"The Things we Don't Say"
Pagi hari di Lunaris City selalu terasa berbeda.
Jalanan dipenuhi kendaraan.
Suara klakson terdengar dari segala arah.
Dan orang-orang berjalan terburu-buru seolah takut terlambat mengejar hidup mereka sendiri.
Aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil memperhatikan murid-murid yang masuk satu per satu.
Hari itu terasa biasa.
Terlalu biasa.
Dan mungkin itulah alasan mengapa aku tidak menyadari bahwa semuanya perlahan mulai berubah.
"ETHAN!"
Suara keras membuatku menoleh.
Noah berlari ke arahku sambil membawa tas yang terlihat lebih berat dari biasanya.
"Kenapa lari-lari?"
"Karena gue bangun telat."
"Lagi?"
"Lagi."
Aku menggeleng pelan.
"Noah, suatu hari lo bakal telat buat kelulusan."
"Kalau itu terjadi, tolong videoin."
Aku tertawa.
Beberapa detik kemudian Lucas datang dengan buku sketsa kesayangannya.
Di belakangnya ada Adrian yang sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Kai muncul terakhir sambil membawa roti.
"Tebak."
"Apa?"
"Aku belum sarapan."
"Tentu saja."
Kai tersenyum bangga.
"Makanya aku beli dua."
"Kapan lo nggak mikirin makanan?"
"Nggak pernah."
Kami berjalan menuju kelas bersama.
Seperti biasanya.
Seperti setiap hari.
Dan seperti yang selalu kami pikir akan terus terjadi.
Jam pelajaran pertama berlangsung membosankan.
Guru matematika menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak ingin kudengar.
Aku menatap keluar jendela.
Langit hari itu berwarna abu-abu.
Seperti akan hujan.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi suasana hari itu terasa aneh.
Seolah ada sesuatu yang tidak beres.
Saat istirahat tiba, kami berkumpul di kantin.
Noah langsung mengambil kursi paling nyaman.
"Aku resmi menyatakan tempat ini milikku."
"Itu kursi kantin."
"Sekarang milikku."
Lucas menghela napas.
Kai mulai membuka bekal.
Adrian masih sibuk dengan ponselnya.
Aku memperhatikan mereka satu per satu.
Lalu menyadari sesuatu.
Kami tertawa bersama.
Bercanda bersama.
Tetapi masing-masing dari kami terlihat sedang memikirkan hal lain.
Hal yang tidak pernah kami ceritakan.
Hal yang kami simpan sendiri.
---
Sepulang sekolah, hujan turun cukup deras.
Sebagian murid langsung pulang.
Sebagian memilih menunggu.
Aku berdiri di bawah atap koridor bersama Noah.
Ia memperhatikan hujan tanpa berkata apa-apa.
Jarang sekali Noah diam.
Karena itu aku langsung menyadarinya.
"Ada apa?"
"Hm?"
"Lo kelihatan nggak seperti biasanya."
Noah tersenyum.
Tetapi kali ini senyumnya terasa berbeda.
"Nggak ada."
"Kita temenan udah lama."
"Dan?"
"Gue tahu kalau lo bohong."
Noah tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian ia kembali melihat hujan.
"Kadang gue iri sama orang lain."
Aku mengernyit.
"Iri kenapa?"
"Mereka punya rumah yang bikin mereka pengen pulang."
Aku terdiam.
Noah tidak melanjutkan.
Dan aku tidak bertanya lagi.
Karena ada beberapa hal yang lebih baik dibiarkan sampai seseorang siap mengatakannya sendiri.
Malam harinya kami kembali ke rooftop.
Tempat yang selalu menjadi pelarian kami.
Angin malam bertiup pelan.
Lampu kota bersinar seperti lautan bintang.
Kai duduk sambil memakan camilan.
Lucas menggambar.
Adrian menatap langit.
Noah bersandar pada pagar.
Dan aku duduk di tengah mereka.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Sampai Kai tiba-tiba bertanya.
"Menurut kalian..."
"Hm?"
"Apa kita bakal tetap kayak gini lima tahun lagi?"
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya...
Kami menyadari bahwa masa depan mungkin tidak sesederhana yang kami bayangkan.
Noah tersenyum kecil.
"Aku harap begitu."
Lucas mengangguk.
"Aku juga."
"Same," kata Adrian.
Kai tersenyum lega.
Aku menatap mereka.
Satu per satu.
Lalu melihat kota di depan kami.
Saat itu aku benar-benar percaya.
Bahwa kami akan tetap bersama.
Bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kami.
Bahwa Midnight World akan selalu menjadi milik kami.
Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti...
Kenangan malam itu akan menjadi salah satu hal yang paling kurindukan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments