MENIKAH KARNA HUTANG BUDIl
HAPPY READING 🍁🍁🍁🍁
" Bos anda di minta Tuan besar ke ruangan beliau sekarang" Aditya langsung bicara tanpa basa basi pada Bosnya yang juga merangkap sebagai sahabatnya.
Billy yang sedang serius dengan laptopnya langsung menghentikan kegiatannya dan memandang serius ke arah Asisten merangkap sekertarisnya itu.
" Emang ada persoalan apa? emang ada masalah di perusahaan kita?" Tanya Billy seraya merapikan perkerjaannya.
" Gue ga tau Bos" Aditya hanya mengangkat bahunya.
" Ya sudah ayo lah, takutnya penting" Billy bangun dari kursi kebesarannya dan berjalan ke luar ruangan nya dan di ikuti oleh Adit di belakang nya, dan saat keluar dari ruangannya Chintya sekertaris Adit langsung memberikan senyum terbaik nya untuk Dirutnya itu karna memang Chintya sudah lama menaru hati pada Billy bisa di bilang sejak pertama dia melihat Bosnya itu, Billy Iskandar Hermawan Putra bungsu dari Hendri Hermawan, usia 30tahun lulusan bisnis dan hukum dari Oxford university London, salah satu alih waris dari puluhan usaha yang bergerak di banyak bidang, tinggal di Apartment seharga 65M di kawasan SCBD. tubuh kekar dan gagah, berotot karna Billy sangat rajin berolah raga juga ngegym.
"Tok tok tok" Billy mengetuk pintu ruangan Papanya yang memang masih aktif ikut mengurus perusahaan sebagai Presdir walau sudah berusia 60 tahun tapi Hendri sendiri masih terlihat muda dan Vit, kalau untuk cewe yang doyan Om Om Hendri salah satu yang pasti akan di perebutkan, dengan postur tubuh yang masih gagah dengan rambut di biarkan sedikit memutih yang justru membuat kesan bijaksananya sangat terpancar.
Hendri melihat pintu ruangannya terbuka dan sedikit tersenyum melihat Putra bungsu nya itu.
" Maaf Tuan saya akan menunggu di luar saja" Aditya bermaksud untuk undur diri meninggalkan kedua Bos nya itu karna takutnya apa yang akan di bicarakan adalah masalah keluarga, karna kalau urusan Kantor pasti dia akan tau, sedangkan dia tidak mengetahui ada masalah serius di perusahaan.
" Ga pa pa Dit, kamu di sini saja" Ujar Hendri menahan Aditya agar tidak pergi.
"Baik Tuan" Adit membukukan sedikit tubuhnya mengiyakan ucapan Bos besarnya itu.
Billy memilih duduk di sofa agar lebih rilexs sedangkan Aditya memilih berdiri di belakang sofa tempat Billy duduk.
" Adit, kamu duduk aja" Perintah Hendri pada Adit, dan Hendri duduk di sofa single yang berada di samping kanan Billy, dan Adit akhirnya duduk di sofa yang paling ujung sedikit jauh dari kedua Bos nya itu.
" Ada apa Pa? kok kayaknya penting banget? apa ada sangkut pautnya dengan meeting kita tadi pagi?" Tanya Billy karma memang mereka baru saja meeting dengan dengan dewan direksi.
Hendri tidak langsung menjawab pertanyaan putranya itu, Hendri terlihat berpikir atas apa yang akan dia katakan dan memandang serius ke arah Billy.
" Bill, kamu tau kan kalau keadaan jantung Mama kamu sudah parah, operasi yang di lakukan sudah sangat tidak berarti, Mama kamu harus segera melakukan transplantasi jantung karna kalau tidak Mama kamu bisa koma untuk waktu yang kita ga tau sampe kapan" Hendri memulai pembicaraan nya.
" Lalu Papa mau aku nyari donor jantung?" Tanya Billy yang air mukanya langsung berubah saat mengingat keadaan wanita yang paling dia cintai itu.
" Kalau masih harus mencari itu akan butuh waktu yang sangat lama, dan kita ga tau akan dapat hasil atau tidak" Ujar Hendri lebih lanjut.
" Lalu maksud Papa gimana?" Billy masih ga ngerti dengan arah pembicaraan Papanya itu.
" Papa sudah mendapatkan donor jantung yang sehat dan sangat cocok dengan Mama kamu, kamu tau Om Bima kan? dan kamu tau kan kalau istri Om Bima baru saja meninggal karna kecelakaan, nach, Om bisa bersedia mendonorkan jantung istrinya untuk Mama kamu, semua sudah di periksa dan jantungnya sehat dan siap di donorkan ke Mama kamu" Ujar Hendri lagi.
Billy tersenyum lega saat mendengar apa yang di katakan oleh Papa nya itu,
" Berarti Mama bisa sembuh dong Pa?!" Tanya Billy dengan semangat dan antusias.
" Tergantung Bill" Ujar Hendri dengan raut wajah yang seketika berubah ga bisa di tebak.
" Tergantung gimana apa nya Pa?" Billy jadi merasa aneh dengan perkataan terakhir Papanya itu.
" Om Bimo cerita ke Papa, kalau istrinya rela memberikan jantungnya pada Mama kamu kalau kamu mau menikahi putri bungsu mereka Amanda " Hendri mengatakan juga persyaratan yang harus mereka lakukan jika ingin mendapatkan donor jantung untuk istrinya yang juga Mama Billy.
Billy sangat terkejut mendengar persyaratan yang di ajukan oleh pihak Bimo kepada Papanya yang dimana itu menyangkut dirinya sendiri.
" Kenapa bisa gitu Pa?! kenapa harus aku yang di korbankan?! Papa kan tau aku udah punya Celia dan kami sudah berencana akan menikah akhir tahun depan!" Billy menolak secara halus persyaratan yang di ajukan oleh pihak Bimo kepada keluarga mereka.
" Ya itu terserah kamu Bill, keputusan ada di kamu, lagi pula yang Papa lihat pacar kamu si Celia itu cuma menghambur-hamburkan duit kamu, beli ini beli itu, yang semuanya sangat tidak berguna" Hendri mengungkapkan apa yang selama ini menjadi perhatian nya terhadap pacar adik anak bungsu nya itu.
" Perempuan wajarlah Pa kalau suka shopping" Billy membela pacarnya.
" Tapi status dia baru pacar kamu bukan istri kamu, baru jadi pacar udah boros kayak gitu, gimana kalau jadi istri? bisa-bisa usaha yang Papa rintis bersama Opa kamu akan habis untuk kesenangan dirinya sendiri, jangan kamu pikir Papa ga tau kalau kamu membiayai dia dan ibunya jalan-jalan eropa dan membelikannya kalung berlian dengan harga milliaran! Papa juga tau kalau mobil sport yang dia pake itu adalah pemberian kamu! Papa tau dia seorang artist top saat ini! tapi dia tetap ga akan sanggup membiayai Gaya hidup mewahnya kalau bukan karna campur tangan kamu!" Hendri membongkar semua apa yang dia ketahui selama ini tentang bagaimana borosnya Billy kepada pacarnya yang seorang artis FTV itu.
Billy tentunya sangat terkejut dengan apa yang semua di katakan oleh Papa nya itu, karna selama ini Papanya terkesan cuek dengan kehidupan nya dan juga dengan siapa dia pacaran, Billy juga terkejut karna Papanya bisa tau semua yang dia lakukan untuk Celia dengan detail tanpa ada yang meleset satu kata pun, Billy memandang ke arah Aditya Billy curiga kalau Aditya diam-diam menjadi mata-mata Papa nya untuk memantau apa saja yang dia lakukan.
Adit yang mendapat pandangan penuh selidik seperti itu dari Billy hanya mengangkat bahunya, karna memang dia tidak tau menau karna dia sendiri terkejut dengan informasi yang di katakan Bos besarnya itu.
"Terserah kamu Bill! nyawa Mama kamu ada di tangan kamu!" Hendri sengaja tidak ingin memaksa karna dia tau Billy bukan orang yang bisa di paksa untuk menuruti keinginan orang lain.
BERSAMBUNG
GUY'S MINTA DUKUNGANNYA DENGAN LIKE DAN KOMEN KALIAN YA, AGAR CERITANYA BISA MASUK RATING DAN NAIK RATING
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments