Taman Raya Bandung, menjadi tujuan akhir mereka. Di ujung jembatan gantung yang sudah mereka lewati, mereka diterpa angin sore. Pemandangan hijau di sekeliling tempat tersebut telah menjadi lanskap yang indah sebagai kenangan, bagai lukisan agung yang indah. Setidaknya, kenangan indah mereka berdua, khususnya Raditya. Pemuda dengan setelan jaket biru dongker dengan baju dalam berkerah berwarna putih, kini menatap intens ke arah sang puan yang bola matanya seindah biru laut. Langkah kakinya melangkah semakin mendekat, senyuman yang sejak tadi tidak hilang kini sedikit mengendur, dengan tatapan serius.
"Makasih, ya, buat waktunya," ucap Raditya yang suaranya beradu dengan angin kencang yang berhembus. Rambut hitamnya juga ikut berkibar, sebelum kembali mengulas senyuman manisnya.
Syafira, sang puan yang berada di hadapannya, hanya memandang laki-laki itu dengan senyuman manisnya, disusul anggukan pelan. Angin yang berhembus membuat hijab berwarna kremnya berkibar, sehingga membuatnya terkadang harus menahan ujung kepalanya agar tidak benar-benar terbang. Mereka berpandangan sejenak, sebelum teralihkan pandangan keduanya dengan melirik ke arah lain. Raditya yang menunduk, Syafira yang menatap jembatan di samping dan pemandangan hijaunya. Sekian waktu mereka hanya berdiam diri, dengan pemikiran masing-masing. Raditya yang tidak mampu menahan diri, akhirnya kembali mendongak menatap sang puan di hadapan, dan melangkah lebih dekat hingga keduanya nyaris tanpa jarak, yang membuat Syafira tersentak; tatapannya tersirat waspada kepadanya. Melihat tatapan itu, Raditya tersadar bahwa di hadapannya ini tentu bukan gadis biasa—membuat wajahnya memerah malu, dan mundur selangkah dan agak membungkuk, kemudian membungkus telapak tangan kirinya dengan tangan kanan—seperti meminta maaf namun dengan cara kaisar kuno memberi permintaan maaf—membuat Syafira tertawa kecil menanggapinya. Sial, tawa itu semakin membuat Raditya salah tingkah. Pemuda itu buru-buru kembali ke posisi semula dan membuang muka. Wajah merahnya tidak bisa disembunyikan.
"M-maaf, aku—"
"Iya, untung belom apa-apa, Dit. Kalo iya, gak lucu kita berantem di sini," tanggap Syafira santai, yang membuat jantung Raditya semakin tidak karuan.
Raditya mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Tatapannya kembali temu dengan sang puan, menatapnya, kini tidak melangkah sedekat tadi, masih tersisa jarak sekian sentimeter. Kedua tangannya tergantung di belakang tubuh, dengan iris mata kecoklatannya melembut ke arah wajahnya.
"Lain kali, kita kayak gini lagi mau, gak? Jalan berdua, ke luar kota, melepas penat dari panasnya Jakarta," pertanyaan itu, hanya dijawab anggukan oleh sang puan seolah-olah sudah dipersiapkan jawabannya.
"Kapanpun, boleh," ucap Syafira tanpa ragu.
"Kalau begitu, izinkan aku selalu di sisimu, ya? Dan, um, aku ingin ... selamanya seperti ini. Kalau memang karena Tuhan yang memisahkan kita, aku yang siap ikut denganmu," Raditya mengucap lembut namun tegas, yang membuat Syafira terdiam seribu bahasa.
Raditya sendiri tidak lagi ragu dengan keputusannya. Dia tahu, yang dilihatnya kini adalah masa lalunya. Alasannya kembali ke masa ini, ia yakin karena ingin membuatnya lebih baik, bukan? Walaupun sampai saat ini merupakan misteri, namun yang terpenting, ia ingin menikmati masa-masa ini sebelum segala hiruk pikuk dunia kembali melanda. Dua tahun saja, hingga kembali ke tahun 2023, semuanya harus lebih baik.
Syafira, di sisi lain terdiam. Tentu wanita itu memahami maksud tersembunyi dari lelaki di hadapannya ini. Tentu, ia ingin menerima ajakan itu, namun ia sendiri tidak yakin apakah hal itu benar-benar bisa diwujudkan bersama?
Melihat keraguan di atas wajahnya itu, Raditya paham, bahwa keduanya berada dalam junjungan kepercayaan yang berbeda. Jika Syafira akan melakukan sujud pada tiap-tiap waktu tertentu, Raditya akan membakar dupa untuk para leluhur. Jika Syafira lahir dari keluarga yang agamis ala Timur Tengah, maka Raditya berasal dari keluarga yang kaya akan simbolis negara Tionghoa.
Di antara perbedaan yang sangat mencolok itu, Raditya kembali melanjutkan, "Beri aku waktu setahun kemudian. Yakinlah aku akan datang padamu, bersamamu, hingga waktunya tepat, aku akan datang kepada orang tuamu, untuk menggandeng tanganmu bersamaku, hingga akhir hayat kita."
Secercah cahaya tersirat dari kedua mata Syafira mendengarnya. Melihat tatapan Raditya begitu yakin, ia sejenak terdiam. Ia tidak bereaksi apapun, sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya, yang terjulur pula kelingking yang menonjol.
"Kita gak akan bisa mewujudkan itu semua jika kita gak menikah. Anggaplah ini ikatan kita jika memang kamu benar-benar serius. Aku akan pegang ucapanmu, biarkan Tuhan yang memutuskan ikatan ini jika memang Dia gak merestui kita, bagaimana?"
Raditya terkesiap, hatinya menjadi berdebar-debar tidak karuan. Ia tidak menyangka jika rupanya perasaannya terbalaskan? Namun, ia harus bersabar, sangat sabar, jika ia ingin mendapatkan permata di dalam lautan, ia harus berjuang, bukan? Termasuk, menjaga wanita ini sebaik-baiknya, juga janjinya, hatinya, hingga ia memiliki kesempatan untuk memiliki seutuhnya. Ia mengangguk sekali, menerima uluran kelingking itu dengan kelingking kanannya; tersenyum.
"Aku janji," ucap Raditya yakin.
"Aku janji akan datang kepadamu."
Pemuda itu yakin. Karena jika masa depannya tidak berubah, semua akan berjalan mulus tanpa hambatan, dan ia bisa dengan mudah menemukan alasan yang masuk akal jika terjadi hal demikian yang tak terduga.
Namun, bagaimana jika rupanya sebaliknya?
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 5 Episodes
Comments