"Anak-anak, kalian tahu nggak? Kadang Pak Joko iri sama tukang es cendol keliling. Soalnya dia tiap hari bahagia, padahal hidupnya sederhana. Nggak perlu update status tiap lima menit."
"Pak... Bapak ngiri sama tukang es cendol?" tanya Raka bingung.
"Iya. Karena dia ngajarin hal hal: syukurin nikmatin yang kita punya. Jangan FOMO! Fear Of Missing Out. Jangan takut ketinggalan berita. Jangan takut ketinggalan gaya. Gaya nggak bisa beli ketenangan."
Joko kemudian bertanya, "Kalian ikut grup WhatsApp, kan?"
Semua murid menjawab, "Iya, Pak!"
Joko tersenyum dan berkata, "Pak Joko cuma ikut satu grup WhatsApp. Grup guru-guru sekolah."
Seorang murid angkat tangan dan bertanya polos, "Kenapa cuma satu, Pak?"
Joko menjawab dengan suara tenang, "Karena kebanyakan grup itu bikin kepala rame. Bunyi terus 'ting ting ting', padahal kadang isinya cuma becandaan enggak penting. Lagi mau bikin soal ujian, eh malah kebablasan baca obrolan di grup, sampai setengah jam. Jadinya enggak fokus kerja. Kebanyakan distraksi... pengalihan."
Kadang juga, isi grupnya enggak cocok. Ada yang suka pamer-pamer, ngomongin orang lain, debat mulu... capek, Nak. Gosip, toxic, gaslighting, Padahal, Pak Joko cuma pengen hidup tenang, fokus kerja, ibadah, dan istirahat. Group wa itu cuman overstimulasi doang... banyak mencetuskan hal hal... namun sayangnya kebanyakan yang enggak berguna... unfaedah pula"
Anak-anak mendengarkan dengan serius.
"Ia lanjut dengan suara agak pelan. "Dulu saya pernah dimasukin ke grup alumni SMA. Sama temen saya, namanya Amel. Saya enggak bilang apa-apa, cuma diem aja. Eh, ada satu orang-sekarang dia Kapolres, namanya Romi-bilang gini di grup: 'Joko ini sukses, tapi pendiam. Karena inspirasinya Limbad.'"
Anak-anak tertawa, tapi Pak Joko melanjutkan dengan suara lebih tenang.
"Padahal... inspirasi saya itu Rasulullah SAW, Michael Jordan, dan Pakde saya sendiri-Brigjend Bedjo-pahlawan di Sumatra. Harimau Sumatera julukan nya. Kisah hidupnya bahkan diangkat jadi film Nagabonar, diperankan oleh Dedy Mizwar. Makamnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di Sumatera, namanya aja dijadikan nama jalan... jalan Brigjend Bedjo."
"Waktu itu, Pak Joko lagi susah banget cari kerja. Bahkan buat makan aja susah. Istri juga lagi minggat ke rumah mertuanya.
Pak Joko keluar dari grup. Terus Amel masukin lagi. Pak Joko keluar lagi. Dan enggak bilang apa-apa. Sampai akhirnya, demi ketenangan hati, Pak Joko blok dulu nomor Amel.
Bukan karena benci. Tapi karena kadang... orang enggak tahu, kalau kita lagi jatuh. Ternyata Romi Kapolres, yang punya power otoritas masif, justru karena faktor insecure takut kehilangan power nya lah, sampai sampai dia membuat... yah begitulah. Sesudah nya Pak Joko jadi malah intropeksi, apa pak Joko pernah salah ngomong? Kayaknya pak Joko dari semenjak SMA sampe lulus, pak Joko justru malah enggak pernah ngobrol sama sekalipun sama Romi."
"Kalian tahu... bahkan sama orang yang kita kenal pun, kita tetap harus baik. Karena kita nggak tahu mereka lagi ngalamin apa? Apalagi sama orang yang nggak kita kenal. Boleh jadi kita bikin dia sedih?"
Tau tau Mamat... a.k.a. Muhammad Matthew, murid yang bandel namun pinter menimpali," Hidup itu jangan terlalu senang, dan jangan terlalu sedih."
Jleb... Joko membathin,"Dan sang murid pun telah menjadi guru."
"Kadang, ada juga grup yang isinya cuma foto kaki doang... nangkring di atas kursi... pakai sepatu sultan. Sepatu Air Jordan... flexing. Haus validasi. Sementara Pak Joko ke sekolah aja pakai sepatu lama, sol-nya dilem Alteco. Meski sebenernya Pak Joko iri juga, tapi kan iri itu boleh, bukan? Boleh berdoa... Ya Allah, saya pengen mobil seperti mobil orang itu. Yang enggak boleh itu kan dengki. Ingin kenikmatan yang dipunyai orang lain jadi hilang."
"Pak Joko sekarang milih hidup sederhana. Enggak usah ikut semua grup. Enggak usah tahu semua hal. Yang penting hati tenang. Fokus ke yang penting aja: kerja, doa, dan ngajarin kalian semua."
Kelas hening sejenak. Hanya suara kipas yang terdengar. Beberapa murid menunduk, ada juga yang menatap Joko dengan tatapan beda. Lebih hormat. Namun ada juga yang menahan kantuk... tak tahan nunggu bel istirahat berbunyi... ditambah perut keroncongan, pengen ngacir ke kantin.
"Kadang grup juga bikin drama," tambah Joko pelan. "Ada yang debat terus, saling sindir, atau malah bikin kita kayak enggak dihargai. Bisa juga karena faktor pelampiasan kebosanan kehidupan mereka sendiri. HP juga bisa penuh. Jadi... Pak Joko pilih satu grup aja. Grup guru. Itu pun kadang enggak dibuka juga."
Raka tiba tiba bertanya,"Pak Joko kok bisa tau banyak?"
Pak Joko diam sejenak... jawabnya,"tanda tanda akhir zaman itu, orang lebih banyak tau tentang dunia dibandingkan tentang agama."
Ia menutup dengan kalimat pelan, "Kadang... hidup lebih enak kalau kita tahu kapan harus diam, dan kapan harus jaga jarak."
Ada juga murid murid yang menganggukkan kepala. Padahal sebenernya mereka enggak paham. Selain sekedar pengen membuat hati pak Joko senang, yang otomatis mungkin bisa serta merta bikin nilai akademis jelek mereka jadi bagus.
Bab: Tatapan yang Menular
Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran, coba lihat papan tulis. Ada tulisan 'Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana'. Kalian ngerti maksudnya?"
Bocah-bocah itu saling pandang. Satu dua nyengir. Yang lain mainan penghapus.
"Saya ngerti, Pak!" seru Raka Maulana dari bangku pojok.
"Coba jelasin."
"Kalau nyontek, nilai tinggi, tapi gak laku di surga."
"Betul... agak ngaco, tapi betul." Joko nyengir sambil ngangguk-ngangguk.
Joko Wiryawan memang bukan guru biasa. Di sekolah dia dikenal galak tapi adil, kadang nyeleneh tapi tulus. Dan satu hal yang paling diingat murid-muridnya: tatapan maut.
Kalau ada murid nyontek, buang sampah sembarangan, atau bohongin temennya, Joko gak perlu teriak. Cukup menatap tajam. Diam. Dua detik. Tiga detik. Bocahnya langsung nyesel kayak abis makan permen karet rasa sabun.
"Pak Joko tuh gak pernah mukul. Tapi tatapannya kayak CCTV di neraka," kata Raka suatu kali.
Hari Jumat itu, matahari menyelinap malu-malu di antara awan Jakarta yang seperti bantal belum dijemur. Masjid Al-Fattah yang berada di pinggir jalan raya mulai dipenuhi jamaah. Di sisi belakang, bangku kayu panjang menghitam karena usia, menjadi tempat ngaso para guru SD Negeri 08 sebelum masuk shaf Jumatan.
Joko Wiryawan duduk di ujung, masih mengenakan kemeja batik PGRI. Di sebelahnya, Pak Anwar - guru olahraga dengan dompet tipis tapi gaya sok tebal - mulai mengelus janggut tiga helainya.
"Joko," bisik Pak Anwar sambil ngelirik, "Lo pernah gak sih, ngerasa Jumatan itu... kayak teater?"
Joko senyum miring. "Teater apaan?"
"Teater... 'menghindari kotak amal'. Gue sering liat jamaah pura-pura khusyuk banget pas kotak lewat. Doanya gak kelar-kelar, padahal biar gak usah nyumbang."
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 81 Episodes
Comments