3

Arkan menyimpannya sebagai catatan kecil di kepala.

Siang hari pertama berlalu dengan pelan. Arkan membantu angkat barang, berbicara secukupnya dengan dua karyawan lain yang terlihat tidak terlalu ingin bicara, dan mengamati ritme jalan di depan toko.

Setiap kendaraan yang melintas dua kali. Setiap orang yang berdiri terlalu lama. Setiap perubahan kecil yang tidak sesuai dengan pola normal.

Pukul tiga sore, dia melihatnya untuk pertama kali.

Seorang perempuan keluar dari pintu samping bangunan di sebelah toko, membawa tas belanja dan berbicara di telepon. Rambutnya sebahu, diikat setengah. Langkahnya cepat tapi tidak tergesa — orang yang terbiasa bergerak efisien, bukan orang yang sedang dikejar sesuatu. Dia berhenti di depan toko untuk memasukkan dompet ke dalam tasnya.

Sedetik, matanya naik dan bertubrukan dengan mata Arkan yang ada di jendela lantai dua.

Dia tidak melanjutkan memasukkan dompet. Tidak langsung melihat ke bawah seperti orang yang tidak sengaja bertatapan. Dia justru mempertahankan kontak mata itu selama dua detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya, dengan ekspresi yang tidak bisa langsung Arkan baca — bukan takut, bukan tertarik, tapi sesuatu di antaranya yang lebih dekat ke waspada.

Lalu dia melanjutkan langkahnya dan menghilang di ujung jalan.

Arkan menarik sedikit dari jendela.

Pak Salim muncul di ambang pintu kamar. "Sudah makan siang?"

"Sudah." Arkan tidak membalik badan. "Perempuan tadi. Yang keluar dari pintu samping."

Pak Salim diam sebentar terlalu lama. "Kenapa?"

"Siapa dia?"

Suara Pak Salim berubah sangat tipis nadanya — tidak banyak orang yang akan menangkap perubahan itu, tapi Arkan bukan orang banyak. "Itu Luna. Anak saya."

Arkan tidak berkata apa-apa.

Pak Salim melanjutkan dengan suara yang kembali terdengar normal, terlalu normal, "Dia sering ke sini bantu-bantu kalau tidak ada kuliah. Jangan terlalu diperhatikan, dia tidak perlu tahu urusan yang lain-lain."

Dia pergi sebelum Arkan sempat menjawab.

Arkan memandangi ujung jalan tempat perempuan bernama Luna itu tadi berjalan dan menghilang. Jalan itu sekarang kosong. Hanya ada pedagang kaki lima yang sedang membereskan dagangannya dan seekor kucing yang melintas tanpa peduli.

Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang diam-diam mulai bergerak — bukan perasaan, bukan ketertarikan, melainkan sebuah firasat kecil yang biasanya tidak pernah salah.

Bahwa perempuan itu akan menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari belanjaan dan panggilan telepon.

Dan bahwa Pak Salim — pria yang berbicara dengan suara yang terlalu terjaga ketika menyebut nama anaknya sendiri — menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari data pergerakan Black Dragon.

Malam itu, ketika kota mulai senyap dan lampu-lampu toko mulai mati satu per satu, Arkan duduk di tepi kasur dengan punggung ke dinding dan mata ke langit-langit.

Satu hari pertama. Identitas baru sudah berjalan. Posisi sudah didapat. Peta awal sudah mulai terbentuk di kepalanya.

Tapi ada satu hal yang terus mengganggu — ucapan Pak Heru tadi malam tentang orang muda yang datang dan seperti sudah tahu tata letak ruangan itu sebelum masuk.

Arkan menutup mata.

Hanya ada dua jenis orang yang bisa tahu tata letak ruangan yang tidak pernah dipublikasikan dan tidak pernah dikunjungi sembarangan.

Orang yang pernah ada di sana sebelumnya.

Atau orang yang mendapat informasi dari seseorang yang pernah ada di sana.

Dan dari seluruh orang yang tahu keberadaan tempat itu, hanya ada empat nama yang Arkan percaya — dan salah satu dari keempat nama itu, tanpa dia tahu yang mana, mungkin bukan lagi orang yang seharusnya dia percaya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play