2 - Nostalgia, Surga, dan Neraka

Joko hanya melirik sekilas. Tak tertarik. Tapi di balik wajah datarnya, ia mengamati. Ada sesuatu dalam cara orang-orang membicarakan orang lain yang seperti cermin kecil... tentang hidup yang terus berjalan, tapi selalu butuh bahan gosip agar terasa hangat.

Ia membuka ponselnya sebentar, mengecek WhatsApp grup guru yang isinya hampir selalu dua hal: undangan rapat dan broadcast jualan skincare. Tidak ada yang penting. Ia meletakkan lagi ponselnya dan memandang keluar jendela.

Di luar, pohon mangga di halaman sekolah diam saja. Seperti ikut mendengarkan.

"Pak Joko!"

Sebuah suara nyaring mengagetkannya. Bu Rika tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya. Wajahnya selalu terlihat terlalu semangat, seperti orang yang terlalu banyak konsumsi kopi susu, Tiktok, YouTube short dan Reels.

"Eh, Bu Rika. Ada apa?" Joko setengah berdiri, menghormati meski enggan.

"Pak, saya denger dari Bu Ina, katanya Bapak nyuruh murid-murid nulis esai soal arti sukses? Seriusan?"

"Iya. Emang kenapa?"

"Ya... anak kelas 5, Pak. Mereka aja ngerjain mengarang tentang cita-cita aja malah bingung... malah nanya cita-citanya sendiri aja apa ke temennya? bahkan nyontek ke temennya, masa disuruh mikir soal sukses?"

Joko tersenyum kecil. "Justru karena itu. Biar mereka belajar mikir. Meski nggak semua ngerti, pasti ada satu-dua yang merenung."

Bu Rika menghela napas, lalu duduk di kursi sebelah. "Pak, jujur aja ya. Saya kadang nggak ngerti kenapa Bapak repot-repot. Toh nanti juga nilai UN yang diliat. Ranking. Nilai Matematika. Bukan soal 'makna sukses'."

"Ya... saya ngerti. Tapi hidup bukan cuma soal ranking, Bu."

"Lha iya, tapi orang tua murid itu taunya nilai. Kalau anaknya dapet nilai jelek, yang disalahin siapa? Kita. Bukan sistem."

Joko tak menjawab. Di meja seberang, suara Bu Tati masih terdengar menggoda Bu Ina dengan info diskon bulanan di e-commerce. Seorang guru laki-laki baru, Pak Damar, melintas membawa dus berisi buku paket. Joko mengangguk kecil padanya.

Dalam hati, Joko sadar, idealisme itu mahal. Tapi baginya, itu satu-satunya alasan ia masih bertahan di dunia pendidikan. Tiap pagi melihat murid-muridnya... ada yang datang pakai sandal jepit bolong, ada yang ngantuk karena bantu orang tua jualan sampai malam... membuatnya yakin bahwa sekolah harus lebih dari sekadar tempat mengejar nilai.

Kadang ia membayangkan jadi guru ala film Dangerous Minds. Tapi ini Jakarta, bukan East Palo Alto. Murid-muridnya? Lebih hafal TikTok dance daripada konsep perubahan wujud benda: mencair, membeku, menguap, menyublim... atau apapun itu yang katanya "perubahan kimia". Entah mereka nanti jadi koki... fermentasi roti, apoteker... reaksi kimia, kontraktor... semen mengeras, atau hanya ojol... yang hafalnya bukan tabel periodik tapi jalur tercepat tanpa kena macet... ilmu IPA sederhana tetap kepake. Kalau bukan buat kerja, ya buat bantuin anak ngerjain PR, meski cuma ojol doang.

"Pak Joko, saya pamit duluan ya. Mau nyuapin anak di rumah," kata Bu Rika seraya berdiri.

"Silakan, Bu."

Tapi sebelum benar-benar melangkah, Bu Rika menjatuhkan pulpen miliknya ke lantai, tepat di dekat kaki Joko.

Refleks, mereka berdua jongkok bersamaan untuk memungutnya. Tangan Joko enggak sengaja menyentuh tangan Bu Rika. Joko lekas menghindar, menarik tangannya cepat-cepat seolah tersengat listrik.

Tapi Bu Rika malah menahan, menarik lembut jari-jarinya, seakan ingin memperlambat perpisahan.

Joko kembali menjauhkan tangannya. Tanpa kata, tanpa tatapan, hanya dengan gerakan pelan tapi tegas.

Ia tidak marah, tidak juga risih. Hanya... ia tahu batasnya. Bu Rika perempuan baik, cerdas, dan menyenangkan. Tapi Joko bukan lelaki yang mencari alasan untuk bermain hati. Ia tidak sedang lapar perhatian. Dan ia percaya: godaan itu bukan datang karena kesempatan, tapi karena kita membiarkannya tumbuh.

Ia berdiri, lalu menyodorkan pulpennya sambil berkata pendek, "Ini, Bu."

Mata Bu Rika mencari sesuatu di wajah Joko, mungkin harapan kecil. Tapi yang ia temukan hanya senyum tipis dan kepala yang sedikit menunduk, seperti ucapan "maaf" yang tak diucap.

Bu Rika pun mengambil pulpennya dengan tangan gemetar halus. "Makasih, Pak," ucapnya pelan, lalu melangkah pergi.

Setelah semua guru lain berangsur pergi, ruang guru perlahan lengang. Hanya tinggal Joko, kopi yang sudah dingin, dan suara kipas angin yang masih setia berdecit.

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan beberapa lembar esai yang ditulis murid-muridnya.

"Sukses itu kalau bisa beliin ibu motor."

"Sukses itu bisa punya rumah dua lantai."

"Sukses itu kalau Bapak bangga."

Matanya berhenti pada satu tulisan:

"Sukses itu kalau aku nggak takut jawab soal, dan guru nggak marah kalau aku salah."

Joko terdiam.

Lama.

Angin sore masuk dari jendela, membawa bau tanah dan sedikit aroma gorengan dari warung depan.

Ia tersenyum tipis.

Kadang, satu kalimat jujur dari seorang anak kecil cukup untuk mengisi ulang hati yang lelah.

---

"Jok, lu tuh kayak api unggun," kata Bu Rika suatu sore. "Terang, hangat, tapi bisa bikin gosong kalau kelamaan dideketin."

Joko cuma nyengir. "Ya, semoga enggak kebakaran aja."

Yang Joko enggak bilang adalah: kadang dia juga capek. Capek jadi guru yang "berbeda". Capek harus selalu kuat di depan murid, tegas di depan orang tua, dan idealis di tengah sistem yang absurd.

Tapi setiap kali melihat satu dua muridnya berubah... jadi lebih peka, lebih sopan, atau tiba-tiba bantu bersihin kelas tanpa disuruh... itu sudah cukup. Itu jadi semacam bahan bakar.

Karena integritas itu adalah tetap berbuat baik, meski enggak ada yang melihat.

Kadang, berbuat baik itu sederhana: minimal, singkirkan paku yang tergeletak di jalan sebelum ada yang terluka atau kecelakaan.

Joko bukan Superman. Tapi dia percaya satu hal:

Kadang, perubahan besar dimulai dari obrolan kecil. Dari warung kopi. Dari status Facebook. Dari sepotong kalimat nyentil di papan tulis.

Dan dari seorang guru yang, walaupun capek, tetap nyeruput kopi sambil mikir:

"Besok gue mau nyeletuk apa, ya, biar mereka mikir?"

Joko tidak tahu, bahwa sesuatu yang ia anggap iseng dan mendidik ini... suatu hari akan membunuh orang yang ia sayangi.

Dan hampir membunuh dirinya juga.

Bab: Nostalgia, Surga, dan Neraka

Pagi itu, Joko Wiryawan duduk di beranda rumah kontrakan kecilnya di daerah Kebon Jeruk. Rumah tipe petak 4x9 meter, berdempetan dengan tetangga, hanya dipisahkan tembok tipis yang kadang bikin suara TV sebelah lebih nyaring daripada suara hati sendiri. Dinding catnya mulai kusam, genteng ada yang bocor, dan saluran air belakang sering mampet pas musim hujan.

Tapi pagi ini cukup cerah. Langit abu-abu muda, seperti lembaran kertas yang lupa ditulisi. Joko duduk di kursi plastik warna hijau daun, kaki selonjoran, dan tangan menggenggam cangkir kopinya-bukan cangkir keramik mahal, cuma gelas bening tipis hadiah dari minyak goreng refill.

Episodes
1 1 - Joko Wiryawan, Guru SD yang Suka Nyentil
2 2 - Nostalgia, Surga, dan Neraka
3 3 - DI TANGAN KIRINYA
4 4: Tatapan yang Menular
5 5 - JOKO MENGANGGUK
6 6 - Tabrakan, Video, dan Viral yang Menggoda
7 7 - Target Berikutnya: Gunawan Saleh
8 8 - Kisah Air, Negara, dan Sakaratul Maut
9 9
10 Bab 10 Antara Columbia dan Kopi Joss MLM
11 Bab 11 Rk-wwn-Yang menyayangi di bumi, akan disayang di langit
12 Bab 12 Rk-dodi-joko-joni-cece-angelo-Amerika atau Rendang Ibu?
13 Bab 13 Mekanik Masjid dan Malaikat Neraka
14 Bab 14 Kopi Pahit dan Luka yang Masih Hangat
15 Bab 15 Rk-bm-arf-Republik Gulali dan Rolling Thunder
16 Bab 16 Rk-fhd-mateo-DeShawn Belajar Sholat
17 Bab 17 Rk-Imrn Khan-DeShw-Sknh-Aisha Khan-Tiket Pulang Tanpa Pamitan
18 Bab 18 Seattle-Kansas-Kota Baru Tanpa Kenangan
19 Bab 19 Rujuk Tanpa Kata "Kembali"
20 Bab 20 school-police station-Dari Seragam ke Seragam Lucu
21 Bab 21 Masa Lalu di Seragam Baru
22 Bab 22 Chuckie Ray dan Korek Api Digital
23 Bab 23 Montir, Polisi, dan Kehilangan
24 Bab 24 Luka Lama di Dalam Gudang Musik
25 Bab 25 Surat dari Masa Lalu
26 Bab 26 Potongan Puzzle Terakhir
27 Bab 27 Angin Dingin Wichita
28 Bab 28 Raka Maulana dan Bisnis Kopi Jalanan
29 Bab 29 Rk-Bm-Antara Bubuk Putih dan Bubuk Kopi
30 Bab 30 Si Raka dan Laci Rahasia
31 Bab 31 Bm-Rk-Penawaran yang Menggoda
32 Bab 32 Bm-Rk-Ayam, Celana Dalam, dan Sidang Pertama
33 Bab 33 Bm-Jalan Baru untuk Dua Orang Laki-laki yang Lelah
34 Bab 34 Bm-Rk-Big Mac dan Rolex di Tengah Krisis
35 Bab 35 Bm-Mahasiswi, Mimpi Buruk, dan Media
36 Bab 36 Bm-FBI, Fotokopi, dan Firasat Buruk
37 Bab 37 Bm-Putusan dan Popularitas
38 Bab 38 desh-Yang Disembunyikan oleh Rak Nomor 27
39 Bab 39 deshw-Jejak yang Dihapus
40 Bab 40 Bayangan di Tengah Padang Rumput
41 Bab 41 Rk-Ahm-Brian-U Lina-Guru Baru Bernama Ahmad
42 Bab 42 Satu Ayat, Satu Air Mata
43 Bab 43 Surat dari Tahanan Hati
44 Bab 44 James Ngajak Raka Diskusi Soal Neraka dan Keadilan Tuhan
45 Bab 45 Troy-Jm-Pertolongan yang Datang Diam-Diam
46 Bab 46 Troy-Kembali ke New York
47 Bab 47 Troy-Menolak dengan Tenang
48 Bab 48 Pdkt-Salat Id di Kansas dengan Imam Cadel
49 Bab 49 Gt mrrd-James Galau Sambil Nyapu Masjid
50 Bab 50 Drama Nabi Ibrahim
51 Bab 51 jms-Ahm-Bus Mini, Sholawat ala Lagu Natal
52 Bab 52 jm-ahm-Melamun di Tengah Butiran Salju
53 Bab 53 jm-ahm-Suara dari Kegelapan
54 Bab 54 * Lily-Hangat yang Aneh
55 Bab 55 * lily-Bayangan Masa Lalu
56 Bab 56 * lily-Perasaan yang Berkecamuk
57 Bab 57 * lily-Keputusan Sementara
58 Bab 58 * Lily-Rindu yang Tak Pernah Hilang
59 Bab 59 – Bianglala, Lampu Kota, dan Kecurigaan yang Sunyi
60 Bab 60
61 Bab 61—Jm-Lorong Susu di Kansas
62 Bab 62 * jms-ryan-alx-Telepon dari Ryan
63 Bab 63
64 Bab 64 jms-Masuk ke Ruang Ustadz Bilal
65 Bab 65 jms-Nasihat Ustadz Bilal
66 Bab 66 rk-stc-Hujan, Kopi, dan Senja di Capitol Hill
67 Bab 67 jms-stc-Kardus, Latte, dan Survival Seattle
68 68 - Akta Cerai dan Latte Hangat
69 69 Ys-Mesin Vakum dan Mimpi Amerika
70 Bab 70 Ys-Mig-Tamu Misterius di Garasi
71 Bab 71 Dari American Dream ke American Prison
72 Bab 72 spr dwyn-brody-papa joe-Sarapan Pertama
73 Bab 73 Tank-pops-stnl-el toro-bg dre-wytt-pp joe-Tawaran Afiliasi
74 Bab 74 Stnl-regg-skeeter-bg moe-Malam Pertama di Sel
75 Bab 75 Regg-skeetr-bg moe-kml-stnl-Kemunculan Kemal
76 Bab 76 Tnk-stnl-Balas Dendam yang Gagal
77 Bab 77 Label di Dahi
78 Bab 78 Stnl-Rc-Kurt-Parade Kekuasaan
79 Bab 79 (Stnl-Tyrn-Jul-Mig) Solat di Sudut
80 Bab 80 (Jul-Aljndr-Mig-Tyrn) HP di Toilet
81 Bab 81 Tyron-Julio-Stnl-Sipir yang Buta
Episodes

Updated 81 Episodes

1
1 - Joko Wiryawan, Guru SD yang Suka Nyentil
2
2 - Nostalgia, Surga, dan Neraka
3
3 - DI TANGAN KIRINYA
4
4: Tatapan yang Menular
5
5 - JOKO MENGANGGUK
6
6 - Tabrakan, Video, dan Viral yang Menggoda
7
7 - Target Berikutnya: Gunawan Saleh
8
8 - Kisah Air, Negara, dan Sakaratul Maut
9
9
10
Bab 10 Antara Columbia dan Kopi Joss MLM
11
Bab 11 Rk-wwn-Yang menyayangi di bumi, akan disayang di langit
12
Bab 12 Rk-dodi-joko-joni-cece-angelo-Amerika atau Rendang Ibu?
13
Bab 13 Mekanik Masjid dan Malaikat Neraka
14
Bab 14 Kopi Pahit dan Luka yang Masih Hangat
15
Bab 15 Rk-bm-arf-Republik Gulali dan Rolling Thunder
16
Bab 16 Rk-fhd-mateo-DeShawn Belajar Sholat
17
Bab 17 Rk-Imrn Khan-DeShw-Sknh-Aisha Khan-Tiket Pulang Tanpa Pamitan
18
Bab 18 Seattle-Kansas-Kota Baru Tanpa Kenangan
19
Bab 19 Rujuk Tanpa Kata "Kembali"
20
Bab 20 school-police station-Dari Seragam ke Seragam Lucu
21
Bab 21 Masa Lalu di Seragam Baru
22
Bab 22 Chuckie Ray dan Korek Api Digital
23
Bab 23 Montir, Polisi, dan Kehilangan
24
Bab 24 Luka Lama di Dalam Gudang Musik
25
Bab 25 Surat dari Masa Lalu
26
Bab 26 Potongan Puzzle Terakhir
27
Bab 27 Angin Dingin Wichita
28
Bab 28 Raka Maulana dan Bisnis Kopi Jalanan
29
Bab 29 Rk-Bm-Antara Bubuk Putih dan Bubuk Kopi
30
Bab 30 Si Raka dan Laci Rahasia
31
Bab 31 Bm-Rk-Penawaran yang Menggoda
32
Bab 32 Bm-Rk-Ayam, Celana Dalam, dan Sidang Pertama
33
Bab 33 Bm-Jalan Baru untuk Dua Orang Laki-laki yang Lelah
34
Bab 34 Bm-Rk-Big Mac dan Rolex di Tengah Krisis
35
Bab 35 Bm-Mahasiswi, Mimpi Buruk, dan Media
36
Bab 36 Bm-FBI, Fotokopi, dan Firasat Buruk
37
Bab 37 Bm-Putusan dan Popularitas
38
Bab 38 desh-Yang Disembunyikan oleh Rak Nomor 27
39
Bab 39 deshw-Jejak yang Dihapus
40
Bab 40 Bayangan di Tengah Padang Rumput
41
Bab 41 Rk-Ahm-Brian-U Lina-Guru Baru Bernama Ahmad
42
Bab 42 Satu Ayat, Satu Air Mata
43
Bab 43 Surat dari Tahanan Hati
44
Bab 44 James Ngajak Raka Diskusi Soal Neraka dan Keadilan Tuhan
45
Bab 45 Troy-Jm-Pertolongan yang Datang Diam-Diam
46
Bab 46 Troy-Kembali ke New York
47
Bab 47 Troy-Menolak dengan Tenang
48
Bab 48 Pdkt-Salat Id di Kansas dengan Imam Cadel
49
Bab 49 Gt mrrd-James Galau Sambil Nyapu Masjid
50
Bab 50 Drama Nabi Ibrahim
51
Bab 51 jms-Ahm-Bus Mini, Sholawat ala Lagu Natal
52
Bab 52 jm-ahm-Melamun di Tengah Butiran Salju
53
Bab 53 jm-ahm-Suara dari Kegelapan
54
Bab 54 * Lily-Hangat yang Aneh
55
Bab 55 * lily-Bayangan Masa Lalu
56
Bab 56 * lily-Perasaan yang Berkecamuk
57
Bab 57 * lily-Keputusan Sementara
58
Bab 58 * Lily-Rindu yang Tak Pernah Hilang
59
Bab 59 – Bianglala, Lampu Kota, dan Kecurigaan yang Sunyi
60
Bab 60
61
Bab 61—Jm-Lorong Susu di Kansas
62
Bab 62 * jms-ryan-alx-Telepon dari Ryan
63
Bab 63
64
Bab 64 jms-Masuk ke Ruang Ustadz Bilal
65
Bab 65 jms-Nasihat Ustadz Bilal
66
Bab 66 rk-stc-Hujan, Kopi, dan Senja di Capitol Hill
67
Bab 67 jms-stc-Kardus, Latte, dan Survival Seattle
68
68 - Akta Cerai dan Latte Hangat
69
69 Ys-Mesin Vakum dan Mimpi Amerika
70
Bab 70 Ys-Mig-Tamu Misterius di Garasi
71
Bab 71 Dari American Dream ke American Prison
72
Bab 72 spr dwyn-brody-papa joe-Sarapan Pertama
73
Bab 73 Tank-pops-stnl-el toro-bg dre-wytt-pp joe-Tawaran Afiliasi
74
Bab 74 Stnl-regg-skeeter-bg moe-Malam Pertama di Sel
75
Bab 75 Regg-skeetr-bg moe-kml-stnl-Kemunculan Kemal
76
Bab 76 Tnk-stnl-Balas Dendam yang Gagal
77
Bab 77 Label di Dahi
78
Bab 78 Stnl-Rc-Kurt-Parade Kekuasaan
79
Bab 79 (Stnl-Tyrn-Jul-Mig) Solat di Sudut
80
Bab 80 (Jul-Aljndr-Mig-Tyrn) HP di Toilet
81
Bab 81 Tyron-Julio-Stnl-Sipir yang Buta

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play