"Kalian bukan komplotan maling, kan?"
Pertanyaan itu menusuk keheningan, setajam pecahan kaca di trotoar tadi. Aku tidak tertawa terbahak-bahak, hanya sebuah dengus geli yang nyaris tak terdengar. Di duniaku, di mana kejujuran adalah komoditas langka dan pengkhianatan adalah mata uang, kecurigaannya justru terasa seperti udara segar. Aku menatapnya lurus, mencoba membaca sisa-sisa adrenalin di balik mata hazel-nya yang kini meredup defensif. Dia cerdas. Sangat cerdas untuk sekadar seorang gadis yang terjebak kerusuhan.
"Naiklah," perintahku singkat, suaraku rendah dan tak terbantahkan. "Aku akan mengawal mobilmu dari belakang. Sampai kamu merasa aman."
Dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan sembari menaiki jok belakang KLX-ku. Sepanjang perjalanan menuju bengkel, jarak di antara kami terasa seperti medan magnet yang saling tolak-menolak.
Di bengkel, Akmal,yang sudah paham benar siapa aku, langsung bergerak sigap tanpa banyak tanya.
"Kaca sekitar dua setengah juta, Kak. Towing lima ratus. Untuk pilar A yang lecet, sepertinya butuh waktu sebulan untuk restorasi," lapor Akmal dengan nada segan.
"Bisa minta nomor ponselnya, Kak? Agar besok saya kabari harga pastinya."
"081555555555."
Deretan angka itu meluncur dari bibirnya. Aku tidak mencatatnya di ponsel. Aku mencatatnya di memori permanen kepalaku, menyimpannya di barisan folder yang sama dengan taktik intelijen dan kode-kode operasi. Informasi adalah nyawa, dan aku baru saja menggenggam satu kepingan miliknya.
"Wati, aku antar kamu pulang," ujarku datar saat urusan selesai.
Sepuluh menit kemudian, mesin motor trailku menderu memasuki "Perum Indah". Gesturnya saat menyapa satpam di gerbang tampak meyakinkan, sebuah sandiwara yang hampir sempurna jika saja sasarannya bukan aku. Kami berhenti di depan sebuah rumah tipe 45 yang tampak asri namun "mati".
"Rumahmu?" tanyaku, mataku memindai setiap detail dengan presisi seorang pengintai.
"Ya," jawabnya, dagunya sedikit terangkat, sebuah pertahanan diri yang klasik.
Mataku terpaku pada seikat rumput liar setinggi empat puluh lima sentimeter yang berdiri tegak tepat di depan pintu utama. Tak ada patahan, tak ada jejak pijakan. Di duniaku, ini adalah tanda sebuah zona tak berpenghuni. Rumah ini hanyalah panggung sementara.
"Masuklah. Tidak aman bagi perempuan di luar selarut ini," kataku, ingin melihat seberapa jauh dia akan mempertahankan perannya.
"Tak apa, ada Satpam. Kamu pulang saja dulu. Sedikit tidak sopan jika tuan rumah masuk terlebih dulu," tolaknya halus.
Aku mengangguk, menyalakan mesin motor yang menggelegar membelah kesunyian perumahan. Sebelum memutar gas, aku menoleh sedikit, memberikan tatapan yang mungkin akan membuatnya terjaga malam ini.
"Segera istirahat," desisku. "Oya, lebih baik rumput-rumput itu segera disiangi. Agar rumah ini terasa... hidup."
Aku tidak benar-benar pergi. Aku memarkir motor di balik bayang-bayang kegelapan, lalu berjalan kaki menuju angkringan di sudut gerbang. Secangkir kopi hitam dan kepulan asap rokok menjadi tirai kamuflaseku. Mataku tetap tajam, menyaring setiap pergerakan di mulut gerbang.
Benar saja. Sepuluh menit berlalu, sosok itu muncul lagi.
Dia berjalan dengan langkah yang jauh lebih bebas, anggun, bagaikan seorang peragawati yang sedang menguasai runway. Rambut panjangnya melambai terkena angin malam, memantulkan cahaya lampu jalan. Saat dia melewati deretan pemuda yang mulai bersiul nakal, aku merasakan desakan aneh di dadaku, sebuah insting purba untuk berdiri dan membungkam mereka semua. Namun, aku tetap diam membatu, mengamati dari balik kepulan asap.
Dia berbelok ke arah Galaxy Residence, sebuah kawasan elit di mana privasi adalah segalanya. 75 persen, batinku. Rumah aslinya ada di sana.
"Rokok, Kak?" seorang pemuda kurus di sebelahku menyodorkan bungkus rokok.
"Terima kasih." Aku menyesapnya dalam-dalam. Aku bukan pencinta tembakau, tapi asap adalah topeng terbaik untuk menyembunyikan tatapan predator yang sedang mengintai mangsa.
"Kakak asli sini?" tanyanya basa-basi.
"Alun-alun. Baru dari rumah teman di kampung Tore," jawabku sekilas, nada bicaraku kini jauh lebih cair, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
"Eh, kamu kenal... Wati di perum sebelah? Gadis yang rumahnya dekat taman?"
"Wati?" Pemuda itu tertawa kecil, matanya berbinar. "Oh, anaknya Pak Jeremi satpam itu? Yang kacamata, rambutnya keriting pendek? Dia rajin antar makan siang buat bapaknya. Orangnya sangat ramah, Kak."
Aku tersenyum tipis di balik kegelapan malam. Jadi, dia tidak hanya meminjam rumah kosong, dia meminjam identitas putri seorang satpam untuk menipu seorang Ghani.
Gadis hazel-ku ternyata adalah sebuah misteri yang berlapis-lapis. Tanpa sadar, aku telah melangkahi garis batasku sendiri. Di kota yang seharusnya menjadi tempatku mencari kedamaian ini, aku justru menemukan sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya dari tugas negara manapun. Dan sialnya, aku tidak ingin berhenti.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 98 Episodes
Comments