ENJOY YOUR READING GUYS. 🍁🍁
Sore ini Billy dan Papanya sengaja datang berkunjung ke rumah Bimo yang tak lain adalah Papa dari Amanda dan juga suami dari wanita yang akan mendonorkan jantungnya untuk Istri dari Hendri yang tak lain adalah ibu yang sudah melahirkan Billy ke dunia fana ini, dan kedatangan mereka di sambut dengan senang oleh Bima tapi tanpa keberadaan Amanda yang kebetulan sedang tidak berada di rumah saat ini karna sedang mengadakan riset terkait dengan skipsi yang sedang dia susun untuk menyelesaikan S2 nya yang tergolong sangat cepat dia selesaikan.
Bimo sangat senang melihat kedatangan Hendri dan juga Billy.
"Silakan duduk" Bimo mempersilakan Hendri dan juga Billy untuk duduk.
"Mas Bimo sendirian aja? Anak-anak pada kemana?" Hendri sedikit memperhatikan rumah Bimo yang terlihat sepi hanya ada beberapa maid yang terlihat mengisi rumah besar ini.
"Sakti baru akan sampai nanti malam, kalau Manda lagi ngurus skripsinya karna beberapa bulan lagi akan selesai S2 nya" Ujar Bimo menjelaskan atas ketiadaan anak-anak nya.
"Waah.. hebat ya Mas putrinya sudah selesai S2 di umur semuda ini" Hendri memuji perempuan yang akan menjadi menantunya itu.
"Belum Mas masih skripsi" Bimo tertawa kecil mendengar pujian Hendri pada putri bungsunya.
"Permisi Tuan, makan malamnya sudah tersedia" kepala maid memberitaukan kepada Bimo.
"Terima kasih Bu" Ujar Bimo lalu mengajak Hendri dan Billy untuk melanjutkan pembicaraan mereka sambil menikmati makan malam yang sudah di siapkan.
Terlihat banyak menu makanan di meja makan mulai dari nusatara juga western terlihat sebagai penutup.
Bimo mempersilakan Hendri dan Billy untuk menikmati makanan yang ada dan tidak perlu merasa sungkan.
"Mas, saya ingin membahas tentang pernikahan anak-anak kita" Hendri membuka percakapan mereka di meja makan, sementara Billy hanya diam mendengar apa yang di katakan Papanya, karna memang tujuan mereka datang ke sini untuk membahas hal tersebut agar tranplantasi jantung pada Mamanya bisa segera di lakukan.
Bimo menghentikan sesaat kunyahannya saat mendengar perkataan Hendri dan memandang ke arah Billy yang terlihat biasa dan tidak tertarik dengan apa yang menjadi pembicaraan saat ini, Bimo tau kalau Billy pasti menerima perjodohan ini karna terpaksa, karna antara putrinya dan Billy sama sekali tidak saling kenal dan bukan hal yang mudah untuk bisa mencintai orang yang di paksa masuk dalam kehidupan kita, tapi ini adalah syarat dari Almarhumah istrinya yang tidak bisa di batalkan.
"Lalu bagaimana keputusannya?" Bimo memandang ke arah Hendri.
"Pernikahannya akan kita laksanakan setelah Mamanya Billy keluar dari rumah sakit agar bisa sama-sama merayakan pernikahan anak-anak kita" Hendri mengatakan apa yang sudah menjadi kesepakatan antara dia dan Billy.
Bimo terlihat terdiam dan seperti sedang merenungkan apa yang di katakan Hendri barusan tentang tanggal pernikahan kedua anak mereka.
"Baiklah kalau begitu, saya akan mendiskusikan hal ini dulu dengan Amanda juga Sakti sebagai Kakanya Manda, walau pun Manda sudah menerima perjodohan ini saya harus tetap meminta persetujuannya tentang tanggal pernikahan yang sudah di tentukan" Bimo berujar setelah cukup berpiki
xxxxxxxxxxxxxxxx
Amanda baru pulang dari kampusnya dan baru saja sampai di Bandara untuk menjemput Kakaknya yang baru pulang dari mengurus perusahaan keluarga mereka yang berada di luar negeri dan begitu Amanda sampai di pintu penjemputan Amanda sudah melihat kakaknya sedang berdiri dengan koper di tangannya.
"Sorry kak aku baru dari Campus" Amanda berjalan mendekati Sakti dan Sakti hanya tersenyum mendengar permintaan maaf yang di ucapkan Amanda barusan.
"Udah ga pa-pa, kakak juga belum lama baru sekitar sepuluh menitan" Ujar Sakti mengacak pucuk rambut adik bontotnya itu, lalu Sakti memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil dan keduanya segera masuk ke dalam mobil dan Sakti mengambil alih untuk mengemudikan Mobil sementara Amanda duduk manis di sampingnya.
"Jadi kapan jenazah Mama akan di kebumikan?" Sakti memulai pembicaraan di antara mereka berdua.
"Setelah tranplantasi jantung selesai di lakukan jenazah Mama akan langsung di kebumikan" Amanda mengatakan apa yang dia tau.
"Kenapa juga Jantung Mama harus di berikan pada orang lain?" Sakti seperti bertanya pada diri sendiri walau tentunya Amanda merasa pertanyaan itu di tujukan kepada dirinya.
"Aku juga ga gerti Kak, tapi kata Papa itu amanat Mama untuk menolong sahabatnya yang sudah lama mencari donor jantung, nantilah kakak bisa tanya langsung ke Papa" Amanda mengakhiri penjelasan nya.
Sakti tidak lagi bertanya dan fokus pada kemudi mobilnya dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka.
****
Hari ini operasi transplantasi jantung Mamanya Billy akan di laksanakan, Billy dan Hendri sedang menunggu di depan pintu ruang operasi karna waktu operasi di perkirakan akan memakan waktu yang cukup lama, sementara di sebuah pemakaman keluarga terlihat Amanda sedang menangis dalam dekapan kakaknya Sakti, walau Mamanya sudah pergi beberapa hari yang lalu, tapi saat melihat jenazah Mamanya di masukan ke liang lahadnya Amanda tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan juga airmatanya, Sementara Bimo dan juga Sakti terlihat lebih tenang dan sudah bisa menerima kepergian wanita yang sangat berarti dalam hidup mereka yang sudah menemani mereka selama puluhan tahun, peti jenazah Mamanya Amanda sudah tertutup dengan tanah dan juga sudah di bacakan doa oleh ustad yang memimpin acara pemakaman tersebutl, setelah pembacaan doa selesai semua pelayat yang mengantar satu persatu meninggalkan pemakaman keluarga tersebut, itu memang pemakaman keluarga Amanda yang baru di isi oleh makam beberapa keluarga dari pihak Mama dan Papa Amanda, bahkan ada makam yang terlihat paling kecil di situ, itu makam kakak kembar Amanda yang meninggal saat baru berumur dua bulan karna mengidap kelainan paru-paru yang sudah di bawa sejak lahir.
"Tuan Bimo pemakaman sudah selesai, saya mohon diri" Ujar pak ustad yang berada di samping Bimo.
"Terima kasih Pak ustad atas waktunya" Bimo menyalami ustad tersebut,
"Mari Pak ustad saya antar, Sakti Manda, Papa mau antar Pak ustad ke depan ya" Bimo memberitaukan kepada kedua anaknya.
"Iya Pa, teimah kasih Pak ustad" Sakti dan Manda bergantian menyalami ustad tersebut.
"Sudah Nda kamu jangan nangis terus, Mama udah bersama Ardan, yang akan menjaga Mama di sana" Ujar Sakti mengingat kan kalau Mama mereka tidak sendiri di alamnya yang sekarang.
"Tapi Mama belum sempat melihat anak-anak nya menikah, kakak juga belum menikahi kak Vanya" Ujar Amanda menyebutkan nama pacar kakaknya seorang cewe blasteran indo-inggris yang mempunyai mata emerald.
"Vanya nya juga belum siap Nda, dia mau selesaiin S2 duanya dulu, dan dia jua sedang sibuk ngurusin cafenya yang sudah tersebar di banyak kota di inggris" Sakti memberikan alasan kenapa belum juga menikahi kekasihnya itu.
"Memang kakak ga keberatan kalau kak Vanya sibuk kerja gitu?" Tanya Amanda.
Sakti senang karna adiknya itu sudah sedikit melupakan kesedihannya sebab pembicaraan mereka, Sakti menggandeng tangan Amanda untuk pergi dari makam Mama mereka dan berjalan menuju mobil mereka yang sudah ada Papa mereka di sana.
"Vanya ga sibuk banget, walau dia sekolah hukum dan sudah mendapatkan ijin untuk menjadi pengacara tapi Amanda lebih suka menjadi seorang penulis yang bisa kerja santai di rumah, dan untuk urusan cafe Vanya tidak selalu turun tangan, sudah ada manager yang menhandle, jadi Amnada hanya control saja" Ujar Sakti, dan Amanda hanya menganggukan kepalanya mendengar perkataan kakaknya itu, mereka sudah sampai di mana Papa mereka sudah menunggu di depan mobil.
"Ayo kita pulang, udah medung juga, takutnya nanti hujan" Bimo mengajak kedua anaknya pulang, ketiganya pun masuk ke dalam mobil dan sang supir dengan perlahan melajukan mobil yang sudah di penuhi oleh keluarga mm majikannya meninggalkan pemakaman keluarga tersebut yang di jaga oleh sepasang suami istri yang tinggal tidak jauh dari pemakaman keluarga tersebut.
xxxxxxxxxxxxx
Sementara di depan ruang operasi lampu operasi terlihat sudah mati yang artinya operasi sudah selesai, tinggal mereka menunggu dokter yang sedang bertugas di dalam keluar dari ruangan tersebut.
"Pa, operasinya berhasil ga ya Pa?" Tanya Billy yang sangat khawatir jika operasi nya tidak berjalan baik.
"Jangan suka berpikir yang jelek-jelek, kita tunggu aja Dokternya keluar" Ujar Hendri yang tidak suka dengan prasangka jelek putra semata wayangnya itu.
Pintu ruangan operasi di buka dari dalam dan terlihat seorang Dokter yang masih lumayan muda, dan saat melihat Dokter yang menangani istrinya keluar Hendri dan Billy segera mendekati Dokter tersebutl.
"Dokter, bagaimana operasi istri saya" Hendri langsung bertanya tanpa menunggu lagi.
Dokter specialists jantung itu tersenyum melihat ketidak sabaran di wajah keluarga dari pasien yang baru saja dia tangani.
"Kita harus bersyukur pada tuhan, karna operasinya berjalan baik, tubuh istri Bapak mau menerima jantung yang kami pasangkan, dan sampe saat ini tidak ada sesuatu yang menghawatirkan, istri Bapak sedang di siapkan untuk di pindahkan ke ruang perawatan, tapi Bapak dan anak Bapak baru bisa menjenguk pasien satu jam lagi, karna pasien masih dalam pengaruh obat tidur dosis kecil jadi tidak boleh mendengar suara sekecil apapun, agar efek operasinya bisa hilang dengan sempurna" Ujar Dokter muda itu.
Hendri dan Billy sangat senang mendengar operasi yang berjalan dengan baik sesuai dengan doa mereka.
"Terima kasih Dok, kami akan menunggu sesuai waktu yang Dokter katakan" Ujar Hendri menyalami Dokter tersebut, begitupun dengan Billy yang ikut menyalami Dokter tersebut.
"Baiklah kalau begitu saya ke ruangan saya, kalau misalnya masih ada yang ingin Bapak tanyakan, Bapak bisa ke ruangan saya" Ujar Dokter muda itu yang memohon pamit untuk pergi dari sana.
"Baik Dok, sekali lagi terima kasih Dok" Hendri membiarkan Dokter itu pergi dari hadapan mereka.
"Kamu lihatkan Bil, karna jantung Mamanya Amanda, Mama kamu bisa kembali hidup normal tanpa harus terus duduk di kursi roda" Ujar Hendri yang selama ini sangat sedih kana istrinya yang selalu bergantung dengan kursi roda untuk pergi kemana-mana, bahkan untuk berjalan sejauh seratus meter saja istrinya sudah tidak kuat.
Billy hanya diam mendengar perkataan Papanya karna dia sudah tau arah pembicaraan Papanya itu jika dia menjawab perkataan Papanya itu.
Pintu ruang operasi kembali di buka dari dalam, terlihat empat orang perawat dan seorang Dokter lagi keluar dari dalam ruangan operasi sambil menarik bangkar yang di atasnya terlihat tubuh Nia istri yang juga Mamanya Billy terbaring di atasnya, dan terlihat juga sebuah jarum menancap di lengan istrinya yang berasal dari infus darah yang terpasang di bangkar, para perawat itu mendorong bangkar tersebut menuju ke ruang VVIP bagian ruang perawatan dan Hendri juga Billy mengikuti bangkar yang membawa wanita mereka hingga sampai di depan kamar VVIP.
"Maaf Pak, pasien belum bisa di ganggu" Ujar salah satu perawat kepada dua lelaki yang mengikuti mereka dari ruang operasi tadi.
"Iya Sus kami tau, kami tidak akan ikut masuk" Ujar Hendri yang mengerti maksud dari perawat itu.
Perawat itu menutup pintu kamar itu dan tinggalah Hendri dan Billy yang berada di luar kamar.
"Billy, ingat setelah menemui Mama kamu kita harus segera ke rumah Tuan Bimo karna tadi kita tidak datang ke pemakaman istrinya" Bimo mengingat kan pada putranya itu agar tidak kabur menemui pacar nya yang super matre.
"Iya Pa" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Billy.
BERSAMBUNG
maaf baru bisa up sekarang, teima kasih yang sudah membaca cerita ini🙏🙏🙏
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments