Chapter 2 : Nyanyian kepedihan

Pukul 06.30 keesokan harinya Reina dan Raya sudah sibuk menata kue yang baru saja diantar oleh supir dari bagian produksi. Toko itu memang hanya menjual kue yang sudah jadi, dan untuk produksinya di tempat terpisah. Dapur khusus yang hanya pemilik dan beberapa staff saja yang boleh masuk, bahkan Reina dan Raya Pun tidak pernah tahu dimana lokasi dapurnya selama ini mereka hanya bertugas langsung di toko. 

Hari ini ada pesanan khusus dari sebuah rumah sakit. Pesanan kue untuk acara seminar, sehingga Reina dan Raya harus datang lebih pagi untuk menyiapkan toko lebih awal karena mereka harus menyiapkan pesanan khusus setelah itu. Toko buka jam 09.00 pagi, dan mereka hanya punya waktu 2 jam untuk menyiapkan 500 paket pesanan sebelum toko buka seperti biasa.

Reina : “ Apakah semua kue nya sudah lengkap?” Tanya Reina kepada supir bertubuh kurus dan berkulit gelap yang mengantar kue dari dapur.

Sopir  : “ Ini fakturnya, silakan dicek kembali. Sebelumnya sudah saya cek dan lengkap”.

Reina : “Baiklah, terima kasih”

Raya  : “Haaah, sebanyak ini?” Raya menatap kotak kotak kue besar yang berjajar di depannya.

Reina : “ Ayo kita mulai” ajak Reina.

Raya dan Reina mulai merapikan kue pesanan khusus itu, dimulai dengan menata susunan kotak besar sesuai dengan jenisnya. Raya menata kotak kardus untuk kue, dan Reina mengecek kembali jumlah serta jenis kue yang dipesan. Ada 6 jenis kue dan 1 botol air mineral untuk setiap paketnya. Supir pengantaran tadi juga turut membantu merapikan kotak- kotak besar tempat kue dari dapur untuk dibawa kembali ke dalam mobil pengantaran. 

Disela-sela kesibukan, Raya membuka obrolan.

Raya  :  “Seharusnya aku kuliah, dan bekerja di depan komputer” Gerutu Raya.

Reina : “Jika kau kuliah, apa jurusan yang akan kau ambil ?” Tanya Reina, sambil sibuk mengisi setiap kotak paket.

Raya : “ Karena cita-citaku adalah menjadi orang kaya mungkin aku akan mengambil jurusan bisnis” Ucap Raya berapi-api.

Reina : “ Hmm, cita-cita” Reina tertegun sejenak, tak lama lalu melanjutkan pekerjaannya. Raya melihat perubahan raut wajah temannya itu, membuat dia jadi penasaran.

Raya   : “ Kenapa?”

Reina : “ Ah tidak apa-apa, hanya saja kau memiliki cita-cita yang sangat menarik, aku iri padamu. Berjuanglah, suatu hari nanti mungkin kau akan mewujudkannya”

Raya  : “ Dan bagaimana denganmu?”

Reina : “ Aku? Hmm dulu aku punya, tapi kini tidak lagi”

Raya  : “ Haa? Adakah cita-cita yang seperti itu?”

Reina : “ Aku punya janji, tapi aku tidak bisa menjaga janji itu”

Raya  : “ Janji?” 

Reina : “Apa kau ingat, saat aku kali pertama menjadi karyawan paruh waktu disini. Aku berkata, aku bekerja disini karena aku punya janji yang harus ditepati”.

Raya  : “Oh iya, aku ingat itu”

Reina : “ 7 tahun lalu, aku pernah berjanji pada seseorang bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu lagi, dan ketika saat itu tiba kami sudah mewujudkan cita-cita kami masing-masing”

Raya   : “ Siapa?”

Reina : “Dia, dia adalah seseorang yang aku kagumi bahkan sejak pertama aku bertemu dengannya. Sejak hari itu aku memutuskan untuk menjadikannya role model, karena itulah aku bekerja keras belajar agar aku bisa sebaik dia, tapi kau lihat sendiri sampai hari ini aku masih disini”

Raya  : “ Jadi cita-citamu menjadi seperti dia?” Raya malah bingung, dia tidak mengerti.

Reina : “Kita bicarakan lagi nanti, ayo kita selesaikan ini dulu. Waktu kita tidak banyak” Ajak Reina, karena dia tahu jika diteruskan akan semakin panjang dan mungkin mereka bisa terlambat menyelesaikan pesanan.

Mereka menyelesaikan pesanan tepat waktu, jam menunjukkan 8.30 saatnya mereka mengantar pesanan diantar oleh supir dari dapur.

Raya : “ Rumah sakit Mitra yang di dekat persimpangan itukah?” Raya menunjuk ke arah persimpangan jalan.

Supir : “ Rumah sakit besar di sekitar sini hanya itu kurasa” Jawabnya sambil tetap fokus menyetir.

Sesampainya di parkiran, Raya, Reina dan dibantu oleh supir bergegas mengeluarkan paket lalu ditata di atas troli. Setelah jumlahnya dipastikan sesuai , mereka berdua bergegas menuju lift yang berada di pintu masuk sebelah kanan.  Supir menunggu di parkiran , Reina dan Raya yang bergantian mendorong paket ke dalam lift barang. Raya menekan tombol lantai 5.

Sesampainya di lantai 5.

Reina : “ Disini tertulis ruang seminar ballroom lantai 5, mungkin pintu yang besar itu” Tunjuk Reina sambil melihat catatan kecil yang dibawanya.

Raya : “ Ya, sepertinya memang itu. Aku tidak melihat pintu lain disini” Raya mendorong troli mengikuti Reina yang berjalan di depannya.

Pintu ballroom sudah terbuka, Reina menjulurkan kepalanya dari balik pintu untuk memastikan dia berada di ruangan yang benar. Setelah dia cukup yakin tidak salah ruangan, Reina membantu Raya mendorong troli dan mereka berdua masuk bersama.

Ballroom yang sangat besar dan mewah, disana kursi-kursi peserta seminar sudah berjajar rapi, begitupun dengan meja pembicara di depan sudah tertata sedemikian rupa. Atmosfer berbeda, seketika Reina merasa kagum, namun jauh dalam lubuk hatinya dia merasa begitu kecil dalam ruangan itu. 

Reina : “ Beruntung sekali “ guman Reina pelan.

Reina menganggap peserta yang hadir di seminar ini adalah orang-orang yang beruntung, mendapat kesempatan untuk belajar dan meningkatkan pengetahuan serta skill mereka. Sedangkan Reina, dengan segala keterbatasannya tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang betikutnya.

Raya : “ Hmmm? “ Raya menanggapi gumaman Reina, namun sebenarnya dia tidak mendengar jelas apa yang Reina ucapkan.

Reina : “ Ah tidak apa-apa” Jawabnya singkat, sambil terus mendorong troli ke arah meja depan.

Disana terlihat seorang wanita muda dengan jas putih, tampaknya seorang dokter. Wanita itu sedang sibuk mengecek mic, berulang kali mengatakan “cek, cek, test, test” 

Reina mendekat.

Reina : “ Permisi, dengan Ibu Monika?" Tanya Reina kepada wanita yang menghadap slide materi seminar yang sudah menyala.

Mendengar suara Reina, seketika wanita itu berbalik. Melihat Reina dan Raya yang memakai seragam, dokter berkacamata kotak  itu sudah bisa menebak mereka berdua dari toko kue yang dia pesan.

Monika : “ Dari Toko Kue?” Tanyanya ramah.

Dokter monika sangat cantik, usianya sekitar 25 tahun. Perawakannya tinggi, dengan badan dan wajah seperti itu Dokter Monika sangat cocok menjadi seorang model.

Reina : “ Disini sudah ada 500 kotak, dengan masing-masing 5 kue dan 1 botol air mineral sesuai pesanan” Reina menyerahkan faktur pesanan kepada Dokter Monika.

Dokter Monika mengecek faktur tersebut dengan seksama.

Monika : “ Ok, sudah lengkap. Tolong paket - paketnya dipindahkan ke meja yang sebelah sana ya” tunjuk Dokter Monika.

Reina dan Raya : “Baik Dok”

Reina dan Raya memindahkan paket dari troli ke atas meja yang berada paling belakang, disana juga sudah tersedia tumpukan ratusan modul yang akan dibagikan untuk peserta seminar hari itu. Reina teetarik untuk melihat salah satu modul, di sampul modul itu tertulis Skin Transplantation Surgery ‘Pembicara 1 : Reino’ .

Deg! Membaca nama itu Reina terdiam, hatinya seketika berdegup kencang.

 

Raya  : “Oke kotak terakhir dan semua sudah selesai. Reina, ayo kita segera kembali atau kita  bisa terlambat membuka toko”

Reina : “ Ah, iya” Reina yang tertegun itu kembali tersadar.

“ Tidak mungkin, hanya kebetulan saja” ucap Reina dalam hati.

Dokter Monika menghampiri.

Monika : “ Terimakasih, untuk sisa pembayarannya saya akan menghubungi pemilik toko siang ini”

Reina dan Raya mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.

Sesampainya di depan lift, Reina masih terpikirkan nama pada sampul modul tadi. Dia meyakinkan dirinya kalau itu hanya kebetulan, dan itu pasti nama orang lain.

Reino adalah nama laki-laki yang ia kagumi sejak kecil itu. Reina mengingat - ingat kembali  untuk meyakinkan dugaannya itu, saat terakhir bertemu 7 tahun lalu Reina berusia 11 tahun dan Reino berusia 16 tahun, berarti saat ini Reino berusia 23 tahun jika ia menjadi dokter sesuai dengan yang ia cita-citakan seharusnya Reino baru saja lulus dan sedang magang, rasanya tidak mungkin jika nama pembicara yang tertulis di modul itu adalah Reino yang dia kenal. Bukankah hal yang wajar jika seminar diisi oleh narasumber yang sudah senior.

Reina terus saja meyakinkan dirinya bahwa dugaannya benar, dia tidak ingin terus memikirkan nama itu. Hatinya belum siap jika harus bertemu kembali dengannya. 

Reina : “ Hmmph” Reina menarik nafas panjang, untuk menenangkan hatinya yang masih berdegup.

Raya : “ Lega bukan? “ Raya mengira Reina menarik nafas panjang karena dia lega pekerjaan ekstra sedari pagi tadi akhirnya selesai.

Reina menatap Raya lalu tersenyum.

Pintu lift terbuka, saat Reina dan Raya masuk di pintu lift sebelah kanan di saat bersamaan pintu lift kiri terbuka. Reina melangkah masuk dan Raya mengikuti, sebelum masuk Raya sempat menoleh dan melihat seseorang yang keluar dari lift sebelah kiri. Seorang Dokter muda, dengan perawakan tinggi dan sempat tersenyum pada Raya. Di dalam lift Raya tertegun, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Raya berdiri dan tertegun tanpa kata.

Reina : “ Kenapa denganmu?” Tanya Reina aneh dengan sikap Raya yang terdiam dengan mata terbelalak, seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

Raya : “ Cubit aku”

Reinapun mencubit Raya. Aw! Raya menjerit.

Raya : “ Ini bukan mimpi”

Reina : “ Ada apa denganmu? Kau mendadak aneh sekali”

Raya : “ Kau tau aku sering bermimpi tentang pangeran berkuda putih, dan hari ini aku bertemu dengan pangeran berjas putih “.

Reina terkikik mendengar perkataan Raya.

Raya : “Aku tidak mengada-ada, tadi saat aku masuk lift aku benar-benar melihat pangeran berjas putih, dan dia tersenyum padaku hampir saja aku pingsan dibuatnya”

Reina : “ Kau ini, ada-ada saja. Aku berpikir kau bertemu hantu, kau sampai bersikap aneh begitu”

Reina tertawa kecil, dan Raya masih berceloteh meyakinkan Reina tentang apa yang baru saja dia lihat adalah nyata bukan khayalan atau mengada-ada. Seketika perasaan Reina yang sempat terganggu dengan nama Reino kembali normal, perkataan Raya yang polos dan kadang  ceplas-ceplos itu selalu menjadi obat terbaik untuk Reina. Karena itulah mereka saling melengkapi selama 3 tahun mereka bersama sejak bekerja part time di toko kue itu

Note : Dokter yang dilihat Raya. Dokter muda, bernama Reino. Narasumber yang akan menjadi pembicara pada acara seminar di ballroom hari ini.

.............

Raya dan Reina tiba di toko.

Saatnya mereka membuka toko, dan kembali dengan rutinitas pekerjaan seperti biasanya. Untunglah pagi itu tidak terlalu ramai pengunjung yang datang untuk makan di tempat, sehingga mereka bisa santai sejenak setelah kerepotan pagi ini.

Raya : “Jika setiap hari kita mendapatkan pesanan sebanyak ini, mungkin dalam satu tahun kita bisa ke luar negeri untuk berlibur”. Raya menghentikan kegiatan menyapunya lalu memutar badannya menghadap Reina yang sedang mengelap etalase.

Reina : “Berlibur ke luar negeri dan menginap satu minggu di rumah sakit”. Ledek Reina.

Raya : “Ah kau benar, pagi ini saja rasanya tulang belakangku ada yang tertinggal di ballroom tadi Hahahhaah”

Reina : “ Hahhahaha”

Reina dan Raya tertawa bersama.

Tring Tring ! Door bell yang mengantung di depan pintu berbunyi, tanda seseorang membuka pintu masuk toko.

Pintu toko terbuka, seseorang berpakaian rapi dengan tubuh gempal dan kacamata bulat masuk. Reina dan Raya serentak menyapa mengucapkan selamat datang pada orang itu.

Dito    : “Aku ingin mengambil pesanan” Ucapnya seraya mendekati etalase.

Reina : “Sudah memesan sebelumnya Pak? Tanya Reina ramah dengan senyum.

Dito    : “Ayahku bilang aku tinggal mengambilnya disini”.

Reina : “Ayah?”

Ah! Reina mengingat pesan singkat semalam, sebelum mandi dia sempat membaca pesan di handphone yang ternyata dari Pak Tomo , bahwa besok anaknya yang akan mengambil pesanan.

Reina segera membungkus pesanan seperti biasa yang dipesan oleh Pak Tomo.

Reina : “Apakah Pak Tomo tidak masuk hari ini?” Tanya Reina sambil memasukkan kotak kue ke dalam plastik.

Dito    : “Ayah sudah berhenti, dan aku menggantikannya mulai hari ini”.

Raya  : “Ho jadi Pak Tomo sudah tidak bekerja lagi?”

Dito  : “Begitulah, karena alasan kesehatannya Ayah memutuskan untuk berhenti sebelum kontraknya berakhir, sebagai gantinya aku yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan nya” 

Ini adalah kali pertama Reina bertemu secara langsung dengan Dito, selama ini dia hanya mendengarnya dari Pak Tomo. Dito adalah anak Pak Tomo dia orang yang pemalu, dia lebih banyak menunduk saat bicara. Selain pemalu Dito seseorang yang mudah berkeringat maka dari itu dia selalu membawa sapu tangan kemanapun, dan sesekali mengelap keringatnya. Dia juga sedikit tidak lancar berbicara, jika dalam kondisi takut, cemas atau tegang dia sering kali bicara terbata-bata.

Dito    : “ Iya”

Reina : “ Ah, berarti anda adalah Dito?”

Dito    : “ Benar, darimana kau tahu namaku aku bahkan belum memperkenalkan namaku” 

Reina :“Saya berhutang banyak pada anda, mungkin Ayah anda tidak banyak bercerita tentangku yang pernah sangat terbantu oleh anda dan Pak Tomo” 

Raya dan Dito bingung, dan hanya menyimak perkataan Reina.

Setelah pesanan sudah siap, Reina menyiapkan total tagihan di mesin kasir. Dito lalu mengambil plastik kue yang diserahkan Reina dan menuju ke mobilnya yang di parkir di gedung sebelah. Dito mengatakan kalau Tuan mudanya sedang ada meeting dengan rekan bisnisnya, karena lokasi toko dan tempat meeting hanya terhalang satu gedung Dito memutuskan untuk sekalian mengambil pesanan kue dari toko itu.

Karena sebab itulah Raya dan Reina tidak mempersiapkan kue nya. Biasanya setiap kali mereka melihat mobil hitam parkir di seberang jalan, mereka sudah tahu Pak Tomo akan mengambil pesanan maka Reina atau Raya akan bergegas membungkus kue.

Kisah dibalik Pak Tomo yang berjasa bagi Reina.

Sedari kecil Reina tinggal di panti asuhan, saat usianya 12 tahun sepasang suami istri mengadopsinya. Orang tua baru Reina menjual  tahu yang mereka buat sendiri, mereka membuka toko kecil  di rumah mereka. 

Dua tahun pertama semua berjalan baik,  dia mendapat orang tua baru yang sangat menyayanginya. Meskipun ekonomi mereka tidak terlalu baik, tapi mereka menyekolahkan Reina di sekolah menengah pertama yang cukup bagus di kota itu.

Sayangnya masa - masa indah keluarga kecil Reina tidak berlangsung lama, saat Reina sudah menginjak tahun ketiga sekolah menengah, Ibu asuhnya mulai  sering sakit-sakitan dan saat dibawa ke rumah sakit ternyata Ibunya mengidap kanker stadium akhir. Penyakit yang sebenarnya sudah lama diderita tapi dia  tidak pernah mengatakannya pada siapapun bahkan pada suaminya.

Selama 20 tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, karena dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi lah maka dia memutuskan untuk mengadopsi anak. Dia ingin merasakan menjadi orang tua setidaknya di sisa hidupnya. 

Hanya berselang setelah 6 bulan setelah penyakit Ibunya terbongkar, sang Ibu meninggal dunia. Suaminya yang tidak bisa menerima kenyataan lalu menjadi seperti orang linglung, sering pulang malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Terkadang dia memukuli Reina tanpa alasan, setelah kepergian Ibunya hidup Reina berubah drastis, tidak ada lagi kebahagiaan tidak ada lagi kasih sayang.

Meskipun begitu, Reina tetap berusaha bersabar dan bertahan menghadapi perubahan Ayahnya. Sampai suatu ketika pada hari kelulusannya, Ayahnya sudah menunggu di depan pintu rumah sambil memegang pisau besar, melihat toko yang hancur berantakan sepertinya sang Ayah baru saja mengamuk. Orang- orang sekitar  berkerumun tapi tidak ada yang berani mendekat. Mereka semua mengisyaratkan agar Reina tidak mendekat, tapi Reina tetap nekat menghampiri Ayahnya itu. 

Ayah  : “ Kenapa aku disini?”

Reina : “ Ayah, sadarlah kumohon”

Ayah  : “ Aku seharusnya menyusul Ibumu” 

             “ Pergi, pergi” lanjutnya.

Ayah Reina mendorong nya sampai tersungkur. Reina yang ketakutan, perlahan bangkit dan berjalan mundur lalu berlari menjauh. Ayahnya melempar apapun yang ada di hadapannya, dan meraung - raung berteriak pada siapapun orang yang mencoba mendekatinya.

Rintik hujan membasahi tubuhnya, kakinya masih bergetar tapi ia harus tetap berlari untuk mencari tempat berteduh. Reina berhenti di sebuah halte bus yang atapnya lapuk dan bangkunya rusak karena tampaknya sudah lama tidak terpakai.

Reina menatap ke bawah, dia melihat darah menetes diantara rintik air hujan yang jatuh di kakinya. Ternyata tetesan darah itu berasal dari tangannya yang terluka diakibatkan oleh lemparan benda yang mengenai lengannya tadi, rasa takutnya sangat besar sampai dia tidak menyadari lengannya terluka.

Sebuah mobil hitam berhenti persis di hadapannya. Seseorang keluar dari dalam mobil sambil membawa payung, pria paruh baya ini lantas bertanya apa yang terjadi padanya. Dia adalah Pak Tomo. 

Tomo : “ Apa kau baik-baik saja? Tanganmu terluka” 

Mata polos namun penuh ketakutan itu menatap Pak Tomo, Reina tak berkata apa-apa, dia yang masih syok tiba-tiba menitikkan air mata. Airmata yang menetes bersama air hujan yang membasahi wajahnya.

Dengan mobil , Pak Tomo membawa Reina ke sebuah rumah kecil, rumah petak dengan hanya satu kamar. Rumah yang jika dilihat dari barang-barangnya itu hanya dihuni oleh laki-laki.

Tomo : “Minumlah, dan tenangkan dirimu disini” Pak Tomo menyerahkan segelas teh panas.

Reina mengangguk dan meminumnya perlahan. Tangannya yang dingin masih bergetar.

Tomo : “Ini adalah rumahku, aku tinggal bersama anakku. Tapi semenjak aku bercerai dengan Istriku tahun lalu anakku ikut bersama istriku dan dia sekolah menengah disana. Karena aku tinggal di rumah yang disediakan majikanku rumah ini jadi tidak berpenghuni. Tinggallah disini , sampai kau dapatkan tempat baru” ujar Pak Tomo mengambilkan baju ganti dari lemari milik anaknya.

Sejak hari itu Reina tinggal di rumah sederhana milik Pak Tomo, sesekali Pak Tomo datang berkunjung untuk mengisi lemari pendingin dengan makanan siap saji atau mengisi lemari dapur dengan  makanan instan lainnya.

Karena saat pergi Reina hanya memakai seragam sekolah, Reina tak memiliki pakaian ganti oleh karena itu Pak tomo mengizinkannya untuk  memakai baju milik Dito  yang usianya hanya satu atau dua tahun di atas Reina. 

Satu bulan berlalu Reina memutuskan untuk mencari kerja karena dia ingin melanjutkan sekolahnya ke menengah atas. Saat Reina merapikan tasnya, tidak sengaja dia menemukan buku tabungan yang terselip di bagian belakang tasnya dan ternyata tabungan atas nama dirinya. Reina tidak menyangka rupanya selama ini sang Ibu asuh selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan Reina. Tidak begitu banyak tapi cukup untuk mendaftar sekolah dan hidup beberapa bulan kedepan.

Saat berpamitan dengan Pak Tomo, Reina menyampaikan terima kasihnya karena secara tidak langsung Pak Tomo yang menyelamatkan nyawanya,  dan juga untuk Dito yang sudah meminjamkan semua pakaian dan barangnya selama dia menumpang tinggal di rumah itu.

Selain meminjamkan tempat tinggal  Pak Tomo juga lah yang merekomendasikan Reina untuk bekerja paruh waktu di Toko Kue Tradisional itu. Bulan lalu saat Pak Tomo mengambil pesanan dia membaca lowongan untuk pekerja paruh waktu.  

Begitulah bagaimana Reina mengawali harinya sebagai pelajar menengah atas dan pekerja paruh waktu di Toko Kue.

Raya  : “Tuan Tomo orang yang sangat baik” Komentar Raya setelah mendengar cerita masa lalu Reina dari awal dia diadopsi hingga akhirnya dia sampai disini dan bertemu Raya sebagai rekan kerjanya kini.

Reina : “Ya, dia penyelamat hidupku. Ketika libur aku akan berkunjung ke rumahnya untuk melihat kondisinya. Kuharap dia baik-baik saja”

Raya   : “ Lalu, bagaimana dengan Ayah angkat mu?”

Reina : “Kau tau kenapa pada minggu keempat setiap bulannya aku tidak pernah bisa pergi keluar bersamamu atau yang lainnya? Sebenarnya aku mengunjungi Ayahku. Aku tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, Aku selalu melihatnya dari jauh. Aku hanya ingin memastikan kondisinya baik-baik saja, walau bagaimanapun dia adalah Ayah yang pernah begitu tulus menyayangiku”

Ternyata selama 3 tahun ini Reina juga selalu menyisihkan sebagian upah dari bekerja untuk mengunjungi Ayahnya, dan menitipkan uang kepada tetangga Ayahnya tanpa pernah memberi tahu kalau itu uang darinya.

Reina tahu sejak kepergian Ibunya, Ayahnya tak lagi membuka toko dan untuk menyambung hidup dia hanya mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. Dengan kondisi psikis tidak stabil yang dia derita , tidak ada yang bersedia mempekerjakannya karena suatu ketika dia bisa berubah brutal tak terkendali. 

Berbagai kesulitan hidup yang Reina hadapi, membuatnya melupakan apa yang pernah dia janjikan, janji untuk menggapai cita-citanya ketika suatu hari nanti dia bertemu kembali dengan orang yang dia kagumi, Reino. 

Hujan rintik seperti kemarin, tapi suasana hati Reina yang tidak begitu baik karena dia harus mengingat masa sulit yang pernah dilaluinya. Irama hujan yang mendayu-dayu seolah membawanya larut dalam kesedihan. Hujan hari ini seolah menyanyikan lagu kepedihan untuknya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play