4

Pukul sebelas malam, jalan di depan toko material Pak Salim seharusnya sudah sepi.

Seharusnya.

Arkan duduk di kursi kayu di sudut kamarnya, lampu dimatikan, jendela terbuka selebar tiga jari. Cukup untuk mendengar suara jalan di bawah tanpa siluetnya terlihat dari luar. Ini sudah kebiasaan lamanya — tidak pernah tidur sebelum membaca situasi sekitar satu kali terakhir. Di Pulau Besi, kebiasaan itu yang membedakan orang yang bangun pagi dan orang yang tidak bangun sama sekali.

Malam pertama di sini berjalan terlalu tenang.

Terlalu tenang selalu lebih berbahaya dari terlalu ramai.

Dia sedang memproses ulang semua yang terjadi hari ini — pertemuan dengan Pak Salim, dua karyawan yang terlalu diam, perempuan bernama Luna yang tidak memalingkan mata duluan — ketika telinganya menangkap sesuatu.

Suara mesin motor yang dimatikan sebelum sampai ke tujuan.

Orang yang mematikan mesin sebelum sampai adalah orang yang tidak ingin didengar.

Arkan berdiri. Mendekati jendela. Dari sudut pandangnya di lantai dua, dia bisa melihat ujung gang di sebelah kiri toko. Gelap. Tapi ada gerakan di sana — bayangan yang bergerak terlalu perlahan untuk orang yang hanya lewat.

Satu. Dua. Tiga orang.

Mereka berhenti di depan pintu samping toko.

Arkan sudah di tangga sebelum orang pertama dari mereka sempat mengetuk pintu.

Dia turun dengan langkah yang tidak berbunyi, melewati lorong sempit di belakang rak-rak material, dan berhenti di sisi pintu belakang yang temboknya cukup tebal untuk menyembunyikan tubuh berdiri. Dari sana, melalui celah ventilasi yang sudah lama tidak diperbaiki, dia bisa mendengar dengan sangat jelas.

Tiga ketukan di pintu samping.

Hening.

Tiga ketukan lagi, kali ini lebih keras.

Suara langkah dari dalam ruangan Pak Salim di lantai bawah. Lambat, berat — langkah orang yang tidak ingin bergerak tapi tahu tidak ada pilihan. Pintu samping terbuka.

"Belum lunas juga, Pak." Suara laki-laki, muda, nada yang terbiasa berbicara ke bawah pada orang yang lebih tua. Nada yang menyebalkan. "Bos sudah dua minggu lebih sabar."

"Saya bilang minggu depan." Suara Pak Salim rendah dan terkontrol tapi Arkan bisa mendengar sesuatu di baliknya. "Saya sudah bilang minggu depan."

"Bos tidak mau minggu depan."

"Saya tidak punya uangnya sekarang."

Suara yang berbeda masuk — lebih berat, lebih dalam. "Pak Salim. Bos cuma minta satu hal. Bukan uang. Toko ini. Tandatangan surat sekarang, semua hutang lunas, dan Bapak bisa tetap kerja di sini sebagai karyawan."

Keheningan yang terlalu panjang.

"Ini toko warisan almarhum istri saya."

"Kami tahu." Nada itu tidak berubah. "Makanya Bos berbaik hati menawarkan, bukan langsung mengambil."

Arkan mendengar sesuatu bergeser — kursi, mungkin, atau seseorang yang mengambil langkah masuk tanpa diundang. Lalu suara Pak Salim lagi, kali ini lebih rendah dan lebih tegang.

"Jangan masuk ke dalam."

"Pak Salim—"

"Saya bilang jangan masuk."

Arkan sudah menghitung. Tiga orang di luar. Tidak ada suara senjata yang dikokang, berarti mereka datang untuk menekan, bukan untuk hal yang lebih buruk. Malam ini bukan malam untuk bertindak terbuka — identitasnya baru sehari, dan memperlihatkan kemampuan aslinya di hari pertama akan menghancurkan segalanya sebelum dimulai.

Tapi kalau dia diam saja, Pak Salim akan menyerahkan tokonya malam ini.

Arkan memejamkan mata satu detik. Menimbang. Memutuskan.

Dia mengambil ember plastik besar dari rak di sampingnya. Melemparnya keras ke bagian belakang gudang.

Suara keras benda jatuh bergema di seluruh ruangan.

Hening mendadak di sisi pintu samping.

"Siapa itu?" salah satu dari mereka bertanya.

Arkan melangkah ke tengah gudang, cukup pelan untuk terdengar tapi tidak terlalu pelan. Lalu dia menyalakan lampu gudang dan membuka pintu dalam yang menghubungkan gudang ke lorong samping.

Tiga pria menatapnya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play