Arkan berjalan menyusuri jalan belakang kawasan pelabuhan dengan tas kecil di pundak dan tangan masuk ke saku jaket. Lampu-lampu jalan yang separuhnya mati membuat bayangan panjang di trotoar retak. Dari gang-gang sempit di kiri dan kanan, aroma minyak goreng bekas dan sampah yang terlambat diangkut menyambut hidungnya seperti sesuatu yang tidak pernah berubah.
Sepuluh tahun.
Kota ini menua tapi tidak berbenah. Gedung-gedung baru tumbuh di pusat kota sementara pinggiran tetap busuk dengan cara yang sama persis seperti saat dia pergi. Beberapa wajah baru di poster-poster iklan yang ditempel sembarangan di tembok. Beberapa nama toko yang berganti. Tapi di balik semua itu, tulang-tulangnya sama — jaringan kekuasaan yang sama, uang yang mengalir ke kantong yang sama, dan orang-orang kecil yang tetap tidak punya pilihan selain diam.
Arkan hafal peta kota ini seperti dia hafal bekas luka di tangannya sendiri.
Dia tidak ke hotel. Tidak ke tempat penginapan mana pun yang memerlukan identitas. Dia berjalan tiga puluh menit ke sebuah gang sempit di kawasan Barat Lama, menghitung nomor pintu yang tidak ada papan namanya, dan berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang terlihat seperti gudang tidak terpakai.
Dia mengetuk tiga kali. Dua kali. Satu kali.
Suara kunci yang berat bergerak dari dalam. Pintu terbuka selebar kepala orang.
Sepasang mata tua menatapnya dari balik celah itu. Satu detik. Dua detik.
Lalu pintu terbuka lebar.
"Sial." Pria tua itu menggeleng pelan. Rambutnya putih semua, tubuhnya kurus seperti ranting kering, tapi matanya tajam seperti belum pernah tua sehari pun. "Kamu benar-benar kembali."
"Kamu meragukan saya, Pak Heru?"
"Aku meragukan apakah kamu masih waras." Pria tua itu mundur memberi jalan masuk, suaranya antara kesal dan lega. "Masuk sebelum ada yang melihatmu."
Ruangan di dalam lebih besar dari yang terlihat dari luar. Sebuah ruang bawah tanah yang difungsikan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat kerja — dua komputer lama di meja kayu, lemari arsip yang penuh sampai nyaris tidak bisa ditutup, dan di sudut, sebuah kasur tipis yang terlihat sudah lama tidak dipakai tamu.
Di atas meja, ada amplop cokelat tebal yang sudah menunggu.
Arkan mengambil amplop itu. Membukanya.
Di dalam ada satu set identitas lengkap. KTP dengan nama Raka Daniswara. Kartu kerja. Foto ukuran dua kali tiga. Surat keterangan domisili palsu yang terlihat lebih asli dari yang asli. Dan selembar kertas kecil bertulisan tangan — alamat dan nama yang harus dia datangi besok pagi.
"Semua beres?" tanya Arkan.
Pak Heru duduk di kursi butut di depan komputer. "Beres. Kamu sekarang adalah Raka Daniswara, tiga puluh dua tahun, asli Surabaya, pindah ke Metropolis enam bulan lalu. Riwayat kerja sebagai pengawal pribadi, referensi dari dua perusahaan keamanan yang semuanya sudah tutup jadi tidak bisa dikonfirmasi." Dia berhenti sebentar. "Tempat yang kamu tuju itu... kamu yakin?"
Arkan melihat nama di kertas kecil itu. Toko material bangunan di kawasan Tengah Kota. Bukan bisnis glamor. Bukan tempat yang terlihat ada hubungannya dengan dunia yang sedang dia masuki.
Tapi Arkan tahu sesuatu yang tidak semua orang tahu — bahwa toko kecil yang tidak menarik perhatian sering kali adalah tempat di mana informasi paling berharga disimpan. Dan pemilik toko itu, seorang pria bernama Pak Salim, adalah orang yang sudah dua tahun terakhir secara diam-diam mengumpulkan data pergerakan Black Dragon di kawasan tersebut.
Pak Salim juga orang yang sudah tiga bulan terakhir menerima ancaman agar tutup mulut.
"Yakin," jawab Arkan singkat.
Pak Heru mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lebih jauh. Sudah terlalu lama mengenal Arkan untuk tahu bahwa pertanyaan tambahan hanya akan mendapat jawaban diam.
Arkan melihat kasur di sudut ruangan. "Boleh saya pakai ini malam ini?"
"Sudah kusiapkan sejak minggu lalu." Pak Heru berdiri, punggungnya sedikit membungkuk karena usia. "Ada satu hal lagi."
Arkan menatapnya.
"Tadi malam ada orang yang datang ke sini. Menanyakan apakah aku pernah mengenal seseorang bernama Arkan." Pak Heru mengucapkan kalimat itu dengan tenang tapi matanya tidak tenang. "Aku bilang tidak tahu."
Ruangan itu terasa sedikit lebih sunyi dari sebelumnya.
"Seperti apa orangnya?" tanya Arkan.
"Muda. Dua puluhan. Rapi. Tapi cara dia bergerak ketika masuk ke ruangan ini..." Pak Heru menggeleng sedikit. "Bukan orang biasa. Dan satu hal yang aneh — dia seperti sudah tahu tata letak ruangan ini sebelum masuk."
Arkan menyimpan informasi itu di suatu tempat di kepalanya. Tidak bereaksi berlebihan, tapi tidak juga mengabaikannya.
"Terima kasih, Pak Heru."
Pria tua itu mengangguk lalu berjalan ke arah tangga kecil yang naik ke bagian atas bangunan. Di ujung tangga dia berhenti tanpa membalik badan. "Arkan. Kota ini sudah berubah lebih dari yang kamu tahu. Musuhmu juga sudah berubah." Dia diam sebentar. "Kamu juga harus berubah, atau kamu akan kalah sebelum mulai."
Langkahnya menghilang ke atas.
Arkan menatap kasur tipis di sudut ruangan. Lalu dia berbaring dengan jaket masih terpasang dan mata tertutup, tapi tidak benar-benar tidur — pikirannya bekerja pelan dan sistematis seperti mesin yang tidak mengenal istirahat.
Siapa orang muda yang datang tadi malam?
Siapa yang sudah tahu dia akan kembali?
Dan satu pertanyaan yang paling keras terdengar di dalam kepalanya sebelum akhirnya kelelahan sepuluh tahun itu menang dan menariknya ke dalam tidur yang tidak bermimpi:
Pengkhianat itu, orang yang namanya belum dia ketahui, orang yang kata koleganya ada jauh lebih dekat dari yang dia duga — siapa?
Pukul tujuh pagi, Arkan sudah di jalan.
Dia berganti penampilan dengan cara-cara kecil yang tidak memerlukan banyak alat. Rambut sedikit disisir rapi. Jaket kulit diganti dengan jaket parasut polos berwarna abu. Postur tubuhnya sedikit dilonggarkan — bahu yang biasanya tegak dibuat sedikit turun, langkah yang biasanya terlalu terkontrol dibuat sedikit lebih santai, lebih seperti orang yang tidak membawa beban apa pun.
Dia naik angkutan umum tiga kali berganti rute sebelum akhirnya turun dua blok dari alamat yang dituju. Sisanya dia jalan kaki sambil membaca situasi sekitar.
Toko material Pak Salim ada di ujung jalan sempit yang diapit oleh dua bangunan tua. Catnya pudar, papan namanya miring, dan di depannya ada tumpukan pipa PVC yang disusun tidak terlalu rapi. Dari luar terlihat seperti toko yang modalnya pas-pasan dan pelanggannya seadanya.
Arkan masuk.
Di dalam, seorang pria separuh baya sedang mengangkat kardus sendirian. Tubuhnya tidak besar tapi gerakannya kuat. Rambutnya mulai memutih di sisi kanan. Ketika mendengar pintu terbuka, dia mendongak.
Matanya berubah sedetik — seperti seseorang yang melihat sesuatu yang tidak disangka — lalu kembali normal.
"Mau cari apa, Mas?" suaranya datar dan ramah sekaligus. Suara orang yang sudah latihan berbicara seperti tidak ada apa-apa.
"Semen dua sak." Arkan menaruh tas di sisi kaki. "Dan ada posisi kosong untuk pengawal, kata orang."
Keheningan singkat. Pak Salim menurunkan kardusnya pelan. Dia menatap Arkan dari bawah ke atas sekali, lalu ke arah pintu, memastikan tidak ada orang lain di luar.
"Referensi dari mana?"
"Dari seseorang yang namanya tidak perlu disebut di tempat terbuka," jawab Arkan.
Pak Salim mengangguk sangat kecil. "Duduk dulu. Saya ambilkan minum."
Satu jam kemudian, Arkan resmi menjadi pengawal toko material yang tidak ada yang mau membobol karena isinya hanya semen dan bata.
Setidaknya begitulah yang terlihat dari luar.
Pak Salim memberinya kamar kecil di lantai dua yang menghadap ke jalan. Sempit, hanya cukup untuk kasur dan meja kecil, tapi dari jendela itu Arkan bisa melihat seluruh ujung jalan dan dua gang yang bersilangan di depan toko. Sudut pandang yang baik. Mungkin terlalu baik untuk sebuah kamar yang diberikan secara kebetulan.
Arkan menyimpannya sebagai catatan kecil di kepala.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments