Joko mengangguk pelan. "Ada juga yang pura-pura tidur. Serius. Mata merem, tangan nyilang, kayak mayat damai."
"Hehehe, iya. Tapi paling absurd tuh yang nyumbang dua ribu... tapi ekspresinya kayak baru wakafin tanah buat bangun pesantren."
"Kayak berharap bidadari langsung booking di surga," sambung Joko sambil nyengir.
Pak Anwar makin semangat. "Tapi bro... ada juga yang gak nyumbang sama sekali. Tapi isi hatinya kedengeran kayak speaker Bluetooth."
"'Aduh, ntar gue nyumbang, malah jadi miskin...' gitu ya? Jangan... nanti gue jadi susah."
Joko membalas, "Padahal dua ribu itu juga nanti sorenya abis buat es teh solo."
Pak Anwar ngakak tertahan. "Lucunya, giliran wudhu, borosnya kayak nyuci Suzuki Carry... ogah rugi apa aji mumpung ? Satu galon dihabisin. Padahal Nabi aja bilang, wudhu jangan boros, meski air sungai."
"Gue pernah ngeliat yang paling nyentil, Joko. Pas doa khatib - ngaminnya kenceng: 'Aamiiiin ya Roooobbal 'Alaaamiiiin!'... harapan sih tinggi, meski enggak linear berbanding lurus dengan effort usaha, ikhtiar, keikhlasan, pengorbanan. Tapi waktu kotak amal lewat? Dompet aman. Tangan diem. Mata pura-pura gak liat."
Joko ketawa pendek. "Dan puncaknya... pas selesai Jumatan, ada yang nyumbang nasi kotak. Orang yang tadi gak gerak pas kotak amal lewat... sekarang paling depan ngantri makanan."
"Anak kecil yang antri disikut," balas Pak Anwar cepat. "Demi sepiring nasi uduk dan ayam paha bawah."
Joko menggeleng, lebih sedih daripada lucu. "Meski balik ke kantor ada Aqua galon, tapi pas Jumatan, Aqua gelas gratis malah dikantongin."
Pak Anwar nyengir pahit. "Udah gitu, yang gak nyumbang malah ngeliatin yang nyumbang... pake tatapan sinis. Seolah bilang: 'Ih, norak banget sih pamer.'"
Joko menatap masjid yang mulai padat. Lalu berkata pelan, "Padahal ya... satu-satunya hal yang boleh pamer, justru sedekah. Tapi bukan buat ria. Buat nyemangatin."
"Ada haditsnya tuh," sahut Pak Anwar. "Barang siapa menunjukkan kebaikan, pahalanya sama kayak yang ngelakuin. HR Muslim."
Joko menoleh serius. "Tapi ya, kita juga harus ingat... ada level lain dari sedekah: yang tangan kiri gak tahu apa yang tangan kanan lakukan. Diam-diam. Tanpa pengakuan. Bukan buat konten, bukan buat validasi."
Pak Anwar manggut-manggut. "Berat itu. Tapi justru yang paling murni."
Joko jadi teringat sahabatnya, Susilo Bengbeng. Dulu sama-sama guru honorer, sekarang udah jadi wakil kepala cabang di perusahaan BUMN.
"Gue jadi inget temen gue," kata Joko. "Namanya Susilo Bengbeng. Dulu sempet nganggur, rezekinya mampet, nyari kerja gak dapet-dapet. Tapi dia nekat, tiap Jumat, kotak amal lewat, dia masukin lima puluh ribu. Kadang seratus ribu. Brutal."
Pak Anwar melotot. "Kotak yang lewat tuh? Bukan buat pembangunan?"
Joko mengangguk. "Kotak keliling. Kotak standar. Tapi dia bilang, 'justru saat gue takut miskin, gue pengen sedekah. Biar hati gue gak kalah sama rasa takut.'"
Pak Anwar manggut-manggut. "Keren."
"Dan lo tau gak?" lanjut Joko. "Gak lama, dapet kerja. Rezeki ngalir. Tapi bukan cuma duit. Kesehatan. Dimudahin urusan. Bahkan rumahnya selamat waktu kompleksnya kebakaran. Rumah tetangganya abis semua... musnah. Rumah dia? Aman. Padahal cuma beda satu pagar."
Pak Anwar bengong. "Wah..."
"Terus beberapa hari kemudian, Susilo naik motor. Ada yang nyelonong dari arah berlawanan. Nabrak Susilo. Tapi justru yang nabrak Susilo yang jatuh. Susilo cuma oleng dikit. Padahal mestinya Susilo yang luka."
Pak Anwar narik napas panjang. "Allah yang jagain."
Joko mengangguk. "Susilo bilang, sedekah yang paling bernilai... justru sedekah yang kita kasih waktu kita takut miskin."
Lalu Joko berkata lirih, hampir seperti bicara ke dirinya sendiri:
"Kalau lo bisa tanya orang yang udah meninggal, 'Kalau bisa hidup lagi, apa yang lo pengen lakuin pertama?' Lo tau gak jawaban mereka? Bukan liburan. Bukan shopping. Bahkan bukan sholat."
Pak Anwar melotot lagi.
"Jawabannya... sedekah. Karena sedekah itu bisa terus ngalir. Sementara sholat, itu kewajiban. Amal wajib ya ditanya duluan. Tapi sedekah... itu bisa jadi penyelamat dari lubang kubur."
Pak Anwar menunduk. "Iya sih... tapi banyak juga yang sedekah miliaran, ngebangun masjid, tapi gak sholat."
Joko mengangguk berat. "Dan semua kebaikannya bisa serta merta gugur, gara gara enggak sholat. Jadi tetap - sholat dulu. Tapi jangan lupakan sedekah. Karena bisa jadi... itu tiket selamat kita."
Lalu azan berkumandang. Mereka berdiri, berjejer di barisan tengah. Di pojok kanan, terlihat Pak Joni - bendahara masjid - sedang menyiapkan kotak amal kayu bertali hijau.
Joko tersenyum lirih. Kali ini, dia gak mau pura-pura khusyuk atau berpura-pura tidur. Dia keluarkan dompetnya. Isinya tinggal tiga lembar. Tapi satu lembar dia pisahkan.
Pak Anwar melirik. "Seratus?"
Joko angguk. "Buat nyemangatin orang... termasuk diri sendiri. Tapi gak usah dikasih tahu siapa-siapa, ya."
Pak Anwar mengacungkan jempol. "Tenang, tangan kiri gue lagi libur."
Joko tersenyum kecil, tapi dalam hatinya ia teringat lagi satu nasihat lama yang sering dia ulang-ulang di dalam kepalanya sendiri:
> "Orang miskin yang hartanya cuma sejuta... kalau dia sedekah seratus ribu, itu artinya dia kasih sepuluh persen dari seluruh hidupnya."
Ia melirik kotak amal yang sebentar lagi akan lewat barisan mereka.
"Bandingin sama orang kaya yang hartanya satu miliar, tapi sedekahnya cuma sejuta. Di mata manusia, kelihatan besar. Tapi di hadapan Allah... siapa yang lebih berkorban?"
Pak Anwar menunduk, lirih, "Yang sedikit tapi ikhlas, bisa lebih berat timbangannya daripada yang banyak tapi ogah-ogahan."
Joko mengangguk pelan.
"Kadang... bukan nominalnya yang bikin berat, tapi hati yang belum rela ngasih."
Tapi jangan keliru, ya! Rasulullah Saw. sendiri membatasi: jangan sampai lebih dari sepertiga total harta kita yang disedekahkan.
Misalnya, kalau harta kita totalnya satu miliar, jangan semua kita sedekahkan. Maksimal, cukup sepertiganya dari satu miliar itu. Karena Rasulullah juga mengingatkan, "Jangan engkau meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan miskin."
Ada kisah nyata: seorang anak kiai justru menyimpan dendam kepada almarhum ayahnya sendiri - seorang kiai terpandang. Alasannya, karena sang ayah semasa hidup mewakafkan seluruh hartanya, total satu miliar, untuk pesantren. Padahal menurut hukum fikih, maksimal hanya boleh sedekah sepertiga dari total harta.
Akhirnya, sang anak tumbuh dengan rasa kecewa. Ia merasa ditinggalkan tanpa bekal, sementara nama besar almarhum ayahnya terus dipuja-puji orang.
---
Sub bab:
Di luar sekolah pun Joko kadang bawa tatapan itu.
Suatu sore, dia lihat seorang ibu muda nyelonong ke jalur trotoar naik motor Beat, sambil ngemil donat.
Joko berdiri di pinggir, cuma ngelihatin. Matanya tajam. Tangannya di pinggang.
Si ibu pelan-pelan turunin kaki. Senyum malu. Muter balik. Donatnya jatuh. Pengen dipungut lagi donat nya, tapi malu.
Lain hari, di antrean Alfamart, ada cowok pakai kaos Supreme KW nerobos antrean. Joko diem aja. Tapi tatapannya nempel kayak hiasan magnet kulkas.
Cowok itu pura-pura ngebales chat, terus mundur ke belakang antrean.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 81 Episodes
Comments