Batas Yang Tak Pernah Ku Pilih

Batas Yang Tak Pernah Ku Pilih

BAB 1: Pertemuan yang tak direncanakan

Mentari pagi baru saja muncul di balik deretan gedung kota ketika suara alarm membangunkan Aruna. Gadis berusia enam belas tahun itu mengerjapkan mata perlahan sebelum meraih ponselnya yang terus bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur.

06.00.

"Astaga... telat lagi."

Aruna buru-buru bangkit. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang masih berantakan. Ia mengikatnya asal dengan karet rambut, lalu berlari menuju kamar mandi.

Di lantai bawah, aroma nasi goreng buatan ibunya memenuhi rumah.

"Aruna! Cepat turun! Nanti ketinggalan bus!" teriak sang ibu dari dapur.

"Iya, Bu!"

Beberapa menit kemudian, Aruna sudah duduk di meja makan dengan seragam putih abu-abunya yang masih tampak sedikit kusut karena terburu-buru.

"Kamu tidur larut lagi?" tanya ibunya sambil menuangkan segelas susu.

Aruna hanya tersenyum kecil.

"Ngerjain tugas Bahasa Indonesia."

Ibunya menghela napas.

"Jangan terlalu dipaksakan. Nilai memang penting, tapi kesehatan juga."

"Iya, Bu."

Aruna mengangguk. Ia memang terbiasa menyimpan banyak hal sendiri. Bagi teman-temannya, Aruna adalah siswi yang selalu ceria, mudah tersenyum, dan jarang mengeluh. Padahal di balik semua itu, ia sering memikirkan banyak hal.

Mulai dari nilai sekolah, harapan kedua orang tuanya, hingga masa depan yang masih terasa begitu jauh.

Setelah berpamitan, Aruna segera menaiki bus sekolah yang sudah menunggu di ujung jalan.

Hari itu tampak seperti hari biasa.

Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya... sampai bel istirahat pertama berbunyi.

Koridor SMA Bintang Harapan dipenuhi suara siswa yang berlarian keluar kelas.

Ada yang menuju kantin.

Ada yang bermain basket.

Ada juga yang memilih pergi ke perpustakaan.

Aruna termasuk yang terakhir.

Ia membawa tiga buku yang harus dikembalikan hari itu. Sambil berjalan cepat, matanya sibuk membaca pesan dari sahabatnya, Naya.

Naya Run, nanti ke kantin ya! Aku lapar banget!

Aruna tertawa kecil.

Aruna Sebentar. Balikin buku dulu.

Tanpa sadar, langkahnya semakin cepat.

Bruk!

Seseorang menabraknya tepat di tikungan koridor.

Buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan hingga memenuhi lantai.

"Aduh..."

Aruna memejamkan mata sejenak.

"Maaf! Aku benar-benar nggak lihat!"

Suara laki-laki itu terdengar panik.

Aruna membuka mata perlahan.

Seorang siswa laki-laki sudah berjongkok lebih dulu, memunguti buku-buku yang berserakan.

"Ini bukunya..."

Tangannya menyodorkan sebuah novel yang tadi jatuh.

"Maaf ya. Aku buru-buru."

Aruna menerima buku itu sambil tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa."

Saat keduanya sama-sama hendak mengambil buku terakhir, tangan mereka hampir bersentuhan.

Aruna refleks menarik tangannya.

Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil.

Senyuman yang sederhana.

Namun entah kenapa terasa begitu hangat.

"Aku Kai."

Laki-laki itu mengulurkan tangan.

Aruna menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membalas uluran tersebut.

"Aruna."

"Senang kenal kamu."

"Senang kenal juga."

Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam.

Suasana koridor yang tadinya ramai mendadak terasa sunyi di telinga Aruna.

Entah kenapa.

Ada sesuatu dari tatapan Kai yang sulit dijelaskan.

Tatapannya tenang.

Tidak berlebihan.

Tetapi cukup membuat Aruna merasa gugup.

"Oke... aku duluan ya. Sekali lagi maaf."

Kai melangkah pergi.

Namun baru beberapa langkah, ia berbalik.

"Oh iya."

Aruna menoleh.

"Kamu lupa satu buku."

Kai mengangkat sebuah buku kecil berwarna biru yang ternyata masih tertinggal di dekat kakinya.

Aruna menepuk dahinya pelan.

"Astaga... makasih."

"Sama-sama."

Kai tersenyum sekali lagi sebelum benar-benar menghilang di balik keramaian koridor.

Aruna memperhatikan punggungnya hingga tak terlihat lagi.

"Run!"

Suara Naya membuat Aruna tersentak.

Naya datang sambil membawa dua gelas es teh.

"Kamu ngapain bengong?"

"Hah? Nggak..."

"Tadi ngobrol sama siapa?"

Aruna menggeleng.

"Nggak kenal."

Naya menyipitkan mata.

"Serius?"

"Iya."

"Tapi kok mukamu merah?"

Aruna spontan menyentuh pipinya sendiri.

"Hah? Merah?"

Naya tertawa puas.

"Wah... baru ketabrak aja udah salah tingkah."

"Apaan sih!"

Aruna memukul pelan bahu sahabatnya.

Mereka pun berjalan menuju kantin tanpa menyadari bahwa pertemuan singkat beberapa menit yang lalu...

Akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka selamanya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play