Aruna berdiri beberapa detik di tempatnya, memperhatikan punggung Kai yang semakin jauh hingga menghilang di balik keramaian koridor. Entah kenapa, ia merasa pertemuan itu berlangsung terlalu cepat. Padahal mereka hanya saling bertukar nama dan beberapa kalimat singkat.
"Run!"
Suara Naya membuat Aruna kembali tersadar.
"Kamu masih bengong aja. Ayo, nanti kantinnya penuh."
"Iya, iya."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju kantin. Di sepanjang jalan, Naya tak berhenti melirik Aruna dengan senyum jahil.
"Jadi... namanya Kai?"
Aruna menoleh cepat.
"Kok kamu tahu?"
"Tadi aku denger."
"Oh..."
"Hmm... lumayan juga."
"Maksudnya?"
"Ya... lumayan ganteng."
Aruna spontan memutar bola matanya.
"Apaan, sih."
Naya tertawa kecil.
"Tenang aja. Aku nggak ngambil kok."
Aruna hanya menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tahu kenapa wajahnya terasa hangat setiap kali nama itu disebut.
Setibanya di kantin, mereka memilih meja yang berada di dekat jendela. Dari sana, lapangan basket sekolah terlihat jelas. Beberapa siswa sedang bermain sambil disoraki teman-temannya.
"Aku beli makan dulu, ya," ucap Naya.
"Hm."
Aruna mengangguk pelan.
Sambil menunggu sahabatnya kembali, ia memandang ke arah lapangan tanpa tujuan. Namun tanpa sengaja, pandangannya berhenti pada seseorang yang berdiri di pinggir lapangan.
Kai.
Laki-laki itu sedang berbicara dengan beberapa siswa lain yang mengenakan lencana OSIS. Sesekali ia tertawa kecil mendengar candaan teman-temannya.
Tanpa sadar, Aruna memperhatikan sosok itu lebih lama dari yang seharusnya.
"Run."
Suara Naya terdengar tepat di samping telinganya.
Aruna tersentak.
"Kaget, tahu."
Naya meletakkan semangkuk bakso di atas meja.
"Dari tadi ngelihatin siapa?"
"Nggak ngelihatin siapa-siapa."
"Oh ya?"
Naya mengikuti arah pandangan Aruna, lalu tersenyum penuh arti.
"Itu, kan?"
Aruna langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku cuma kebetulan lihat."
"Hmm... kebetulan."
Aruna mendesah pelan. Ia tahu sahabatnya tidak akan berhenti menggoda.
"Udah, makan aja."
"Oke, Bu Aruna."
Mereka pun mulai makan sambil membicarakan tugas sekolah. Obrolan ringan itu perlahan membuat Aruna melupakan rasa gugupnya.
Bel masuk kembali berbunyi.
Seluruh siswa beranjak meninggalkan kantin.
Saat Aruna dan Naya hampir tiba di depan kelas, terdengar seseorang memanggil dari belakang.
"Aruna!"
Keduanya menoleh bersamaan.
Kai berlari kecil menghampiri sambil membawa sebuah buku catatan berwarna biru.
"Kamu tadi ketinggalan ini."
Mata Aruna membulat.
"Itu... bukuku."
"Tadi jatuh waktu kita tabrakan. Baru sadar pas aku mau masuk kelas."
Aruna menerima buku itu dengan kedua tangan.
"Untung kamu nemuin. Aku bahkan nggak sadar kalau buku ini hilang."
Kai tersenyum tipis.
"Lain kali jangan buru-buru."
"Iya."
Untuk beberapa saat, tak ada satu pun yang berbicara. Angin yang berembus pelan membuat suasana terasa sedikit canggung.
"Oke... aku balik ke kelas dulu."
"Terima kasih, Kai."
"Sama-sama."
Kai mengangkat tangan kecil sebagai salam sebelum berbalik pergi.
Aruna memandangi buku catatan yang kini kembali berada di tangannya. Di sudut sampulnya tertulis namanya dengan tinta hitam.
Entah mengapa, senyum kecil tanpa sadar terlukis di wajahnya.
Ia sama sekali belum mengenal Kai.
Namun, pertemuan yang awalnya terasa seperti kebetulan itu mulai menimbulkan rasa penasaran yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Aruna menarik napas pelan sebelum melangkah memasuki kelas. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu pertemuan hari itu akan menjadi awal dari kisah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments