Chapter 4 : Nyanyian Masa Lalu

Hari baru dengan semangat baru, Reina bertekad untuk menyelesaikan kesulitan yang menggangu dia akhir-akhir ini.

Jam 09.00 tepat Reina sudah mendapat telepon dari Jovan, kali ini dia harus mengantarkan kue ke kolam renang. Tanpa membuang waktu, Reina bergegas berganti pakaian, memakai seragam lengkap dengan celana training. Dengan sigap dia menata kue dari kotak besar ke dalam etalase, lalu mengelap kaca etalase, merapikan meja kasir, menyapu dan mengepel lantai semua itu dia lakukan dengan begitu cepat.

Raya terperangah melihat Reina yang mengganti pakaian, melakukan pekerjaan rutin pagi di toko dan  memasukkan kue pesanan  ke dalam kotak secepat kilat.

Reina   : “Aku berangkat”. Reina berlari keluar, lalu menancap gas skuternya.

Raya  : “Hati-hati di jalan”. Raya melambaikan tangan dari balik pintu kaca, tapi Reina sudah melaju cukup  jauh.

Raya heran tapi juga senang melihat Reina yang begitu bersemangat.

Di rumah Jovan. 

Jo sedang menikmati renang di pagi hari, kolam renang yang sangat besar dan luas hanya dia sendiri di sana.

Reina sampai dalam waktu 30 menit saja, biasanya dia sampai satu jam lebih karena setidaknya dia harus berputar-putar mencari ruangan selama lebih dari setengah jam. Sebelumnya, dalam perjalanan dari toko menuju ke rumah Jo Reina sempat menelpon Dito,  Reina menanyakan dimana letak kolam renang. Reina menghafal apa yang dikatakan Dito. Selain itu dia juga mengingat -ingat kembali rute lorong dan pintu ruangan yang kemarin pernah dilewatinya. 

Dengan semangat yang membara, Reina bertekad untuk ‘mengalahkan’ Tuan Muda itu kali ini, dia sangat yakin kali ini dia tidak terlambat.

Reina melihat Jo yang masih berenang, dia meluncur ke arah Reina berdiri.

Jo keluar dari dari kolam renang. Tubuh basahnya sangat sempurna, rambutnya yang terurai karena basah turut menambah kesan seksi. Reina mendapat pemandangan yang langka untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya dia melihat Jo yang memainkan piano. What lucky flea she is XD

Jo meraih handuk dan dia taruh di kepala, lalu sesekali menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. 

Jo menatap tajam ke arah Reina.

Jo : “ Kau terla … “

 

Reina memotong perkataan Jo, dia menunjuk jam di tangannya sebagai isyarat kalau dia datang tepat waktu.

 

Jo mengambil plastik yang dibawa Reina. Lalu berjalan melewatinya. Tak berapa lama dia berhenti, berbalik dan memberikan isyarat dengan telunjuknya agar Reina mengikutinya. 

Reina mengikuti Jo, mereka berjalan beriringan dalam diam.

Jo sampai di ruangan kerjanya, tempat pertama kali Reina mengantarkan pesanan Jo. Ruangan kerja yang ternyata terhubung dengan kamar tidurnya. Reina masih mengikuti tepat di belakang Jo. Saat hendak masuk kamar tidur, Jo menghentikan langkahnya dan menatap Reina. Reina mengerti kalau dia memintanya untuk tidak ikut ke dalam, Jo akan berganti pakaian.

Sambil menunggu mata Reina menyapu setiap sudut ruangan, ruangan yang sangat besar ini hanya sebuah kamar tidur. Ruangan yang luasnya 5 kali rumah Raya yang diisi oleh 9 anggota keluarganya. Dua dunia berbeda yang disaksikan Reina.

Tak berapa lama Jo kembali. Mata Reina masih asyik melihat-lihat.

Jo keluar dari ruangannya, disusul Reina. Namun kali ini jarak mereka saat berjalan lebih dekat. Meskipun begitu Jo tidak menyuruhnya untuk mundur, dan membiarkan Reina berjalan dengan jarak sedekat itu. 

Selama ini hanya Pak Tomo yang berani berjalan beriringan dengan Jo, bahkan Dito yang sekarang jadi supir pribadinya  saja masih menjaga jarak agak jauh dengannya. Seluruh pegawai di rumah itu tidak satupun berani melihat wajah Jo secara langsung, setiap kali Jo lewat mereka seketika membungkukkan badan dan menundukkan kepala.

Pada awalnya Reina sangat takut pada Jo, tapi entah kenapa hari ini dia merasa beban dan  rasa takut yang menghantui nya itu sedikit memudar. Perasaan ringan yang dirasakannya hari ini datang begitu saja, membuatnya melangkah tanpa rasa was-was saat berada di rumah Jo. Rumah dengan atmosfer yang sangat berat bagi orang-orang dari dunia yang berbeda seperti Reina.

Reina masih mengikuti Jo. Dalam hatinya dia bertanya- tanya  kemana dia akan dibawa pergi, karena di sepanjang perjalanan Jo hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. 

Mereka sampai di sebuah pantry. 

Pantry yang sangat besar tapi tampaknya sudah tidak terpakai, meskipun begitu peralatannya masih sangat lengkap dan terawat dengan baik. Dari peralatannya pantry ini bisa dipastikan hanya digunakan khusus untuk membuat kue, bukan untuk memasak. Di ujung meja yang terbuat dari stainless itu masih tersimpan beberapa karton coklat, susu bubuk, dan 3 karung tepung terigu yang salah satunya sudah terbuka. Dilihat dari warnanya semua bahan bahan di pantry ini sudah kadaluarsa.

“Sayang sekali pantry ini sepertinya tidak lagi dipakai” Batin Reina.

Jo mengambil sebuah kocokan telur, dari salah satu lemari yang berada di samping oven besar.

Jo  : “Ini”

Jo menyerahkan kocokan telur berwarna silver itu pada Reina, dia menerimanya dengan ekspresi bingung.

Reina : “Apa ini” Tanya Reina, sambil terus saja memandangi kocokan telur yang dipegangnya.

Jo       : “Kocokan telur” Jawabnya datar.

Reina : “Aku tahu itu, tapi untuk apa kocokan telur ini?”

Jo       : “Hadiah”

Reina : “Hadiah?”

Jo       : “Karena kau tidak terlambat hari ini”

Mendengar itu Reina terkejut, perasaan terkejut yang bercampur-campur. Dia tidak menyangka akan mendapat sebuah hadiah karena hal itu, terlebih lagi hadiahnya adalah sebuah kocokan telur, kocokan telur bekas pakai. Perasaan kaget, heran, dan bahagia yang beradu bersamaan.

Jo       : “Tidak terlalu enak, tapi tidak buruk. Kau hanya perlu berlatih”.

Reina : “Hmmm?” Reina tidak mengerti maksud perkataan Jo.

Jo     : “ Aku memakan kue yang bentuknya aneh, sedikit gosong, dan rasanya juga tidak biasa. Pak Tomo bilang itu buatanmu”

Reina semakin terkejut, jadi yang dia maksud itu adalah kue buatannya yang beberapa waktu lalu pernah Reina buat dan dia  berikan sebagai hadiah untuk Pak Tomo coba. Ternyata Jo juga mencobanya.

“ Jadi dia memberikanku kocokan telur ini agar aku…….?”  Reina tidak menyangka Jo memberikan sebuah hadiah dengan makna yang begitu besar baginya. Membangkitkan kembali cita-cita Reina yang telah lama tenggelam dan kian terlupakan. Reina yang sedari kecil senang melihat kue-kue cantik yang berjajar di etalase toko, namun tidak pernah bisa mencobanya Reina hanya bisa melihatnya dari kejauhan.

Flashback.

Reina yang berusia 7 tahun, bersama dengan teman-teman dari panti asuhan yang usianya tidak jauh berbeda dengannya diajak oleh pengasuh panti untuk menghadiri sebuah acara pernikahan. Acara pernikahan yang sekaligus  acara amal, oleh karena itu mereka mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk menghadiri acara tersebut.

Acara pernikahan yang sangat meriah, dihadiri ratusan anak dari berbagai panti asuhan di daerah itu. Semua anak begitu bersemangat melihat banyak kado yang berjajar di pojok  ruangan mereka berlarian dan berkumpul di sana, tapi mata Reina kecil justru tertuju pada kue-kue kecil yang berjajar rapi di atas meja, kue coklat dengan berbagai bentuk dan warna. 

Reina berjalan mendekati meja, dan melihat satu persatu kue itu dari dekat.

Seorang petugas katering yang bertugas menghampiri Reina. Reina terkejut, dia berpikir wanita itu akan memarahinya karena melihat kue-kue itu terlalu dekat.

Wanita itu berlutut di hadapan Reina agar tingginya sejajar dengannya.

Dengan senyum diwajahnya wanita itu bertanya.

Pertugas katering : “Apa kau mau kue ini?” Wanita itu memberikan kue coklat dengan topping cream putih dan satu buah strawberry diatasnya.

Reina mengangguk, lalu menerima kue itu.

Petugas katering : “Kenapa kau tidak bergabung dengan teman yang lainnya? Bukankah menyenangkan mendapat salah satu kado di ujung sana?” Tanyanya.

Reina menoleh ke belakang, melihat anak-anak lain yang sibuk dengan kadonya masing-masing. Reina kembali menatap wanita itu , lalu menggelengkan kepalanya.

Reina                      : “Apakah Kakak yang membuat kue-kue ini?” Tanya Reina.

Petugas katering    : “Iya, aku dan teman-temanku yang membuatnya” Jawabnya dengan sangat ramah.

Reina                      : “Kue yang mana yang dibuat oleh Kakak?”

Petugas katering    : “Ini, kue yang kau pegang ini adalah buatanku”

Reina                      : “Cantik sekali, aku tidak berani memakannya”

Petugas katering    : “Begitukah?Aku senang sekali mendengarnya”

Wanita yang mengikat rambut panjangnya itu kemudian  mendekatkan  wajahnya ke telinga Reina, dia bermaksud untuk berbicara dengan sedikit berbisik pada Reina.

“Kau tahu? Pagi tadi sebelum aku berangkat kerja, kekasihku melamarku. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan, dan lihat hasilnya aku membuat kue yang cantik ini”. Bisiknya.

Kedua bola mata Reina membulat. Ekspresi anak kecil yang senang dan penasaran.

Wanita itu lalu berdiri, namun dia agak membungkukkan badannya.

“Membuat kue itu tidak hanya mengaduk adonan terigu dan coklat saja, tapi ada perasaan pembuatnya yang ikut tercampur di dalamnya. Dengan kata lain kau bisa mengekspresikan perasaan mu melalui sebuah kue yang kau buat”

Petugas lainnya memanggil wanita itu untuk meminta bantuaan. Dia bersiap pergi, dia mencubit hidung Reina dan berlalu.

Reina melihat kue yang dipegangnya, memperhatikannya dengan detail dari ujung strawberry sampai ujung kertas yang melapisi bagian bawah  kue coklatnya. Reina bisa merasakan kebahagiaan wanita berseragam koki tadi dengan hanya melihat kue dihadapannya.

Keesokan harinya, Reina mengumpulkan tugas menulisnya kepada pengasuh. Dia datang ke kelas  lebih awal dari biasanya. Ibu pengasuh menerima kertas yang berisi tugas yang diberikan beberapa hari yang lalu..

Tugas menuliskan cita-cita, dan Reina menulis 

Cita-citaku adalah : Menjadi pembuat kue.

                                                            ………….

Sore hari di toko.

Suasana toko cukup sepi, hanya ada satu meja dekat jendela  yang terisi oleh sepasang lansia.

Secangkir teh dan kopi panas menjadi teman kue di atas meja. Mereka berdua begitu santai bercengkrama menikmati suasana sore yang hangat. 

Kriiing!!! Telepon toko berdering. Reina mengangkat gagang telepon.

Reina   : “Toko kue tradisional”

Monika  : “Dengan Monika dari Rumah Sakit Mitra, waktu itu pesan paket kue untuk seminar”

Reina mengingat-ingat sejenak. Ah! Reina ingat, Dokter cantik berkacamata.

Reina  : “Ya Ibu Dokter, ada yang bisa kami bantu?”

Monika : “Ah iya sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih, para peserta dan panitia sangat suka dengan kue yang kalian kirim kemarin”.

Reina   : “Syukurlah, kami sangat senang mendengarnya”.

Raya mendekati Reina yang sedang menerima telepon. Ekspresi sumringah Reina membuat dia penasaran siapa yang bicara dengannya. Raya bahkan menempelkan telinganya ke gagang telepon yang sedang dipegang Reina.  

Raya : “Siapa .. siapa ..” Bisik Raya.

Reina menaruh telunjuknya di mulut mengisyaratkan Raya untuk diam dan tidak membuat suara. Raya menutup mulut dengan kedua tangannya namun tetap sambil menguping.

Monika   : “Besok tolong kirimkan jenis kue yang sama masing-masing jumlahnya 20 pcs, pakai kotak besar saja tidak perlu dipisah-pisah seperti kemarin”

Reina      : “Baik, untuk pengantaran jam berapa Dok?” 

Monika    : “Jam istirahat saja, bertemu dengan saya di ruang cardiology lantai  2”

Reina      : “Baik, besok akan saya antar jam 11.30”

Monika  : “Ok, untuk pembayarannya akan langsung saya transfer ke pemilik seperti sebelumnya”

Reina       : “Baik Dok, terima kasih”

Monika     : “Ok”

Tuuut..Tuuut Sambungan telepon putus.

Raya  : “Jadi besok kita akan mengantarkan lagi ke rumah sakit kemarin?” Tanya Raya bersemangat.

Reina    : “Iya, tapi pengantarannya siang. Jadi kita tidak bisa pergi berdua, karena salah satu dari kita harus ada yang menjaga toko.” Jelas Reina.

Raya     : “Aku saja yang mengantar, siapa tau aku beruntung dan bertemu lagi dengan pangeran berjas putih itu lagi”.

Reina     : “Oh ya, bukankah besok kau ada janji dengan seseorang?”

Raya  : “Ahhh, betul juga. Ish kenapa waktunya harus bersamaan. Haruskah aku membatalkannya”

Raya membeli sesuatu secara online, dan membuat janji dengan penjualnya untuk bertemu di toko saat jam makan siang. 

Reina : “Mungkin saja pangeran berjas putih  itu hanya peserta seminar dan bukan dokter tetap disana”

Raya  : “Ah benar juga, kalau begitu aku tidak perlu memikirkannya lagi”

Raya sangat polos, baru saja dia dibuat pusing oleh dua pilihan yang berat baginya tapi seketika kembali normal begitu saja hanya dengan sebuah alasan yang Reina berikan. Seseorang dengan sifat bebas tanpa berpikiran berat terhadap masalah apapun, Reina mengagumi sifat bebas tanpa beban yang dimiliki Raya.

                                                                        ……………

Di dalam kamar kos Reina.

Sebelum tidur Reina selalu menyempatkan untuk mandi. Dengan kaos pendek polos dan celana training panjang Reina mendekati mejanya. Kepalanya masih dibalut handuk, dan masih basah. Reina memutuskan untuk duduk sambil menunggu rambutnya kering.

Reina melihat kalender yang ada di atas meja.

Tiba-tiba dia terpikir untuk mencatat sesuatu. Reina menulis menggunakan spidol kecil dengan tinta merah. Membuat lingkaran pada tanggal hari ini, lalu menambahkan catatan : Kocokan telur.

Tanpa dia sadari, Reina tersenyum sangat manis saat menuliskan catatan itu.

Di rumah sakit pukul 11.45 Reina sudah sampai di lantai 2, tadi dia berangkat pukul 11.30 dari toko. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke Rumah sakit dengan skuter, Reina masih punya cukup waktu sampai jam istirahat siang. Reina menenteng 6 kotak kue sambil menyusuri lorong rumah sakit, dia membaca satu persatu nama ruangan yang tertempel di samping pintu masing-masing ruangan yang dilewatinya.

Ruang kardiologi, ah ini dia. Gumamnya.

Tok Tok ! Reina mengetuk pintu, membuka pintu perlahan lalu melangkah memasuki ruangan itu.

“Toko kue tra ..” Perkataan Reina terhenti karena dia melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di atas  meja kerja sambil membaca dengan detail setiap baris print out yang ada di tangannya.

Seorang dokter muda, dokter yang dilihat oleh Raya beberapa waktu lalu di depan pintu lift. Ini pertemuan pertama Reina dengannya, tapi wajahnya seolah tidak asing baginya. Dia adalah Reino, dia yakin itu adalah Reino. Orang yang sangat dirindukannya selama ini, dan kini orang itu  ada di hadapannya.

Reina berdiri tanpa kata.

Reino menyadari seseorang memperhatikannya, lalu dia menoleh. Deg! Pandangan mereka bertemu, untuk beberapa saat mereka saling menatap. Saat itu jantung Reina berdegup semakin kencang, dia tak tahu harus menunjukkan ekspresi  seperti apa.

Reino tersenyum pada Reina, senyuman yang biasa dia berikan pada rekan kerja atau pasiennya. Wajah ramahnya tidak menunjukkan raut wajah terkejut sedikitpun  ,bukan raut wajah dari seseorang yang baru bertemu lagi dengan orang yang pernah dia kenal di masa lalu.

Dokter Monika muncul, membawa secangkir kopi. 

Monika   : “Kau sudah sampai?”

Reina dengan segera menata kembali hatinya.

Reina    : “I..iya” Reina terbata.

Monika  : “Aku memesan kue yang kemarin. Professor suka sekali, aku pikir dia akan senang jika meeting sore ini ada kue yang dia suka”

Reino    : “Kau memang ahlinya mengambil hati Professor” ucapnya sambil melanjutkan membaca, dan sesekali menandai beberapa bagian print out dengan pena yang dia ambil ari saku jas putihnya.

Reina meletakkan kotak kue diatas meja tamu. Lalu pamit undur diri.

Reina   : “Dokter, saya letakkan disini ya”

Monika :  “Ok, terima kasih. Ah ngomong-ngomong siapa namamu? Ini kedua kalinya kita bertemu tapi aku belum tau namamu.

Reina : "Reina, nama saya Reina". 

Reino sempat menghentikan coretan yang dia buat, disaat bersamaan Reina melangkahkan kaki keluar dari ruangan.

Reina berjalan menyusuri lorong yang sama, namun dengan perasaan yang berbeda. Kakinya terasa melayang, dia tak dapat merasakan kakinya sendiri. Perasaannya campur aduk, dia bahkan tidak tahu harus senang atau sedih saat itu.

"Apakah dia tak lagi mengenaliku?, atau aku salah mengenalinya?. Mungkinkah dia hanya orang yang hanya mirip dengannya? Tapi dia memiliki nama yang sama, apakah ada kebetulan yang seperti itu? Aku yakin tak salah mengenali wajahnya, bahkan namanyapun sama. Tapi kenapa hanya aku yang mengenalinya?" 

Isi kepalanya dipenuhi dengan tanda tanya besar. 

"Apa yang harus aku lakukan?"

Reina menuruni anak tangga, dia hendak turun ke lantai 1. 

"Reina!" Seseorang memanggilnya.

Terdengar suara langkah kaki yang berlari, suaranya semakin dekat. Seseorang muncul dibalik dinding tangga. Reino.

Reina berbalik, mereka saling menatap. Reino tersenyum padanya, Reina mulai berkaca-kaca.

Reina mengendarai skuter menuju toko, Dengan senyum mengembang dia menerobos hujan yang mengguyur kota. Hatinya diliputi kebahagiaan, kebahagiaan yang sama yang pernah dia rasakan waktu dulu.

Alunan hujan kali ini membawanya kembali pada kenangannya masa itu, saat Reino memboncengnya pulang dengan sepeda kala hujan. 

Bunyi rintik, dan deru angin yang menyatu dengan alunan suara hujan,  membawanya ke masa lalu.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play