BAB 3 : Senja dan sebuah senyuman

Pelajaran sore berlangsung lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kelas perlahan berubah menjadi jingga, menciptakan bayangan panjang di lantai. Suasana yang hangat itu justru membuat Aruna sulit berkonsentrasi.

Beberapa kali ia membuka buku catatan berwarna biru yang tadi dikembalikan Kai. Tidak ada yang berubah dari buku itu, tetapi entah mengapa, setiap melihat sampulnya, ia kembali mengingat senyum laki-laki tersebut.

"Run."

Naya berbisik pelan.

"Hm?"

"Kamu yakin nggak kenapa-kenapa?"

Aruna mengangguk cepat.

"Nggak kok."

"Tapi dari tadi kamu senyum sendiri."

Mendengar itu, Aruna spontan menyentuh sudut bibirnya.

"Emang iya?"

"Iya."

Aruna buru-buru menundukkan kepala sambil berpura-pura membaca buku. Naya hanya tertawa pelan melihat tingkah sahabatnya.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara riuh siswa memenuhi lorong sekolah. Sebagian langsung menuju gerbang, sebagian lagi berkumpul di lapangan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

"Run, aku duluan ya!" seru Naya.

"Hati-hati!"

"Kamu juga."

Aruna melangkah sendirian menuju halte bus sekolah. Angin sore bertiup lembut, membuat beberapa helai rambutnya terurai dari ikatan.

Saat melewati taman sekolah, langkahnya tanpa sengaja melambat.

Di bangku kayu dekat taman, seseorang sedang duduk sambil membaca buku.

Kai.

Laki-laki itu tampak begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Aruna.

Aruna sempat ragu.

Haruskah ia menyapa?

Atau lebih baik langsung pergi?

Belum sempat memutuskan, Kai lebih dulu mengangkat wajahnya.

Tatapan mereka kembali bertemu.

"Hai," ucap Kai sambil menutup bukunya.

"Hai."

"Kamu belum pulang?"

"Nunggu bus."

"Oh, sama. Aku juga."

Aruna menunjuk buku yang dipegang Kai.

"Kamu suka baca di taman?"

Kai mengangguk.

"Di sini lebih tenang."

"Aku juga suka tempat yang tenang."

Kai tersenyum tipis.

"Berarti kita punya satu kesamaan."

Aruna ikut tersenyum.

Untuk beberapa saat, mereka berbincang ringan. Tentang pelajaran yang paling disukai, guru yang paling ramah, hingga makanan favorit di kantin sekolah.

Obrolan sederhana itu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.

Tak lama kemudian, suara mesin bus sekolah terdengar dari kejauhan.

"Itu busmu?" tanya Kai.

"Iya."

Kai berdiri lebih dulu.

"Ayo."

Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang.

Sesampainya di depan bus, Aruna menghentikan langkahnya.

"Terima kasih ya... buat bukunya."

Kai menggeleng pelan.

"Nggak perlu berterima kasih berkali-kali."

"Tetap aja."

Kai tersenyum hangat.

"Semoga besok kita nggak tabrakan lagi."

Aruna tertawa kecil.

"Kalau tabrakan lagi gimana?"

Kai berpikir sejenak, lalu menjawab sambil tersenyum jahil.

"Berarti memang takdir."

Ucapan itu membuat Aruna terdiam sesaat.

Pipi gadis itu kembali memanas.

Sebelum sempat membalas, sopir bus memanggil seluruh siswa agar segera naik.

"Aruna! Cepat!"

"Iya!"

Aruna buru-buru menaiki bus.

Saat duduk di dekat jendela, ia kembali menoleh ke luar.

Kai masih berdiri di depan gerbang.

Laki-laki itu mengangkat tangannya pelan, mengucapkan selamat jalan tanpa suara.

Aruna membalas lambaian itu dengan senyum kecil.

Bus mulai bergerak meninggalkan sekolah.

Di sepanjang perjalanan pulang, Aruna memandangi langit sore yang perlahan berubah menjadi jingga kemerahan.

Ia tidak menyangka, hari yang awalnya terasa begitu biasa justru menghadirkan seseorang yang terus memenuhi pikirannya.

Namun, Aruna belum mengetahui satu kenyataan penting.

Pertemuan hari itu bukanlah awal dari kisah cinta yang mudah.

Justru sejak hari itulah, takdir mulai mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengajarkan arti mencintai... sekaligus arti melepaskan.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play