POV Ghani
Sesampai di kota itu, aku menelusuri jalan pengingat kenangan kecilku yang terkubur dalam alunan harmoni debur ombak dan pegunungan yang basah.
Kuturunkan standar KLX 230 SE tepat di depan pintu sebuah toko bakery, toko yang sudah berdiri sejak aku masih kecil dan menjadi favorit kami kala itu. Nenek selalu membawakan kami pie dari toko ini selepas beliau dari pelelangan ikan. Masa kecil yang tak terlupakan, aku, Ghina, ayah, ibu, nenek dan kakek, dimana kamj berkumpul untuk menikmati hari-hari yang bersinar indah, sebelum ayah mendapatkan surat penugasan ke Jakarta di usiaku yang menginjak 13 tahun.
Tiba-tiba aku melihat gadis bermata hazel berambut ikal sepinggang sedang memberikan sedekah makan kepada para tukang ojek di pinggir jalan saat aku baru saja melepas helm fullfaceku. Gadis itu mengingatkanku pada Sinta teman kecilku yang aku sendiri tak tahu entah dimana dia sekarang, pencarianku berlangsung puluhan bulan, tapi tak pernah ada hasil. Mata itu, hazel itu. Mirip. Hanya saja jika mata Sinta adalah Hazel pemberani maka mata gadis itu adalah Hazel kelembutan dan kasih sayang. Nampak ketulusan yang terpancar dalam wajah dan senyumnya yang memberikan rasa kedamaian.
Duniaku yang biasanya bergerak dalam hitungan detik yang presisi, mendadak melambat. Aku merasakan hentakan di dada yang tajam, sesuatu yang lebih tajam dari sekadar, yang menurutku, adrenalin. Fokusku terkunci sepenuhnya pada caranya melihat, caranya tersenyum, dan caranya berbicara. Bukan senyum basa-basi yang sering kutemui di pesta formal, tapi senyum yang tulus, yang membuat mata hazelnya ikut berbicara.
Aku memperhatikan jemarinya saat menyerahkan kotak makanan itu. Begitu tenang. Begitu lembut. Sesuatu di dalam diriku, yang selama ini kukira sudah membatu karena tuntutan keadaan, tiba-tiba berdenyut. Ada dorongan aneh yang mendesakku untuk melangkah mendekat, bukan untuk menyelidiki, tapi untuk memastikan tidak ada satu pun debu jalanan ini yang boleh mengusiknya.
Logikaku yang biasanya tajam mendadak tumpul. Aku bahkan lupa untuk apa aku berdiri disini. Aku hanya tahu satu hal saat itu, aku tidak ingin memalingkan wajah. Seolah-olah, jika aku berkedip sekali saja, pemandangan ini akan menghilang.
Dia adalah kekacauan paling indah yang pernah masuk ke dalam radar pengamatanku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mencari jalan keluar.
Kesadaran kemudian mengganggu lamunanku dan akupun bergegas menuju pintu Bakery itu, namun sayup-sayup aku mendengar suara berisik kerumunan, seperti orang pawai, bukan.. suara.. tawuran, karena di tengah suara bising itu aku juga mendengar sedikit suara kaca pecah. Aku berbalik badan, dan da*n, kulihat gadis bermata hazel itu bukan berlari tapi malah bergerak mendekat sumber suara itu. Secelat kilat aku berlari ke arahnya dan berteriak,
"SEMBUNYI"
Gadis itu menoleh ke arahku dan terkejut.
"Bodoh" ucapku.
Segera kutarik tangannya dan menyeretnya masuk ke toko bakery yang seolah menarikku utnuk masuk kesana. Aku mendorongnya untuk bersembunyi di bawah kolong meja di sudut ruangan pinggir dinding yang berdiri kokoh yang menghalangi toko ini dari penglihatan luar.
Dan yahh.. benar saja, suara kaja pecah terdengar dari arah luar toko, kaca pintu dan jendela disinipun tak luput dari hantaman benda tumpul itu. Suara orang ribut dan marah terdengar mengaung di telinga kami. Kulihat wajah gadis itu ketakutan dan pucat pasi. Tangannya menggenggam erat hingga buku jarinya mulai memutih. Kami berdua terdiam, beberapa pengunjung di toko ini tampak ketakutan dan udara mulai turun dan mencekam.
Beruntung beberapa saat kemudian suara sirine polisi terdengar, suara tembakan peringatan menggema menembus dinding dan sampai pada suara kami. Perlahan, dengungan suara yang mirip lebah saling bercerita itu menghilang, dan sepertinya massa mulai membubarkan diri.
"Tak usah takut, sepertinya suasana sudah terkendali." kataku menenangkan gadis manis itu.
Gadis itu mengangguk sambil memeluk kedua lututnya.
"Aku lihat suasana di luar dulu, kamu tunggu disini."
Dia masih tak mengucapkan sepatah katapun, hanya anggukan.
Aku beringsut dan keluar dari toko untuk melihat keadaan. KLX 230 SEku ambruk, kaca-kaca pecah berserakan di trotoar dan jalan, puluhan polisi yang memegang senjata berjaga disana. Kulihat hatchback City putih yang kuduga milik gadis itu, pecah kaca kiri depan belakang dan bagian pilar A juga sedikit lecet.
Aku memindai suasana sejenak. Mencekam. sirine mobil polisi dan juga ambulan meraung-raung. Ternyata selain kendaraan kulihat beberapa orang juga terluka. Sekilas aku mengenal sosok seorang polisi yang tengah berdiri dengan HT di tangan kanannya, sennata laras pendek di sakunya. Akupun bergegas menghampirinya.
"Agung." panggilku.
"Hei, Ghani."
Kamipun berpelukan
"Kamu sedang liburan? Sudah lama tak melihatmu." tanya Agung. Saat aku kecil hingga kelas 6 SD aku tinggal disini bersama orang tuaku sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Agung adalah teman SD pindahan dari Jawa saat kami kelas 5.
"Ya, liburan, sekitar 1 minggu. Kamu tugas disini?"
"Ya, baru 1 tahun aku mengajukan mutasi."
"Sebenarnya ada apa ini? Seumur-umur belum pernah seperti ini?" tanyaku.
Dia tertawa "Sepertinya masalah politik. Sudah beberapa kali mereka rusuh dalam 2 bulan ini. Mereka pakai atribut paslon no 2, tapi siapa juga yang tahu. Kami masih menyelidiki dalangnya."
Akupun tertawa. Kami menyadari bahwa apa yang terjadi kemungkinan bukanlah terjadi secara organik, ada banyak area abu-abu dan juga area gelap yang tidak diketahui semua orang.
"Oke Gung, selamat bertugas ya, masih ada teman yang menunggu di dalam." di titik itu, kamipun berpisah.
Saat aku kembali ke meja tempat kami bersembunyi, kulihat gadis itu masih duduk di lantai bersandar di tembok sambil memegang inhaler dan wajahnya tampak pucat.
"Hei, kamu tak apa-apa? Punya asma?" tanyaku, dan sebenarnya sedikit panik, tapi kucoba sebisa mungkin untuk menekannya dan terlihat normal.
"Ya, tapi sudah mendingan."
"Mau duduk di kursi?" tanyaku
Dia mengangguk.
Akupun membantunya berdiri dan duduk di kursi.
"Kudengar coklat meredakan stress, kamu mau mencoba?" tanyaku.
"Emm boleh."
"Kamu alergi coklat atau susu?"
"Tidak." jawabnya
Aku memesan coklat hangat pada pegawai bakery itu yang masih terlihat ketakutan.
"Hatchback city putih apakah milikmu?" Tanyaku saat melihat gadis itu sudah tenang.
"Ya."
"Kacanya belakangnya tadi kulihat pecah."
Dia kemudian keluar dan melihat kondisi mobilnya yang kacanya sudah akupun menyusul di belakangnya.
"Hati-hati, pecahan kacanya tajam!" aku memperingatkannya.
Dia memandangku sejenak dan mengangguk.
Dia memeriksa mobilnya dengan seksama.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya lirih, lebih seperti dia bertanya pada dirinya sendiri.
"Ada massa yang marah saat kampanye."
Dia mengangguk.
"Aku punya teman bengkel mobil, mau aku panggilkan dia? Itu jika kamu mau, kalo tidak juga tidak mengapa."
Setelah terdiam cukup lama dia berkata "Boleh."
Aku segera menghubungi Andi, temanku yang memiliki sebuah bengkel mobil di ujung kota ini. Bengkelnya cukup bagus reputasinya karena dia sendiri yang ikut terjun menjalankan bisinis bengkelnya itu.
"20 menit lagi katanya sampai disini, ayo masuk." ajakku untuk kembali ke bakery.
"Siapa namamu?" tanyaku setelah kami berdua kembali ke meja kami.
Setelah agak lama terdiam, dia menjawab "Wati."
Namun aku tak menemukan kejujuran di wajahnya. Hanya aku merasa dia tidak sepenuhnya percaya padaku. Aku mengerti, karena dalam kondisi chaos dan tiba-tiba ada orang asing yang menolong, tentu saja tidak semua orang bisa percaya.
Aku hanya tersenyum
"Ghani." Aku memberikan jawaban yang jujur agar dia mengerti bahwa aku bisa dipercaya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 44 Episodes
Comments