Bab 3

POV Ghani

"kalian bukan komplotan maling kan?" Tanya Wati tiba-tiba.

Aku tertawa. Pertanyaan itu sungguh petir bagiku . Aku memang berasal dari dunia gelap, diama orang terbiasa dengan rahasia dan ancaman, tapi mendengarnya bertanya seperti utu, itu seperti bukan sesuatu yang tampak biasa dilakukan oleh sesorang wanita muda. Ada banyak rahasia yang terukir di raut wajahnya yang menandakan bahwa dia sebenarnya wanita yang cerdas. Bahkan aku tahu dari cara dia menjawab pertanyaanku, itu bukanlah nama aslinya.

"Nanti dari belakang aku bonceng kamu, mengikuti mobilmu ditowing agar kamu merasa tenang, oke." aku berusaha untuk meyakinkannya.

Dia mengangguk.

"Dimana rumahmu?" tanyaku.

"Perum Indah." Jawabnya singkat saat kami dalam perjalanan menuju bengkel Andi.

"Kira-kira estimasi biayanya berapa Kak?" tanya Wati pada Akmal, anak buah Andi yang juga merupakan teman masa kecilku dulu, setelah kami sampai di bengkelnya.

"Untuk kacanya saja sekitar 2,5 juta Kak, tapi hanya estimasi, belum saya cek harganya karena ini sudah malam. Towingnya 500 ribu. Untuk lecet pilar A masih belum tahu, kemungkinan 700 ribuan." paparnya panjang lebar. Tampak dari raut mukanya sepertinya Akmal sedikit tak enak padaku.

"Kira-kira selesai kapan?" Tanya Wati lagi.

"Jika hanya ganti kaca sepertinya besok sudah bisa selesai Kak, karena saya kebetulan ada stok kacanya, besok siang kemungkinan sudah bisa jadi. Tapi untuk lecetnya ini sepertinya memakan waktu ya Kak, sekitar 1 bulan." jelas Akmal. "Bisa minta nomor ponselnya Kak, besok saya hubungi harga pastinya."

"081555555555" Jawab Wati.

Aku menghafal deretan angka-angka itu dalam hati dan pikiranku untuk nanti kusimpan dalan ponselku.

Andi dan Akmal adalah teman nongkrongku di angkringan dekat pantai Kreya. Setiap pulang kesini biasanya aku nongkrong disana, karena disana, di pantai itu aku menemukan kedamaian dan merasakan kebebasan sejenak yang tak pernah kutemukan dimanapun

"Wati, aku antar kamu pulang." ujarku, dan watipun mengangguk.

Sekitar 10 menit membawanya bersamaku menggunakan si KLX, aku memasuki kawasan perumahan yang terdapat tulisan yang terpampang jelas di sebelah gerbang utama "Perum Indah", dan Watipun menyapa Satpamnya. Seketika aku yakin Wati "jujur" akan tempat tinggalnya melihat cara dan gestur dia berbicara dengan satpam itu seperti sudah sangat mengenal lama sehingga aku yakin sudah mengantar gadis itu ke rumahnya.

Tetapi apa yang kutemui tampak bertolak belakang. Kami berhenti di sebuah rumah, jika dilihat dari ukurannya, itu merupakan rumah type 45.

"Ini rumahmu?" tanyaku.

"Ya." jawabnya yakin.

Tidak. Bukan. Ini bukan rumahnya. Eumah itu adalah rumah gaya minimalis modern dengan tembok putih dan beberapa ada taman di depan. Rumahnya memang tampak terawat, cat tembok masih bagus, tak tampak retakan, genteng juga masih bagus, hanya rumput di taman itu tumbuh tinggi, tanamannya tumbuh tak rapi serta di sela paving carport juga tumbuh rumput, hal yang jarang terjadi jika banyak aktivitas disitu. Aku yakin ini bukan rumahnya karena ada rumput yang tumbuh sekitar 45 cm tepat di depan pintu rumahnya, di jalur keluar masuk rumah, artinya sudah lama tidak ada kegiatan keluar dan masuk rumah.

Aku tak ingin dia merasa takut padaku. "Oke, aku pulang."

Wati mengangguk. "Terima kasih semuanya." katanya.

"Masuklah dulu, sudah malam, berbahaya untuk perempuan di luar rumah." Disini sebenarnya aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, apakah masuk rumah ataukah dia pergi ke tempat lain.

"Tak apa, ada Satpam di luar. Kamu pulang saja dulu, sedikit tidak sopan jika meninggalkan tamu duluan." ujarnya.

Ya, memang sebagian budaya Indonesia begitu. Tuan rumah akan masuk ke dalam rumahnya setelah tamu benar-benar lenyap dari pandangan.

Aku mengangguk. "Aku pulang."

"Hati-hati."

"Segera istirahat." kataku sambil menyalakan motor trailku.

"Oya, lebih baik rumput-rumputnya disiangi agar rumah terasa hidup." Aku hanya ingin menjnggalkan pesan tersirat jika aku tahu kebohongannya, entah dia sadar atau tidak.

Akupun berhenti di angkringan yang berada tak jauh dari gerbang utama Perum Indah. Secangkir kopi dan sepiring mie goreng menemaniku di tempat yang sempurna, untuk mengawasi orang yang keluar masuk Perum itu.

Dan benar saja, sekitar 10 menit setelahnya Wati tampak keluar dari Perum, dia mengobrol lama dengan Satpam disana dan kemudian dia berjalan melewati angkringan di tempatku berada.

Dia berjalan bagaikan seorang peragawati yang sedang memamerkan desain baju di tubuhnya. Badannya fit dengan bajunya. Tingginya sekitar 165 cm dengan rambut panjangnya yang melambai-lambai membuatnya tampak sangat sempurna di mataku. Beberapa pemuda bersiul padanya saat sosoknya tepat lewat di depan kami. Entah kenapa rasa hatiku ingin kuhajar saja mereka namun aku memilih untuk tetap duduk tak terlihat.

Mataku terus saja mengawasi sosok tubuhnya, hingga kemudian tubuhnya berbelok ke kiri. Galaxi Residen. Entah kenapa aku yakin 75% rumahnya ada di sana, atau setidaknya rumah keluarganya atau teman dekatnya.

"Rokok Kak" seorang pemuda kurus tiba-tiba menawariku rokok.

"Terima kasih" sambil tersenyum. Kunyalakan dan kuhisap rokok itu. Aku bukan pecinta rokok, bagiku rokok hanyalah alat untuk membuat kamuflaseku tampak sempurna dibalik hiruk pikuknya suara denting minuman dengan mataku yang seperti mengintai mangsa. Tajam.

"Kakak asli sini?" tanyaku.

"Iya, di Perum itu Kak, dekat saja." sambil menunjuk Perum Indah. "Kakak rumahnya mana?"

"Daerah DPRD Kak. Tadi dari rumah teman di kampung Tore, lalu lapar jadi belok kesini." jawabku sekenanya. "Sebentar Kak, kalau daerah sini kenal e..." aku pura-pura mengingat nama seseorang "Wati, iya Wati."

"Wati.. Wati.. Wati..O.. Gadis kurus memakai kacamata dan berambut keriting ya Kak, yang anaknya Pak Jeremi Satpam itu?" wajahnya tampak tersenyum cerah saat itu.

"Iya" jawabku sambil tersenyum.

"Kakak temannya Wati?"

"Emm.. Bukan Kak, hanya pernah kenalan saat naik bus saja, setelahnya aku juga tak ingat, hanya saat lewat sini aku ingat dia."

"Oo.. Dia anaknya Bapak Satpam itu Kak, sering kesini saat siang, antar makan bapaknya, orangnya ramah kan, makanya banyak yang kenal."

Kami bicara banyak malam itu, bahkan mungkin untuk orang sepertiku yang terbiasa hidup dalam pekatnya hitam berbicara pada orang asing pada malam itu adalah terlalu banyak. Tapi untuk gadis itu, tak sadar aku mendobrak batasku sendiri, pertahananku sendiri yang bisa jadi akan sangat berbahaya untukku, juga untuk gadis itu.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play