POV Ghea
Kemarin aku minta Gayo, salah satu karyawan kepercayaanku, untuk mencarikanku seorang tukang, aku ingin mengecat kembali tembok luar yang mengelupas dan tampak kotor karena berjamur. Jamur itu membuat tampilan kedai menjadi kusam dan gelap, aku ingin mengubahnya kembali menjadi cerah dan bercahaya sehingga akan menarik banyak orang.
Sore itu, Pak Trimo, tukang yang diminta Gayo untuk mengecat datang ke kedai selepas dia pulang dari pekerjaannya.
"Saya ingin Bapak mengecat tembok ini. Yang tembok luar saja ya Pak. Saya ingin tembok ini terlihat lebih bagus, lebih bersih dan hilang jamur temboknya." Instruksiku.
"Hanya ini saja ya Non tidak ada yang lain? Kalau ini saja mungkin sehari, hanya besok saja sudah selesai karena ini hanya sedikit. Ini mengggunakan cat tembok anti bocor ya?" tanya Pak Trimo.
"Iya Pak, carikan cat yang bagus ya?" pintaku
"Jangan, jangan langsung dicat!" seru seseorang dari belakang kami.
Aku sungguh kaget dan kulihat laki-laki kemarin yang menolongku saat ada sedikit kerusuhan di toko roti. Hatiku masih marah dan jengkel karena ada seseorang yang tak kukenal tiba-tiba muncul, tanpa angin dan hujan kemudian ikut mencampuri urusanku. Aku tidak tahu apakah orang itu berniat baik atau buruk, bukankah bisa saja dia memiliki maksud tersembunyi?
Pria itu datang perlahan ke arah kami sambil berkata "Tembok ini tidak bisa langsung dicat, apabila kamu memaksa langsung dicat temboknya tidak akan bertahan lama dan tak lama akan seperti ini lagi, dan lagi, seperti itu terua siklusnya"
"Ghani! Kamu disini?" Seru Pak Trimo.
Aku terheran karena ternyata sepertinya Pak Trimo sangat mengenalnya.
"Iya Pak, tadi aku sedang makan disini, lalu tak sengaja mendengar suara Bapak, jadi saya keluar. Kenapa dengan temboknya Pak?"
"Nona Ghea ingin mengecat ulang temboknya, terutama yang ini, tembok bawah yang mengelupas."
"Jangan langsung dicat Pak, jika dikerok dan langsung dicat itu tidak akan tahan lama, karena masalah sebenarnya temboknya lembab, jika tembok lembab langsung dicat nanti air yang terjebak di tembok tidak bisa keluar, jadinya akan menggelembung dan pecah seperti ini lagi, jadi lebih baik dicari dulu sumber lembabnya dimana." papar pria itu.
Aku tertegun mendengar obrolan mereka berdua. Sebenarnya diantara mereka siapa tukangnya, kenapa Pak Trimo nurut begitu saja mendengar saran dari Pria itu.
"Nona Ghea, bagaimana? Eh sebelumnya saya kenalkan dulu, Nona Ghea ini tetangga saya Ghani, dia ini lulusan teknik sipil, makanya dia paham mengenai struktur bangunan, juga keluarganya yang punya depo bangunan di ujung jalan sana, biasa saya juga mengambil material dari dia. Ghani, ini Nona Ghea, yang punya kedai ini." Jelas Pak Trimo tanpa basa-basi.
Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum sembari berkata "Ghani."
Dengan ragu ku sambut jabat tangannya. "Ghea" Jawabku datar.
Walaupun dia tetangga Pak Trimo, tapi kejadian kemarin masih membuatku untuk berprasangka buruk padanya. Aku masih ingat bagaimana cara dia menatapku begitu lama, seolah-olah aku sedang ditelanjangi tanpa ampun, aku merasa dia sedang mengincarku, kemudian dia tiba-tiba mengambil atau lebih tepatnya membawa mobilku bersama komplotannya, walaupun orang itu mengaku teman. Yah, dan pada akhirnya temannya tadi pagi mengatakan bahwa perbaikan mobilku sebesar 3 juta rupiah dan besok pagi diambil.
"Menurutmu lebih baik tembok ini diapakan?"
"Kita cari titik kebocorannya dimana, kita atasi dulu, baru dicat. Bagaimana? Emmm.. Kalo dilihat hanya area ini yang rusak sepertinya tidak perlu biaya banyak"
"Emmm... Oke." Aku mengangguk
"Boleh kami mencari titik bocornya ada dimana?" Entah kenapa pria ini seperti berbeda dari yang kemarin. Jika kemarin pria ini tampak dingin dan membingungkan, hari ini wajahnya nampak sedikit lebih hangat dan cara bicaranya juga lebih lembut.
"Silahkan."
Ghani dan Pak Trimo kemudian mengelilingi kedaiku, memeriksa satu-persatu, tak jarang telunjuknya menunjuk beberapa tempat, kemudian mereka memanjat pagar dan berakhir naik ke genteng. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Ghani seperti memberikan beberapa instruksi pada Pak Trimo.
Selang lima belas menit kemudian mereka turun dari genteng secara bergantian dengan pijakan yang mantap. Kulihat kaki dan tangan mereka berotot, yang membuat mereka begitu lincah untuk naik dan turun.
"Ada 2 genteng yang pecah diatas, dipinggir tembok, dan talang airnya rusak, jadi air masuk ke tembok. Jadi saranku ganti genteng dan talang air, dan ini temboknya ada yang rusak, saranku plester ulang di sebelah sini." papar Ghani sambil menunjuk tembok yang mengelupas catnya.
Aku hanya mengangguk.
"Besok pagi saya kesini membawa materialnya, Non. karena sudah sore saya pamit." kata Pak Trimo.
"Terima kasih, Pak." Kataku.
Akupun mengantar Pak Trimo sampai tempat dia parkir kendaraannya hingga dia hilang ditelan keramainan jalan raya.
Sepi. Saat aku memasuki kedaiku. karyawanku yang berjumlah 4 orang sudah pulang. Kulihat Ghani makan di ujung ruangan sendiri.
"Tidak perlu bayar makananmu, anggap saja ucapan terima kasihku sudah mengantarkanku pulang." ucapku saat aku menghampiri mejanya.
Ghani tersenyum dan menyuruhku duduk di hadapannya.
"Emmmm, jadi kemarin, mana yang benar?" tanyanya sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Nama, nomor ponsel, alamat rumah, Mana yang benar?" jelasnya sambil menyeringai.
Aku membeku. Aku baru ingat, tak satupun identitas asli yang kuberikan padanya, dan sialnya dia tahu secepat ini.
"Semua benar." Jawabku dengan pura-pura tak berdosa.
"Oh ya?"
Melihat keyakinannya aku terdiam. Dia tidak seperti yang kubayangkan. Sepertinya lelaki ini, sudah menyelidikiku lebih jauh.
"Jangan khawatir, aku tak berniat jahat padamu. Ya dengan posisimu yang seperti itu kemarin, jika aku menjadi kamu, aku akan melakukan seperti apa yang kamu lakukan."
"Aku tahu kamu bukan Wati, karena kebetulan aku bertemu dengan seseorang yang bernama Wati, dan itu bukan kamu." lanjutnya
"Wati karyawanku. Nomor ponsel itu nomor kedai juga atas nama Wati tapi aku yang pegang. Rumah itu memang bukan rumahku, tapi rumahku dekat daerah itu."
Ghani tersenyum, entahlah, aku merasakan ada sesuatu yang misterius dengan pria ini. Dia membereskan mejanya setelah selesai makan dan membawanya ke dapur kemudian mencucinya.
Gemericik air dari kran berdentang bersama dengan suara porselen dari piring dan juga gelas.
"Ghani, sudah biarkan saja, kamu pelangganku."
"Kata ibuku dulu, jika kamu sudah diberi makan oleh seseorang, maka kamu yang harus membereskan sisanya." Katanya sambil tersenyum merendah wajahnya sejajar dengan wajahku.
Aku segera memalingkan wajahku, entah kenapa hatiku merasa lain. Jantungku berdebar dan ada perasaan aneh yang merayap ke dalam hatiku. Aku terdiam.
Ghani kemudian berjalan ke meja, mengambil tas kecilnya dan berkata sembari tersenyum "Aku pulang, terima kasih atas makanannya. Makanannya enak."
Aku hanya bengong menatap sosoknya yang perlahan menghilang. Dari kemarin, di depan dia aku merasa tidak bisa menjadi diriku sendiri, aku seperti bingung hendak berkata apa dan harus bagaimana. Aku benci dengan perasaanku sendiri
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 44 Episodes
Comments