Cerita Malam Hari

Di sinilah aku, yang berada di atas sebuah jalanan panjang yang menghubungkan dua kota besar, berdiri di atas sebuah pembatas antara dua sisi jalur arteri yang terbuat dari beton setinggi kurang dari satu meter dan setebal enam puluh sentimeter, di atas dinding pembatas antara pijakanku dengan jalanan besar di bawahku yang memiliki tinggi di atas enam meter, yang mana di bawah kakiku, melintas banyak kendaraan besar dan kecil yang beradu kecepatan di langit yang temaram, yang sebentar lagi gelap, yang sebentar lagi lampu-lampu menghiasi kota besar, yang sebentar lagi semua pekerja malam mulai menghambur ke bawah atap-atap kegelapan, yang sebentar lagi terlelap dalam mimpi sebelum Jakarta pagi.

Bapak harap kamu beneran bisa jadi orang sukses, liat anak itu, dia bisa sukses padahal seumuranmu!

Di sinilah aku, berada di antara angan-angan dan kenyataan, di antara ada dan tiada, di tengah-tengah kebimbangan tiada tara, di antara ekspektasi orang-orang juga keagungan maya, seolah-olah berada di tengah-tengah lautan luas yang terombang-ambing tanpa tentu arah, yang disaksikan para burung gagak di kepala, yang siap mencincang semua tubuhku kelak.

Inilah aku, yang berdiri di atas keputusasaan, keputusasaan seorang baru dewasa, yang tidak tahu kemana arah pulang, pulang ke sebuah tempat yang aman dan tentram, tentram untuk ditinggali seorang diri.

Coba lihat orang-orang di sekitarmu sukses semua, kamu doang yang gak berguna!

Serangkaian kalimat negatif, merendahkan, menghina, atau tanpa sadar menyakiti, menusuk, dan aku berdiri di sini di tengah-tengah telinga yang berdengung mengulang-ngulang kalimat dari orang-orang yang tidak akan bertanggung jawab akan kehidupanku kelak. Kepalaku mulai terasa berputar, seperti melihat pusaran air di tengah lautan, yang siap menelan semua kesadaranku.

Buat apa ngonten terus? Ngabisin duit iya, dapet duit kaga!

Aku berdiri di sini, dan siap dilahap oleh impian yang entah kapan menjadi nyata. Dilahap oleh sedu sedan yang entah sejak kapan menjadi nestapa. Padahal aku mampu meraih beberapa rupiah, namun hanya berakhir tumpah ruah tiada makna.

Pantesan gak punya temen, buktinya gaada yang peduli sama kamu, kan?

Kamu, sih, temenan sama yang gak bener. Sekali-kali punya pemikiran maju gitu!

"Woi! Awas jatoh!"

Sebuah seruan entah untuk siapa, namun langsung menyapa telingaku tanpa penghalang apapun. Pikiranku tidak fokus sepenuhnya, namun orang itu berhasil membungkam mulutku dan memeluk pinggangku dengan tangan-tangannya yang bau rokok. Sial, aku mual! Aku mulai memberontak dari orang itu, menyuruhnya untuk melepaskanku segera.

"Heh, jangan bergerak! Ini gue Vitto! Lo diem, gue bukan pencuri!" kata seorang pemuda yang menutup akses gerakku dengan kedua tangannya. Pandanganku masih buram, tubuhku mati rasa, walaupun sedang berusaha sadar sepenuhnya.

Aku melirik sekitarku. Getaran di bawah kakiku masih ada akibat posisi kami memang berada di akses jalan penghubung, di atas sebuah jalanan besar. Namun, kini berbeda. Pinggangku dipeluk erat, kaki-kakiku yang bergetar tidak sanggup menopang berat tubuhku, jatuh terduduk dengan posisi mulutku yang masih dibungkam sebuah tangan. Sedangkan pemuda yang tadi menolongku masih setia menopang tubuhku yang setengah pingsan.

"Kak Dit ngapain di sini, deh?" tanyanya basa-basi padaku, namun yang merespon adalah tubuhku. Seluruh tubuhku bergetar, dan lidahku membeku karena memang belum dilepas bungkaman itu.

Aku sedikit memberontak dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dengan berusaha melepas bungkaman tangannya. Bau! Aku lama-lama bisa pingsan akibat bau rokok campur keringatnya itu. Sempat kupikirkan apa yang dia lakukan sebelum ke sini. Orang itu akhirnya melepas tangannya, dan aku bisa bernapas lega, namun tidak melepas lingkar di pinggang.

"Lo kenapa di sini, To?" aku bertanya kembali padanya, sambil menoleh padanya, setelah dipastikan orang ini benar-benar temanku yang bernama Vitto.

Namun, dia menjawab ketus, "Justru gue yang nanya elo, Kak! Lo ngapain di mari? Gue mah, emang tiap hari lewat sini. Lo pake berdiri di pinggir jembatan, ya, gue langsung nangkep elu, lah! Kalo lo kelindes truk di bawah terus jadi mumi gimana?" jawabnya—yang bernama Vitto itu—tanpa tedeng-aling.

Pada akhirnya aku membuka seluruh hoodie jaket yang sedari tadi membungkus kepalaku. Yang membuatku heran adalah, bagaimana dia tahu bahwa ini adalah aku. Seolah-olah membaca pikiranku, dia melanjutkan, "Tadinya gue gak tau kalo itu Kak Ditya, sih, tapi liat ada orang di pinggir jembatan dan kondisinya oleng gitu, langsung gue samperin. Pas dipeluk ternyata Kak Ditya."

Aku tidak menjawab. Tubuhku lemah seluruhnya, bahkan aku masih tidak bisa memberontak tatkala sebuah tangan masih memeluk pinggangku. Bahuku semakin bergetar, entah kapan ada air mata muncul dari pelupuk mataku. Aku mulai terisak, namun berusaha untuk menahan semua tangisku bagaimanapun caranya. Sementara dia, pelukannya melembut, dan kini malah memeluk tubuhku dari punggung dengan kedua tangannya, serta tangan kanannya menepuk-nepuk kepalaku seperti menenangkan anak kecil. Aku terkejut seketika.

"Kalo capek istirahat, kak. Orang itu dimana-mana kalo capek itu istirahat. Kalo gak bisa istirahat, minimal ambil napas, deh, tenangin diri," ocehannya padaku, yang bisa kurasakan tubuhku perlahan-lahan menjadi rileks. Dia masih menepuk-nepuk kepalaku, di tengah kondisi sekitar kami yang perlahan-lahan menjadi ramai akibat rasa penasaran orang-orang pada kami, yang perlahan-lahan diusir oleh pihak kepolisian sekitar akibat membuat tersendat jalanan orang, hingga rombongan tidak berkepentingan bubar, hanya tersisa para pria berseragam. Aku menoleh ke arah Vitto, kemudian ke arah seorang polisi pria yang tidak diketahui kapan datangnya. Polisi itu mencoba membujukku, ingin membawaku ke kantor polisi untuk didampingi oleh ahli psikologis akibat perilaku yang diduga melakukan percobaan bunuh diri. Aku menghela napas, tiba-tiba perasaan berkecamuk membara. Aku sudah menciptakan kesulitan untuk semua orang, sudah menambah kerepotan untuk orang-orang. Aku semakin merasa tidak berguna.

"Raditya, jangan takut, ya. Tidak perlu merasa segan, anggap saja kami temanmu, ya?" kata si polisi padaku, kemudian aku melirik pada temanku Vitto. Temanku itu mengangguk pelan, tersenyum, kemudian menepuk-nepuk kedua bahuku untuk menguatkanku. "Gapapa, gue temenin, ya? Janji setelah ini jangan aneh-aneh lagi."

Orang-orang berseragam di sekitarku, memboyongku ke sebuah tempat aman, lalu ke kantor polisi terdekat dengan mobil polisi tanpa sirine berbunyi dengan Vitto di sebelahku. Aku memang tidak bisa selalu terbuka, namun disini—di kantor polisi ini—setidaknya aku merasa aman. Pada akhirnya aku banyak bercengkrama bertiga dengan temanku, juga dengan polisi pria yang merupakan seorang psikolog, di dalam sebuah bilik tertutup sampai aku benar-benar merasa tenang. Mereka baik, sangat pengertian. Mereka benar-benar mendengarkan semua canda tawa juga keluh kesahku. Mereka membiarkan aku menangis, marah, kecewa, tidak peduli ini sudah sangat malam. Aku beruntung. Apakah aku bisa terus mengalami seperti ini?

Apakah saat pulang nanti, suasana seperti ini akan sama?

Cari perhatian aja! Ngeluh mulu gaada gunanya!

Apakah saat pulang nanti, apakah ada yang bersedia mendengarkan keluh kesahku yang baru belajar menjadi dewasa ini? Jika tidak, mengapa aku harus pulang?

"Yuk, nginep di rumah gue aja."

Temanku kembali menginterupsi, tatkala aku terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk kembali ke dalam mobil polisi untuk diantarkan pulang. Dia benar-benar temanku yang baik. Aku tidak ragu lagi. Ketakutanku hilang, berganti senyuman dan menerima uluran tangannya. Polisi yang mengantar kami akhirnya menyetujui untuk membawa kami ke rumah Vitto di sebuah rumah susun di kota besar Jakarta. Kami tidak banyak bercengkrama sepanjang jalan. Pandanganku terfokus pada jalanan luar yang sepi namun indah akibat lampu-lampu kota yang menghiasi. Waktu rupanya sudah menunjukkan pukul 00.45, dan daerah rusun sebenarnya sudah ditutup portal. Demi melihat sebuah mobil polisi datang mendekati portal tanpa sirine, si penjaga portal yang merupakan seorang pria gemuk dengan secangkir kopi di tangan langsung bergegas membuka portal, mempersilahkan mobil itu masuk. Setelah melihat-lihat, sang sopir polisi tadi mengantar kami ke sebuah pintu di lantai lima. Kami bertiga pun disambut oleh seorang wanita paruh baya, seorang pemuda yang mungkin lebih tua dari Vitto, dan dua anak lain di dalam.

"Laa, kalian pada belom tidur? Ma, ini temen Vitto mau nginep bentaran boleh, ya?" tanya Vitto pada seorang wanita yang rupanya adalah ibunya. Respon ibunya sangat senang, dengan senyum ramahnya, bahkan mempersilahkan untuk kami bertiga masuk.

"Maaf, saya harus kembali ke kantor polisi, tugas saya hanya mengantarkan mereka selamat sampai tujuan," kata si polisi berpamitan.

"Oh, gapapa, makasih banyak ya, pak! Kapan-kapan boleh mampir lagi," sahut si ibu. Setelah dipastikan sang polisi pergi, pintu pun ditutup.

Aku sejenak melihat-lihat sekitar ruangan yang sebenarnya lebih mirip rumah kontrakan daripada rumah susun. Aku sempat mengira di awal, bahwa rumah susun ini hanya terdapat satu petak tanpa ada kamar lain. Namun, aku salah.

Ruangan itu cukup luas dan bersekat. Lantainya terbuat dari ubin pada umumnya. Ada dua kamar di sisi samping, dan ruangan dapur di belakang, juga ruang kumpul di tengah yang bersebelahan langsung dengan meja makan untuk lima orang. Ruang kumpul ini ada satu sofa, satu meja, juga TV kabel. Rumah susun ini rupanya juga dilengkapi akses Internet gratis yang membuat suasana lebih mirip rumah kontrakan ketimbang rumah susun.

Aku duduk di atas sofa; masih melihat-lihat, sebelum memutuskan menunduk. Dua remaja perempuan yang mungkin adalah adik dari Vitto segera menghambur masuk ke salah satu ruang kamar. Satu pemuda yang mungkin merupakan kakak dari Vitto duduk di kursi makan, diikuti Vitto, dan sang ibu yang menuju dapur.

"Udah makan belom nih, temennya?" tanya si pemuda tadi sambil menatap Vitto, dan yang ditanya langsung berteriak ke arahku yang masih di sofa.

"Belom itu. Yuk, Kak Dit. Makan dulu sini! Gue juga belom makan," sambil menghampiriku, Vitto agak menarik keliman jaket panjang yang membalut tubuhku. Aku tidak ada bantahan apapun, yang akhirnya ikut duduk berhadapan dengan Vitto, di depan meja yang melingkar itu.

"Kenalan, dong. Gue Kevin, kakaknya Vitto," ucap si pemuda sambil mengulurkan tangannya padaku, yang tanpa ragu aku membalas uluran tangannya sambil mengulas senyum. "Ditya, bang."

Sang ibu datang sambil membawa seteko teh hangat juga cemilan berupa cireng isi goreng. Aku sejenak terdistraksi, namun juga merasa tidak enak hati harus menjamuku di tengah malam begini.

"Ah, tante, jangan repot-repot," sambil tersenyum simpul, aku sedikit keberatan, walaupun aku senang-senang saja dijamu seperti ini.

"Engga repot! Maaf cuma ada ini, ya. Tante belom belanja apa-apa, biasanya belanja besok pagi, mana tau juga ada temennya mau nginep, heheheh," jawab si wanita itu sambil tertawa kecil. Aku merasa bergetar hatinya mendengar suaranya.

"Cireng buat besok masih ada, kan?" tanya Vitto spontan, yang rupanya sang ibu terkejut dibuatnya, walaupun setelahnya mengangguk pelan.

"Masih, nak. Besok si abang yang jualan," balas si ibu, lalu meninggalkan kami bertiga di meja makan ke kamarnya.

Pikiranku semakin melayang-layang, tidak tenang dan tidak mampu berpikir apapun. Aku makan dalam diam, bahkan kondisi cireng yang masih panas tidak membuatku kepanasan. Seolah-olah mati rasa, seolah-olah aku tidak lagi di dunia ini. Seolah-olah jiwaku sudah pergi meninggalkan tubuhku.

Makan aja bisanya. Sekali-kali kerja, kek!

Kepalaku terasa berputar-putar. Linglung. Semua kalimat negatif yang muncul bersamaan, membuatku pusing. Aku semakin berpikir dan berpikir, semakin sadar bahwa usahaku sejauh ini hanyalah sia-sia belaka. Usahaku untuk membantu mereka, mengerahkan tenaga dan pikiran demi pundi-pundi penghasilan yang dianggap awan abu-abu yang menghilang; tidak berguna sama sekali. Semakin lama dituntut untuk selalu sempurna, semakin jauh kaki-kakiku melayang, semakin jauh angan-anganku menjauh.

"Kak Ditya!"

"Eh? Ya, apa … ya?" aku kembali ke kenyataan, tatkala dua orang pemuda tadi sama-sama menatapku terheran, tetapi juga intens.

"Yailah, dia bengong. Daritadi ditanya gak dijawab-jawab, ampe berkali-kali dipanggil baru, dah," celoteh Vitto sambil menghela napas. Sedangkan Kevin—kakak dari Vitto hanya menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Aku yang mendengar pengakuan itu, hanya bisa tersenyum canggung.

"M-maaf—"

"Gausah minta maaf, kayak mau lebaran aja."

"Mending temennya suruh tidur aja. Kayaknya capek gitu mukanya," usul Kevin di sela-sela pembicaraan mereka. Kan, aku kembali merepotkan mereka.

"Bener juga, oke," jawab Vitto. Seketika aku berpikir, dimana kamar dua pemuda ini? Bukankah ini hanyalah rumah susun sewaan?

Sebelum aku menjawab, dua pemuda itu langsung menuju ruang tengah yang tadi kuanggap sebagai ruang kumpul. Mereka bergegas untuk membereskan sofa agar berdempetan dengan dinding. Karena tidak ada penghalang lain, mudah saja menciptakan ruang yang cukup luas untuk bertiga. Setelah dibereskan, mereka bahu membahu untuk menyapu lantai, kemudian sebuah karpet berwarna biru gelap diletakkan di atas lantai, lalu disusul dua buah kasur lipat seukuran satu orang,m yang disusun berhimpitan, sehingga terlihat luas. Barulah jika semua sudah rapi, kasur itu dibungkus kain sprei, jadilah kasur yang nyaman ditempati.

Ah, aku lupa untuk membantu mereka, akibat terlalu fokus dengan kegiatan mereka.

Bantal pun diambil tiga buah. Setelah semua siap, keduanya sama-sama mengajakku tidur bersama di kasur itu.

"Nah, bebas dah lu mau di tengah apa pinggir. Tapi tengah aja deh, biar di sebelahnya Vitto," ucap Kevin yang menjawab pertanyaannya sendiri, disusul anggukan olehku.

Aku pun duduk di tengah, Vitto di sebelah kiri, sedangkan Kevin di sebelah kanan. Entah mengapa, di tengah-tengah seperti ini, rasanya hangat sekali. Aku melepas jaketku, kemudian melemparnya ke atas sofa, kemudian mulai merebahkan diri di atas kasur bersama dua lainnya.

"Kak Dit, tidur yang nyenyak, jangan merasa sendirian lagi, ya. Kalo lu males pulang, ke sini aja. Nih, kita bakal welcome kapanpun, kan?" ucap Vitto sambil menoleh padaku, kemudian aku menoleh kepada kakak dari temanku ini, dan responnya juga sama: mengangguk setuju.

"Laki-laki gak boleh lemah! Harus kuat! Kalo capek, boleh istirahat, boleh ngeluh, boleh nangis, tapi gak boleh menyerah. Kalo lo nyerah, bukan laki namanya!" tegas Kevin yang mungkin mengetahui keresahanku. Akupun mengangguk pelan sambil tersenyum.

"Makasih, ya, Vit, kak," akupun menghela napas.

"Anytime," jawab Vitto.

Akupun akhirnya tertidur di tengah-tengah dua pemuda ini. Bersyukur aku tidak jadi mati malam ini. Jika iya, aku tidak akan menikmati kehangatan dua saudara ini.

Ah, indahnya keluarga. Andai aku juga bisa merasakannya.

Hot

Comments

Abi Dharma

Abi Dharma

What a satisfying ending, I'm so glad I read this!

2024-03-14

1

See all
Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play