Joko hanya melirik sekilas. Tak tertarik. Tapi di balik wajah datarnya, ia mengamati. Ada sesuatu dalam cara orang-orang membicarakan orang lain yang seperti cermin kecil... tentang hidup yang terus berjalan, tapi selalu butuh bahan gosip agar terasa hangat.
Ia membuka ponselnya sebentar, mengecek WhatsApp grup guru yang isinya hampir selalu dua hal: undangan rapat dan broadcast jualan skincare. Tidak ada yang penting. Ia meletakkan lagi ponselnya dan memandang keluar jendela.
Di luar, pohon mangga di halaman sekolah diam saja. Seperti ikut mendengarkan.
"Pak Joko!"
Sebuah suara nyaring mengagetkannya. Bu Rika tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya. Wajahnya selalu terlihat terlalu semangat, seperti orang yang terlalu banyak konsumsi kopi susu, Tiktok, YouTube short dan Reels.
"Eh, Bu Rika. Ada apa?" Joko setengah berdiri, menghormati meski enggan.
"Pak, saya denger dari Bu Ina, katanya Bapak nyuruh murid-murid nulis esai soal arti sukses? Seriusan?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Ya... anak kelas 5, Pak. Mereka aja ngerjain mengarang tentang cita-cita aja malah bingung... malah nanya cita-citanya sendiri aja apa ke temennya? bahkan nyontek ke temennya, masa disuruh mikir soal sukses?"
Joko tersenyum kecil. "Justru karena itu. Biar mereka belajar mikir. Meski nggak semua ngerti, pasti ada satu-dua yang merenung."
Bu Rika menghela napas, lalu duduk di kursi sebelah. "Pak, jujur aja ya. Saya kadang nggak ngerti kenapa Bapak repot-repot. Toh nanti juga nilai UN yang diliat. Ranking. Nilai Matematika. Bukan soal 'makna sukses'."
"Ya... saya ngerti. Tapi hidup bukan cuma soal ranking, Bu."
"Lha iya, tapi orang tua murid itu taunya nilai. Kalau anaknya dapet nilai jelek, yang disalahin siapa? Kita. Bukan sistem."
Joko tak menjawab. Di meja seberang, suara Bu Tati masih terdengar menggoda Bu Ina dengan info diskon bulanan di e-commerce. Seorang guru laki-laki baru, Pak Damar, melintas membawa dus berisi buku paket. Joko mengangguk kecil padanya.
Dalam hati, Joko sadar, idealisme itu mahal. Tapi baginya, itu satu-satunya alasan ia masih bertahan di dunia pendidikan. Tiap pagi melihat murid-muridnya... ada yang datang pakai sandal jepit bolong, ada yang ngantuk karena bantu orang tua jualan sampai malam... membuatnya yakin bahwa sekolah harus lebih dari sekadar tempat mengejar nilai.
Kadang ia membayangkan jadi guru ala film Dangerous Minds. Tapi ini Jakarta, bukan East Palo Alto. Murid-muridnya? Lebih hafal TikTok dance daripada konsep perubahan wujud benda: mencair, membeku, menguap, menyublim... atau apapun itu yang katanya "perubahan kimia". Entah mereka nanti jadi koki... fermentasi roti, apoteker... reaksi kimia, kontraktor... semen mengeras, atau hanya ojol... yang hafalnya bukan tabel periodik tapi jalur tercepat tanpa kena macet... ilmu IPA sederhana tetap kepake. Kalau bukan buat kerja, ya buat bantuin anak ngerjain PR, meski cuma ojol doang.
"Pak Joko, saya pamit duluan ya. Mau nyuapin anak di rumah," kata Bu Rika seraya berdiri.
"Silakan, Bu."
Tapi sebelum benar-benar melangkah, Bu Rika menjatuhkan pulpen miliknya ke lantai, tepat di dekat kaki Joko.
Refleks, mereka berdua jongkok bersamaan untuk memungutnya. Tangan Joko enggak sengaja menyentuh tangan Bu Rika. Joko lekas menghindar, menarik tangannya cepat-cepat seolah tersengat listrik.
Tapi Bu Rika malah menahan, menarik lembut jari-jarinya, seakan ingin memperlambat perpisahan.
Joko kembali menjauhkan tangannya. Tanpa kata, tanpa tatapan, hanya dengan gerakan pelan tapi tegas.
Ia tidak marah, tidak juga risih. Hanya... ia tahu batasnya. Bu Rika perempuan baik, cerdas, dan menyenangkan. Tapi Joko bukan lelaki yang mencari alasan untuk bermain hati. Ia tidak sedang lapar perhatian. Dan ia percaya: godaan itu bukan datang karena kesempatan, tapi karena kita membiarkannya tumbuh.
Ia berdiri, lalu menyodorkan pulpennya sambil berkata pendek, "Ini, Bu."
Mata Bu Rika mencari sesuatu di wajah Joko, mungkin harapan kecil. Tapi yang ia temukan hanya senyum tipis dan kepala yang sedikit menunduk, seperti ucapan "maaf" yang tak diucap.
Bu Rika pun mengambil pulpennya dengan tangan gemetar halus. "Makasih, Pak," ucapnya pelan, lalu melangkah pergi.
Setelah semua guru lain berangsur pergi, ruang guru perlahan lengang. Hanya tinggal Joko, kopi yang sudah dingin, dan suara kipas angin yang masih setia berdecit.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan beberapa lembar esai yang ditulis murid-muridnya.
"Sukses itu kalau bisa beliin ibu motor."
"Sukses itu bisa punya rumah dua lantai."
"Sukses itu kalau Bapak bangga."
Matanya berhenti pada satu tulisan:
"Sukses itu kalau aku nggak takut jawab soal, dan guru nggak marah kalau aku salah."
Joko terdiam.
Lama.
Angin sore masuk dari jendela, membawa bau tanah dan sedikit aroma gorengan dari warung depan.
Ia tersenyum tipis.
Kadang, satu kalimat jujur dari seorang anak kecil cukup untuk mengisi ulang hati yang lelah.
---
"Jok, lu tuh kayak api unggun," kata Bu Rika suatu sore. "Terang, hangat, tapi bisa bikin gosong kalau kelamaan dideketin."
Joko cuma nyengir. "Ya, semoga enggak kebakaran aja."
Yang Joko enggak bilang adalah: kadang dia juga capek. Capek jadi guru yang "berbeda". Capek harus selalu kuat di depan murid, tegas di depan orang tua, dan idealis di tengah sistem yang absurd.
Tapi setiap kali melihat satu dua muridnya berubah... jadi lebih peka, lebih sopan, atau tiba-tiba bantu bersihin kelas tanpa disuruh... itu sudah cukup. Itu jadi semacam bahan bakar.
Karena integritas itu adalah tetap berbuat baik, meski enggak ada yang melihat.
Kadang, berbuat baik itu sederhana: minimal, singkirkan paku yang tergeletak di jalan sebelum ada yang terluka atau kecelakaan.
Joko bukan Superman. Tapi dia percaya satu hal:
Kadang, perubahan besar dimulai dari obrolan kecil. Dari warung kopi. Dari status Facebook. Dari sepotong kalimat nyentil di papan tulis.
Dan dari seorang guru yang, walaupun capek, tetap nyeruput kopi sambil mikir:
"Besok gue mau nyeletuk apa, ya, biar mereka mikir?"
Joko tidak tahu, bahwa sesuatu yang ia anggap iseng dan mendidik ini... suatu hari akan membunuh orang yang ia sayangi.
Dan hampir membunuh dirinya juga.
—
Bab: Nostalgia, Surga, dan Neraka
Pagi itu, Joko Wiryawan duduk di beranda rumah kontrakan kecilnya di daerah Kebon Jeruk. Rumah tipe petak 4x9 meter, berdempetan dengan tetangga, hanya dipisahkan tembok tipis yang kadang bikin suara TV sebelah lebih nyaring daripada suara hati sendiri. Dinding catnya mulai kusam, genteng ada yang bocor, dan saluran air belakang sering mampet pas musim hujan.
Tapi pagi ini cukup cerah. Langit abu-abu muda, seperti lembaran kertas yang lupa ditulisi. Joko duduk di kursi plastik warna hijau daun, kaki selonjoran, dan tangan menggenggam cangkir kopinya-bukan cangkir keramik mahal, cuma gelas bening tipis hadiah dari minyak goreng refill.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 81 Episodes
Comments