DP : O2

Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Suatu pagi, suasana rumah kembali dipenuhi ketegangan. Seorang asisten rumah tangga tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga kristal di ruang tamu utama. Suara pecahannya menggema keras, memantul di dinding marmer yang dingin.

Adeline yang sedang menuruni tangga langsung berlari kecil menghampiri wanita itu. "Kau tidak terluka, 'kan?" tanyanya jelas khawatir.

Wanita itu menggeleng cepat, namun wajahnya nampak pucat. "Maaf, Nyonya… saya tidak sengaja…"

Belum sempat Adeline menenangkan, suara langkah kaki lain terdengar.

Dante berdiri beberapa meter dari mereka, menatap pecahan vas itu tanpa ekspresi. Tatapannya kemudian beralih pada si asisten.

"Dante—," Adeline mencoba menyela.

"Berapa lama Anda bekerja di sini?" tanya Dante, memotong tanpa menoleh.

"Tiga tahun, Tuan…"

"Tiga tahun," ulang Dante, penuh penekanan. "Dan Anda masih tidak mampu menjaga sesuatu yang bahkan tidak bergerak."

Suasana membeku.

Adeline menghela napas, mencoba tetap tenang. "Itu hanya kecelakaan. Semua orang bisa melakukan kesalahan."

"Kesalahan tetaplah kesalahan." balas Dante cepat, tanpa celah. Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, seolah tidak ada ruang untuk perdebatan. "Mulai hari ini, Anda tidak lagi bekerja di rumah ini."

Adeline terdiam beberapa detik, lalu melangkah maju. "Kau tidak bisa memecat seseorang hanya karena itu."

Kini Dante menoleh padanya. Ia tetap diam, tak memberi jawaban. Sorot matanya hanya tertuju pada Adeline, seakan sedang memberi kesempatan bagi kata-kata lain yang mungkin masih tertahan di bibir istrinya.

"Itu tidak adil," ujar Adeline, suaranya tetap halus, tetapi kali ini ada ketegasan di dalamnya. "Dia sudah bekerja selama bertahun-tahun. Satu kesalahan tidak bisa menghapus semua yang sudah dia kerjakan selama ini.”

"Di duniaku, satu kesalahan cukup untuk menghancurkan segalanya."

Adeline terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa terhadap kalimat itu. Bukan karena tidak memiliki argumen, tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik kalimat itu.

"Itu bukan dunia semua orang, Dante," ucapnya pelan.

Tidak ada jawaban. Keheningan menggantung, Adeline sempat menangkap sesuatu yang berbeda—perubahan dalam tatapan Dante, samar nyaris tak terlihat.

Sesaat kemudian, Daniel mengalihkan pandangannya. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun dan menjauh dari sana.

Keputusan itu—lagi-lagi—tidak berubah.

Malam harinya, suasanaterasa sedikit berbeda dari biasanya.

Adeline duduk di taman belakang, ditemani secangkir teh yang sudah mulai dingin. Sebuah buku masih terbuka di pangkuannya, namun tak lagi ia baca. Wajahnya tampak murung, jauh dari ekspresi ceria biasanya. Ia tidak marah. Ia hanya—kecewa.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki ragu terdengar mendekat. Seorang asisten berhenti di samping Adeline lalu menyodorkan sebuah selimut dengan hati-hati.

"Perintah dari Tuan, Nyonya." ujarnya pelan.

Adeline terdiam sejenak sebelum akhirnya menerimanya selimut itu. "Terima kasih."

Asisten itu mengangguk. Namun, ia tak langsung beranjak pergi, seolah ada hal lain yang perlu dibicarakan. "Nyonya… wanita yang tadi…"

"Ya? Bagaimana dia?" tanya Adeline sedikit terburu, seolah tak sempat menyembunyikan kekhawatirannya.

"Dia… tidak jadi diberhentikan, Nyonya."

Adeline mengernyit, jelas heran dan terkejut di waktu yang bersamaan. "A-apa?"

"Perintahnya berubah. Dia hanya dipindahkan ke bagian lain." lanjut asisten tersebut, membuat Adeline semakin terdiam.

Perlahan, pandangannya beralih ke arah rumah besar itu. Ke arah jendela lantai dua—ruang kerja Dante. Ia menatap jendela yang tertutup tirai itu cukup lama, seolah sedang mencari seseorang di dalam sana.

Sebuah senyum kecil muncul di bibir Adeline. "Dasar keras kepala…" gumamnya pelan.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play