku, setidaknya kalian bertengkar di luar sana. Aku capek denger kalian ribut siapa yang salah, siapa yang duluan. Kalian semua salah! Kalian semua egois! Bener kalian emang gak pernah sayang sama anak-anaknya!"

"Sayang ... " sang ibu mencoba membujuk dengan sisa-sisa tenaga yang dipunya. Namun, Ditya sudah kepalang benci melihat sang ibu, dan enggan menatap sang ayah sama sekali. Ia pun berbalik badan, kembali masuk kamar dan membanting pintu.

"我不想原谅你们⁶!!" teriak Ditya dari dalam, yang membuat kedua orang tua itu terperajat.

Dua orang tua itu saling menatap satu sama lain, seolah-olah berkomunikasi dengan telepati. Suasana menjadi benar-benar sunyi. Entah apa yang terjadi setelahnya, karena suasana rumah itu mendadak sepi, hening, tidak ada lagi pertengkaran dan teriakan. Ditya hanya seorang diri di ruangan kamar itu, menangis. Hingga isakannya bahkan tidak begitu terdengar sama sekali.

Orang tua Ditya sudah bercerai, tepatnya di tahun 2023 bulan Agustus kemarin. Sang ibu memang ketahuan selingkuh setelah diam-diam menjalin hubungan dengan seorang pria duda beranak satu, yang entah bagaimana caranya mereka bisa bertemu dan berkencan. Sang ayah memang seringkali melakukan kekerasan fisik kepada keluarganya. Keluarga itu terdiri dari empat orang, yang mana anak-anaknya merupakan sepasang saudara. Biarpun kakaknya perempuan, tidak menutup kemungkinan bebas dari kekerasan. Alasan kekerasan inilah yang mendasari setiap perilaku sang ibu yang selingkuh, biarpun sebenarnya masih bisa dilakukan penyelesaian melalui perceraian di Pengadilan Negeri. Namun, faktanya, perselingkuhan ini bukanlah yang pertama kali. Sehingga, alasan kekerasan berujung selingkuh seolah-olah hanya mengada-ngada.

Saat sang kakak perempuan Ditya—Jihan—berumur sekitar empat tahun, sang ibu selingkuh dengan teman semasa kuliahnya, yang berakibat melahirkan dirinya. Bertahun-tahun kemudian, sang ibu kembali kedapatan selingkuh, hingga sang ayah memutuskan bercerai.

Terkait sang ayah yang melakukan kekerasan, belum diketahui pasti apakah akibat rasa kecewa terhadap perilaku sang ibu, atau hanya ingin memenuhi egonya sebagai laki-laki dan suami.

Ditya bertahun-tahun menghadapi ketidakadilan dalam keluarga, berkali-kali berpikir seandainya ia tidak hidup, seandainya dia tidak lahir, seandainya dia berhasil dibunuh sebelum kelahirannya ... mungkin tidak akan menjadi serumit ini. Mungkin jika ia tidak hidup, keluarganya masih utuh, kakaknya tidak akan menjadi sasaran amukan. Tidak, kan ... ?

Pemuda itu masih menangis di kamarnya, terisak dan perlahan-lahan suaranya menghilang. Ia terbiasa seperti ini, terbiasa sendiri, karena hidupnya bertahan seorang diri, tanpa orang lain menghampiri, bahkan setelah kedua orang tuanya resmi bercerai dan Ditya kembali melakoni hidup seorang diri. Di sini.

Bintang baginya, lebih baik tidak pernah muncul sama sekali.

****

¹ \= Liú Láng (刘郎) panggilan/nama kecil Raditya di kalangan keluarga inti. Láng (郎) yang bisa diartikan sebagai "Anak muda laki-laki"

² \= Jiějiě (姐姐) panggilan untuk kakak perempuan, atau perempuan yang sosoknya lebih tua namun belum menikah. Secara umum dalam bahasa Mandarin, disebut "Jiejie/jeje". Jika dalam Hokkien disebut "Cece", dan Hakka disebut "Cici"

³ \= Liú Yáng (刘杨) kependekan dari Liú Zhēnyáng (刘真杨) nama Cina sang ayah

⁴ \= Jiàn nǚrén (贱女人) kata umpatan, yang artinya "Jalang/pelacur"

⁵ \= Bùyào liǎn (不要脸) kata umpatan, yang artinya "Tidak tahu malu"

⁶ \= Wǒ bùxiǎng yuánliàng nǐmen (我不想原谅你们)yang artinya "Aku tidak ingin memaafkan kalian". Konteks ini dikarenakan Raditya tidak ingin lagi (不想要了; bùxiǎng yàole) memaafkan kedua orang tuanya.

Sebuah catatan kaki: keluarga Raditya merupakan campuran Tionghoa - Indonesia. Sang ayah adalah orang asli asal Tiongkok, terkadang menggunakan aksen Mandarin untuk berbicara. Raditya sendiri juga memiliki nama Cina, yaitu Liú Shuāng Lín (刘霜林)

Bonus: visual Raditya Anggara Rahayu (Ditya), 22 tahun

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play