sekolah

huft huft huft

Nia seolah merasa nafasnya terhenti. Dengan peluh bercucuran akhirnya Nia bisa melewati gerbang sekolah. Waktu menunjukkan pukul 06.59 saat Nia melewati gerbang sekolah itu tandanya semenit dia terlambat, gerbang pasti sudah akan ditutup.

alhmdulillah, untung aja. ucap Nia dalam hati.

telat semenit aja pasti aku sudah gak bisa lewatin gerbang kesekolah. tapi gak apa apalah yang penting nenek nenek tadi selamat. Fikir Nia dalam hati.

"Vania"Menepuk bahu Nia

Panggilan untuk dirinya sontak mengagetkan Nia yang tengah mengembalikan lagi sendatan nafas yang seakan tertinggal dijalanan.

" Kamu Sis. Duh kebiasaan ya, selalu aja ngagetin aku" Menarik nafas panjang.

Siska adalah satu satu nya teman Nia di sekolah ini . Siska merupakan anak pemilik salah satu pabrik didaerah kota. Kehidupan Siska berbanding terbalik dengan Vania. Siska terlahir dikeluarga yang tergolong mampu di Sekolah. Namun tak sama dengan anak anak yang lainnya Siska tidak membeda bedakan kehidupan antar teman . Siska anak yang baik, yang mau berteman bukan hanya karena materi. Meski kadang teman teman Siska melarangnya berteman dengan Vania tapi dia tak pernah menghiraukannya . Bagi Siska semua orang sama. Nia anak yang baik dan cerdas. Tak ada yang salah Nia bisa bersekolah di sini fikirnya.

"tumben banget kamu Van jam segini baru dateng" panggilan akrab Siska kepada Vania.

" iyha Sis tadi tuh dijalan aku ketemu sama nenek nenek gitu. Si nenek mau nyebrang lama banget gak bisa bisa, soalnya kamu tau kan kendaraan kalo jam jam segini pasti rame banget. Akhirnya aku milih turun bantuin beliau dulu. Hampir aja deh akunya telat kesekolah" turun dari sepeda sambil tetap memegangi sepedanya.

"owh" jawab siska asal.

" udah yu buruan kekelas" menggandeng tangan kiri Vania

" lha ini gimana? menggoyangkan sepeda tuanya yang jelas jelas belum terparkir.

"kamu masuk dulu aja Sis nanti aku nyusul, aku taruh sepeda ini dulu disana" menunjukkan tempat dimana biasanya Vania memarkir sepeda tuanya.

Disekolah hanya Vania saja siswi yang mengendarai sepeda. Sepeda Vania pun terparkir jauh dipojok parkiran paling belakang diantara banyaknya sepedah motor milik siswa siswi lain. Yang jelas untuk pengendara mobil sudah pasti tersedia parkiran tersendiri.

Vania berlari menuju kekelasnya setelah selesai memarkirkan sepeda.karena waktu sudah menunjukkan 07.05 menandakan bahwa 10 menit lagi pelajaran akan segera dimulai.

"Brugggh"

"aduh aduh maaf" tanpa melihat siapa yang telah ditabraknya Vania bergegas mengumpulkan kertas yang sudah berserakan dilantai teras akibat benturan keduanya.

deg

oh Tuhan, kenapa dia ? seakan Vania tak rela memalingkan pandangan pada sosok yang ada didepannya. Lama mereka saling bertatapan satu sama lain. Saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Will buruan" suara dari kejauhan mengembalikan kesadaran masing masing.

"ok ok" sahutnya.

"im sorry" dengan suara lembut dia meninggalkan Vania yang masih saja mematung.

Boy William Atdmaja, sering dipanggil dengan Will oleh temannya, tapi dirumah keluarga mereka lebih sering memanggilnya dengan Boy. Ya dia seorang pria yang sangat tampan. Badan yang modeling dengan gaya rambut yang super duper ok , sudah pasti William adalah idola diSekolahnya. Yang pasti tak hanya kepintaran yang dia miliki tapi juga kekayaan keluarga Will yang turun temurun yang mungkin tak akan ada habisnya.

Will adalah seorang pria yang dingin terhadap wanita yang tak pernah ada yang tau dia suka perempuan atau suka laki laki. Ih ngeri kan. Ya kan saking dinginnya ya thor ya hhhh.

teeet teeet bel Sekolah berbunyi menandakan bahwa sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Vania bergegas menuju kedalam kelasnya.

"hei Van lama banget ? what happen ?"

tanya Siska didalam kelas melihat Vania yang sudah ditunggu tunggunya.

" gak ada apa apa Sis" Vania menjawab Siska dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar.

Dia masih mengingat kejadian diteras, mengingat tatapan yang misterius, tatapan yang sulit diartikan, tatapan seseorang yang diam diam dia idolakan selama ini . selama Nia bersekolah disini. Tanpa sadar senyum Nia pun mengembang dengan manisnya.

" Eh Van kamu kenapa sih ? Senyum senyum sendiri. Awas tuh ada setan lewat ntar kepincut lo" menggerak gerakkan tangan didepan wajah Nia.

Nia tergidig dari lamunan indahnya " e enggak Sis gak ada apa apa" tersenyum melihat Siska.

Tak lama mereka bercakap cakap hingga akhirnya pelajaran dimulai. Pelajaran matematika pada jam pertama hari itu, Salah satu pelajaran kesukaan Nia. Nia Memang ahlinya dalam bidang apapun, dalam pelajaran apapun . Maklum saja jika Nia selalu menjadi juara dikelasnya.

ting ting ting ting

Tak terasa jam istirahatpun telah tiba.

" Van ngantin yuk. Tadi aku gak sempet sarapan dirumah" rengek Siska.

" Tapi Sis" belum sempat Nia ngomong siska sudah menarik tangannya.

"ah gak usah tapi tapian ah" tak menghiraukan apa kata Nia.

" Tadi aku sudah sarapan Sis sama Ibu" berusaha menolak Siska.

" ya sekedar temani aku makan lah . emang kamu gak haus? ntar aku traktir jus jambu kesukaan kamu , ok ? terus menggandeng tangan Nia menuju kantin Sekolah.

" Hei Sis" suara tiba tiba yang mengagetkan Siska dan Vania yang tengah asyik bercerita. Seketika menoleh ke sumber suara.

"sadar dong ! Kapan sih kamu itu bakalan nyadar ? hah ? Cari temen tu yang selevel kayak kita kita gak seperti dia " menapat tajam Vania dengan penuh kebencian.

disambut suara tawa dari genknya.

" kamu tuh yang gak pantas aku jadiin temen. kamu selalu ngandelin uang papa mama kamu untuk segalanya! Coba saja kalo kamu bukan anak orang kaya . Pasti kamu yang gak akan pernah bisa sekolah disini. Dasar b*d*h"

bentak Siska kepada Alexa yang tak ingin jika ada anak lain yang menghina Nia.

Akhirnya pertikaian antara dua orang siswi pun tak terelakkan .Saling hina satu sama lain, saling jambak satu sama lain hingga baju seragam merekapun tak berbentuk lagi.

Apalah daya Vania yang terus berusaha melerai mereka tapi tak akan pernah ada gunanya.

Alexa seorang gadis yang lumayan cantik. Memiliki rambut panjang berbadan langsing, tinggi, berkulit putih serta terlahir dari keluarga yang juga kaya, tapi belum sebanding dengan kekayaan William. Hanya saja satu yang tak dia punya . Kecerdasan Alexa tak sebanding dengan siswa siswi lainnya. hanya karena uang saja hingga akhirnya dia bisa masuk di Sekolah itu.

Alexa termasuk salah satu siswi yang mengidolakan Will. Tak hanya mengidolakan tapi tak hanya satu kali saja dia ditolak oleh seorang pria ,William tepatnya. Namun seakan tak ada malu dan tak ada hentinya dia terus dan terus mengejar Will.

" Hei kalian ! Stop it now. Kenapa kalian selalu berkelahi?!Gak malu apa sama diri kalian masing masing. Kalian tu cewe , tau gak sih! Harusnya kalian bisa jaga sendiri image kalian masing masing"berteriak dengan penuh kesal

"Dia yang mulai kak" menunjuk kearah Siska

"Dia" balik menunjuk Alexa

" udah udah stop aku bilang" kembali kesal

sambil membanting kedua tangannya keudara

"Vania , bisa tolong ajak Siska menjauh ?" dengan nada lembut

Sementara ditempat lain , seseorang hanya mampu memandang mereka bak menyaksikan sebuah pertunjukan. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali hanya mengepalkan tangan . Ntah untuk apa dia selalu mengepalkan tangan ketika emosinya sedang tersulut api , toh tak ada gunanya, tak ada reaksi apa apa yang mampu dia tunjukkan . Ntah dia seorang pengecut atau hanya sekedar malu, hanya dia dan Tuhan sendiri yang tau isi fikirannya.

#flashback sebelum Andre datang#

Setelah beberapa siswa siswi yang tak berhasil melerai mereka, tapi tak ada yang bisa akhirnya salah satu siswa mencari seseorang yang bisa diandalkan. Sang ketua OSIS. Andre namanya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play