Hari-hari di mansion itu seharusnya berjalan dalam keteraturan yang nyaris sempurna, seperti biasanya—jika saja Adeline bukan bagian di dalamnya.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, memantulkan cahaya hangat di atas meja panjang yang selalu tersusun rapi. Segalanya tampak sebagaimana mestinya, hingga suara langkah terburu-buru terdengar dari lorong.
"Selamat pagi!"
Suara Adeline muncul lebih dulu sebelum sosoknya benar-benar terlihat. Ia berjalan cepat bahkan hampir berlari, dengan rambut yang belum sepenuhnya tersisir rapi. Tangannya sibuk merapikan kancing cardigan yang salah pasang.
"Maaf, aku bangun sedikit terlambat hari ini." ujarnya sambil mendudukkan diri di kursi ruang makan, "Tapi sebenarnya itu bukan salahku sepenuhnya. Alarmnya berbunyi, hanya saja aku pikir itu bagian dari mimpiku."
Adeline langsung meraih teko teh di depannya dan menuangkannya ke dalam cangkir. Namun karena terlalu sibuk berbicara, tangannya sedikit miring hingga membuat teh itu meluap.
"Ah—lagi," gumamnya, lalu tersenyum kikuk. "Sepertinya gravitasi tidak pernah bisa bekerja sama denganku."
Adeline terkekeh pelan. Ia buru-buru mengambil serbet san membersihkan kekacauannya itu.
Di ujung meja, Dante duduk tanpa ekspresi. Pandangannya sesekali terarah pada setiap kekacauan kecil yang terjadi. Namun seperti biasa, ia tidak berkata apa-apa.
Adeline melirik ke arahnya, masih dengan senyum ringan. "Kau tahu, aku membaca artikel semalam tentang bagaimana orang yang ceroboh biasanya justru lebih kreatif. Jadi mungkin ini bakat terpendam."
Tidak ada respons. Adeline tetap melanjutkan celotehannya, seolah keheningan itu sudah biasa dan bukanlah sesuatu yang menghalanginya.
—
Malam itu datang lebih cepat dari biasanya ketika mobil Dante memasuki halaman. Tidak ada yang menyangka ia akan pulang secepat itu.
Bahkan para pekerja rumah tampak sedikit lebih sigap dari biasanya, seolah berusaha memastikan tidak ada satu pun kesalahan yang terjadi saat tuan rumah berada di dalam.
Di ruang makan, meja telah tertata rapi. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, dua kursi terisi bersamaan. Adeline tampak sedikit terkejut saat melihat Dante sudah duduk di sana ketika ia turun.
"Oh—kau pulang lebih awal, "katanya, nadanya ringan seperti biasa, namun kali ini ada sedikit rasa senang yang tidak ia sembunyikan.
Dante tidak menjawab. Ia duduk dengan posisi tegak, satu tangan memegang berkas, matanya tertuju pada halaman-halaman yang ia baca dengan fokus penuh. Bahkan ketika makanan mulai disajikan, perhatiannya tidak benar-benar berpindah.
Adeline duduk di seberangnya. Ia memperhatikan Dante sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Ini pertama kalinya kita makan malam bersama minggu ini," ujarnya sambil mulai memasukkan sepotong makanan ke mulutnya. "Atau mungkin bulan ini? Aku mulai kehilangan hitungan."
Tidak ada respons. Namun seperti biasa, itu tidak menghentikannya.
"Hari ini cukup sibuk di rumah sakit. Karena mulai hari ini, aku ditempatkan di bangsal anak." lanjut Adeline, terdengar bersemangat. "Ada seorang anak kecil yang tidak mau disuntik. Dia bersembunyi di bawah meja dan menolak keluar. Semua perawat sudah mencoba membujuk, tapi dia tetap tidak mau."
Adeline tertawa kecil, seolah kembali mengingat kejadian itu. "Akhirnya aku ikut duduk di lantai dan bilang kalau aku juga takut jarum dan itu berhasil. Dia keluar, walaupun masih sambil menangis."
Dante masih membalik halaman berkasnya. Gerakan tangannya nampak tenang, tidak terburu-buru. Seolah ia sama sekali tidak memperhatikan.
"Aku pikir dia akan membenciku setelah itu," lanjut Adeline, lalu tersenyum kecil. "Tapi setelah selesai, dia malah bilang terima kasih. Lalu dia memberikan permen yang entah dari mana dia dapatkan."
Dante mengambil gelas, lalu menghabiskan air itu hanya dalam beberapa detik. Setelah itu, kembali pada berkasnya.
"Ada juga pasien lain yang terus memanggilku 'kakak dokter'," lanjut Adeline, sedikit terkekeh. Ia terus berceloteh seolah hanya di waktu itulah ia bisa menceritakan segalanya pada sang suami, "Aku tidak tahu itu pujian atau hanya karena aku terlihat terlalu muda."
Adeline kembali menyuapkan makanan, tetapi perhatiannya lebih banyak pada ceritanya sendiri. "Kadang aku berpikir, mungkin aku memang belum terlihat seperti dokter sungguhan."
Adeline berhenti sejenak, lalu menatap Dante. "Bagaimana menurutmu? Kau pikir aku terlihat seperti seorang dokter sungguhan?"
Pertanyaan itu menggantung, Dante tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu, Dante menutup berkas di tangannya. Suara kecil itu terdengar jelas di tengah keheningan. Adeline menunggu, masih dengan ekspresi ringan, meskipun ia tidak benar-benar berharap jawaban.
"Tidak."
"Ya, aku juga berpikir begitu." Adeline tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung. "Mungkin aku lebih terlihat seperti orang yang tersesat di rumah sakit."
Dante menatapnya sejenak. Hanya beberapa detik, namun cukup lama untuk sesuatu yang jarang terjadi. Ia tidak menanggapi dan kembali membuka berkasnya. Namun kali ini, matanya tidak langsung fokus pada tulisan.
Di seberangnya, Adeline kembali bercerita. Tentang pasien lain atau kesalahan kecilnya saat hampir salah mengambil alat. Suara itu terus mengalir dengan ringan dan tanpa beban. Bahkan terkadang ia tertawa terlalu keras dan berisik.
Sementara Dante hanya diam. Tidak tahu apakah ia ingin menghentikan pembicaraan itu—atau malah ingin mendengarnya lebih lama lagi.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 46 Episodes
Comments