"Tom, track 081555555555. Cari tahu siapa pemiliknya."
Aku mengirim pesan itu pada Tommy. Dia bukan sekadar kontak di ponselku, dia adalah tumpuan di balik layar, seorang petinggi provider seluler yang berutang nyawa padaku sejak insiden berdarah di pedalaman Kalimantan. Di duniaku, meminta bantuan seperti ini adalah tindakan ilegal yang berbahaya. Namun, rasa penasaran ini telah melampaui batas kewaspadaan prosedural.
Malam merayap lambat. Bayangan gadis itu terus berputar, mengganggu sistem navigasi di kepalaku. Mata hazel itu, memberikan tatapan yang memancarkan ketidakpercayaan padaku, namun melembut penuh kasih saat menghadapi orang-orang di pinggir jalan. Senyumnya hanya untuk dunia, bukan untukku. Aku mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar yang kaku.
Ponselku bergetar. Sebuah balasan masuk:
"Setyawati Aruningtyas, Jalan Mawar No. 3, Desa Kore, Kec. Manau Selatan."
"Terima kasih. Utang nyawa," balasku singkat sebelum menghapus seluruh jejak percakapan.
Aku terdiam. Setyawati? Tidak, instingku menolak. Wati kemungkinan besar adalah putri Pak Jeremi, sang satpam. Gadis hazel itu hanya meminjam identitasnya. Aku mulai menyusun puzzle di kepala. Kotak makan yang dia bagikan tadi sore identik dengan yang kumakan tadi pagi dari Kedai Raos.
Logika eliminasiku bergerak cepat. Di kota ini, jarang sekali wanita dibiarkan menyetir mobil sendiri jika ada sopir laki-laki. Pemuda yang bersamanya tadi sore tampak begitu hormat, namun membiarkannya menyetir pulang sendiri dalam kondisi kacau. Artinya? Dia bukan karyawan. Dia bukan sekadar kurir. Dia adalah pusat gravitasi dari kedai itu. Sang pemilik.
"Sial," makiku pelan. Kenapa aku harus memikirkan ini?
Aku adalah orang yang hidup dalam bayang-bayang, bergerak di bawah radar agar nyawaku dan keluargaku tetap aman. Memikirkan orang asing adalah celah dalam pertahananku. Tapi rasa penasaran ini bekerja seperti racun yang lambat namun mematikan.
Keesokan harinya, pukul sembilan pagi. Aku terbangun dengan perasaan segar yang janggal—tidur paling nyenyak yang pernah kurasakan di tengah misi. Aku memakai jam tangan taktis dan sepatu lari, lalu keluar. Ini bukan sekadar olahraga; ini adalah pengintaian yang dibungkus dengan penyamaran gaya hidup sehat.
Langkah kakiku membawaku kembali ke Rana Bakery. Aku berhenti di dekat seorang tukang ojek yang sedang bersantai di atas skuternya.
"Pak, kemarin saya melihat ada yang membagi-bagikan nasi kotak di sini. Bapak kenal dengan dia?" tanyaku sambil mengatur napas agar terdengar natural.
"Oh, itu Nak Ghea, pemilik Kedai Raos," jawabnya dengan binar tulus. "Sudah hampir dua tahun dia begitu. Baik sekali, apalagi jika ada sisa dagangan yang tidak terjual."
Bapak itu tertawa kecil. "Nak Ghea itu cantik, baik hati pula. Kalau saya kaya, sudah saya jodohkan dengan anak saya."
Ada senyum kecil di bibirku, namun ada goresan aneh yang terasa perih di dada.
"Dia perantau, sendirian di sini," lanjut si Bapak sambil menggelengkan kepala. "Saking baiknya, dia sering ditipu anak buahnya. Kasihan, sering ganti karyawan. Tapi beberapa bulan ini sepertinya sudah mulai stabil."
Aku terdiam, membiarkan informasi itu mengendap. Ghea. Jadi itu namanya. Nama yang jauh lebih cocok dengan binar matanya daripada "Wati".
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat saat aku berjalan menyusuri pasir pantai Kreya. Debur ombak biasanya menjadi musik latar untuk kedamaianku, tapi kali ini, nama itu terus bergema: Ghea. Tuhan seolah sedang pamer saat menciptakannya, cantik, pandai, tangguh, namun memiliki celah kebaikan yang berbahaya. Aku ingin tahu segalanya. Bukan hanya kelebihannya, tapi juga duka yang ia sembunyikan.
Pukul empat sore, aku sudah berada di Kedai Raos. Aku memilih meja di sudut paling belakang, posisi strategis yang membelakangi dinding. Dari sini, aku memiliki sudut pandang luas ke pintu masuk dan area pelayanan tanpa terlihat mencolok.
Ghea tidak ada di area utama. Namun, tiba-tiba sebuah suara dari balik tembok di belakangku membuat sarafku menegang.
"Nah, ini Pak. Aku ingin jamur-jamur ini hilang dan tidak kembali lagi," suaranya terdengar jernih, penuh ketegasan yang lembut.
"Ini sampai ke atas ya, Non?" sahut sebuah suara pria yang berat dan serak.
Aku mengenal suara itu. Pak Trimo. Tukang bangunan kepercayaan Nenek yang terkenal karena kejujurannya. Aku tetap diam, menyesap kopi perlahan sembari menajamkan pendengaran. Sang pengintai kini telah menemukan sasarannya, dan permainan ini baru saja dimulai.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 98 Episodes
Comments