Chapter 3 : Nyanyian Asa

Malam ini Reina pulang agak terlambat, karena menjelang toko akan tutup malah banyak pembeli sehingga mereka harus tutup sedikit lebih malam. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam Reina masih mengayuh sepedanya menuju kosan. 

Sudah hampir tengah malam, tapi tidak biasanya lampu kosan masih banyak yang menyala. Terdengar sayup suara riuh dan bising dari lantai 3.

Saat Reina berjalan perlahan hendak menuju kamar, seseorang dengan alis menjulang bagai celurit kembar memanggilnya dari tangga  yang menuju lantai 3 . Reina!

Ternyata pemilik kos yang memanggil. Jarang sekali melihat Ibu kos ada disana, karena memang rumah tinggal Ibu Kos berada cukup jauh. Ibu Kos hanya sesekali datang, biasanya saat awal bulan untuk menagih biaya sewa atau iuran lainnya.

Seketika Reina ingat dia juga belum membayar sewa untuk bulan ini. “ Ah gawat, aku belum membayar sewa. Dia pasti marah kali ini, karena aku sudah telat untuk kedua kalinya” Gumam Reina dalam hati.

Sambil tersipu malu Reina menghampiri Ibu Kos.

Ibu Kos : “ Kemarilah” Panggil Ibu Kos yang akrab dipanggil Madam itu melambaikan tangan pada Reina. 

Reina mengangguk lalu mendekat. Tangan Reina ditarik dan dia ikut bersama Madam  ke lantai 3, pelataran kosong yang biasanya dipakai untuk menjemur pakaian atau barang lainnya oleh penghuni kos.

Ternyata semua penghuni sedang berkumpul disana. Termasuk si Introvert Barong dan si imut Tara bersama Ibunya.

Tara : “ Kak Reina, ayo makan sama aku. Ada ayam goreng kesukaan Tara”

Ternyata hari ini hari spesial untuk Madam, anaknya yang paling tua baru saja lolos  diterima bekerja di perusahaan ternama. Maka dari itu dia membuat acara makan bersama untuk penghuni Kosannya sebagai tanda syukur. Kebetulan sekali karena hari ini toko cukup ramai, Reina sampai tidak sempat makan malam. Reina ikut bergabung dengan yang lainnya, menikmati suasana penuh sukacita.

Malam semakin larut, seluruh penghuni kos turut larut dalam kemeriahan acara sederhana yang dibuat oleh Madam, makanan menu rumahan, minum jus dan soda sangat menyenangkan jika dinikmati bersama-sama.

Momen seperti inilah yang membuat Reina merasa dia tidak pernah kesepian meskipun hanya hidup sendirian, kemanapun dan dimanapun dia selalu meyakini pasti akan selalu ada orang baik.

..................

Keesokan harinya Reina lari tergopoh-gopoh setelah memarkirkan sepedanya. Dari luar Reina melihat Raya sudah rapi dengan seragam dan sapu di tangannya, dia sedang asik mengelap kaca etalase. Reina lari ke ruang ganti dan mengganti baju dengan seragam Toko. Pagi ini Reina terlambat hampir satu jam.

Reina : “Maaf Raya, aku jadi membuatmu mengerjakan semuanya sendiri”

Raya  : “Tidak apa Reina, tapi tidak biasanya kau terlambat” 

Reina : “Semalam aku tidur terlambat, ada acara dengan penghuni kos lain”

Raya : “Oooh begitu. Hmmm mendengar itu aku jadi ingin kos, andai saja Ibu mengizinkan ku. Harus satu kamar dengan kelima adikku itu menyesakkan. Bahkan aku tidak bisa untuk membalikkan tubuhku saat tidur”

Reina tersenyum, meskipun kamarnya tidak besar setidaknya selama ini dia tidak pernah merasakan kesempitan saat tidur.

Reina : “Bagaimana jika sesekali kau menginap di kosan ku? Memang pemilik kos tidak mengizinkan selain penghuni tinggal disana, tapi jika hanya satu malam mungkin tidak akan ada masalah”

Mendengar ajakan Reina Raya mengangguk angguk sumringah. Dan mereka memutuskan akhir minggu ini mereka akan menghabiskan malam untuk makan dan nonton bersama di tempat kos Reina tinggal.

Telepon toko berdering , Reina mengangkat telepon.

Reina : “ Toko Kue Tradisional, dengan Reina” 

Dito    : “ Dengan Dito” suara Dito terdengar dari ujung telepon.

Reina : “ Ya Pak Dito”

Dito    : “ Aku mencoba menelpon ke handphone mu tapi tidak tersambung”

Reina teringat semalam dia tidak sempat men charge telepon genggam nya, setibanya di kosan dia ikut acara Madam di lantai 3 dan langsung tertidur pulas setelah acara selesai.

Reina : “Sepertinya handphone saya mati”

Dito : “ ………………….”

Reina membawa satu kotak pesanan Dito, pesanan kue coklat seperti biasa. Sambil memegang satu kantong plastik, Reina berdiri di depan sebuah gerbang rumah yang sangat tinggi. Dia mengingat perkataan Dito saat di telepon tadi.

“ Reina, saat ini aku sedang berada di bengkel. Tadi tidak sengaja aku menabrak  tiang telepon , karena menghindari orang yang menyebrang dengan tiba-tiba. Jadi hari ini aku tidak sempat untuk mampir ke toko dan mengambil kue pesanan Tuan Muda. Dia akan marah sekali jika aku terlambat, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengantarkan kue nya langsung ke rumah Tuan Muda? Oh ya satu hal, Tuan Muda saat ini ada di ruangannya. Ruangannya ada di lantai dua pintu sebelah kiri samping ruang meeting keluarga. Saat kau masuk ke ruangannya kau tidak perlu berkata apapun, Tuan Muda tidak suka ada suara apapun yang mengganggu saat dia berada di ruangannya. Kau cukup masuk dan simpan kue itu di meja.”

Mengingat pesan dari Dito, Reina menjadi sedikit grogi. Orang seperti apa Tuan Muda itu, dari pesan Dito dia mengambil kesimpulan kalau majikannya adalah seseorang yang memiliki temperamen buruk dan sangat menyeramkan. Reina sempat berpikir untuk kembali, tapi dia ingat Tua Muda itu adalah pelanggan setia Toko Kue, walau bagaimanapun Reina harus profesional dan berdedikasi penuh pada pekerjaannya. 

Setelah beberapa saat dia memotivasi dirinya dan mengumpulkan segenap keberaniannya, akhirnya Reina bersiap untuk masuk. Tapi melihat gerbang yang tinggi itu Reina bingung dan terdiam.

“Bagaimana cara membuka gerbang sebesar ini? Apakah ada tombol khusus agar pintu ini bisa dibuka?” 

Reina berjalan dari sisi ke sisi mencari tombol untuk membuka pintu gerbang yang tinggi dengan cat warna hitam pekat. Dia berniat untuk bertanya pada Dito, tapi dia ingat handphone nya masih di charge dan dia tinggal di toko. Seolah kehabisan cara, dia hendak memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba gerbang terbuka. Reina dengan sigap masuk karena dia khawatir jika tiba-tiba tertutup lagi.

Baru beberapa langkah masuk, Reina berhenti. Tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Rumah yang seperti taman Nasional menurutnya, dari depan gerbang ada jalan panjang dan berkelok menuju sebuah rumah besar yang berada di ujung jalan itu, sepanjang jalan di sisi kanan kiri jalan ada danau dan taman golf yang sangat luas. Jarak dari gerbang menuju rumah sangat jauh, Reina memilih untuk berlari karena dia harus segera kembali ke Toko, jika terlalu lama Raya akan sangat kerepotan menjaga toko sendirian.

Reina yang masih terengah-engah akhirnya sampai di pintu utama rumah, pintu kayu yang sangat tinggi seperti pintu kastil yang tergambar di buku-buku dongeng kerajaan. Pintunya Pun terbuka sendiri. Dia melangkah masuk perlahan, dan menaiki tangga dengan jalur bercabang menuju lantai 2. Dia mencari pintu yang berada di samping ruang meeting keluarga, tapi semua pintu bentuknya sama, serta terdapat beberapa jalur berbeda.

Akhirnya Reina mengecek setiap ruang yang berada di ujung lorong, tapi semuanya kosong tidak ada satu orangpun hanya dipenuhi furniture mewah saja. Setelah mengecek setiap ruangan Reina sampai di pintu terakhir, dia berharap kali ini dia masuk ke ruangan yang benar.

Pintu terbuka, Reina melangkah perlahan.

“Terlambat!” Suara dari balik kursi mengagetkan Reina.

“Ma.. ma .. ma.. Maafkan saya” Reina membungkukkan badannya, sambil berjalan perlahan ke meja untuk menyimpan kotak kue dalam plastik yang dia bawa.

Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di hadapannya. Reina mencoba menguatkan dirinya agar tidak gemetaran. Reina memberanikan diri mengangkat wajahnya.

Di hadapannya seseorang sudah berdiri dan tatapan tajam mengarah padanya. Seseorang dengan tubuh tinggi tegap, rambut agak gondrong, tidak tertata rapi tapi tidak berantakan. Sebut saja rock mix gangster style, perpaduan yang tidak biasa untuk seorang konglomerat yang biasanya digambarkan selalu rapi dengan setelan jas dan sepatu mengkilap. Meskipun penampilannya tidak serapi konglomerat yang dia bayangkan tapi entah bagaimana tapi tetap terlihat cocok. 

Reina menepuk kepalanya, apa yang sedang dia pikirkan di saat seperti ini.  Dia malah menilai penampilan customernya itu.

Note : Jovan, anak konglomerat dengan gaya 'urakan' versi Reina. Rambut gondrong, dan bertindik.

...........

Dia mengingat pesan Dito bahwa dia tidak perlu berkata apapun, sayanngnya dia terlanjur berkata maaf sebelumnya, dan hal itu membuat atmosfer dalam ruangan semakin tidak menyenangkan. 

Sambil kembali membungkuk, Reina meminta maaf. Namun hening. Reina mengintip dengan sedikit mengangkat wajahnya. Ternyata orang tadi sudah pergi. 

“ Apa itu tadi?” Gumamnya dalam hati.

Reina beranjak keluar pintu, dia menatap lorong yang begitu panjang. Lorong yang bahkan lebih panjang dari seluruh kawasan kosan tempat tinggalnya. Dia berjalan menyusuri lorong tapi rasanya dia tidak menemukan tangga tempat tadi pertama masuk. Dia menyadari kalau dia tersasar. 

“ Ada apa dengan rumah ini? Bahkan lebih luas dari lapangan bola standar Internasional !” Reina menggerutu sambil mengecek setiap pintu yang dia lewati.

Setelah berputar putar selama hampir satu jam barulah dia menemukan pintu keluar.

Tanpa disadari ternyata Reina 3 jam meninggalkan Toko. Reina kembali dengan nafas berat, berbaring di atas sofa panjang samping etalase. Bajunya basah karena keringat, seperti seseorang yang baru menyelesaikan lari maraton.

Reina : “Hari ini aku membakar 3000 kilo kalori” Keluhnya.

Raya  : “Apa kau berhasil menemukan rumahnya?”

Reina : “Bahkan aku menemukan Taman Nasional di tengah kota”

Raya  : “Benarkah? Aku harus kesana. Pasti menyenangkan mengunjungi Taman Nasional”

Raya yang polos begitu bersemangat membayangkan ada taman Nasional di kawasan itu, padahal Reina hanya mengibaratkannya saja. Tidak ingin memperpanjang, Reina pun hanya menghela nafas tanpa melanjutkan pembicaraannya lagi. Dia bahkan terlalu lelah untuk sekedar bercerita.

...................

Keesokan harinya berjalan normal seperti biasa, buka toko sesuai jadwal, customer lansia memenuhi bangku makan di tempat, kue - kue pun habis tak bersisa dari etalase. Begitupun esok harinya berjalan sebagaimana mestinya. 

Sayangnya rutinitas yang mendamaikan bagi Reina itu tidak berlangsung lama. Sampai akhirnya telepon berdering dari Dito yang kembali meminta tolong Reina untuk mengantarkan kue pesanan Tuan Mudanya.

Dia berpesan kali ini Tuan Mudanya yang akan menelponnya secara langsung karena dia sedang tidak berada di ruangannya. Hal ini  akan berulang selama dua minggu kedepan selama Dito pulang untuk merawat Pak Tomo yang sedang dirawat di rumah sakit. Jika Reina mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal bisa dipastikan itu adalah telepon dari majikannya itu.

Kriiiing!!! Handphonenya berdering nyaring. Reina diselimuti perasaan was-was seakan dia akan mendapat telepon dari pewawancara kerja.

Reina : “ Ha..halo” Reina terbata.

Jo       : “ Jo, ruang billiard”  Suara datar dari balik telepon.

Klik. Tuuuut. Telepon ditutup.

Begitu saja? Apa itu! Gerutunya dalam hati.

Jo? Jadi namanya Jo?Hmm nama yang cocok dengan penampilan yang kemarin itu.

Reina kembali menepuk kepalanya, kenapa lagi-lagi dia mengomentari orang itu?

Hanya dibutuhkan 5 menit untuk sampai ke rumah Jo dengan skuter pengantaran milik toko. Kali ini dia sengaja memakai skuter agar dia tidak perlu berjalan jauh dari gerbang depan menuju pintu rumah.

Reina sampai di depan gerbang rumah Tuan Muda. Pintu gerbang terbuka, Reina melaju dengan skuter matic berwarna biru. Skuter butut yang sudah jarang sekali dipakai untuk pengantaran, dan baru kali ini dipakai lagi untuk pengantaran yang tidak biasa. Customer loyal yang cukup merepotkan Reina.

“Mengingat ruang yang sebelumnya saja rasanya sulit, apalagi jika aku harus mencari ruang baru seperti billiard”. 

Reina menyusuri setiap sudut dan lorong rumah, membuka setiap pintu yang bentuk dan besarnya sama. Rumah besar dan luas dengan bentuk yang tidak biasa, ada ratusan ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Seperti restaurant, kantor, hotel, fitness center dan swalayan yang pindah ke dalam satu rumah, atau rumah ini lebih tepat disebut mall. Semua fasilitas ada, rasanya jika tinggal di rumah seperti ini tidak perlu lagi untuk keluar rumah untuk mencari hiburan.

Reina sudah sampai di lantai 4 dan masih belum menemukan dimana ruang billiard itu, Reina kembali ke lantai dasar mencoba mencari di sisi belakang rumah.

Reina Melihat ada ruangan full kaca, dan melihat meja billiard berjajar seketika dia berlari menuju ruangan itu, dan benar saja seseorang sudah berdiri menghadap meja billiard bersiap dengan sticknya.

“Terlambat” Ucapnya dengan nada agak tinggi, suaranya berat menambah kesan menyeramkan. Lagi -lagi sangat cocok dengan tipikal wajah dinginnya itu.

Reina melakukan yang sama seperti sebelumnya menundukan badan meminta maaf. Tuan Muda itu mendekat mengambil plastik yang dibawa Reina lalu beranjak pergi, tanpa sepatah katapun. 

Reina sudah tiba kembali di toko. Raut wajah lelah namun penuh dengan tanda tanya. 

Apakah rumah sebesar itu hanya Tuan muda tinggali sendiri? Untuk kali kedua Reina kesana tidak melihat anggota keluarga lain selain beberapa pelayan yang bekerja di tempatnya masing-masing. Lagipula rumah dengan fasilitas dapur seperti restoran lengkap dengan chef profesional begitu bukankah lebih mudah untuk dibuatkan kue yang sama dibandingkan harus memesan di toko yang letaknya jauh dari rumah dan akhirnya malah terlambat datang. Terlebih, jika Dito tidak bisa mengantarkannya selama dia pergi kenapa tidak meminta supir lain untuk menggantikannya? Entahlah, masih banyak pertanyaan lain yang berputar di kepalanya.

Plak! Tepukan Raya menyadarkan Reina yang sedari tadi berdiri tanpa bicara, namun isi kepalanya kusut dan semrawut.

Raya   : “Bagaimana pengiriman hari ini, apakah kau masuk ke Taman Nasional lagi?” Raya masih berpikir kalau Reina benar-benar melalui Taman Nasional untuk masuk ke rumah itu.

Reina   : “Hari ini bahkan aku masuk ke mall”

Raya   : “Benarkah? Bahkan ada mall disana?” Raya semakin tertarik. “Sepertinya pengiriman berikutnya, aku yang akan mengantar” tambahnya.

Reina  : “Sebaiknya tidak, atau kau tidak akan bisa kembali pulang”

Raya   : “Tidak bisa kembali pulang, apakah maksud mu di sana banyak penjahat?”

Reina : “Ha? Tidak ada yang seperti itu, tapi sebaiknya kau tidak perlu kesana. Dibandingkan dengan penjahat aku lebih khawatir saat kau bertemu dengan Tuan Muda itu”

Raya   : “Jadi Tuan Muda itu lebih jahat dari penjahat?”

Reina  : ”Hmmmmm, sudahlah. Ada customer masuk”

Reina menghela nafas panjang, Reina berpikir memang sebaiknya tidak bercerita apapun hari ini.

..................

Keesokan harinya.

Reina dan Raya sampai bersamaan di depan Toko. 

Reina : “Selamat pagi” Sapa Reina.

Raya  : “Paaaagiiiiii, apa kau tidur nyenyak tadi malam?”

Reina : “Tidak juga, entah kenapa sejak semalam aku merasa hari ini akan sangat melelahkan”

Reina membuka kunci pintu kaca Toko. Raya membantu mendorong membukakan pintu.

Raya  : “ Bukankah hari ini tidak ada pesanan khusus”

Reina : “ Memang tidak ada, tapi aku merasa akan terjadi sesuatu. Aku punya perasaan buruk tentang hal itu” 

Baru dua langkah Reina memasuki Toko, handphone nya berdering. Kriiing!!

Panggilan masuk, tertulis nama penelponnya ‘Mr Terlambat’  

Itu nomor telepon Tuan Muda Jo, Reina memberinya nama itu karena setelah pertemuan kedua kalinya hanya kata itu yang didapat darinya.

Jawaban atas perasaan buruk yang dia rasakan sejak semalam, ternyata dia mendapat telepon dari Jo sepagi ini. Bahkan kue dari dapur pun belum sampai tapi dia sudah harus bersiap dengan pengantaran.

Ahhh ! Ini dia. 

Reina : “ Ha …” Belum selesai Reina mengatakan halo, Jo sudah memotongnya.

Jo       : ” Ruangan piano” 

Klik. Tuuuut tuuuuut. Telepon diputus.

 

“Apa-apaan itu. Bagaimana bisa ada orang macam diaaaaaaaa!”

Reina sangat jengkel, dia berteriak di depan handphonenya yang sudah tidak tersambung itu.

Raya terperanjat mendengar teriakan Reina. Pertama kalinya Raya melihat temannya sejengkel itu. Reina selama ini dikenal sangat kalem, dan murah senyum. Ketika marah dia hanya menghela nafas lalu diam, jarang sekali dia menaikkan suaranya. Reina memang jarang bersuara keras, bahkan tertawa pun dia sering sering terkikik tidak pernah tertawa terbahak-bahak.

Kesulitan dan kesedihan yang dia lalui bertahun-tahun lah yang membuat dia tidak bisa mengekspresikan emosinya lebih lepas. Selalu ada beban di raut wajahnya, Reina tidak pernah menunjukan tawa atau kemarahan yang sepenuhnya. Semua ekspresinya seperti tertahan. 

Raya : “ Apa kau baik-baik saja?” Tanya Raya khawatir.

Reina : “ Ah, maaf. Kau pasti terkejut” Reina menyadari dia tidak seperti biasanya. Dan hal itu pasti membuat Raya kaget.

Raya : “ Mmmmp” Raya menggelengkan kepala.

Reina : “ Hari ini aku akan melakukan pengantaran lebih awal, setelah semua rapi aku langsung berangkat”

Raya : “ Dari Tuan Muda itu lagi?”

Reina mengangguk.

Raya : “ Bukankah kemarin dia baru pesan, tidak biasanya dia pesan berturut-turut seperti ini”

Reina : “Entahlah, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita akan dalam masalah jika menolak permintaannya”

Raya : “Aku semakin penasaran orang seperti apa Tuan Muda itu”

Reina : “Lebih baik tidak berurusan dengannya, atau kau akan direpotkan dengan permintaannya”

"Mungkin melihat wajahnya saja akan membuatmu bermimpi buruk". Batin Reina.

Reina teringat Dito. Dia lalu menelponnya.

Dito    : “ Ya”

Reina : “ Pak Dito maaf mengganggumu sepagi ini”

Dito    : “Tak apa”

Reina : “Ruang piano ada dimana ya?”

Dito    : “Hmm, ruang piano? Maksudmu ruang piano di rumah Tuan Muda?”

Reina : “Hari ini dia memintaku mengantarkan pesanannya kesana”

Dito : “Bukankah kemarin kau sudah mengantarkan pesanannya?”

Reina : “ Pesanan untuk hari ini”

Dito  : “Oh, setahuku Tuan Muda hanya pesan 2 atau 3 kali dalam seminggu. Ayahku yang mengatakannya. Tidak biasanya. Hmm tapi ya sudahlah, mungkin nafsu makannya sedang bagus. Itu kabar baik. Baiklah Reina dengarkan instruksi ku baik-baik …..”

Dito lalu menjelaskan secara detail dimana ruangan piano itu berada. Reina mendengarkannya dengan seksama.

Pukul 09.30 kue sudah berjajar tertata rapi di etalase, kaca jendela dan pintu sudah dilap, tidak lupa lantai juga selesai di pel. Papan promosi sudah berdiri di depan pintu. Toko sudah rapi dan siap melayani pelanggan. 

Reina memakai celana training karena dia akan naik skuter untuk mengantarkan pesanan ke rumah Jo. Seragam toko itu memang memakai rok untuk bawahannya, maka dari itu Reina selalu membawa training sebagai cadangan jika dia harus naik sepeda atau skuter.

Reina memarkirkan skuternya, lalu berjalan menuju pintu utama.

Kali ini Reina yakin tidak akan terlambat, Reina sudah menyiapkan catatan yang berisi jalur menuju ruang piano, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Dito tadi melalui sambungan telepon. Reina berjalan sambil membaca secarik kertas di tangannya, dia berjalan menuju bagian belakang rumah, tidak lagi berputar-putar di lorong yang sama seperti kemarin dan beberapa waktu yang lalu.

Saat menuju ruang belakang itu Reina melewati sebuah taman air mancur. Reina takjub, bahkan ada ruang terbuka dan taman secantik itu di dalam rumah. Reina menyusuri lorong terbuka sepanjang taman. 

Reina hampir sampai ke sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Ruang yang lebih tepat disebut pondok, ruang yang cukup besar dikelilingi dengan kaca besar dan berdiri  terpisah dari bangunan utama rumah.

Dari kejauhan , Reina dapat melihat isi dari ruangan itu, banyak berjajar berbagai instrumen. Bahkan bisa untuk mengadakan orkestra sendiri dalam rumah dengan instrumen selengkap itu.  Tapi Reina tidak melihat piano, mungkin terhalang atau berada di sisi lain di ruangan itu.

Reina semakin dekat menuju pondok, tapi dentingan piano menghentikan langkahnya. Seseorang baru saja memainkan piano. Alunan dentingan piano yang sangat indah, Reina berpikir mungkin alunan seindah ini dimainkan oleh seorang profesional yang disewa untuk memainkan piano.

Saat berada di bibir pintu, Reina terkejut. Ternyata yang memainkan piano itu adalah Jo. Jo yang dalam penilaian Reina adalah seorang gangster yang dingin adalah seseorang yang suka berkelahi di bar sambil mabuk. Reina terlalu banyak menonton drama XD

Siapa sangka seseorang yang dia bayangkan dengan sosok urakan ternyata lihai memainkan jari jemarinya diatas tuts piano, jari-jari panjangnya tampak menari menari seirama. Pemandangan yang jarang dia lihat, sejenak Reina terhanyut dalam alunan permainan piano Jo saat itu.

Breng !!!Suara piano yang dipukul sembarang. “ Terlambat!” 

Suara keras Jo mengagetkan Reina, dia tersadar dari lamunan.

Reina melihat Jo menatap tajam ke arahnya.

Reina setengah berlari untuk menaruh pesanan diatas meja yang berada di dekat piano. Setelah menaruhnya di atas meja tanpa berkata apapun Reina langsung berbalik dan hendak keluar. Tapi Reina mengurungkan niat untuk keluar, menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Reina dipenuhi dengan keberanian untuk bicara.

Reina : “Tuan, tidak bisakah anda sedikit pengertian? Bagaimana bisa aku tidak terlambat, sedangkan anda selalu memberikan  tempat baru setiap kali aku mengirimkan pesananmu. Dengan rumah sebesar ini, bahkan aku tidak bisa kembali menggunakan jalur yang sama seperti saat aku masuk tadi”.

Jo berdiri lalu berjalan pelan menghampiri Reina.

Reina baru menyadari apa yang dilakukannya itu adalah masalah besar. Reina menahan diri agar tidak gemetaran. 

Jo berjalan dengan tatapan lurus ke arah Reina, seolah dia siap memakan Reina hidup-hidup.

Reina seketika membungkukkan badan.

“ Ma .. maafkan saya. Sa..saya tidak tahu apa yang saya katakan barusan”.

Jo tidak menjawab, dia masih berjalan dan semakin dekat.

Tapi dia hanya mengambil plastik kue dari meja lalu melewati Reina begitu saja. Hening.

…………….

Reina dalam perjalanan kembali ke Toko, mengemudi skuternya dengan kecepatan rendah. Untuk pertama kalinya dia menghadapi pelanggan dengan karakter tidak biasa seperti Jo, bahkan tanpa berkata apapun dia sudah bisa membuat bulu kuduk Reina berdiri karena takut. Dia sedang berpikir dan mencari cara apa yang harus dia lakukan selanjutnya?

Di Toko.

Raya : “ Ada yang salah?” Melihat Reina terdiam dengan tatapan kosong membuat dia khawatir.

Reina : “Raya, ketika kamu berkali-kali mendapat nilai buruk dan setiap pulang ke rumah karena orang tuamu selalu marah. Apa yang akan kamu lakukan jika hari ini kau mendapat nilai buruk lagi? Apakah sebaiknya kau tidak pulang ke rumah?”

Raya : “Hoi Reina darimana kau tahu kalau aku selalu mendapat nilai buruk, ah pasti adikku yang ember itu kan yang memberitahumu?”

Reina : “A…” Reina tidak bisa menjawab Raya, karena sebenarnya itu hanya perumpamaan saja. Siapa sangka ternyata itu benar dialami Raya.

Raya : “ Waktu kelas 2 SMP aku pernah 2 kali mendapat nilai 0, aku benci sekali matematika. Ibuku sangat marah, dan bilang kalau aku mendapat nilai 0 untuk ketiga kalinya aku tidak boleh pulang. Aku takut sekali waktu itu, karena aku mendapat nilai 0 lagi. Aku pikir Ibu benar-benar akan mengusirku dari rumah. Tapi sampai di rumah Ibu memang marah tapi dia bilang aku tidak belajar dari kesalahan sebelumnya, aku hanya memikirkan rasa takut dapat nilai buruk tapi tidak memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak lagi membenci pelajaran itu. Sejak hari itu, aku mulai belajar matematika dan fokus untuk memperbaiki nilaiku. Dan kau tahu? Di tes berikutnya aku mendapat nilai 15, meskipun nilai itu sangat buruk tapi Ibu sangat senang. Ibuku bilang akhirnya aku mengerti. Jika aku menghadapi kesulitan aku harus berani menghadapinya dan memperbaiki sumber dari kesulitanku itu”

Reina mendengarkan dengan seksama setiap kata yang dilontarkan Raya. Dia seperti mendapat sebuah pencerahan dari cerita itu.

Reina  : “ Itu dia, aku harus memperbaiki sumber kesulitanku” ucapnya pelan.

Raya tidak mendengar jelas perkataan Reina, tidak sempat Raya bertanya karena ada pelanggan yang masuk untuk membeli kue.

Toko tutup lebih awal, Reina tiba di rumah sebelum pukul 10 malam. Di luar hujan, hujan yang cukup lebat membuat hening malam terasa semakin menjadi. Tidak ada suara kendaraan atau pedagang keliling yang biasa lewat malam hari. Hanya terdengar suara hujan. Hentakan tetesan Hujan kali ini seolah menguatkan hatinya yang sempat ingin menyerah, setelah beberapa hari dia seolah berputus asa menghadapi orang itu, sebaris cerita Raya siang tadi memberikan Reina sebuah asa untuknya, bahwa dia bisa melalui kesulitannya.

Reina memandangi kelamnya langit malam dari balik jendela. Melihat setiap titik hujan yang jatuh ke bumi. Hentakan kuat hujan malam ini, mengalunkan nyanyian asa untuk Reina. 

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play