"Ordinary Days"
Jika seseorang bertanya apa kenangan terbaik dalam hidupku, aku mungkin tidak akan menjawab hari kelulusan.
Bukan juga ulang tahun.
Atau pencapaian terbesar yang pernah kuraih.
Aku akan menjawab hari-hari biasa.
Hari-hari yang saat itu terasa tidak penting.
Hari-hari yang kami lalui tanpa berpikir bahwa suatu saat nanti semuanya akan berakhir.
Hari-hari seperti ini.
Pagi itu, alarmku berbunyi pukul enam.
Aku mematikannya.
Lima menit kemudian berbunyi lagi.
Aku mematikannya lagi.
Sepuluh menit kemudian...
"ETHAN!"
Suara ibuku terdengar dari luar kamar.
Aku langsung bangun.
"AKU BANGUN!"
"Kamu bilang begitu sepuluh menit lalu!"
Aku melihat jam.
06.47.
"Astaga."
Aku hampir terlambat.
Setelah bersiap secepat mungkin, aku berlari menuju halte bus.
Untung saja bus belum datang.
Sayangnya...
Noah sudah ada di sana.
Dan dia sedang tertawa.
"Kok ketawa?"
"Rambut lo."
Aku langsung merapikannya.
Noah tertawa semakin keras.
"Diam."
"Gue bahkan belum ngomong apa-apa."
"Itu lebih parah."
Kami naik bus bersama.
Dan seperti biasa, Noah tidak bisa diam selama lebih dari tiga puluh detik.
"Kalau sekolah kebakaran hari ini gimana?"
"Itu bukan hal yang normal buat dipikirin pagi-pagi."
"Kalau tiba-tiba ada zombie?"
"Noah."
"Kalau alien datang?"
"Noah."
"Kalau—"
"Noah."
"Oke."
Lima detik kemudian.
"Kalau—"
Aku menatapnya.
Dia tertawa.
Saat sampai di sekolah, Lucas sudah duduk di bangkunya sambil menggambar.
Seperti biasa.
Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat Lucas tanpa buku sketsanya.
"Apa yang lo gambar?"
Lucas menutup bukunya.
"Nggak ada."
"Itu jelas gambar sesuatu."
"Nggak penting."
Noah muncul dari belakang.
"Dia malu nunjukkin hasil gambarnya."
"Aku tidak malu."
"Dia malu."
"Aku tidak malu."
"Dia malu."
Lucas melempar penghapus ke arah Noah.
Dan tentu saja meleset.
"Refleks lo jelek."
"Diam."
Pelajaran berlangsung membosankan.
Sangat membosankan.
Bahkan Adrian yang biasanya fokus terlihat bosan.
Guru terus menjelaskan materi di depan kelas.
Sementara pikiranku sudah berada di tempat lain.
Di rooftop.
Entah kenapa, aku selalu menantikan malam.
Bukan karena aku membenci siang.
Tetapi karena malam berarti kami bisa berkumpul.
Malam berarti tidak ada tugas.
Tidak ada ujian.
Tidak ada tekanan.
Hanya kami berlima.
Dan kota yang menyala di bawah langit gelap.
Saat istirahat, kami berkumpul di kantin.
Kai datang dengan tiga kantong makanan.
"Kenapa banyak banget?"
"Aku lapar."
"Itu untuk satu minggu."
"Aku lapar satu minggu."
Noah mengangguk setuju.
"Aku suka cara dia berpikir."
"Kalian berdua nggak normal."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
Kai mulai membagikan makanan.
Lucas menerima.
Adrian menerima.
Aku menerima.
Noah mengambil dua.
"Balikin."
"Nggak."
"NOAH."
"Nggak."
Kami tertawa lagi.
Mungkin terlihat seperti hal kecil.
Tetapi saat itu aku merasa bahagia.
Sangat bahagia.
Sepulang sekolah, kami memutuskan pergi ke Starlight Park.
Sudah lama kami tidak ke sana.
Taman itu tidak terlalu ramai.
Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain dan beberapa orang yang sedang berjalan santai.
Kami duduk di bawah pohon besar.
Tempat favorit kami sejak dulu.
Noah berbaring di rumput.
Kai sibuk makan.
Lucas menggambar.
Adrian membaca buku.
Dan aku hanya memperhatikan mereka.
"Apa?" tanya Noah.
"Hm?"
"Lo dari tadi ngeliatin kita."
"Nggak."
"Iya."
"Nggak."
"Iya."
Aku menyerah.
"Oke."
"Tuh kan."
Aku tersenyum kecil.
"Aku cuma mikir."
"Mikir apa?"
Aku melihat mereka satu per satu.
Lalu berkata pelan.
"Aku harap kita tetap kayak gini."
Mereka terdiam.
Tidak lama.
Hanya beberapa detik.
Tetapi cukup untuk membuat suasana berubah.
Noah duduk.
Lucas berhenti menggambar.
Kai berhenti makan.
Yang itu cukup mengejutkan.
Bahkan Adrian mengalihkan pandangan dari bukunya.
"Aneh banget tiba-tiba ngomong begitu."
"Mungkin."
"Tapi gue setuju."
Lucas mengangguk.
"Aku juga."
Kai tersenyum.
"Kalau bisa selamanya."
Aku tertawa kecil.
"Selamanya?"
"Kenapa nggak?"
Adrian memandang langit sore.
"Karena hidup nggak sesederhana itu."
Kalimat itu membuat kami semua diam.
Karena untuk pertama kalinya...
Kami menyadari bahwa suatu hari nanti kami akan tumbuh dewasa.
Lulus sekolah.
Pergi ke tempat berbeda.
Menjalani hidup masing-masing.
Namun tidak ada yang ingin memikirkan itu sekarang.
Belum.
Malam tiba.
Dan seperti biasa, kami kembali ke rooftop.
Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Lampu-lampu kota menyala terang.
Langit dipenuhi awan tipis.
Kami duduk berjajar di tepi rooftop.
Memandang kota yang seolah tidak pernah tidur.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.
Sampai Noah tiba-tiba berkata,
"Promise me."
Kami menoleh.
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti kita sibuk..."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti kita tinggal di kota yang berbeda..."
Ia menatap kami satu per satu.
"Kalau suatu hari nanti hidup berubah..."
Lalu tersenyum.
"Jangan lupa sama tempat ini."
Aku melihat rooftop tua itu.
Tempat yang sudah menyimpan begitu banyak cerita kami.
Lucas tersenyum kecil.
"Aku janji."
Kai mengangguk.
"Aku juga."
Adrian menatap kota di depan kami.
"Lagi pula, tempat ini terlalu jelek untuk dilupakan."
"Tuh kan, dia merusak momen lagi."
Kami tertawa.
Dan malam itu berakhir seperti biasanya.
Dengan tawa.
Dengan mimpi.
Dengan janji-janji yang terdengar begitu mudah untuk ditepati.
Kami tidak tahu bahwa suatu hari nanti...
Janji itu akan menjadi hal yang paling sulit untuk dipertahankan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments