Bunyi sepatu tinggi itu terdengar di selasar, berlari, dan langkah yang cukup berat. Membawa berita buruk sudah pasti, atau sekumpulan gosip dan uneg-uneg, tidak mungkin meleset. Ia masuk ke sebuah ruangan, terengah, menatap tajam ke arah orang yang duduk di dalam ruangan itu. Orang itu masih asik mengetik dan fokus ke layar komputernya. Jemari orang itu tidak berhenti mengetik dan matanya mengarah lurus ke laptop, tidak berkedip sama sekali, terlalu fokus. Di telinga orang itu terpasang earphone, Tuhanlah yang tahu seberapa kencang suara musik yang sedang dia putar hingga ia tidak mendengar wanita yang berlari barusan masuk ke ruangannya. Hingga akhirnya wanita itu menarik kabel earphonenya.
“Damn Abi!?!! Should I use the speaker now??” ucap wanita itu.
Abi terdiam menatap wanita itu, tingginya wanita itu seratus lima puluh dua kotor tambah aksesoris dan rambut ombak paripurna ke kanan itu. Wanita itu mengenakan kemeja putih dan blazer abu serta rok span selutut dengan warna senada. Tidak lupa stoking hitam dan heels hitam kinclong itu, jika saja heels itu bisa berteriak mungkin ia akan bilang, menyala polesku! Atau apalah agar tidak terlalu apa sekali. Wanita itu asik mengomel saat Abi hanya menatapnya mendengarkan tidak memotong sama sekali. Setelah asik mengomel dan berceloteh wanita itu akhirnya menghela nafas dan diam menatap Abi.
“Sudah selesai yappingnya, Hanna?” ucap Abi lembut.
“Sudah…” balas Hanna sambil menundukkan kepalanya.
“Baik, kalau begitu duduk dulu dan mari dengarkan satu satu ocehan lu itu.” ucap Abi sambil menunjuk ke kursi yang ada di hadapan mejanya.
Sembari menunggu Hanna duduk dengan tenang Abi menuangkan kopi dari mesin kopi di ruangannya itu dan memberikannya kepada Hanna.
“Thanks” ucap Hanna.
Ia hanya mengangguk dan kembali menunggu Hanna berbicara. Wanita itu masih menyeruput kopi panas itu, berusaha menenangkan diri dan menata pikiran serta bahasa yang akan diutarakan. Tahu betul dirinya saat Abi sudah di mode melogikakan segala hal, ia dan otak lurusnya itu. Terkadang Hanna kagum dengan pemikiran yang terlalu lurus itu.
“So, hari ini Pak Bram itu minta tolong ke gue. He said and I quote, Hanna siapin dokumen administrasi bulan ini yah, pak CEO mau datang mulai inspeksi.” ucap Hanna mulai menjelaskan.
Ia menatap ke Abi berusaha menemukan sanggahan atau respon apalah itu darinya. Namun Abi hanya menatap dirinya menunggu wanita itu melanjutkan omongannya. Jadi Hanna menarik napas untuk menjelaskan lagi.
“Pak Bram udah gue tanya berkali-kali untuk konfirmasi. Pak, laporannya cuma laporan administrasi bulan ini saja kan? Lalu Pak Bram jawab iya. Nah, gue tanya lagi. Pak maaf, laporan administrasi semua divisi atau hanya divisi administrasi saja, pak? Pak Bram jawab lagi, CUMA divis administrasi saja. Gue konfirmasi lagi kedua kali dan jawabanya masih sama, CUMA DIVISI ADMINISTRASI DOANG. Gue kerjain lah itu laporan sebanyak itu. Did you know what he say?” tanya Hanna mulai emosi.
“Coba gue tebak, lu salah dan pak Bram maunya data administrasi SEMUA divisi. Dan lu kena semprot dua belas SKS bersama pak Bram.” jawab Abi dengan wajah masih datar.
Jawaban Abi itu hanya membuat Hanna menghela napas dan tertunduk. Ia menatap ke bawah dengan wajah pasrah sembari menyeruput kopi itu. Itu kopi hitam dan memang pahit, namun semakin pahit dengan respon Abi.
“Lu udah kerja bareng pak Bram dari dua tahun lalu, dan hal ini enggak sekali dua kali, Hanna. Gue bangga dengan two times confirmation mu itu. Namun antisipasi akan mempermudah hidupmu Hanna.” jelas Abi.
“Damn you and your damn logic. Ugh!! I hate talking to you, but you are the adult for another adult.” maki Hanna sambil mengeleng-geleng kepala dan menghela napas kasar.
Abi hanya memasang senyum pasrah, satu kata lagi dari mulutnya dan heels kebanggaan Hanna itu mungkin akan bersarang di kepalanya dalam dua menit setelah dia mengucapkan satu kata setelah ini. Ia kemudian mengecek ponselnya, pukul dua belas lewat satu siang, ia melihat Hanna. Wanita itu menghela napas lalu menatap balik Abi.
“GoFood. Nasi campur Bu Lia.” ucap Hanna tanpa basa-basi.
Ucapan itu kini membuat Abi yang menghela nafas. Nama makanan itu lagi, dalam satu minggu Hanna bisa makan nasi campur itu enam sampai delapan kali. Entah apa yang membuat makanan itu spesial Abi pun tidak mengerti, ia hanya bisa menghela nafas dan memesan makanan. Namun tentu saja Abi memesan untuk dirinya dari tempat makan lain. Setelah menunggu agak lama makanan datang. Abi turun ke lantai satu untuk menerima makanannya. Saat sampai di lobby Abi melihat beberapa orang berkerumun seperti menunggu sesuatu. Namun ia terlalu lapar untuk bertanya dan terlalu tidak kepo untuk ingin tahu.
Setelahnya Abi masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tempat ia bekerja. Berjalan beberapa saat sebelum ia sampai di meja miliknya lagi. Hanna masih asik dengan ponselnya entah apa yang begitu menarik di grup chatnya itu. Ia menyodorkan makanan ke Hanna lalu mulai makan miliknya. Saat asik makan secara tiba-tiba Hanna menggebrak meja membuat Abi menjatuhkan telurnya kembali ke kotak makanannya. Abi menatap Hanna dalam kebingungan dan tentu saja panik serta sedikit marah.
“Girl?!! Do you have to slam the table like that? What is wrong with you?” ucap Abi dengan nada sedikit tinggi.
Hanna memberi senyum cengengesannya itu, agak canggung dan sedikit takut. Wanita itu tahu betul bagaimana sifat Abi dan tentu saja responnya saat ini sedikit berlebihan. Ia tidak banyak bicara dan hanya menunjukkan layar ponselnya pada Abi. Itu adalah laman percakapan kantor, Abi membaca namun tetap tidak mengerti.
“Enlighten me, please?” pinta Abi dengan wajah bingung.
“Tadi pas lu turun ke lobby emang enggak liat?” tanya Hanna sembari mengernyit.
“Liat apaan??” Abi juga ikut mengernyit.
“Dibawah emang enggak rame apa?” tanya Hanna kembali.
“Lumayan sih, emang kenapa?” ucap Abi mengingat kembali keramaian di lobby yang ia pilih untuk dilewatkan karena dia lebih peduli pada makan siangnya dibanding gosip kantor yang kadang kala tidak terlalu penting untuk diketahui apalagi dicari tahu.
“Dih, lu mah suka gitu. Gak asik emang manusia kek lu! Hari ini tuh katanya bapak presdir mau dateng. Buset, menurut lu nih… Orangnya bakal kayak apaan yah?” jelas Hanna sambil berandai-andai.
“Tua, pendek, botak, mungkin sekita enam puluh lima persen cabul,” jelas Abi sambil kembali menyantap makan siangnya.
Hanna hanya bisa menghela napas. Bila ia mulai mendebat omongan tersebut apalagi saat Abi sedang lapar, yang ada dia yang kena semprot dengan data, paper, dan jurnal. Lebih horor daripada angan-angan dangkal sahabatnya itu.
“Jangan suka spekulasi jelek dasar lu sialan! Kebanyakan nonton drama korea lu!” sentak Hanna.
“I’m telling by fact in the field, sweetheart.” ucap Abi sambil menyuapkan suapan terakhir makanannya.
Hanna ngedumel dalam hati sementara Abi memilih tidak terlalu memberikan respon yang terlalu berlebihan. Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan dua orang itu. Berbarengan mereka melihat ke pintu. Di sana ada pria tinggi dengan wajah tampan dan rambut rapi berdiri tegap di sana. Mata Hanna terbelalak sementara Abi mengernyitkan dahi.
“You??” ucap Abi dan Hanna berbarengan dengan nada yang cukup berbeda. Saat Hanna panik, Abi lebih menunjukkan respon kesal.
“Nice to meet you again, Abi”
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments