The Rainy Song
Flashback
Saat itu Reina berusia sekitar 11 tahun. Menjelang sore hari, di taman di depan sebuah rumah bercat putih, Reina bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua darinya yang akrab dipanggil Kakak.
Kakak : “ Jadi kau harus menepati janjimu”. Ucap remaja laki-laki itu tersenyum.
Reina : “ Ummp” Jawab Reina sambil mengangguk.
Kakak : “ Sampai berjumpa lagi, jaga kesehatanmu”
Laki-laki berambut hitam itu mengenakan seragam sekolah menengah , dia kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang supir.
Reina tersenyum. Dalam hatinya ia berkata “ Aku berjanji, aku akan bekerja keras”
Saat ini, Reina sudah beranjak dewasa usianya sudah menginjak 18 tahun dan baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Reina bekerja di sebuah toko kue tradisional di kota, saat sekolah Reina sudah bekerja paruh waktu di toko itu, dan setelah lulus dia melanjutkan untuk bekerja secara full time.
Note : Reina. Gadis yang aslinya periang, pekerja keras, optimis dan memiliki tekad yang kuat dalam mencapai sesuatu. Reina yang murah senyum, kini sedikit pendiam. Meskipun begitu dia tetap gadis yang penuh semangat dan berdedikasi atas setiap pekerjaan yang dia tekuni.
Reina : “Anda sudah sampai Pak?” Sapa Reina pada seorang lelaki paruh baya yang bekerja sebagai sopir pribadi seorang anak konglomerat ternama, dua atau tiga kali dalam satu minggu Pak Tomo selalu mampir ke toko tempat Reina bekerja untuk mengambil pesanan majikannya itu.
Tomo : “Seperti biasa ya” Ucap Pak Tomo dengan senyum khasnya.
Reina : ”Saya memberikan ekstra 1 kotak untuk Bapak, tapi mungkin rasanya tidak seenak yang lain “
Tomo : “Buatanmu? Wah kau gadis berbakat”
Reina tersenyum, Tuan Tomo bergegas menuju ke arah mobil yang ia parkir di seberang jalan. Disana Tuan Muda sang majikan sudah menunggu, duduk di bangku belakang mobil mewah. Mobil mewah yang hanya dimiliki para orang super kaya.
Pak Tomo sudah menjadi langganan toko ini sejak 3 tahun lalu, dan selalu memesan kue yang sama, kue coklat yang memang hanya toko ini yang jual. Kue coklat dengan rasa dan bentuk tradisional yang sudah jarang toko lain jual karena semakin sedikit peminatnya. Akan tetapi pemilik toko tempat Reina bekerjalah yang masih konsisten membuat kue itu meskipun hanya beberapa orang saja yang masih setia memesan.
Seorang wanita berambut pendek datang mengahampiri Reina.
Note : Raya, rekan kerja Reina yang sangat jujur dan polos, selalu blak-blakan ceplas ceplos dan apa adanya. Tipe yang tidak bisa membedakan pembicaraan rahasia atau bukan. Tidak bisa melihat motif tersembunyi dari perkataan orang lain.
Raya : “ Apakah tadi Pak Tomo?, dia datang lebih awal hari ini” Tanya Raya.
Raya adalah rekan kerja Reina, mereka sudah bekerja sejak sekolah menengah sebagai karyawan paruh waktu sama halnya seperti Reina.
Reina : “ Ya” Jawab Reina singkat, sambil mengelap etalase kaca tempat menyimpan kue-kue coklat yang berjajar rapi di dalamnya.
Raya : “ Aku penasaran dengan Tua Muda itu, dia tidak pernah turun dari mobilnya”
Reina : “ Aku pun penasaran, tapi seseorang dari dunia yang berbeda dengan kita mungkin hidup dengan standar yang berbeda juga”.
Kemudian Reina berlalu menuju ke ruang penyimpanan di belakang untuk mengambil kue dan mengisi kembali wadah yang kosong di etalase.
Reina membawa satu nampan kue dari ruang belakang, saat Reina kembali dia melihat Raya masih memandangi mobil berwarna hitam yang sudah siap melaju, Reina ikut melihat ke arah mobil itu.
Reina memiliki rasa penasaran yang sama, karena sebenarnya Tuan Muda itulah pelanggan kue toko itu bukan Pak Tomo. Dalam seminggu biasanya 2 atau 3 kali dia pasti memesan kue yang sama di toko tempat Reina bekerja, tapi tidak pernah sekalipun membuka kaca mobilnya apalagi keluar dan turun untuk mengambil kuenya. Sebagai gantinya, Tuan Tomo lah yang selalu mengambilkannya.
Mungkin sebagai anak dari seorang konglomerat ternama dia tidak bisa sembarangan menampakkan wajahnya di muka umum. Itulah alasan yang paling masuk akal yang ada di benak Reina.
Tiba-tiba hujan rintik-rintik mulai mengguyur di luar, Reina dan Raya bergegas mengambil papan spanduk promosi yang berdiri di depan toko agar tidak terkena hujan. Suasana cukup sepi, tidak banyak kendaraan maupun pejalan kaki yang berlalu lalang, ditambah lagi hujan membuat suasana semakin senyap.
Toko kue dengan bangunan tua itu memang tidak berada di jalur utama, tapi berdiri diantara perumahan penduduk. Jadi memang sehari-hari tidak terlalu banyak orang yang lewat di sekitar toko. Kebanyakan pembeli kue di toko itu adalah pelanggan setia sejak toko pertama berdiri, rata-rata mereka sudah menjadi pelanggan setidaknya selama 20 tahun bahkan ada yang lebih, maka bukan hal yang aneh jika pelanggan yang datang kebanyakan paruh baya atau lansia.
Reina dan Raya memandangi suasana hujan dari balik pintu kaca toko. Damai dengan iringan suara hujan yang memukul genting terdengar seperti alunan instrument, tetesan hujan yang memantul di atas jalanan pun tampak menari-nari seirama dengan ketukan bunyi rintik hujan. Suasana yang jarang ditemui di tengah kota.
Suara rintik yang iramanya selalu berubah mengikuti suasana hati, hujan kali ini terdengar seperti sebuah lagu kedamaian bagi Reina.
Jam menunjukkan 21.00 malam, saatnya Reina dan Raya merapikan seluruh bagian toko dan mempersiapkan untuk buka kembali keesokan harinya. Reina merapikan laporan penjualan, dan laporan keuangan harian, Raya merapikan sisa kue yang belum terjual. Dan pekerjaan lainnya mereka lakukan bersama-sama.
Setelah selesai membersihkan seluruh bagian Toko dan mengganti seragam mereka. Raya mematikan seluruh lampu toko dan Reina mengunci pintu.
Di depan pintu toko yang sudah terkunci. Raya dan Reina bersiap untuk pulang.
Raya : “ Dah, sampai jumpa besok”
Reina : “ Dah, jangan lupa besok kita harus datang lebih pagi”
Raya : “ Ah aku hampir lupa, besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan” keluh Raya.
Reina : “ Hehe, ok bye hati-hati di jalan. Jangan percaya siapapun yang baru kau temui di jalan “
Raya : “ Hei, kau masih ingat saja. Itu kan kejadian tiga tahun lalu”
Kejadian tiga tahun lalu, saat perjalanan pulang Raya bertemu dengan seorang laki-laki dan dia berkata ‘Kamu cantik sekali, kulitmu bersinar seperti bidadari’ Raya memang sangat polos, mendengar ucapan begitu saja membuat dia begitu berbunga-bunga, laki-laki itu menangkap kepolosan Raya sehingga membuat dia melanjutkan pujiannya. Dan esok harinya Raya bercerita kalau semalam dia menghabiskan seluruh gajinya bulan itu untuk membeli satu paket kecantikan, dan ternyata laki-laki itu adalah seorang sales produk skincare. Reina tertawa mendengar Raya yang bercerita sambil sesenggukan.
Raya : “ Hoi Reina, berhentilah menertawakanku”
Reina : “ Ya, ya, maafkan aku Hahahaha”
Mengingat cerita itu Raya terkikik. Raya yang tersipu malu memukul manja pundak Reina, lalu beranjak pergi. Raya berjalan ke arah berlawanan, Reina pun bersiap dengan sepeda mininya. Tempat tinggal Reina memang tidak terlalu jauh dari toko, sehingga dia memilih untuk bersepeda, karena Reina hidup sendiri dia harus menghemat uang dan menekan biaya lain sebisa mungkin agar dia dapat membayar sewa kamar kosnya dan untuk biaya lain sehari-hari.
Di keheningan malam Reina mengayuh sepedanya, karena toko berada diantara komplek perumahan meskipun waktu baru menunjukkan pukul 22.00 malam tapi suasana terasa sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga keamanan yang berjaga atau kendaraan bermotor yang sesekali terlihat lewat mendahuluinya, hanya suara gonggongan anjing yang terdengar memecah keheningan malam itu.
Reina sampai di tempat kosnya, rumah dua lantai yang terdiri dari 8 pintu menghadap ke barat. Hanya ada satu kamar yang kosong yaitu pintu paling pojok, penghuninya pindah ke daerah lain karena pindah tugas dari pekerjaannya. Jadi hanya 3 kamar yang terisi di lantai atas termasuk Reina. Kamar Reina berada di pintu kedua dari tangga. Pintu kamar pertama adalah Tara, gadis berusia 5 tahun yang hanya tinggal bersama Ibunya. Ibunya adalah single parent yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh cuci.
Reina mengetuk pintu kamar Tara. Tak berapa lama pintu pun terbuka.
Tara : “ Kak Reina?” Seorang gadis kecil berkuncir dua muncul dari balik pintu, ia sesekali mengucek matanya.
Reina : “ Ah maafkan aku, sepertinya aku mengganggu tidurmu”.
“ Ada siapa Tara ?” Seseorang dari belakang menyaut, dan dia pun datang menghampiri ternyata dia adalah Ibunya Tara.
Ibu Tara : “Oh Reina” Ucapnya tersenyum sambil mengelap tangannya yang basah, sampai selarut ini dia masih mencuci.
Reina : “ Ini aku bawakan kue” Reina menyodorkan satu kotak kue dalam plastik.
Tara tersenyum sumringah, dan Ibu Tara mengangguk sambil terus saja berterima kasih.
Reina tersenyum bahagia.
Setelah pintu kamar Reina adalah kamar yang diisi oleh seorang mahasiswa semester akhir sebuah universitas yang akrab dipanggil Barong, itu bukan nama aslinya tapi penghuni disana biasa memanggilnya begitu. Barong adalah seorang introvert, yang hanya keluar kamar jika ada jam kuliah atau sekedar membeli makan. Selain untuk keperluan itu dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku , nonton terkadang sesekali terdengar suara musik dari kamarnya.
Reina mengetuk pintu kamar Barong.
Barong muncul dari balik pintu, dia hanya menjulurkan separuh kepalanya sehingga yang terlihat oleh Reina hanya bagian wajahnya saja. Tanpa bertanya dan tanpa ekspresi, tapi Reina sudah terbiasa dengan hal itu.
Reina : “ Ini” Reina menyodorkan kotak kue yang sama seperti yang diberikan pada Tara, hanya saja ukurannya lebih kecil, karena Barong hanya tinggal seorang diri.
Barong mengangguk tanda ia menerima dan berterima kasih, lalu ia kembali menutup pintunya tanpa kata dan masih dengan ekspresi datar sama seperti saat dia membuka pintu. Reina tersenyum tipis, lalu ia bergegas ke kamarnya.
Sisa kue yang tidak terjual memang pemilik toko izinkan untuk dibawa pulang, kadang jika jumlahnya masih cukup banyak setelah dibagi dua dengan Raya biasanya Reina bagikan ke tetangga di kosan. Biasanya Raya mengambil bagian lebih, karena dia tinggal dengan keluarganya yang cukup banyak Ayah , Ibu, Nenek dan kelima adiknya. Karena jumlah keluarga yang banyak dan keterbatasan ekonomilah yang membuat Raya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus bekerja bahkan semenjak dia masih sekolah. Kehidupan Reina pun tidak lebih baik dari Raya, Reina seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan sehingga ia harus bekerja keras untuk menghidupi hidupnya sendiri.
Pukul 23.00 malam, setelah mandi dan berganti pakaian tidur Reina merebahkan badannya di atas tempat tidur. Tempat tidur lusuh yang belum dia ganti sejak 3 tahun lalu, sejak dia menempati kosan itu. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamar, tubuhnya lelah membuat dia enggan bergerak. Hanya berbaring dan terdiam, tak butuh waktu lama dia pun terlelap.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments