The Shadow King: Takhta Berdarah Sang Mafia

The Shadow King: Takhta Berdarah Sang Mafia

SERIGALA YANG KEMBALI

Dermaga Utara. Pukul 02.14 dini hari.

Tidak ada yang seharusnya berada di sini kecuali tikus pelabuhan dan bayang-bayang.

Namun malam itu, kabut tebal yang merayap di atas air hitam membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya. Sesuatu yang sudah lama pergi. Sesuatu yang kota ini pikir tidak akan pernah kembali.

Kapal kargo tua bertanda bendera Panama bergerak masuk ke dermaga tanpa menyalakan lampu. Tidak ada awak yang terlihat di geladak. Tidak ada suara yang terlalu keras. Seolah kapal itu adalah bagian dari kegelapan itu sendiri — bukan benda mati dari besi dan karat, melainkan makhluk hidup yang tahu cara bersembunyi.

Dari atas peti kargo tertinggi, sebuah sosok berdiri.

Satu orang. Jaket kulit hitam lusuh. Rambut pendek berantakan oleh angin laut. Tangan kirinya tergantung santai di sisi tubuh. Tidak ada senjata yang terlihat. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca.

Matanya menatap kota yang bercahaya di kejauhan — gedung-gedung tinggi yang arogan, lampu-lampu jalan yang pura-pura terang, jutaan manusia yang tidur nyenyak di atas tanah yang jauh lebih busuk dari yang mereka bayangkan.

Arkan menghirup udara dalam-dalam.

Metropolis. Kota yang sama yang dulu mengkhianatinya. Kota yang dulu membuangnya seperti sampah ke pulau penjara paling terlupakan di dunia.

Sepuluh tahun. Dan kini dia kembali — bukan dengan air mata, bukan dengan permohonan, bukan dengan harapan yang naif.

Dia kembali dengan satu tujuan yang sudah dia asah setiap hari selama satu dekade.

"Dua belas orang di dermaga bawah," suara kecil dari earpiece di telinganya. Suara perempuan, datar dan profesional. "Semua bersenjata. Mereka sudah menunggu sejak tadi malam."

"Berapa yang berbahaya?" tanya Arkan pelan.

Hening sebentar. "Dua. Yang paling kiri dan yang berdiri di dekat kontainer biru. Postur mereka berbeda dari yang lain."

Arkan melirik ke bawah. Dari jarak empat puluh meter, dalam kegelapan tebal, tanpa alat bantu optik apa pun — dia sudah tahu yang mana. Cara berdiri. Cara tangan memegang senjata. Cara mata bergerak memindai area. Mereka terlatih. Sisanya hanya preman bayaran yang tidak tahu bahwa malam ini mungkin adalah malam terakhir mereka mendapat upah.

"Matikan sambungan," kata Arkan.

"Arkan, ada kemungkinan ada penembak jarak jauh di—"

"Matikan."

Klik. Sunyi.

Arkan melompat turun dari peti kargo. Empat belas meter. Lututnya menekuk menyerap benturan, dan dia mendarat tanpa suara di atas beton dermaga yang basah, seperti kucing yang sudah melakukan ini ribuan kali.

Dia tidak berlari. Dia tidak bergegas. Dia hanya berjalan.

Langkah. Langkah. Langkah.

"Berhenti!"

Sorot senter dari tiga arah sekaligus menghantam wajahnya. Arkan tidak menutup mata. Tidak memperlambat langkah. Dia berhenti tepat lima meter dari orang pertama yang menyorotnya — pria gemuk dengan tato naga merah di leher, napasnya sedikit tersengal karena terlalu bersemangat.

Dari kerumunan dua belas orang itu, seorang pria melangkah maju. Tinggi, rambut klimis, jas abu yang terlalu rapi untuk jam dua pagi. Wajahnya menunjukkan seseorang yang terbiasa memberi perintah dan terbiasa dituruti.

Dia menatap Arkan dari ujung kepala ke ujung kaki, seperti mengamati sesuatu yang harusnya sudah lama menjadi abu.

"Arkan." Dia mengucapkan nama itu seperti lelucon yang tidak terlalu lucu. "Sepuluh tahun di Pulau Besi tidak juga mengajarimu untuk diam di tempat?"

Arkan tidak menjawab.

"Bos Viktor mengirim salam." Pria itu tersenyum tipis, lebih mirip menyeringai. "Dan satu pesan: jangan pernah kembali ke kota ini. Sayang sekali kamu terlambat membacanya."

Arkan mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket. Menyalakannya dengan korek api kayu — bukan lighter, karena dia tidak pernah menyukai lighter sejak dulu. Dia menghisap pelan. Membiarkan asapnya menari di udara malam yang dingin dan lembab.

Dua belas orang menunggu.

Arkan menghembuskan asap.

"Viktor yang mana?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan sangat datar, seperti permukaan danau sebelum badai. "Viktor yang menyuruh orang membunuh seorang wanita dua belas tahun lalu? Atau Viktor yang sekarang begitu takut sampai harus mengirim dua belas orang hanya untuk menyambut satu tamu yang tidak diundang?"

Pria itu mengerutkan dahi. Sesuatu bergerak di matanya — bukan ketakutan, belum. Tapi ketidaknyamanan. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa situasi ini mungkin tidak akan berjalan seperti yang direncanakan.

Matanya bergerak ke kiri sedikit. Sinyal kecil yang hanya terlatih yang bisa membaca.

Arkan melihatnya.

"Habisi dia."

Dua belas senjata terangkat hampir bersamaan.

Arkan menghisap rokoknya satu kali terakhir. Lalu menjatuhkannya ke beton basah dan menginjak pelan dengan ujung sepatu.

Yang terjadi berikutnya berlangsung dalam waktu yang terlalu singkat untuk menjadi kenangan yang jelas bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Arkan bergerak ke kiri — bukan mundur, ke depan, masuk ke dalam, karena jarak adalah satu-satunya kelemahan senjata api. Peluru pertama meleset dan menghantam kontainer di belakangnya dengan suara keras yang bergema di seluruh dermaga. Siku kanannya mendarat di tenggorokan orang berbahaya pertama sebelum jari itu selesai menekan pelatuk untuk yang kedua kalinya.

Orang itu ambruk.

Yang kedua lebih siap. Dia tidak panik. Dia mengarahkan laras tepat ke dada Arkan dari jarak dua meter — jarak yang seharusnya tidak mungkin meleset.

Arkan tidak menghindar ke samping. Dia maju.

Tangannya mencengkeram pergelangan tangan orang itu, memelintirnya ke sudut yang tidak wajar bagi anatomi manusia normal. Bunyi yang tidak menyenangkan terdengar singkat. Senjata jatuh ke beton. Lutut Arkan naik ke ulu hati. Kepala orang itu turun. Siku Arkan turun bersamanya.

Selesai.

Sepuluh orang sisanya bergerak dari berbagai arah.

Arkan sudah ada di tengah mereka.

Dia tidak bertarung seperti dalam cerita-cerita. Tidak ada gerakan yang indah. Tidak ada aksi yang terasa heroik. Dia bergerak seperti sesuatu yang jauh lebih tua dari kepahlawanan — seperti mesin yang tahu persis di mana setiap baut berada dan bagaimana cara mencabutnya. Efisien. Ekonomis. Setiap sentuhan ke titik yang paling tidak bisa bertahan. Setiap kuncian ke sendi yang paling mudah patah.

Tidak ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia.

Dua belas orang.

Tidak sampai dua puluh detik.

Dua belas sosok tergeletak di dermaga basah dalam berbagai posisi, sebagian masih merintih, sebagian sudah tidak bersuara sama sekali.

Arkan berdiri di tengah mereka. Napasnya sedikit lebih dalam dari biasanya, tapi tidak tersengal. Jaket kulitnya bersih — tidak satu noda pun. Hanya ada sedikit debu di ujung sepatu kirinya.

Pemimpin kelompok itu — satu-satunya yang tidak dia sentuh — berdiri di pinggir dengan punggung menyentuh kontainer biru. Senjatanya sudah jatuh entah kapan, mungkin tanpa dia sadari sendiri. Mukanya pucat seperti kapur.

Arkan berjalan ke arahnya. Pelan. Tidak terburu-buru.

Pria itu ingin lari tapi kakinya seolah dilasi ke beton.

Arkan berhenti tepat satu meter di depannya. Tidak mengancam dengan senjata. Tidak mengangkat tangan. Hanya berdiri dan menatap.

"Dengarkan baik-baik," kata Arkan, suaranya tidak meninggi sedikit pun. Di situlah yang membuat bulu kuduk berdiri — bukan amarah, bukan teriakan, melainkan ketenangan yang terlalu dalam untuk menjadi wajar. "Pergi ke Viktor. Sampaikan bahwa mulai malam ini, setiap jengkal tanah yang dia injak di kota ini adalah milikku. Setiap bisnis yang dia bangun di atas darah orang lain akan saya ambil kembali satu per satu. Dan ketika saya akhirnya datang langsung ke depan pintunya..."

Arkan memiringkan kepala sedikit. Matanya tidak berkedip.

"...minta dia berdoa supaya pintu itu cukup tebal."

Hening di antara mereka hanya diisi oleh suara ombak kecil yang menghantam tiang dermaga dan rintihan samar dari beberapa orang yang tergeletak di belakang Arkan.

Arkan mengambil satu langkah ke samping. Memberi jalan.

Pria itu tidak perlu diberi waktu kedua. Dia berlari tunggang langgang menembus kabut, sepatunya berdecit di atas beton basah, sampai bayangannya lenyap ditelan kegelapan.

Arkan tidak menontonnya sampai hilang.

Dia membalik badan dan memandang kota Metropolis dari tepi dermaga. Angin laut mendorong rambutnya ke belakang. Di kejauhan, jutaan cahaya berkelip dingin — gedung-gedung tinggi yang tidak tahu malu, jalan-jalan yang tidak pernah benar-benar tidur, sebuah kota yang terus berputar di atas fondasi yang dibangun dari pengkhianatan dan darah orang-orang yang tidak punya kuasa untuk melawan.

Sampai sekarang.

Earpiece-nya berbunyi kembali. Dia membiarkannya beberapa detik sebelum menjawab.

"Selesai?"

"Selesai."

"Berapa lama?"

"Kurang dari dua puluh detik."

Suara di seberang diam sebentar. "Kamu baik-baik saja?"

"Ya."

"Arkan." Suara itu berubah nada, lebih rendah, lebih serius. "Informasi terakhir yang masuk tadi malam... ada yang perlu kamu tahu sebelum kamu masuk lebih jauh ke kota itu."

Arkan tidak bergerak. "Katakan."

"Orang yang mengkhianatimu sepuluh tahun lalu." Hening sebentar, seperti orang yang memilih kata dengan sangat hati-hati. "Dia masih hidup. Masih di kota itu. Dan dari yang kami temukan..."

Jeda panjang yang terasa seperti jarum di kulit.

"...dia ada jauh lebih dekat denganmu dari yang kamu kira."

Arkan menatap kota yang bercahaya itu tanpa berkedip.

Angin laut berhembus. Kabut bergerak pelan di atas air hitam.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki kembali di tanah ini, sesuatu yang sudah lama dikubur jauh di dalam dadanya mulai bergerak — bukan harapan, bukan kerinduan.

Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play