“Genk Garuda..” ucap Hanna dengan nada yang entah kenapa cukup serius.
Tatapan kebingungan, itulah yang terpancar dari wajah Abigail, terlalu terpampang nyata kalau Abigail tidak punya clue apapun di dalam kepalanya. Ia menatap Hanna dengan kerut di kening yang cukup dalam, sementara Hanna masih dengan wajah mencoba meyakinkan Abigail bahwa apa yang baru dia ucapakan barusan itu benar-benar seram dan itu serius. Keheningan menyambar ruangan itu, hingga pada akhirnya helaan napas mulai dilepaskan oleh Abigail, tatapan lurus ke arah Hanna, ia mencoba serius dengan topik yang akan diangkat oleh Hanna ini.
“Am I should scared or what? Because from what I see... You know?” tanya Abigail dengan wajah penuh tanya.
“Of course you should! I'm not overreacting, this is the truth, why looking at me like I wanna tell bullshit story??”tanya Hanna sembari berusaha menyakinkan Abigail dengan nada meyakinkan.
“Kenapa? I mean, sorry, not going to judge either you or your stor,y soon or merendahkan tapi mereka siapa? Kalau cuma genk biasa seko-” mulut Abigail langsung tertutup dengan katsu ayam yang dimasukkan Hanna.
“Kita bicara nanti di tempat aman. Ini bukan tempat kondusif.” bisik Hanna seperti seorang agen rahasia atau apalah sebutannya.
Sementara di sisi lain, Abigail hanya terdiam bingung sambil mengunyah katsu di mulutnya itu. Mereka menikmati makan siang dalam keheningan. Hanna beberapa kali mencoba membuka pembicaraan dan Abigail menanggapi dengan baik. Ternyata Hanna tidak sependiam tampilan luarnya. Hanya saja memang topik yang Hanna angkat biasanya cukup berat dan jarang. Misal soal sejarah sampai pelajaran. Ada juga berita dalam dan luar negeri, topik-topik yang cukup jarang untuk anak SMA dan Abigail cukup menyenangi topik ini.
Setelah makan siang Hanna membawa Abigail ke suatu tempat. Posisi bangunan itu agak di sudut belakang sekolah. Megah juga, dan banyak anak di sana. Dari bentukannya sudah jelas mereka juara kelas atau anak olimpiade, tebal kacamata itu tidak akan pernah bisa membohongi siapapun. Merekaberdua masuk ke dalam bangunan. Ada banyak buku di sana, bukan pertanyaan sih, inikan perpustakaan bukan badan pengawasan pemilihan umum. Hanna duduk di salah satu kursi dan Abigail mengikuti, Hanna memasang wajah yang cukup serius. Bahkan Abigail mengerutkan dahinya sedikit.
“So??” ucap Abigail.
“Jadi, let me tell you-” Hanna baru mulai bicara namun Abigail dengan otak yang entah radio prambos atau apalah mulai menyambung.
“All the story about a mouse named Lory, yeah Lory was a mouse in a big brown house, she called herself the ho with the money, money flow, but fuck that little mouse ‘cause I’m an albatraoz!” Abigail bernyanyi dengan bangganya.
**BUGH!!**
Buku inseklopedia sejarah mesir tebal itu menghantap kepala Abigail dengan mulus. Ia memasang senyum tak berdosa pada wajah Hanna yang sudah kesal.
“Pukul lagi, mau?” tanya Hanna dengan kesal.
“Canda cintah… Sakit tau,” pinta Abigail dengan mata memelas.
“Tau sakit! Hmph!!” Hanna pundung.
Keheningan menyerang beberapa saat sebelum Hanna mulai menarik napas panjang dan menatap pada Abihail. Keadaan secara otomatis tiba-tiba serius, kalau bisa pake filter ini sudah seperti film falcon mode action.
“Genk Garuda itu genk lama di sekolah ini, isinya anak-anak sekolah ini tentu saja. Genk Garuda dipimpin oleh anak paling nakal di sekolah, untuk saat ini yah, Azrael,” jelas Hanna.
“Oke, sekarang aku yang bingung kenapa mereka ditakutin, maksud gue, mereka kan anak-anak doang nih-” Abigail baru mau meletakkan mosinya dalam debat ini namun Hanna menerima umpan lambungnya terlalu mulus (buset dikata bola kali umpan lambung, tendangan sudut asik kali -writer).
“Karena keluarga mereka berpengaruh tentu saja, mereka sadar dan menggunakannya terlalu baik.” jelas Hanna tajam.
“Nakal sudah pasti koso-” sekali lagi tendangan sudut Abigail diterima Hanna dengan mulus sebelum menyentuh garis tengah (buset asal ngetik, sok tau bola beliau -writer).
“Nakal bukan sembarangan nakal, jabatan mereka di sekolah ini cukup seram, ada yang juara umum, ada juara basket nasional, juara olimpiade matematika, dan si Azrael itu, dia adalah anak genius, dia ikut perlombaan robotik tingkat nasional, soal programing gak usah ditanya, kalau dia mau dia bisa sadap percakapan kita saat ini. Konon katanya dia pegang rahasia kepsek makanya genk garuda aman sejahtera dengan semua kelakuan mereka.” jelas Hanna rinci.
Abigail terdiam, seperti membuka rahasia negara saja. Rasanya menegangkan, kayak MU lawan Arsenal (tapi kalah sih -bukanteamMU). Hirarki yang cukup menyeramkan untuk sekolah yang katanya sekolah elit, tapi di balik nama elit pasti ada buku hitam yang lebih pekat daripada dosa terpidana korupsi (canda korupsi -writer). Setelahnya Hanna banyak cerita soal kumpulan bocah-bocah nakal ini, agak unik mereka sebenarnya, yah lihat saja, tampilan bocah nakal tapi pintar. Namun cerdas saja bukan jawaban menghadapi dunia, ada attitude yang harus tetap di jaga, memegang rahasia kepala sekolah semata untuk membuat genk tidak jelas aman terasa cukup lebay. Dengan helaan napas yang cukup kasar Abigail menatap Hanna yang masih menjelaskan.
“Begitulah ceritanya…” ucap Hanna menutup sesi yappingnya.
“Woah… Don’t you think this is just too much?” tanya Abigail.
“Yeah, beberapa memang sedikit lebay, tapi kenyataannya begitu. Kadang hidup emang suka kidding, Abigail. Menglelah.” ucap Hanna sambil menghela napas.
Setelahnya mereka belajar di sana, Hanna membuka pekerjaan rumahnya sementara Abigail hanya membaca. Semua baik-baik saja dalam ketenangan perpustakaan. Beberapa hari setelahnya juga nyaman sekali, Abigail seperti dapat tempat bagus untuk membaca dan mengerjakan tugas da;am keheningan dan ketenangan. Hari ini Abigail hanya membaca sementara Hanna bergelut dengan tugas matematika yang akan dikumpulkan besok hari. Gadis itu sudah menggaruk-garik kepalanya yang tidak gatal sejak tadi dalam keadaan frustasi. Abigail menatap Hanna bingung dan mendekatkan kepalanya pada Hanna.
“Kenapa?” tanyanya lembut.
Hanna menatap padanya dengan mata berkaca-kaca sipa untuk menangis. Ia menggeser buku tugasnya pada Abigail.
“Tolonggg~ soal ini lama-lama coba bunuh gue kayanya...” Hanna memelas.
Abigail menatap soal-soal itu dan hanya terkekeh. Dia mulai mengajari Hanna dengan lembut dan bahasa yang gampang dimengerti oleh Hanna. Sepanjang proses itu mereka fokus berdua sampai..
“Oh, kalau misal x yang ini diganti ke sebelah sini jadi apa,” ucap suara itu.
“Nah kalo dia pindah ke si-” Abigail terdiam dan menatap ke depan, Hanna pun begitu.
Mereka berdua terdiam melihat orang itu, sementara dia hanya menatap mereka dengan wajah bingung tidak berdosa.
“So?” ucap orang itu.
“LAH?!!!” teriak Hanna dan Abigail berbarengan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments