Bab 5

Tembok luar kedai itu sudah lama mengganggu mataku. Jamur-jamur kelabu merayap di atas permukaan cat yang mengelupas, membuat Kedai Raos tampak kusam, seolah-olah duka sedang mencoba menelan keceriaannya. Aku ingin kedai ini kembali bersinar, seperti harapanku saat pertama kali membukanya.

​Sore itu, Pak Trimo datang. Dia tukang yang jujur, pilihan Gayo, karyawan kepercayaanku.

​"Saya ingin tembok ini bersih, Pak. Hilangkan jamurnya, buat kembali cerah," instruksiku sambil menunjuk area yang paling parah.

​"Hanya ini saja, Non? Mungkin sehari selesai kalau cuma dikerok dan cat ulang. Pakai cat anti-bocor, ya?" Pak Trimo mulai mengukur luas bidang dengan matanya.

​"Iya, Pak. Pilihkan cat yang paling bag—"

​"Jangan. Jangan langsung dicat!"

​Sebuah suara bariton memotong kalimatku. Aku tersentak, berbalik dengan jantung berdegup kencang. Pria itu lagi. Pria yang kemarin menyeretku ke kolong meja dan menatapku dengan mata yang seolah bisa menembus tulang rusukku. Amarah kecil mulai mendidih di dadaku. Siapa dia? Beraninya dia mencampuri urusanku dua kali dalam dua hari?

​"Tembok ini tidak bisa langsung dicat," ucapnya tenang sembari melangkah mendekat. "Kalau kamu memaksa, catnya hanya akan bertahan sebulan. Air yang terjebak di dalam akan membuatnya menggelembung lagi. Kamu hanya akan membuang-buang uang dalam siklus yang sama."

​"Mas Ghani! Kamu di sini?" Suara Pak Trimo pecah dalam nada riang yang akrab.

​Aku tertegun. Mereka saling kenal?

​"Iya, Pak. Tadi sedang makan di dalam, lalu mendengar suara Bapak," Ghani menyahut, tatapannya beralih padaku. Kali ini, ketajamannya berkurang, digantikan oleh sorot mata yang lebih teduh, namun tetap intens.

​"Nona Ghea, perkenalkan," Pak Trimo segera mengambil alih situasi. "Mas Ghani ini tetangga saya. Dia lulusan teknik sipil, keluarganya punya depo bangunan besar di ujung jalan. Saya selalu ambil material dari dia. Mas Ghani, ini Nona Ghea, pemilik kedai ini."

​Ghani mengulurkan tangannya. "Ghani."

​Aku menyambutnya dengan ragu. Telapak tangannya kasar dan hangat, tangan seseorang yang terbiasa bekerja, bukan sekadar duduk di balik meja.

"Ghea," jawabku datar, mencoba menjaga jarak meski rasa ingin tahuku mulai terusik.

​"Jadi, menurutmu tembok ini harus diapakan?" tanyaku, akhirnya mengalah pada logikanya.

​Dia tidak langsung menjawab. Bersama Pak Trimo, dia mulai memutari kedai. Aku hanya bisa memperhatikan saat mereka memanjat pagar dengan gerakan lincah yang efisien, lalu menghilang ke atas genteng. Otot-otot di lengan Ghani tampak mengeras saat dia menarik tubuhnya ke atas. Ada sesuatu yang sangat maskulin dalam caranya bergerak, presisi dan tanpa ragu.

​Lima belas menit kemudian, mereka turun dengan napas yang tetap stabil.

​"Dua genteng pecah di pinggir tembok dan talang air yang keropos. Itu sumber masalahnya," jelas Ghani. "Air masuk ke jantung tembokmu. Ganti gentengnya, perbaiki talangnya, plester ulang bagian ini. Baru kemudian dicat."

​Aku hanya bisa mengangguk. Dia bicara dengan otoritas yang membuat perdebatan terasa sia-sia.

​Setelah Pak Trimo pamit untuk menyiapkan material besok pagi, kedai perlahan mulai sunyi. Karyawanku sudah pulang. Tersisa aku dan pria misterius ini di ujung ruangan.

​"Tidak perlu bayar makananmu," ucapku saat menghampiri mejanya. "Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah... mengantarku pulang kemarin."

​Ghani mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang membuatku mendadak merasa gerah. Dia menarik kursi di hadapannya, mengisyaratkan agar aku duduk.

​"Emmm, jadi... mana yang benar?" tanyanya tiba-tiba.

​"Maksudnya?"

​"Nama, nomor ponsel, alamat rumah. Mana yang jujur?" Dia menyeringai, matanya mengunci mataku dengan cara yang membuatku merasa seperti tertangkap basah sedang mencuri.

​Aku membeku. Seluruh kebohonganku kemarin, identitas Wati, rumah kosong itu, semuanya terbongkar hanya dalam semalam.

​"Semua benar," jawabku, mencoba memasang wajah tak berdosa yang paling meyakinkan.

​"Oh ya?" Ghani terkekeh rendah. "Jangan khawatir. Aku tidak berniat jahat. Jika aku jadi kamu, di posisi kemarin, aku pun akan memberikan nama palsu pada orang asing."

​Dia menyandarkan punggungnya. "Aku tahu kamu bukan Wati. Karena aku kenal Wati yang asli, dan dia bukan kamu."

​"Wati itu karyawanku," aku akhirnya mengaku, suaraku melemah. "Nomor itu nomor kedai. Dan rumah itu... memang bukan rumahku."

​Ghani tidak menghakimiku. Dia justru berdiri, membereskan piring kotornya sendiri, dan membawanya ke dapur. Aku terpaku melihatnya menyalakan kran. Gemericik air dan denting piring yang beradu membuat suasana mendadak sangat domestik.

​"Ghani, sudah, biarkan saja. Kamu pelangganku." Aku mengikutinya sampai berada di belakangnya.

​"Kata Ibuku," dia berbalik saat aku mendekat, membiarkan wajahnya sejajar dengan wajahku hingga aku bisa mencium aroma samar kopi dan sabun darinya, "jika sudah diberi makan oleh seseorang, kau harus membereskan sisanya sendiri."

​Dia tersenyum merendah. Jantungku berkhianat; ia berdegup terlalu kencang untuk seseorang yang seharusnya aku waspadai. Aku segera memalingkan wajah, merasa panas menjalar hingga ke telinga.

​Ghani mengambil tas kecilnya, lalu melangkah menuju pintu. "Aku pulang. Terima kasih makanannya. Enak."

​Aku hanya bisa mematung menatap punggungnya yang menghilang di keramaian jalan. Aku benci perasaan ini. Perasaan bingung, perasaan kehilangan kata-kata, dan perasaan aneh yang merayap masuk ke hatiku tanpa izin. Pria itu adalah kekacauan yang terstruktur, dan entah kenapa, aku merasa kedaiku bukan satu-satunya hal yang butuh diperbaiki setelah kedatangannya

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play