Will berjalan lesu melewati ruang tamu dirumahnya setelah memarkir rapi mobil yang dikendarainya.
" owh sayang my lovely baby" mendekati Will sambil memeluk erat tubuh Will.
" are you ok ? are you need something"
apa kamu baik baik saja ? apa kamu butuh sesuatu
memegang pipi Will dengan kedua tangannya.
" Ah. menurunkan kedua tangan mamanya dari pipinya.
" Mum please . Boy bukan lagi anak kecil mum " berbicara kesal.
" no baby, bagi mummy kamu tetap baby nya mummy.! anak kecilnya mummy" menggelengkan kepalanya sambil menatap antusias Boy.
" ok ok , tapi apa mami lupa, Boy udah kelas 3 SMA mum. Lalu kapan mummy akan berhenti bersikap seperti ini sama Boy ?" berlalu melewati mamanya dengan penuh kekesalan.
" mummy akan berubah jika kamu sudah benar benar dewasa sayang" jika kamu sudah berani berpacaran tentunya. kenapa bapak sama anak beda 100% ya. kenapa jiwa playboy sang dady sama sekali gak terwariskan ke anak nya. padahalkan boyku tampan, melebihi ketampanan dady nya yang dulu super playboy.hah. menepuk jidat setelah sadar apa yang ada difikirannya sambil terus membuntuti Boy.
" ya udah sayang, kamu bersih bersih diri dulu aja. mummy sama daddy tungguin kamu makan malam dibawah" muach mengecup kening boy.
" ih bau acem baby !"memundurkan wajahnya
" udah , cepet cepat"
Boy berjalan menaiki tangga dengan kesal tanpa menggubris omongan mama.
udah tau kringetan masih aja dicium . salah siapa coba. naik masih dengan fikiran yang kesal.
Cekrek . boy membuka pintu kamar nya , kamar seorang cowo yang pastinya sangat maskulin. didominasi dengan warna dark grey serta warna putih yang memberikan kesan simple tapi mewah. ruangan yang dingin berbau bunga kopi, menambah rilex penghuni kamar yang menghirupnya.
Bruggh
membantingkan tubuh diranjang
"hffft huft" menarik nafas panjang dalam dalam lalu membuangnya dengan keras.
ingin rasanya dia memejamkan matanya barang sekejap . tapi karena kondisi badan yang kotor dan bau , sangat sulit bagi dia untuk melalukannya.
Akhirnya dengan langkah gontai Boy berjalan menuju kamar mandi. Memutar kran dengan kerasnya lalu mengguyur tubuhnya.
"Kenapa aku terlalu b*d*h ! Kenapa aku tarlalu pengecut! HAH ?Meninju bagian dari dinding keramik toilet miliknya. Lama Boy menghabiskan waktu dikamar mandi, berusaha keras untuk menghilangkan keb*d*hannya melalui guyuran air shower yang membasuh setiap bagian dari tubuhnya. Entah apa yang sedang ada dalam fikirannya hingga tak tahu berapa lama Boy terduduk dibawah derasnya aliran air shower yang terus mengguyurnya.
"Tok tok tok tok"
" baby ? what are you doing? kenapa lama sekali kamu mandi sayang ?" terus mengetok pintu kamar Boy.
"Mummy sama daddy nungguin kamu dinner sayang, come on baby!? Jangan buat mummy khawatir Boy?" terus berteriak dibalik pintu kamar Boy.
Boy tersadar akan lamunannya . Berdiri mengambil handuk yang telah tersedia di toiletnya dan menuju ke kamarnya.
Memakai kostum terfavoritnya saat dirumah, celana boxer selututnya dipadu kaos putih longgar kesukaannya. Tanpa mengeringkan rambut, Boy melangkah santai menuju pintu kamar.
" Hai sayang ? kenapa lama mandinya ? " merangkum wajah Boy dalam kedua tangannya.
" Kamu ada masalah sayang ? cerita sama mummy baby ? menatap dalam mata Boy sambil terus merangkum wajahnya.
Dengan lembut Boy berusaha melepas tangan mami nya yang merangkum wajahnya.
Tanpa sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.
Akhirnya mata mummy terbelalak pada salah satu bagian dari tubuh anak nya. Merah, memar, luka.
" Hah ? ini kenapa sayang ? Apa penyebab kamu melakukan ini ?" Mengangkat tangan kanan Boy yang terluka.
" Its okey mii.Boy sudah dewasa. Mummy gak usah lebay deh" menurunkan tangannya tanpa melihat kearah mummy didepannya lalu melangkahkan kakinya menuruni tangga rumahnya.
"Kenapa dia ? kenapa tangannya terluka ? Mami terus mencerna kejadian apa yang menimpa anaknya sambil terus berjalan mengekorinya.
" owh, apakah hatinya terluka ? apakah dia sedang frustasi ? hhh akhirnya anak tampanku tersakiti . Jadi sudah pastikan dia memikirkan seorang wanita" fikirnya. Mengelus dada lega dengan argumentasi yang dimilikinya.
" Hai Dad, malam?" Sapaan Boy kepada Daddynya. Menarik kursi makan dihadapan daddy dan mendudukinya.
" Hai Boy. " Membalas sapaan Boy dengan senyuman.
Bayu Atdmaja seorang pria paruh baya yang tampan, penuh wibawa, bersifat keras kepala , dan merupakan pewaris tunggal keluarga Atdmaja. Tapi ada satu hal yang tak bisa dibantahnya, keinginan istri tercintanya. Seorang istri yang sangat dicintainya. Seseorang yang sangat lama dikaguminya hingga akhirnya takdirpun mempertemukan kembali mereka dengan sebuah ikatan pernikahan. Tak hanya harta yang diwariskan kepada Boy Willian Atdmaja tapi juga kecerdasan dan juga ketampanannya yang hampir 95% terdapat pada Boy putra satu satunya yang mereka punya. Daddy sangat memanjakan Boy, tapi beliau juga mendidik Boy dengan penuh aturan, hingga mungkin jiwa peng*cutnya terlahir dari didikan daddynya yang terus mengekangnya. Daddy selalu berasumsi bahwa Boy adalah satu satu nya yang mereka miliki, yang menjadi pewaris selanjutnya keluarga Atdmaja. Yang tak mau jika Boy salah dalam melangkah dan berakibat fatal terhadap masa depannya. Berbanding 180 derajat dari mummy . Mummy selalu memperlakukan Boy dan menuntut Boy seperti remaja pada umumnya.
" Mau yang ini sayang ? " menunjukakan salah satu lauk yang tersedia dimeja makan kepada Boy.
" Makasih mum" menerima sendokan lauk dari mummynya lalu melahap makanan ya.
Melayani suami dan anak adalah kegiatan terutama mummy. Daddy Boy memang melarangnya untuk tidak bekerja setelah mereka menikah, jadi mummy bisa fokus terhadap apa yang dituntut oleh suaminya. Yang pasti dengan bantuan Asisten Rumah Tangga yang ada dirumahnya .
"ehmb hmmb" deheman daddy membuyarkan keheningan mereka.
" Habis makan daddy mau ngomong sama kamu Boy" serius.
degh "pasti ada yang gak beres"
" baik dad" menjawab sambil menundukkan kepalanya.
Akhirnya makan malam terselesaikan dengan keheningan. Seperti biasa mereka berkumpul sejenak diruang keluarga setelah selesai makan malam mereka. Tapi suasana malam ini tentu berbeda dengan apa yang dirasakan seorang Boy William. Boy mencium ada sesuatu hal yang sedang diinginkan oleh Daddynya.
"Boy" duduk disofa. Menepuk bagian kosong sofa disampingnya.
" Ya dad" Terduduk ditempat yang diarahkan dadynya.
" Daddy sudah mengurus semua kelengkapanmu untuk kuliah diLuar Negri Boy, jadi setelah kelulusanmu usai kamu bisa langsung terbang untuk melanjutkan studymu disana" Menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
Boy melotot kaget" what?" lalu gimana dengam dia ? dengan perasaan yang selama ini kusimpan ?
" Jadi gimana Boy ? berapa bulan lagi kamu menyelesaikan study SMAmu" sedikit menatap Boy.
" emb, sekitar 6 bulan an dad" terbata
Panjang lebar daddy menunjukkan kelebihan dan kekurangan kampus dimasing masing negara yang diincarnya. Menjelaskan secara detail apa yang menjadi pertimbangannya. Berbeda hal dengan Boy, tak sedikitpun hal yang terdengarkan oleh Boy, penjelasan daddynya membawanya kedalam lamunannya yang entah kemana ngalor ngidulnya.
" lalu gimana Boy ? kira kira negara mana yang lebih kamu pilih?" meraih tangan Boy
Seketika Boy terhentak dari lamunannya.
" ee Boy ngikut Daddy aja" mencari jalan aman setelah dia tidak tau sama sekali apa yang telah dibicarakan daddynya.
Mummy datang membawa sepiring buah yang akan menjadi cemilan mereka.
" Honey ? kenapa harus Boy kuliah diluar negri honey ?" Tetap memanggil suaminya dengan panggilan muda nya .
" Mummy kesepian dong ?"
menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
" Gak papa Mi. Biarkan dulu Boy belajar dewasa disana, bukannya selama ini mummy selalu memerlakukan anak kita seperti anak kecil ? " Meraih dan menggenggam tangan istrinya.
" Tapi honey?" menatap suaminya.
" Its ok mum Boy akan baik baik saja" lanjut Boy meyakinkan mereka . Meski ucapan tak sebanding dengan hatinya.
Malam berlalu dengan harmoninya. Daddy dan Mummy asik menceritakan kehidupan remaja mereka hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan. Kebahagiaan terpancarkan dari sorot mata keduanya. Memancarkan sejuta harapan yang lama mereka berdua harapkan meski tak ada yang saling mengatakan. Entah kenapa Tuhan terlalu adil terhadap mereka hingga mereka mengikat sebuah tali kehidupan . Tanpa sadar, senyum tipis tersimpul dibibir indah Boy. Cerita keduanya seakan memberikan sebuah pondasi dan motivasi kepada Boy, membuat Boy yakin akan hatinya, terhadap seorang wanita yang selama ini telah dikaguminya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments