5 - JOKO MENGANGGUK

Joko mengangguk pelan. "Ada juga yang pura-pura tidur. Serius. Mata merem, tangan nyilang, kayak mayat damai."

"Hehehe, iya. Tapi paling absurd tuh yang nyumbang dua ribu... tapi ekspresinya kayak baru wakafin tanah buat bangun pesantren."

"Kayak berharap bidadari langsung booking di surga," sambung Joko sambil nyengir.

Pak Anwar makin semangat. "Tapi bro... ada juga yang gak nyumbang sama sekali. Tapi isi hatinya kedengeran kayak speaker Bluetooth."

"'Aduh, ntar gue nyumbang, malah jadi miskin...' gitu ya? Jangan... nanti gue jadi susah."

Joko membalas, "Padahal dua ribu itu juga nanti sorenya abis buat es teh solo."

Pak Anwar ngakak tertahan. "Lucunya, giliran wudhu, borosnya kayak nyuci Suzuki Carry... ogah rugi apa aji mumpung ? Satu galon dihabisin. Padahal Nabi aja bilang, wudhu jangan boros, meski air sungai."

"Gue pernah ngeliat yang paling nyentil, Joko. Pas doa khatib - ngaminnya kenceng: 'Aamiiiin ya Roooobbal 'Alaaamiiiin!'... harapan sih tinggi, meski enggak linear berbanding lurus dengan effort usaha, ikhtiar, keikhlasan, pengorbanan. Tapi waktu kotak amal lewat? Dompet aman. Tangan diem. Mata pura-pura gak liat."

Joko ketawa pendek. "Dan puncaknya... pas selesai Jumatan, ada yang nyumbang nasi kotak. Orang yang tadi gak gerak pas kotak amal lewat... sekarang paling depan ngantri makanan."

"Anak kecil yang antri disikut," balas Pak Anwar cepat. "Demi sepiring nasi uduk dan ayam paha bawah."

Joko menggeleng, lebih sedih daripada lucu. "Meski balik ke kantor ada Aqua galon, tapi pas Jumatan, Aqua gelas gratis malah dikantongin."

Pak Anwar nyengir pahit. "Udah gitu, yang gak nyumbang malah ngeliatin yang nyumbang... pake tatapan sinis. Seolah bilang: 'Ih, norak banget sih pamer.'"

Joko menatap masjid yang mulai padat. Lalu berkata pelan, "Padahal ya... satu-satunya hal yang boleh pamer, justru sedekah. Tapi bukan buat ria. Buat nyemangatin."

"Ada haditsnya tuh," sahut Pak Anwar. "Barang siapa menunjukkan kebaikan, pahalanya sama kayak yang ngelakuin. HR Muslim."

Joko menoleh serius. "Tapi ya, kita juga harus ingat... ada level lain dari sedekah: yang tangan kiri gak tahu apa yang tangan kanan lakukan. Diam-diam. Tanpa pengakuan. Bukan buat konten, bukan buat validasi."

Pak Anwar manggut-manggut. "Berat itu. Tapi justru yang paling murni."

Joko jadi teringat sahabatnya, Susilo Bengbeng. Dulu sama-sama guru honorer, sekarang udah jadi wakil kepala cabang di perusahaan BUMN.

"Gue jadi inget temen gue," kata Joko. "Namanya Susilo Bengbeng. Dulu sempet nganggur, rezekinya mampet, nyari kerja gak dapet-dapet. Tapi dia nekat, tiap Jumat, kotak amal lewat, dia masukin lima puluh ribu. Kadang seratus ribu. Brutal."

Pak Anwar melotot. "Kotak yang lewat tuh? Bukan buat pembangunan?"

Joko mengangguk. "Kotak keliling. Kotak standar. Tapi dia bilang, 'justru saat gue takut miskin, gue pengen sedekah. Biar hati gue gak kalah sama rasa takut.'"

Pak Anwar manggut-manggut. "Keren."

"Dan lo tau gak?" lanjut Joko. "Gak lama, dapet kerja. Rezeki ngalir. Tapi bukan cuma duit. Kesehatan. Dimudahin urusan. Bahkan rumahnya selamat waktu kompleksnya kebakaran. Rumah tetangganya abis semua... musnah. Rumah dia? Aman. Padahal cuma beda satu pagar."

Pak Anwar bengong. "Wah..."

"Terus beberapa hari kemudian, Susilo naik motor. Ada yang nyelonong dari arah berlawanan. Nabrak Susilo. Tapi justru yang nabrak Susilo yang jatuh. Susilo cuma oleng dikit. Padahal mestinya Susilo yang luka."

Pak Anwar narik napas panjang. "Allah yang jagain."

Joko mengangguk. "Susilo bilang, sedekah yang paling bernilai... justru sedekah yang kita kasih waktu kita takut miskin."

Lalu Joko berkata lirih, hampir seperti bicara ke dirinya sendiri:

"Kalau lo bisa tanya orang yang udah meninggal, 'Kalau bisa hidup lagi, apa yang lo pengen lakuin pertama?' Lo tau gak jawaban mereka? Bukan liburan. Bukan shopping. Bahkan bukan sholat."

Pak Anwar melotot lagi.

"Jawabannya... sedekah. Karena sedekah itu bisa terus ngalir. Sementara sholat, itu kewajiban. Amal wajib ya ditanya duluan. Tapi sedekah... itu bisa jadi penyelamat dari lubang kubur."

Pak Anwar menunduk. "Iya sih... tapi banyak juga yang sedekah miliaran, ngebangun masjid, tapi gak sholat."

Joko mengangguk berat. "Dan semua kebaikannya bisa serta merta gugur, gara gara enggak sholat. Jadi tetap - sholat dulu. Tapi jangan lupakan sedekah. Karena bisa jadi... itu tiket selamat kita."

Lalu azan berkumandang. Mereka berdiri, berjejer di barisan tengah. Di pojok kanan, terlihat Pak Joni - bendahara masjid - sedang menyiapkan kotak amal kayu bertali hijau.

Joko tersenyum lirih. Kali ini, dia gak mau pura-pura khusyuk atau berpura-pura tidur. Dia keluarkan dompetnya. Isinya tinggal tiga lembar. Tapi satu lembar dia pisahkan.

Pak Anwar melirik. "Seratus?"

Joko angguk. "Buat nyemangatin orang... termasuk diri sendiri. Tapi gak usah dikasih tahu siapa-siapa, ya."

Pak Anwar mengacungkan jempol. "Tenang, tangan kiri gue lagi libur."

Joko tersenyum kecil, tapi dalam hatinya ia teringat lagi satu nasihat lama yang sering dia ulang-ulang di dalam kepalanya sendiri:

> "Orang miskin yang hartanya cuma sejuta... kalau dia sedekah seratus ribu, itu artinya dia kasih sepuluh persen dari seluruh hidupnya."

Ia melirik kotak amal yang sebentar lagi akan lewat barisan mereka.

"Bandingin sama orang kaya yang hartanya satu miliar, tapi sedekahnya cuma sejuta. Di mata manusia, kelihatan besar. Tapi di hadapan Allah... siapa yang lebih berkorban?"

Pak Anwar menunduk, lirih, "Yang sedikit tapi ikhlas, bisa lebih berat timbangannya daripada yang banyak tapi ogah-ogahan."

Joko mengangguk pelan.

"Kadang... bukan nominalnya yang bikin berat, tapi hati yang belum rela ngasih."

Tapi jangan keliru, ya! Rasulullah Saw. sendiri membatasi: jangan sampai lebih dari sepertiga total harta kita yang disedekahkan.

Misalnya, kalau harta kita totalnya satu miliar, jangan semua kita sedekahkan. Maksimal, cukup sepertiganya dari satu miliar itu. Karena Rasulullah juga mengingatkan, "Jangan engkau meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan miskin."

Ada kisah nyata: seorang anak kiai justru menyimpan dendam kepada almarhum ayahnya sendiri - seorang kiai terpandang. Alasannya, karena sang ayah semasa hidup mewakafkan seluruh hartanya, total satu miliar, untuk pesantren. Padahal menurut hukum fikih, maksimal hanya boleh sedekah sepertiga dari total harta.

Akhirnya, sang anak tumbuh dengan rasa kecewa. Ia merasa ditinggalkan tanpa bekal, sementara nama besar almarhum ayahnya terus dipuja-puji orang.

---

Sub bab:

Di luar sekolah pun Joko kadang bawa tatapan itu.

Suatu sore, dia lihat seorang ibu muda nyelonong ke jalur trotoar naik motor Beat, sambil ngemil donat.

Joko berdiri di pinggir, cuma ngelihatin. Matanya tajam. Tangannya di pinggang.

Si ibu pelan-pelan turunin kaki. Senyum malu. Muter balik. Donatnya jatuh. Pengen dipungut lagi donat nya, tapi malu.

Lain hari, di antrean Alfamart, ada cowok pakai kaos Supreme KW nerobos antrean. Joko diem aja. Tapi tatapannya nempel kayak hiasan magnet kulkas.

Cowok itu pura-pura ngebales chat, terus mundur ke belakang antrean.

Episodes
1 1 - Joko Wiryawan, Guru SD yang Suka Nyentil
2 2 - Nostalgia, Surga, dan Neraka
3 3 - DI TANGAN KIRINYA
4 4: Tatapan yang Menular
5 5 - JOKO MENGANGGUK
6 6 - Tabrakan, Video, dan Viral yang Menggoda
7 7 - Target Berikutnya: Gunawan Saleh
8 8 - Kisah Air, Negara, dan Sakaratul Maut
9 9
10 Bab 10 Antara Columbia dan Kopi Joss MLM
11 Bab 11 Rk-wwn-Yang menyayangi di bumi, akan disayang di langit
12 Bab 12 Rk-dodi-joko-joni-cece-angelo-Amerika atau Rendang Ibu?
13 Bab 13 Mekanik Masjid dan Malaikat Neraka
14 Bab 14 Kopi Pahit dan Luka yang Masih Hangat
15 Bab 15 Rk-bm-arf-Republik Gulali dan Rolling Thunder
16 Bab 16 Rk-fhd-mateo-DeShawn Belajar Sholat
17 Bab 17 Rk-Imrn Khan-DeShw-Sknh-Aisha Khan-Tiket Pulang Tanpa Pamitan
18 Bab 18 Seattle-Kansas-Kota Baru Tanpa Kenangan
19 Bab 19 Rujuk Tanpa Kata "Kembali"
20 Bab 20 school-police station-Dari Seragam ke Seragam Lucu
21 Bab 21 Masa Lalu di Seragam Baru
22 Bab 22 Chuckie Ray dan Korek Api Digital
23 Bab 23 Montir, Polisi, dan Kehilangan
24 Bab 24 Luka Lama di Dalam Gudang Musik
25 Bab 25 Surat dari Masa Lalu
26 Bab 26 Potongan Puzzle Terakhir
27 Bab 27 Angin Dingin Wichita
28 Bab 28 Raka Maulana dan Bisnis Kopi Jalanan
29 Bab 29 Rk-Bm-Antara Bubuk Putih dan Bubuk Kopi
30 Bab 30 Si Raka dan Laci Rahasia
31 Bab 31 Bm-Rk-Penawaran yang Menggoda
32 Bab 32 Bm-Rk-Ayam, Celana Dalam, dan Sidang Pertama
33 Bab 33 Bm-Jalan Baru untuk Dua Orang Laki-laki yang Lelah
34 Bab 34 Bm-Rk-Big Mac dan Rolex di Tengah Krisis
35 Bab 35 Bm-Mahasiswi, Mimpi Buruk, dan Media
36 Bab 36 Bm-FBI, Fotokopi, dan Firasat Buruk
37 Bab 37 Bm-Putusan dan Popularitas
38 Bab 38 desh-Yang Disembunyikan oleh Rak Nomor 27
39 Bab 39 deshw-Jejak yang Dihapus
40 Bab 40 Bayangan di Tengah Padang Rumput
41 Bab 41 Rk-Ahm-Brian-U Lina-Guru Baru Bernama Ahmad
42 Bab 42 Satu Ayat, Satu Air Mata
43 Bab 43 Surat dari Tahanan Hati
44 Bab 44 James Ngajak Raka Diskusi Soal Neraka dan Keadilan Tuhan
45 Bab 45 Troy-Jm-Pertolongan yang Datang Diam-Diam
46 Bab 46 Troy-Kembali ke New York
47 Bab 47 Troy-Menolak dengan Tenang
48 Bab 48 Pdkt-Salat Id di Kansas dengan Imam Cadel
49 Bab 49 Gt mrrd-James Galau Sambil Nyapu Masjid
50 Bab 50 Drama Nabi Ibrahim
51 Bab 51 jms-Ahm-Bus Mini, Sholawat ala Lagu Natal
52 Bab 52 jm-ahm-Melamun di Tengah Butiran Salju
53 Bab 53 jm-ahm-Suara dari Kegelapan
54 Bab 54 * Lily-Hangat yang Aneh
55 Bab 55 * lily-Bayangan Masa Lalu
56 Bab 56 * lily-Perasaan yang Berkecamuk
57 Bab 57 * lily-Keputusan Sementara
58 Bab 58 * Lily-Rindu yang Tak Pernah Hilang
59 Bab 59 – Bianglala, Lampu Kota, dan Kecurigaan yang Sunyi
60 Bab 60
61 Bab 61—Jm-Lorong Susu di Kansas
62 Bab 62 * jms-ryan-alx-Telepon dari Ryan
63 Bab 63
64 Bab 64 jms-Masuk ke Ruang Ustadz Bilal
65 Bab 65 jms-Nasihat Ustadz Bilal
66 Bab 66 rk-stc-Hujan, Kopi, dan Senja di Capitol Hill
67 Bab 67 jms-stc-Kardus, Latte, dan Survival Seattle
68 68 - Akta Cerai dan Latte Hangat
69 69 Ys-Mesin Vakum dan Mimpi Amerika
70 Bab 70 Ys-Mig-Tamu Misterius di Garasi
71 Bab 71 Dari American Dream ke American Prison
72 Bab 72 spr dwyn-brody-papa joe-Sarapan Pertama
73 Bab 73 Tank-pops-stnl-el toro-bg dre-wytt-pp joe-Tawaran Afiliasi
74 Bab 74 Stnl-regg-skeeter-bg moe-Malam Pertama di Sel
75 Bab 75 Regg-skeetr-bg moe-kml-stnl-Kemunculan Kemal
76 Bab 76 Tnk-stnl-Balas Dendam yang Gagal
77 Bab 77 Label di Dahi
78 Bab 78 Stnl-Rc-Kurt-Parade Kekuasaan
79 Bab 79 (Stnl-Tyrn-Jul-Mig) Solat di Sudut
80 Bab 80 (Jul-Aljndr-Mig-Tyrn) HP di Toilet
81 Bab 81 Tyron-Julio-Stnl-Sipir yang Buta
Episodes

Updated 81 Episodes

1
1 - Joko Wiryawan, Guru SD yang Suka Nyentil
2
2 - Nostalgia, Surga, dan Neraka
3
3 - DI TANGAN KIRINYA
4
4: Tatapan yang Menular
5
5 - JOKO MENGANGGUK
6
6 - Tabrakan, Video, dan Viral yang Menggoda
7
7 - Target Berikutnya: Gunawan Saleh
8
8 - Kisah Air, Negara, dan Sakaratul Maut
9
9
10
Bab 10 Antara Columbia dan Kopi Joss MLM
11
Bab 11 Rk-wwn-Yang menyayangi di bumi, akan disayang di langit
12
Bab 12 Rk-dodi-joko-joni-cece-angelo-Amerika atau Rendang Ibu?
13
Bab 13 Mekanik Masjid dan Malaikat Neraka
14
Bab 14 Kopi Pahit dan Luka yang Masih Hangat
15
Bab 15 Rk-bm-arf-Republik Gulali dan Rolling Thunder
16
Bab 16 Rk-fhd-mateo-DeShawn Belajar Sholat
17
Bab 17 Rk-Imrn Khan-DeShw-Sknh-Aisha Khan-Tiket Pulang Tanpa Pamitan
18
Bab 18 Seattle-Kansas-Kota Baru Tanpa Kenangan
19
Bab 19 Rujuk Tanpa Kata "Kembali"
20
Bab 20 school-police station-Dari Seragam ke Seragam Lucu
21
Bab 21 Masa Lalu di Seragam Baru
22
Bab 22 Chuckie Ray dan Korek Api Digital
23
Bab 23 Montir, Polisi, dan Kehilangan
24
Bab 24 Luka Lama di Dalam Gudang Musik
25
Bab 25 Surat dari Masa Lalu
26
Bab 26 Potongan Puzzle Terakhir
27
Bab 27 Angin Dingin Wichita
28
Bab 28 Raka Maulana dan Bisnis Kopi Jalanan
29
Bab 29 Rk-Bm-Antara Bubuk Putih dan Bubuk Kopi
30
Bab 30 Si Raka dan Laci Rahasia
31
Bab 31 Bm-Rk-Penawaran yang Menggoda
32
Bab 32 Bm-Rk-Ayam, Celana Dalam, dan Sidang Pertama
33
Bab 33 Bm-Jalan Baru untuk Dua Orang Laki-laki yang Lelah
34
Bab 34 Bm-Rk-Big Mac dan Rolex di Tengah Krisis
35
Bab 35 Bm-Mahasiswi, Mimpi Buruk, dan Media
36
Bab 36 Bm-FBI, Fotokopi, dan Firasat Buruk
37
Bab 37 Bm-Putusan dan Popularitas
38
Bab 38 desh-Yang Disembunyikan oleh Rak Nomor 27
39
Bab 39 deshw-Jejak yang Dihapus
40
Bab 40 Bayangan di Tengah Padang Rumput
41
Bab 41 Rk-Ahm-Brian-U Lina-Guru Baru Bernama Ahmad
42
Bab 42 Satu Ayat, Satu Air Mata
43
Bab 43 Surat dari Tahanan Hati
44
Bab 44 James Ngajak Raka Diskusi Soal Neraka dan Keadilan Tuhan
45
Bab 45 Troy-Jm-Pertolongan yang Datang Diam-Diam
46
Bab 46 Troy-Kembali ke New York
47
Bab 47 Troy-Menolak dengan Tenang
48
Bab 48 Pdkt-Salat Id di Kansas dengan Imam Cadel
49
Bab 49 Gt mrrd-James Galau Sambil Nyapu Masjid
50
Bab 50 Drama Nabi Ibrahim
51
Bab 51 jms-Ahm-Bus Mini, Sholawat ala Lagu Natal
52
Bab 52 jm-ahm-Melamun di Tengah Butiran Salju
53
Bab 53 jm-ahm-Suara dari Kegelapan
54
Bab 54 * Lily-Hangat yang Aneh
55
Bab 55 * lily-Bayangan Masa Lalu
56
Bab 56 * lily-Perasaan yang Berkecamuk
57
Bab 57 * lily-Keputusan Sementara
58
Bab 58 * Lily-Rindu yang Tak Pernah Hilang
59
Bab 59 – Bianglala, Lampu Kota, dan Kecurigaan yang Sunyi
60
Bab 60
61
Bab 61—Jm-Lorong Susu di Kansas
62
Bab 62 * jms-ryan-alx-Telepon dari Ryan
63
Bab 63
64
Bab 64 jms-Masuk ke Ruang Ustadz Bilal
65
Bab 65 jms-Nasihat Ustadz Bilal
66
Bab 66 rk-stc-Hujan, Kopi, dan Senja di Capitol Hill
67
Bab 67 jms-stc-Kardus, Latte, dan Survival Seattle
68
68 - Akta Cerai dan Latte Hangat
69
69 Ys-Mesin Vakum dan Mimpi Amerika
70
Bab 70 Ys-Mig-Tamu Misterius di Garasi
71
Bab 71 Dari American Dream ke American Prison
72
Bab 72 spr dwyn-brody-papa joe-Sarapan Pertama
73
Bab 73 Tank-pops-stnl-el toro-bg dre-wytt-pp joe-Tawaran Afiliasi
74
Bab 74 Stnl-regg-skeeter-bg moe-Malam Pertama di Sel
75
Bab 75 Regg-skeetr-bg moe-kml-stnl-Kemunculan Kemal
76
Bab 76 Tnk-stnl-Balas Dendam yang Gagal
77
Bab 77 Label di Dahi
78
Bab 78 Stnl-Rc-Kurt-Parade Kekuasaan
79
Bab 79 (Stnl-Tyrn-Jul-Mig) Solat di Sudut
80
Bab 80 (Jul-Aljndr-Mig-Tyrn) HP di Toilet
81
Bab 81 Tyron-Julio-Stnl-Sipir yang Buta

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play