DP : O3

Hari itu dimulai seperti biasa—teratur, tenang, dan tanpa cela. Namun, seperti banyak hal lain dalam hidup Dante Russo, ketenangan itu tidak pernah bertahan lama.

Sore menjelang malam ketika suara tegas Dante kembali terdengar di ruang tengah. Seorang asisten rumah tangga berdiri dengan kepala tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Wajahnya jelas nampak pucat, sementara napasnya tertahan. Di belakangnya, para asisten lain berdiri dalam barisan diam dengan kepala tertunduk dan bahu menegang.

Kesalahannya sederhana, hanya terlambat membuka pintu saat Dante pulang. Dan sebenarnya, hanya beberapa detik yang nyaris tak berarti. Namun, bagi Dante—itu cukup.

"Mulai besok, Anda tidak perlu kembali."

Kalimat itu jatuh seperti vonis, tanpa ampun.

"Maafkan saya, Tuan… itu tidak akan terulang lagi—,"

Namun, Dante tidak menunjukkan reaksi. Ia sudah berbalik dan hendak melangkah pergi, seolah keputusan itu tidak layak untuk diperdebatkan sedikit pun.

"Dante."

Suara lain tiba-tiba muncul, membuat semua orang serentak menoleh. Adeline berdiri beberapa langkah dari sana. Wajahnya biasanya cerah, kini tampak serius—sesuatu yang jarang terlihat.

"Keputusan itu tidak masuk akal."

Dante berhenti melangkah. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam. Lalu, perlahan ia menoleh dan tatapannya langsung jatuh tepat pada Adeline—lurus dan tak teralihkan.

Adeline menelan napas, namun tidak mundur. "Dia hanya terlambat beberapa detik. Itu bukan kesalahan yang pantas dihukum seperti itu."

"Ini bukan tentang waktu," balas Dante, terdengar penuh penekanan. "Ini tentang disiplin."

"Dan disiplin bukan berarti tanpa belas kasihan." sahut Adeline, kali ini lebih tegas dan tak lagi ragu.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Para pekerja bahkan berusaha menahan napas, tak berani menimbulkan suara sekecil apa pun di tengah ketegangan itu.

Dante menatap Adeline tanpa berkedip, tajam dan dalam, seolah mencoba membaca keberanian yang berdiri begitu jelas di hadapannya. "Kau tidak memahami bagaimana sistem ini bekerja." ujarnya kemudian.

"Kalau sistem itu bisa menyakiti orang lain, mungkin memang seharusnya dipertanyakan," jawab Adeline. Tatapannya tetap terarah pada Dante, tak goyah meski tekanan di ruangan itu terasa semakin berat. "Kau terlalu kejam, Dante."

Kalimat itu menggantung di udara. Untuk pertama kalinya, Dante terdiam. Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia tidak pernah dihadapkan dengan perlawanan seperti itu.

Namun, itu hanya berlangsung sesaat. Keheningan pecah ketika Dante kembali mengalihkan pandangannya pada asisten itu. "Keputusan saya tidak berubah."

Tak ada nada marah dalam suaranya, tak ada emosi yang tampak di wajahnya. Hanya sebuah ketegasan yang tak tergoyahkan. Dante berbalik dan melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh kembali.

Dan keputusan itu—tetap berlaku.

Malamnya, rumah kembali sunyi. Bahkan terlalu sunyi dari biasanya. Adeline duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela. Waktu hampir menunjukkan pukul satu dini hari dan besok pagi ia harus pergi ke rumah sakit, namun matanya tetap terjaga.

Adeline terjebak dalam pikirannya sendiri. Aatu kalimat yang terus terngiang di benaknya.

Kau terlalu kejam, Dante.

Adeline menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa aku mengatakan itu…"

Adeline tidak pernah berniat menyakiti. Ia hanya tidak tahan melihat orang lain diperlakukan seperti itu, meski oleh suaminya sendiri. Namun, caranya tadi terkesan terlalu lugas, tajam, hingga tanpa sadar terasa menyudutkan.

Perlahan, ia bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya ringan namun menyimpan keraguan saat berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja Dante. Lampu di dalam ruangan itu tampak masih menyala seperti biasa.

Adeline mengangkat tangan dan mengetuk pelan. Sekali, lalu dua—tidak ada jawaban.

Adeline ragu sejenak. Ia menghela napas kasar, lalu membuka pintu perlahan. Hal yang pertama ia lihat adalah Dante Russo duduk di balik meja kerja dengan beberapa dokumen terbuka di depannya.

"Dante…" panggilnya pelan.

Pria itu mengangkat pandangannya, membuat tatapan mereka bertemu. Tak ada kemarahan yang tampak di sana, namun juga tidak ada kehangatan yang menyambut. Hanya sesuatu yang terasa sulit untuk dijelaskan.

Adeline melangkah masuk perlahan, lalu berhenti tepat di depan meja Dante. Ia menggenggam jemarinya sendiri, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku... ingin meminta maaf."

"Untuk?"

"Perkataanku tadi siang," jawab Adeline. Ia kembali terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Aku tidak seharusnya mengatakan itu di depan semua orang. Itu… tidak pantas."

Dante tidak langsung menjawab, ia hanya lurus ke arah istrinya.

"Tapi..." Adeline melanjutkan pelan, "aku tidak menyesal membelanya. Hanya saja, caraku memang salah."

Ruangan itu hening. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Dante lalu sedikit bersandar di kursinya, tetap tenang seperti biasa. "Sudah?"

Adeline mengangkat pandangannya, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan terhadap pertanyaan itu. "Ya, sialan."

Dante tampak tetap tenang, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Seolah ia sudah terbiasa dengan perkataan yang sulit diprediksi keluar dari mulut istrinya itu. "Kau boleh pergi."

Adeline segera berbalik tanpa memberi jawaban. Ia melangkah menuju pintu dengan langkah yang lebih keras dari biasanya, jelas menunjukkan emosinya sedang tidak stabil. Rasa kesal dan marah itu terlihat dari cara ia bergerak, tanpa berusaha menyembunyikannya.

"Tidur."

Adeline berhenti tepat di depan pintu. Perlahan, ia menoleh kembali. Dante masih duduk di tempatnya, namun kini menatap lurus ke arah istrinya.

Beberapa detik berlalu tanpa kata. Dante tidak langsung berbicara, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jarang ia ucapkan.

"Besok jangan terlambat." ujar Dante datar, tetapi tidak setajam biasanya. Perkataan itu terdengar lebih tenang dari sebelumnya.

Adeline menatapnya beberapa saat, seolah memastikan apa yang baru saja ia dengar. Perlahan, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Tanpa perlu penjelasan lebih jauh, ia sudah paham—itu adalah cara Dante meminta maaf.

"Aku akan ingat itu. Selamat malam, Suamiku."

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play