"The Rooftop"
Orang-orang bilang setiap kota memiliki tempat yang menyimpan cerita.
Bagi kami, tempat itu adalah sebuah rooftop tua di atas gedung kosong yang hampir tidak pernah dikunjungi siapa pun.
Dari sana, kami bisa melihat seluruh kota.
Lampu-lampu jalan yang berkilauan.
Gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit.
Dan malam yang terasa tak pernah berakhir.
Aku berdiri di tepi pagar sambil memandang kota di bawah sana.
Angin malam menerpa wajahku.
Dingin.
Namun entah kenapa selalu terasa nyaman.
"Lo datang duluan lagi."
Aku menoleh.
Noah berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku hoodie hitamnya.
Seperti biasa, senyum lebar sudah terpasang di wajahnya.
"Kebiasaan."
"Atau karena lo nggak punya kerjaan?"
Aku terkekeh.
"Kalau gue nggak punya kerjaan, berarti lo juga."
"No comment."
Noah menjatuhkan dirinya ke lantai beton rooftop.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki lain terdengar dari tangga.
Lucas muncul sambil membawa buku sketsanya.
Di belakangnya ada Adrian yang sibuk melihat layar ponsel.
Dan terakhir Kai yang membawa kantong berisi makanan ringan.
"Lapar."
Kalimat pertama Kai selalu tentang makanan.
"Bisa nggak sih sekali aja lo mikirin hal lain?" tanya Adrian.
"Nggak."
"Jujur banget."
Kai hanya mengangkat bahu.
Kami semua tertawa.
Begitulah kami.
Lima orang yang berbeda.
Tetapi entah bagaimana selalu berakhir di tempat yang sama.
Malam demi malam.
Minggu demi minggu.
Bulan demi bulan.
Rooftop ini telah menjadi rumah kedua bagi kami.
Tempat untuk melarikan diri dari segala sesuatu yang tidak ingin kami hadapi.
Sekolah.
Keluarga.
Masalah.
Atau bahkan diri kami sendiri.
Kai membagikan makanan ringan yang dibawanya.
Noah langsung mengambil paling banyak.
"Rakus."
"Gue lagi masa pertumbuhan."
"Lo udah tujuh belas tahun."
"Masih bisa tumbuh."
"Bukan ke atas."
Tawa kembali memenuhi rooftop.
Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kesedihan.
Tidak ada masa depan yang menakutkan.
Hanya kami berlima.
Dan malam.
"Apa yang bakal kalian lakuin setelah lulus?"
Pertanyaan itu datang dari Lucas.
Kami semua menoleh kepadanya.
Lucas menutup buku sketsanya.
"Random banget."
"Noah, jawab dulu."
Noah berpikir beberapa detik.
"Gue pengen pergi jauh."
"Ke mana?"
"Nggak tahu."
"Jawaban lo nggak membantu."
"Tapi serius."
Senyumnya perlahan memudar.
"Kadang gue cuma pengen pergi dari semuanya."
Tidak ada yang menertawakannya kali ini.
Karena entah kenapa, kami mengerti.
Lebih dari yang ingin kami akui.
Kai menatap langit.
"Aku pengen punya rumah yang selalu ramai."
Lucas tersenyum kecil.
"Aku pengen jadi ilustrator."
Adrian menghela napas.
"Aku cuma pengen hidup tanpa tekanan."
Semua mata kemudian tertuju padaku.
"Ethan?"
Aku memandang lampu kota yang berkelap-kelip.
Lalu tersenyum tipis.
"Aku cuma pengen malam kayak gini nggak pernah berakhir."
Sunyi.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin yang terdengar.
Kemudian Noah tertawa.
"Jawaban paling cheesy malam ini."
"Terserah."
"Tapi gue setuju."
"Same."
"Ya."
"Me too."
Kami berlima menatap kota bersama.
Tidak ada yang menyadari waktu berlalu begitu cepat.
Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidup kami.
Karena saat itu kami masih percaya.
Bahwa persahabatan akan bertahan selamanya.
Bahwa kami akan selalu kembali ke rooftop ini.
Bahwa tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kami.
Kami masih terlalu muda untuk mengerti bahwa hidup tidak bekerja seperti itu.
Dan suatu hari nanti...
Kami akan merindukan malam ini lebih dari apa pun.
Aku tidak tahu kapan semuanya mulai berubah.
Tetapi jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan tinggal sedikit lebih lama di rooftop itu.
Sedikit lebih lama bersama mereka.
Sedikit lebih lama di dunia yang kami sebut...
Midnight World.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments