bab 4

"Hidden Scars"

Ada luka yang bisa dilihat.

Dan ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Aku baru memahami itu setelah ayahku meninggal.

Hari itu adalah hari Jumat.

Langit Lunaris City dipenuhi awan kelabu sejak pagi.

Aku berdiri di depan cermin kamar sambil merapikan seragam.

Di atas meja terdapat sebuah foto lama.

Foto yang sudah berada di sana selama bertahun-tahun.

Aku mengambilnya.

Seperti yang selalu kulakukan setiap pagi.

Dalam foto itu ada tiga orang.

Ibuku.

Ayahku.

Dan aku yang saat itu masih berusia delapan tahun.

Kami semua tersenyum.

Saat itu hidup terasa sederhana.

Saat itu aku masih percaya bahwa orang-orang yang kita cintai akan selalu ada.

Namun hidup tidak pernah bertanya apakah kita siap kehilangan seseorang.

Pintu kamarku diketuk pelan.

"Ethan?"

Suara ibuku terdengar dari luar.

"Aku masuk ya."

Aku segera meletakkan foto itu kembali.

Ibuku masuk sambil membawa secangkir teh hangat.

"Kamu melamun lagi?"

Aku tersenyum kecil.

"Sedikit."

Pandangannya jatuh pada foto di meja.

Ekspresinya langsung berubah lembut.

Hari ini adalah tanggal yang sama.

Tanggal ketika ayah meninggal sembilan tahun lalu.

Aku dan ibu tidak pernah benar-benar membicarakannya.

Tetapi kami selalu mengingatnya.

"Ayahmu pasti bangga melihatmu sekarang."

Aku menunduk.

Kalimat itu selalu membuat dadaku terasa berat.

Karena sejujurnya...

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu apakah aku sudah menjadi seseorang yang bisa membuatnya bangga.

Di sekolah, semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Noah tetap berisik.

Kai tetap lapar.

Lucas tetap membawa buku sketsanya.

Dan Adrian tetap terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.

Namun entah kenapa...

Hari itu aku sulit fokus.

Saat jam istirahat, kami duduk di kantin seperti biasa.

Noah sedang bercerita tentang sesuatu yang terjadi di internet.

Kai sedang makan.

Tentu saja.

Sementara Lucas menggambar sesuatu di buku sketsanya.

"Apa yang lo gambar?"

Lucas langsung menutup bukunya.

"No."

"Kenapa?"

"No."

"Itu bukan jawaban."

"No."

Kami semua tertawa.

Untuk sesaat aku merasa lebih baik.

Namun perasaan itu tidak bertahan lama.

Karena saat aku melihat ke luar jendela kantin...

Aku melihat seorang ayah sedang menjemput anaknya.

Hal sederhana.

Sangat sederhana.

Tetapi cukup untuk membuat dadaku kembali terasa sesak.

Sepulang sekolah, hujan turun deras.

Aku memutuskan berjalan sendirian sebelum pergi ke rooftop.

Aku tidak tahu kenapa.

Aku hanya ingin sendiri.

Mungkin karena hari ini.

Mungkin karena kenangan.

Mungkin karena aku lelah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku berhenti di sebuah taman kecil.

Duduk di bangku yang mulai basah karena hujan.

Lalu memandang langit.

"Ayah..."

Aku tertawa kecil.

Merasa bodoh karena mengucapkannya keras-keras.

Sudah sembilan tahun.

Namun terkadang rasanya seperti kemarin.

Aku masih bisa mengingat suaranya.

Tawanya.

Cara ia mengacak rambutku.

Tetapi setiap tahun...

Kenangan itu terasa semakin samar.

Dan itu yang paling menakutkan.

Bukan kehilangan.

Melainkan perlahan melupakan.

Saat malam tiba, aku akhirnya pergi ke rooftop.

Begitu membuka pintu, aku melihat mereka sudah ada di sana.

Noah.

Lucas.

Kai.

Adrian.

Mereka menoleh bersamaan.

"Telat."

"Maaf."

"Lo nggak pernah minta maaf."

"Makanya spesial."

Noah menyipitkan mata.

"Kenapa?"

"Hm?"

"Lo kelihatan sedih."

Aku terdiam.

Noah memang selalu bisa membaca ekspresi orang.

Terlalu baik bahkan.

"Nggak apa-apa."

"Bohong."

"Bohong," kata Kai.

"Bohong," tambah Lucas.

"Bohong," ujar Adrian.

Aku menatap mereka.

Lalu tertawa pelan.

"Kalian kompak banget."

"Soalnya jelas."

Aku menghela napas.

Lalu duduk di antara mereka.

"Hari ini..."

Aku berhenti.

Tidak yakin apakah ingin melanjutkan.

Tetapi mereka menunggu.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...

Aku memutuskan untuk jujur.

"Hari ini hari meninggal ayahku."

Sunyi.

Tidak ada yang langsung bicara.

Tidak ada yang memaksaku tersenyum.

Tidak ada yang mencoba mengubah topik.

Mereka hanya diam.

Dan entah kenapa...

Itu jauh lebih menenangkan.

Kai akhirnya berbicara pelan.

"Aku yakin dia bangga sama kamu."

Lucas mengangguk.

"Sangat bangga."

Noah menatapku.

"Lihat kita."

"Hm?"

"Kita semua masih hidup sampai sekarang karena lo."

Aku mengernyit.

"Apa maksud lo?"

"Lo selalu ada kalau kita butuh bantuan."

Lucas mengangguk.

Kai juga.

Bahkan Adrian.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Aku tersenyum tulus.

Mungkin luka itu tidak akan pernah hilang.

Mungkin kehilangan akan selalu menyakitkan.

Tetapi malam itu aku menyadari satu hal.

Aku tidak sendirian.

Karena sekarang...

Aku punya mereka.

Dan untuk saat itu, itu sudah cukup.

Namun tidak ada satu pun dari kami yang tahu.

Bahwa beberapa minggu ke depan...

Luka yang jauh lebih besar sedang menunggu.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play