Pagi hari di sebuah kantor megah Italia selalu dimulai dengan keteraturan. Semua pegawai harus selalu datang tepat waktu, tidak boleh terlambat sedetikpun. Semua keputusan yang diambil tidak bisa diganggu gugat. Semuanya harus terkendali atau lebih tepatnya—di bawah kendali Dante Russo.
Karena di puncaknya, Dante adalah hukum itu sendiri.
Pukul tujuh pagi, ruang rapat pagi itu sudah dipenuhi oleh para eksekutif. Suasana tegang begitu terasa, seolah semakin bertambahnya waktu, udara di dalam ruangan menjadi lebih berat.
Seorang manajer muda berdiri di depan layar presentasi, tangannya sedikit bergetar saat menjelaskan laporan keuangan kuartal terakhir, "...dan kami memperkirakan penurunan ini hanya bersifat sementara, Tuan Russo." ucapnya hati-hati.
Dante tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah layar tanpa ekspresi. Keheningan itu berlangsung beberapa detik—terlalu lama hingga membuat keringat dingin mengalir di pelipis sang manajer.
"Saya tidak membayar Anda untuk memperkirakan. Saya membayar Anda untuk memastikan." ujar Dante akhirnya, tentu jawaban itu membuat seluruh ruangan terasa semakin menyesakkan.
Manajer itu menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Saya—tim kami sedang menyusun strategi perbaikan, Tuan—,"
"Sedang?" ulang Dante memotong. Ia kini beralih menatap langsung ke arah sang manajer. Tatapannya tajam, menusuk tanpa ampun. "Artinya, Anda datang ke rapat ini tanpa jawaban."
Tidak ada yang berani bersuara. Semua orang itu menunduk, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Dante menghela napas samar. Ia berdiri perlahan, jasnya jatuh rapi mengikuti gerak tubuhnya. "Anda diberi waktu dua puluh empat jam. Jika Anda masih tidak membawa hasil—Anda tidak perlu kembali ke gedung ini."
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan manajer itu selain mengangukkan kepalanya dengan cepat.
"Rapat selesai." lanjut Dante, lalu segera melangkah keluar ruangan.
Keputusan itu diucapkan begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa kemarahan yang meledak. Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menakutkan. Karena Dante tidak pernah perlu berteriak untuk menghancurkan seseorang—satu kalimat darinya sudah lebih dari cukup.
—
Sementara itu, di rumah besar keluarga Russo, suasana yang berbeda tengah berlangsung. Jika biasanya menjelang malam rumah itu sudah sunyi, namun hari itu tidak.
Waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, namun Adeline Russo masih berdiri di dapur, mengenakan celemek dengan motif bunga yang tampak kontras dengan interior rumah yang minimalis.
"Ah—tunggu, tunggu, jangan terlalu banyak garam!" serunya panik, saat tangannya tidak bisa berkompromi dengan mulutnya sendiri.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Adeline menatap panci di hadapannya, lalu menghela napas panjang sebelum tertawa kecil. "Baiklah… mungkin ini bisa disebut eksperimen lainnya."
Salah satu asisten yang malam itu mendampingi Adeline pun hanya tersenyum canggung. Mereka sudah terbiasa dengan kecerobohan kecil nyonya rumah itu. Namun, justru hal itulah yang selalu membuat rumah terasa lebih hidup.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki menggema dari arah lorong utama. Langkah yang berat, tegas, dan terukur dengan sempurna. Tanpa perlu melihat, semua orang tentu tahu siapa pemiliknya.
Namun, terlalu dini. Biasanya, langkah kaki itu baru akan terdengar setelah jarum jam melewati pukul sepuluh malam. Dan malam ini— Dante pulang lebih awal.
"Oh, Tuhan... sepertinya, aku akan mati malam ini." bisik Adeline, nyaris tak terdengar.
Dalam sekejap, suasana di rumah itu berubah. Para pekerja yang tadinya bergerak santai pun tersentak, mereka langsung menegakkan tubuh. Gerakan tangan yang tadi lamban kini bergerak cekatan untuk merapikan setiap sudut, menggeser kembali benda-benda yang sedikit saja tak pada tempatnya, seakan tak boleh ada satupun yang luput dari kesempurnaan.
Dante melangkah masuk ke dapur, pandangannya langsung menyapu ruangan dengan cepat. "Apa yang terjadi?"
Keadaan dapur yang sebenarnya terlihat rapi—terlalu rapi. Namun, justru itu yang membuatnya terasa ganjil, seolah ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, meski tak kasatmata.
Tidak ada yang berani menjawab, semua orang menundukkan kepala—seperti biasanya.
Adeline menoleh dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Aku tiba-tiba merasa lapar. Jadi, aku mencoba memasak sesuatu yang seharusnya cepat. Tapi… sepertinya aku terlalu bersemangat saat menambahkan garam."
Dante berjalan mendekat, berhenti tetap di sisi Adeline. Ia melirik ke dalam panci sekilas, "Sedikit?" ulangnya, nada suaranya nyaris datar namun menyiratkan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Adeline langsung mengerucutkan bibir, jelas tak terima. Lalu, ia mendengus pelan. "Baiklah," ujarnya dengan setengah kesal, setengah pasrah, "mungkin bukan sedikit."
Dante langsung mengalihkan pandangannya, menatap deretan asisten yang berdiri kaku di sudut dapur. "Siapa yang bertanggung jawab menyiapkan dapur hari ini?"
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan ragu. "Saya, Tuan."
"Dan Anda membiarkan ini terjadi?"
Wanita itu menunduk lebih dalam. "Maaf, Tuan. Saya—,"
"Mulai besok, Anda dipindahkan ke bagian kebersihan. Saya tidak mengizinkan kelalaian di rumah ini." ujarnya tanpa basa-basi. Keputusan itu jatuh begitu saja— mutlak.
"Tidak—ini salahku," kata Adeline cepat, suaranya jelas diliputi kepanikan. Tanpa sempat berpikir, kedua tangannya terangkat dan mencengkeram pergelangan tangan Dante, seolah ingin menghentikan keadaan yang mulai lepas kendali. "Aku yang meminta mencoba sendiri. Maaf, Dante."
Dante menoleh padanya. Untuk sesaat, hanya keheningan yang menggantung tanpa suara.
"Rumah ini memiliki aturan," ucap Dante akhirnya, nada suaranya terdengar rendah dan terukur. "Dan setiap orang memiliki tanggung jawab."
"Tapi tidak semua kesalahan harus dibayar dengan hukuman, kadang... cukup diperbaiki saja."
Perkataan itu terdengar lirih nyaris berbisik, bahkan Adeline sendiri bisa merasakan betapa lemah pengaruhnya. Ia sudah bisa merasakan, usahanya tak berhasil.
Perlahan, genggamannya mengendur dan terlepas dari pergelangan tangan Dante. Ia menunduk, seolah lantai lebih aman untuk dipandang daripada sorot mata menakutkan di hadapannya.
"Maksudku, ini bukan salahnya..." ucapnya lagi, suaranya terdengar semakin pelan. "Tidak adil rasanya jika dia yang harus bertanggung jawab. Kalau memang ada yang harus disalahkan... hukum aku saja." lanjutnya, nyaris mirip dengan rengekan yang tertahan.
Dante tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Adeline lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.
Pada akhirnya, tidak ada kata yang terucap. Ia berbalik begitu saja, meninggalkan dapur tanpa penjelasan. Keputusannya tidak berubah—tidak pernah.
Namun, kali ini, langkahnya terasa lebih lambat, seolah ada sesuatu yang menahannya—meski ia sendiri tak ingin mengakuinya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 46 Episodes
Comments