Lidah omak mengirimkan aroma garam yang bertabrakan dengan wangi tanah basah dari lereng pegunungan. Aku mematikan mesin KLX 230 SE-ku di depan fasad kayu toko roti yang warnanya mulai memudar dimakan usia.
Jemariku masih terbungkus sarung tangan kulit saat aku melepas helm fullface, membiarkan udara kota lama ini menyentuh kulitku.
Dulu, tempat ini adalah aroma rumah, tempat Nenek menyimpan tawa di balik bungkusan pie hangat setiap sore. Namun sekarang, fokusku terdistraksi.
Di seberang jalan, seorang gadis dengan rambut ikal yang jatuh hingga sepinggang sedang membungkuk, menyerahkan kotak makanan kepada seorang pria tua. Gerakannya tenang, kontras dengan keriuhan jalanan. Saat ia menoleh, jantungku seperti dihantam palu godam.
Mata itu. Hazel.
Warna yang sama dengan Shinta, gadis kecilku yang selalu melindungiku dan sudah kucari bertahun-tahun, namun ada yang berbeda. Jika Shinta adalah api yang menantang, gadis ini adalah danau yang dalam. Teduh. Aku berdiri mematung, mengamati bagaimana jemarinya bergerak, halus, tanpa keraguan. Sesuatu yang telah lama membatu di balik seragam dan protokol hidupku mendadak retak. Aku tidak bergerak, radar di kepalaku yang biasanya memindai ancaman, kini terkunci hanya untuk memastikan tak ada debu jalanan yang berani mengusik ketenangannya.
Ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.
Suara teriakan massa pecah di ujung jalan. Prang!
Kaca jendela sebuah ruko hancur. Massa yang kalap mulai tumpah seperti air bah hitam. Anehnya, gadis itu malah melangkah maju, wajahnya menunjukkan kebingungan yang berbahaya.
"Sembunyi!"
Suaraku membelah kebisingan, dingin dan otoriter. Aku tidak menunggu jawabannya. Langkahku panjang dan presisi. Sebelum ia sempat memprotes, cengkeramanku sudah mengunci lengannya, menariknya masuk ke dalam aroma ragi toko roti. Aku menyudutkannya ke kolong meja kayu yang kokoh di balik dinding beton.
"Tetap di bawah. Jangan mendongak kalau tidak ingin wajahmu terkena serpihan kaca," desisku pelan, hampir menyerupai perintah militer.
Aku berdiri membelakanginya, menjadi perisai hidup saat pintu kayu di depan kami dihantam benda tumpul.
Di luar, dunia sedang runtuh. Di dalam sini, aku bisa mendengar napasnya yang pendek dan memburu.
Setelah sirine polisi meraung dan deru massa menjauh, aku tidak langsung melepaskannya. Aku mengintip dari celah pintu, memastikan keadaan benar-benar steril.
"Tunggu di sini. Jangan bergerak satu inci pun," kataku tanpa menoleh.
Aku keluar ke trotoar yang kini berubah menjadi medan perang mini. Motor KLX-ku tergeletak tak berdaya. Di dekatnya, sebuah City putih ringsek dengan kaca pilar yang hancur. Aku memijat pangkal hidungku, lalu menangkap sosok pria berseragam yang sedang sibuk dengan HT-nya.
"Agung."
Pria itu menoleh, matanya membelalak.
"Ghani? Sial, kau muncul di waktu yang salah atau tepat?" Kami berpelukan singkat, tepukan tanganku di bahunya terasa keras.
"Hanya mampir. Apa ini?" tanyaku, matanya menyapu sekeliling dengan dingin.
"Gesekan politik. Massa kampanye yang sumbunya pendek," jawab Agung getir. "Kau aman?"
"Aku oke. Urus sisanya, Gung. Aku ada urusan di dalam."
Aku kembali ke dalam toko. Gadis itu masih di sana, memeluk lutut dengan wajah sepucat kertas. Tangannya gemetar hebat saat mencoba merogoh inhaler dari tasnya. Tanpa suara, aku berlutut di depannya. Aku mengambil alat itu dari tangannya yang gemetar, memastikan posisinya benar, lalu menyerahkannya kembali dengan gerakan tenang yang stabil.
"Bernapas pelan-pelan. Ikuti hitunganku," ujarku datar, meski mataku terus mengawasi setiap tarikan napasnya hingga rona merah muncul kembali di pipinya.
Aku meletakkan secangkir cokelat hangat yang kupesan dari pelayan toko yang masih syok ke atas meja di depannya.
"Minum. Gula akan membantu detak jantungmu."
"Mobil City putih itu milikmu?" tanyaku kemudian, mataku beralih ke luar jendela.
Ia mengangguk lemah. Saat ia melihat kondisi mobilnya yang hancur dari kejauhan, matanya berkaca-kaca. Aku segera berdiri, menghalangi pandangannya dari kerusakan itu.
"Kacanya bisa diganti. Kepalamu tidak," potongku pendek sebelum ia sempat menangis. "Aku punya kenalan bengkel. Mereka akan menjemputnya dalam sepuluh menit. Kau tidak perlu mengurus apa pun hari ini."
Dia terdiam, menatapku dengan tatapan menyelidik yang ragu. Kami duduk dalam keheningan yang canggung namun terlindungi.
"Siapa namamu?" tanyaku, suaraku rendah.
Ia ragu sejenak, merapikan rambut ikalnya yang berantakan. "Wati."
Aku menarik sudut bibirku, tipis, hampir tak terlihat. Aku tahu dia berbohong. Ada kecerdasan di balik mata hazel itu yang tidak cocok dengan nama sesederhana itu di situasi seperti ini. Tapi aku tidak mendesaknya. Di duniaku, kejujuran adalah kemewahan yang mahal.
"Aku Ghani," kataku, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut, meski wajahku tetap sekaku dinding toko roti ini. "Dan untuk saat ini, kau aman denganku."
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 98 Episodes
Comments