GENK GARUDA

Siang itu, di jam istirahat, anak-anak SMA Kertanegara dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang pergi ke kantin, ada yang makan di dalam kelas karena membawa bekal, beberapa ada yang belajar, hingga mengejar mengerjakan tugas untuk kelas selanjutnya. Diantara semua pilihan yang ada, Abigail terdiam di bangkunya. Anak baru, tidak tahu apa-apa, dan belum mengenal sekolah sebaik itu. Benar-benar dirinya tidak tahu harus kemana dan bagaimana, hanya duduk diam di bangkunya pura-pura membaca buku dan earphone tercantol manis di kedua telinganya. Semua beubah ketika para gadis-gadis mulai mendekati bangkunya. Ada yang langsung duduk di bangku yang ada di sampingnya, ada yang meraih bangku terdekat dan berusaha duduk dekat dengan dirinya dan sisanya hanya berdiri sambil menatapnya dengan tatapan yang menurutnya cukup aneh. Belum lagi senyum dan cengengesan tidak masuk akal ini.

“Hi Abigail, lu asal mana?” ucap salah satu dari mereka.

“Asal rumah.” jawab Abigail singkat.

“Abigail, namalu keren tapi gue boleh panggil Abi gak??” seorang langsung ngerocos cepat.

“Enggak. Emang gue bapak lu?” tanya Abigail dengan mata masih membaca buku di hadapannya.

“Abigail lu pindah ke sini karena apa?” tanya yang merasa pertanyaanya lebih baik.

“Privasi, enggak semua hal harus diumbar untuk umum.” balas Abigail.

“Abigail lu ganteng banget sih! Udah ada yang punya belum?” ucap lainnya membuat suasana makin riuh saja.

Entah apa yang membuat para gadis ini tertawa malu-malu dengan pertanyaan yang hanya membuat Abigail menghela napas saja. Di sisi lain para anak laki-laki yang duduk di pojokan hanya bisa berbisik-bisik saja, Tuhanlah yang tahu apa yang mereka bicarakan disana. Namun dari picingan mata mereka sudah pasti tidaklah cukup baik. Sementara itu kembali ke Abigail yang masih harus mendengarkan cekikikan dan tawa aneh para gadis-gadis ini. Saat mereka akhirnya mulai menenang Abigail angkat suara lagi denga nada yang masih sama.

“Punya Tuhan.” balas Abigail dingin.

Semua gadis-gadis itu berusaha menarik perhatian Abigail, namun ia hanya membaca buku dan menanggapi mereka seperlunya, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan akan topik apalagi terlihat tertarik barang seupil saja. Hingga salah satu yang mendekat adalah gadis yang cukup korean style. Rambut panjang sepinggang dengan headband putih melingkar manis di kepalanya. Dari tatapan gadis-gadis lainya bisa terlihat jelas bahwa gadis headband putih ini adalah gadis populer. Gadis yang semula duduk di samping Abigail langsung dengan sigap berdiri dan pindah saat mata gadis populer itu memicing. Gadis populer itu duduk di samping Abigail lalu memberikan signal tangan membuat gadis-gadis lainnya langsung menghela napas pergi menyisakan Abigail bersama dengan gadis populer ini dan tiga gadis yang sepertinya satu genknya atau malah antek-antek. Sungguh kehidupan remaja yang ramai. Gadis itu duduk makin dekat dengan Abigail, membuat Abigail dengan masih fokus ke bukunya menggeser bangkunya menjauh. Gadis populer itu masih tersenyum meski harga dirinya agak retak sedikit, kemudian ia berusaha mendekat lagi pada Abigail.

“Hi, gue-” belum gadis itu menyelesaikan omongannya Abigail langsung menghela napas dan menatapnya langsung di matanya. Gadis itu terdiam total dengan mata terbelalak, Tuhan tahu seberapa kencang jantung gadis itu berdegup saat ini.

“To the point, please. I already have enough with nonsense question. Thank you.” ucap Abigail dengan tatapan mulai kesal.

Namun tatapan itu hanya membuat gadis populer dan antek-anteknya malah makin senyum-senyum tidak jelas. Abigail hanya mampu melakukan gerakan rolling eye kemudian kembali ke bukunya.

“Gue Asmara, Ni Komang Asmara Sari. Dan lu, mau jadi pacar gue?” ucap Asmara dengan seringai lembut di wajahnya yang cantik itu.

“Enggak.” ucap Abigail cepat.

Abigail lalu berdiri, matanya melihat sekeliling kelas sampai ia berhenti ke gadis yang duduk tepat di belakang bangkunya. Gadis culun dengan kacamata tebal dan rambut dikepang satu duduk di sana sambil mengerjakan buku yang sepertinya buku matematika. Abigail diam sebentar sebelum menarik tangan gadis itu dan menariknya keluar kelas. Di selasar kelas Abigail berhenti lalu melihat ke belakang menatap gadis itu, ia tampak syok ditarik oleh Abigail tanpa aba-aba.

“Sorry,” ucap Abigail lembut sambil melepas tangan gadis itu, dan dibalas anggukan olehnya.

“Eh… Gue boleh nyusahin lu enggak? Oh! Gue Abigail, panggil gue senyaman lu aja. Boleh tunjukin gua kantin dimana enggak? Nanti gue bayarin bakso deh.” pinta Abigail sambil tersenyum.

Gadis itu masih diam sambil menatap Abigail seolah tidak percaya. Ada gambaran rasa syok di wajah gadis itu.

“B-boleh, enggak usah di traktir bakso juga gapapa. G-gue… Gue Hanna,” ucap Hanna lembut lalu berjalan duluan memandu Abigail.

Abigail tersenyum lembut, gadis itu terbilang cukup manis. Meski dandanannya agak culun tapi dia bisa terbilang imut. Ia berjalan di samping Hanna, selama perjalanan ke kantin mereka berbincang-bincang. Abigail banyak bertanya pada Hanna soal sekolah ini dan beberapa hal lainnya yang kalo gue ketik semua kita bukan bikin novel tapi buka lambe turah aja lebih asik kayanya (hehe #writer). Setelah berjalan hampir delapan menit mereka sampai di kantin. Keadaanya, yah seperti keadaan kantin sekolah elit lainnya. Sangat rapi dengan meja meja dan makanan prasmanan tertata rapi seperti sekolah luar negeri. Ada beberapa vending machine juga di sana untuk minuman dan makanan ringan sampai berat.

Hanna menjelaskan bagaimana memesan dan alur makanan kantin, serta beberapa meja kantin yang boleh dan tidak boleh didudukin asal. Hanna masih menjelaskan dengan baik hingga tiba-tiba pintu kantin ditendang, membuat sekumpulan anak laki-laki yang sepertinya pembuat onar sekolah masuk berbarengan. Semua siswa langsung menyingkir dari jalan mereka. Sementara itu di sudut lain ada Abigail yang menatap bingung. Ia melihat ke arah Hanna dan mulai berbisik.

“Itu bukannya anak-anak kelas kita? Gua ingat banget itu ada Baladewa, Agam, Ipang, Christian, sisanya gua gak tau. Apalagi itutuh yang berdiri di depan mereka semua, dia siapa??” tanya Abigail.

“Itu Azrael.” jawab Hanna.

“As the archangel??” tanya Abigail memastikan dan Hanna mengangguk.

“And literally that one I guess…” bisik Hanna dengan nada seram.

“Damn, itu berlebihan sih. Masa malaikat maut?!” bisik Abigail tidak percaya.

“Yah enggak lah, sifatnya doang. Jabatannya di sekolah ini cukup serem, PANGLIMA GARUDA!” bisik Hanna dengan mata terbelalak.

Abigail mengernyit, hampir saja ia kelepasan tertawa. Siapa juga yang menberikan nama panglima garuda itu, memangnya Azrael ini pahlawan nasional atau semacamnya. Agak kocak saja walau jabatan itu lumayan berkelas.

“Pokoknya peraturan nomor satu dan utama adalah jangan ganggu mereka,” ucap Hanna dengan nada agak tegas.

“Lah why? Memang mereka siapa?” Abigail mengernyit bingung kali ini.

“Genk Garuda…”

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play