Abigail POV
Hujan turun deras hari itu, Jakarta yang biasanya panas bak neraka bocor, kini ia mulai sedikit mendinginkan dirinya. Langit begitu gelap dengan petir yang terus menyambar menambah suasana kelabu hari itu. Bangunan megah itu berdiri kokoh dan anggun. Siapa yang tidak tahu SMA Kertanegara, sekolah eksklusif untuk kaum kelas atas dan mahasiswa terbaik negara. Sudah banyak nama gemilang lahir dari bangunan megah itu. Mulai dari pelajar terbaik tingkat nasional sampai orang orang penting dibalik gedung gedung pemerintahan.
Seperti normalnya anak SMA di jam kosong, kelas agak berisik hari itu. Ada yang bermain ponsel, ada yang kejar-kejaran di selasar kelas, ada yang memilih untuk belajar, bahkan beberapa memilih untuk tidur saja menggantikan jam tidur mereka yang tersita karena satu dan lain hal. Semua selayaknya hari biasa di SMA Kertanegara. Terutama di kelas itu, 11-A. Mereka mendapatkan kelas kosong dari pelajaran pertama sampai istirahat tadi karena guru yang seharusnya masuk harus pergi rapat entah kemana. Saat asik dengan kekosongan pelajaran itu, tiba-tiba siswa yang berlarian di selasar berlari masuk sambil menyembut satu nama.
“Gawat! Bu Nadia datang!!” Ucap salah satu dari mereka.
Semua isi kelas langsung diam dan duduk dengan teratur. Siapa juga yang berani dengan Bu Nadia. Guru Fisika paling mematikan di seantero SMA Kertanegara, bahkan kepala sekolah saja jiper dengan tatapan maut wanita setengah abad itu. Jangan-jangan hujan turun hari inipun adalah bukti bahkan langit itu ketakutan pada Bu Nadia. Wanita baya itu memasuki kelas dengan bunyi sepatu heels bucherri hitam kebanggaannya. Ia meletakkan buku fisika keramatnya di atas meja. Masih sambil berdiri Bu Nadia berjalan menuju papan tulis.
“Selamat siang, anak-anak. Hari ini sebelum kita masuk ke pelajaran kita Ibu ingin memperkenalkan anak baru yang akan bergabung dengan kelas kalian mulai hari ini.” jelas Ibu Nadia.
Para siswa mulai berbisik satu sama lain penuh rasa penasaran. Siswa baru di pertengahan ajaran, cukup jarang terjadi lebih tepatnya langka. Siapa juga yang mau masuk di sekolah lain di pertengahan semester apalagi untuk kelasan SMA Kertanegara. Jika orang ini tidak super jenius yah anak orang kaya bermasalah yang orang tuanya berharap jika dipindahkan ke sekolah ini akan jadi anak yang lebih baik dan berbagai mimpi kosong lainnya. Motifnya jelas, untuk menutup anaknya dari publik, untuk para siswa di SMA Kertanegara itu sudah jadi rahasia publik saja.
“Eh, menurut lu pada nih, bocahnya bakal cwk apa cwk, nih??” ucap salah satu anak bernama Agam.
Teman sebangkunya Baladewa atau akrab dipanggil Dewa hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Dia sudah di posisi biasa atau lebih tepatnya maklum dengan sifat tukang gosip sebangkunya itu, yah setidaknya dari sifatnya itu Agam menjadi mahasiswa debat terbaik skala nasional, aneh memang tapi dunia memang bergerak beriringan dengan anomali bukan? Agam melihat ke siswa lainnya menunggu respon atas mosi yang baru saja dia sampaikan.
“Emang bedanya cwk sama cwk apaan dah??” ucap Ipang si pria timur manis.
“Bedalah, cwk is stan por―” belum selesai Chris bicara tangan Dewa sudah dengan ramah menutup mulutnya dengan sigap.
“Diam, sebelum mulut terkutuk lu itu gua robek jadi empat bagian, mau!?? Nilai bahasa indonesia aja lu masih tiga puluh, jangan sok pake inggris deh, telinga gua langsung panas!!” ancam Dewa dengan tajamnya.
“Ebuset, sensi ketua?” timpal Ipang membuat seisi kelas cekikikan menahan tawa.
“Jangan gitu, yang sopan sama Noto Manduro Prabu Bolodewo. Entar dia tereak, koe goblok ko iki!! Jajaran iblis laknat!! Mau lu?” Sindir Agam yang sukses membuat seisi kelas tertawa lepas.
Dewa hanya me-rolling eye sambil kembali ke bukunya. Sementara itu Ibu Nadia cuma bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan siswa-siswanya ini. Setelah semua kembali kondusif sang guru menatap ke pintu terbuka sambil tersenyum.
“Abigail, ayok masuk dan perkenalkan diri, nak.” ucap Bu Nadia ramah.
Kelas hening, semua mata terpaku pada pintu terbuka itu dan serius. Tidak ada yang masuk bahkan sampai menit kedua. Ibu Nadia mulai mengernyitkan dahi dan berjalan ke pintu hendak menyampari anak yang dia panggil tadi namanya. Sembari sang guru hilang salah satu siswa bernama Asmara membalikkan badan dan menatap ke belakang karena kursinya ada di depan.
“Namanya Abigail, berarti―” belum sempat Asmara melanjutkan omongannya dengan cepat Ipang memutusnya.
“Berarti bocahan laki yang total anak badung, udah apaan lagi? Ngapa coba dia pindah tengah semester? Kalo gak pinter kebangatan yah badung udah,” ucap Ipang.
“Satu-satunya jawaban masuk akan yang pernah keluar dari mulut bocah jaktim ini, seorang Ipang Giordani… Wow… Amazing…” sarkas Agam.
“Cih, jangan ragu jangan bimbang sayang. Abang Ipang akan selalu logis dan masuk akal. Apalagi untuk adik Asmara yang cantik bagaikan malaikat sur―” Ipang baru saja ingin gombal saat Bu Nadia akhirnya kembali.
Wanita setengah abad itu datang sambil menjewer anak tinggi potongan two block. Asmara langsung menatap dengan cahaya di matanya lalu melihat ke arah Ipang.
“Sorry dear, tapi kayanya dia lebih menarik.” ucap Asmara lalu menatap ke depan lagi.
Ibu Nadia masih memarahi anak itu yang terus menatap kebawah dan cengengesan. Entah apa yang terjadi di luar kelas sebelumnya sampai Ibu Nadia memasang wajah masam level lima itu. Sementara itu ada Ipang yang langsung membuat wajah masam sambil memain mainkan seragam Chris, pria itu hanya bisa menggekengkan kepalanya melihat temannya berlagak tantrum. Di depan kelas ada Ibu Nadia yang masih cerewet ke Abigail si siswa baru.
“Kamu ini! Bisa-bisanya!! Enggak punya mulut kamu buat minta izin, Abigail?” Ibu Nadia mencak-mencak.
“Maaf sekali ibu. Saya tadi sudah tidak tahan, masa saya tidak langsung ke kamar mandi? Nanti saya kelepasan di celana saya ibu mau membantu membereskan?” balas Abigail dengan wajah polos dan aksen bahasa indonesia yang sedikit aneh, lenih mirip bule yang mencoba berbahasa Indonesia.
“Kamu ini yah, bener-bener!!” ucap Ibu Nadia sambil menjewer telinga Abigail lebih keras sampai dia meringis lebih kencang.
Sebenarnya yang terjadi tadi adalah, Abigail memang menunggu di depan kelas. Lalu tiba-tiba ia merasa ingin ke kamar mandi, tak tahan akhirnya ia memilih lari dan meninggalkan tempatnya berdiri kemudian ngibrit ke kamar mandi. Ibu Nadia mencarinya sekitar sepuluh menit hanya untuk menemukan dia via anak yang tidak sengaja lewat dan bilang melihat Abigail masuk ke kamar mandi.
Abigail habis dijewer Ibu Nadia di depan kelas sebelum akhirnya wanita tua itu menghela napas dan menatap ke seisi kelas.
“Yasudah, kamu kenalkan diri kamu keteman-teman kamu, baru hari pertama kamu udah mengurangi umur ibu setengah.” dengus Ibu Nadia lalu ia duduk ke bangkunya di sudut kanan kelas.
Abigail hanya menghela nafas sembali mengelus-elus telinganya yang sudah merah parah. Bagaimana tidak, Ibu Nadia menjewer tanpa ampun sama sekali. Kemudian Abigail berdiri tegap di depan kelas. Ia tinggi dengan wajah cukup tampan, tatapan matanya tajam serta potongan taper fade. Belum lagi rambut blonde alami itu, berbeda sekali dengan warna pirang mainan anak nakal sekolah pada umunya. Dan mata biru yang mempesona. Abigail menatap ke semua anak di kelas dan mendehem sebelum mulai bicara.
“Halo, selamat pagi semuanya! Saya Abigail, Abigail Sadana Nanendra. Senang berkenalan dengan kalian semua.” ucap Abigail lugas.
Semua mata tertuju padanya, aksen bahasa indonesia bule itu cukup menarik perhatian. Namun bagi Abigail bukan tatapan dan bisikan itu yang membuatnya tersenyum. Namun cerita menarik apa yang akan datang kali ini.
“запах приключений” bisik Abigail pada dirinya sendiri.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments