Khalid adalah seorang anak yatim dari keluarga miskin yang kini hanya tinggal bersama ibu yang paling disayangi nya. Ia ditinggal pergi oleh ayahnya pada saat baru lahir karena suatu tragedi kelam dimasa lalu. Ia dipercaya sebagai yang terpilih, orang yang akan menghancurkan kekuasaan raja yang serakah dan sombong. Dan membawa perdamaian pada dunia yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xynx Linx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: “Ramalan”
Di tengah padang pasir yang luas dan panas, berdirilah sebuah kerajaan megah yang dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Istana itu berdiri kokoh bagaikan permata di tengah lautan pasir. Tak jauh dari kerajaan, tepat di bagian barat, terbentang sebuah desa kecil bernama Sahara Village.
Pada suatu hari, Raja dan Ratu—yang tengah mengandung—duduk di atas singgasana mereka yang berlapis emas murni. Sang Ratu tampak sangat bahagia pagi itu. Melihat istrinya yang berperilaku sedikit berbeda dari biasanya, Raja pun bertanya,
“Apakah yang membuatmu begitu bahagia pagi ini, istriku?”
Dengan senyum lembut, sang Ratu menjawab, “Aku tidak sabar, suamiku… Menurutmu, aku akan melahirkan anak laki-laki atau perempuan?”
Raja tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Kita akan mengetahui jawabannya ketika peramal tua itu tiba,” katanya ringan.
Tak lama kemudian, seorang penjaga gerbang masuk dan menunduk hormat.
“Yang Mulia, ada seorang wanita tua yang aneh. Ia meminta bertemu dengan Anda.”
“Bawa dia ke hadapanku,” perintah Raja.
Penjaga itu keluar. Beberapa saat kemudian, pintu utama ruang singgasana terbuka kembali. Seorang wanita tua berpenampilan aneh melangkah masuk, tongkat kayu di tangannya menjejak lantai marmer dengan suara pelan. Ia menunduk hormat.
“Siapa kau?” tanya Raja dengan nada tegas.
“Aku adalah penyihir yang engkau panggil untuk meramal anak dalam kandungan sang Ratu,” jawabnya tenang.
Wajah sang Ratu seketika berbinar. “Izinkan aku meramalnya sekarang, Yang Mulia,” ucap peramal itu.
“Lakukan tugasmu,” kata Raja.
Wanita tua itu mulai melakukan ritualnya. Ruangan menjadi hening. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat kepala, seolah telah melihat sesuatu yang pasti.
Sang Ratu segera bangkit dengan penuh antusias.
“Bagaimana ramalannya? Di dalam kandunganku ini… anak laki-laki atau perempuan?”
Peramal itu tersenyum tipis.
“Ratu akan melahirkan seorang anak perempuan. Anak perempuan yang cantik… rupawan layaknya malaikat.”
Raja dan Ratu tampak sangat bahagia. Sang Ratu memeluk suaminya erat-erat, seolah semua kekhawatiran di dunia lenyap begitu saja.
Setelah kegembiraan itu mereda, Raja kembali berbicara pada sang peramal.
“Sebelum kau pergi, ramalkan masa depanku. Aku ingin melihat kejayaanku di masa mendatang. Pasti aku akan semakin kaya dan berkuasa! Hahaha!”
Peramal tua itu mengangguk, meski tampak ragu. Namun ia tetap menuruti perintah sang Raja. Ia kembali melakukan ritualnya—lebih lama dari sebelumnya.
Saat ia membuka mata, wajahnya berubah pucat.
Raja menunggu dengan tidak sabar. “Cepat katakan!”
Peramal itu menatap Raja dengan ragu, lalu berkata dengan suara lirih namun jelas,
“Akan lahir seorang anak laki-laki ke dunia ini… seorang anak yang ditakdirkan untuk meruntuhkan kekuasaanmu.”
“Apa!? Tidak mungkin! Jangan main-main denganku!” Raja membentak keras.
Dengan amarah yang meledak-ledak, ia turun dari singgasananya dan mencekik leher sang peramal. Tubuh wanita tua itu terhempas ke lantai, terbatuk-batuk menahan sakit. Raja kemudian berteriak memanggil ksatria kepercayaannya—pria yang dikenal dengan julukan Sword of Darkness, seorang ksatria bernama Khabir.
Khabir segera masuk dan berlutut. “Ada apa, Yang Mulia?”
Wajah Raja dipenuhi amarah dan ketakutan. Tanpa ragu ia mengeluarkan perintah mengerikan itu.
“Kumpulkan seluruh pasukanmu… dan bantai semua anak laki-laki di desa seberang! Tidak boleh ada satu pun yang tersisa!”
Khabir menunduk memberi hormat. “Baik, Yang Mulia.”
Tanpa banyak kata, ia berbalik dan pergi, membawa perintah keji itu bersama langkahnya. Di luar istana, suara dentuman genderang dan teriakan para prajurit mulai memenuhi udara—pertanda bahwa sahara yang tenang akan segera dipenuhi darah.
Di desa seberang, tepatnya di desa Sahara, seorang wanita meringis menahan rasa sakit. Maryam sedang berjuang melahirkan, peluh membasahi wajah pucatnya.
"Ayo, Maryam! Kau pasti bisa. Dorong… terus!" seru saudarinya, sang tabib, dengan suara yang bergetar antara cemas dan tegar.
Sementara itu, dari kejauhan, pasukan kerajaan yang dipimpin Ksatria Khabir melaju cepat menuju desa.
"Terus maju! Kita hampir sampai!" teriak Khabir lantang.
Tiba-tiba langit menghitam. Petir membelah udara, guruh menggetarkan tanah, dan angin kencang bertiup dari barat membawa badai pasir yang mengerikan. Pasir menampar wajah para prajurit, pandangan mereka kabur, dan napas mereka tersengal-sengal.
"Komandan! Kita harus mencari tempat berlindung!" teriak salah satu prajurit.
Namun Khabir tidak menggubris.
"Terus maju! Kita tidak punya waktu untuk bersembunyi!" balasnya tegas.
Maryam terus berusaha melahirkan di tengah hiruk-pikuk badai yang semakin dekat. Setelah perjuangan yang panjang dan menyakitkan, akhirnya tangis bayi pecah memenuhi ruangan. Seorang anak laki-laki lahir, sehat dan tampan.
Namun di saat kebahagiaan itu datang… tapak kaki besi Khabir dan pasukannya telah tiba di desa.
"Kalian tahu tugas kalian," ucap Khabir dingin. "Lakukan sesuai arahan."
Para prajurit langsung berpencar. Mereka masuk ke setiap rumah tanpa ragu, membunuh seluruh anak laki-laki yang terlihat. Orang tua yang mencoba melawan ditebas tanpa belas kasih, rumah mereka dibakar bersama mayatnya. Jeritan, tangisan, dan teriakan meminta tolong menggema di seluruh penjuru. Api berkobar, menelan satu per satu rumah penduduk.
Kabar pembantaian itu akhirnya sampai ke telinga Karim—suami Maryam. Dengan dada berdebar, ia berlari secepat mungkin menuju rumahnya. Saat tiba, ia langsung meneteskan air mata lega. Maryam selamat, dan di pelukannya ada seorang bayi laki-laki yang begitu indah.
Karim mengangkat putranya, menciumnya, dan berbisik pelan.
"Kau adalah putraku… putra seorang ksatria bernama Karim. Kau akan tumbuh kuat, membawa harapan dan perdamaian bagi dunia ini. Kuberi kau nama… Khalid Al-Rasyid."
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Beberapa prajurit menerobos masuk. Melihat bayi itu, salah satu dari mereka berkata, "Serahkan anak itu kepada kami. Ini perintah Raja."
Karim segera menyerahkan Khalid kecil kepada Maryam. Ia menatap istrinya penuh kesedihan namun tegas.
"Bawa dia pergi. Aku akan menahan mereka."
Dengan bantuan saudarinya, Maryam melarikan diri dari rumah itu.
Karim berbalik menghadap para prajurit. Ia mencabut pedang panjang yang berkilau di bawah cahaya api yang berkobar di luar.
"Persetan dengan perintah rajamu," desisnya. "Tidak ada yang menyentuh keluargaku selama aku masih hidup!"
Ia menerjang maju. Pertempuran pecah—dan Karim menebas dengan ketangkasan luar biasa. Satu per satu prajurit tumbang di ujung pedangnya.
"Siapa sebenarnya pria ini…?" gumam salah satu prajurit sebelum tewas.
Jumlah prajurit menyusut drastis. Berita menakjubkan ini sampai ke telinga Khabir, yang segera menuju lokasi.
Setelah mengalahkan banyak prajurit, Karim mulai kelelahan. Napasnya berat. Dari belakang, terdengar suara tawa yang sangat dikenalnya.
"Hahaha! Tak kusangka aku akan menemukannya di sini," ucap seseorang.
Karim menoleh. Wajahnya memucat.
"Kha… Khabir? Bukankah kau sudah—"
"Mati?" Khabir memotong. "Tidak. Kau gagal membunuhku, Karim." Karim menyiapkan posisi bertarung lalu membalas "Kali ini, akan ku pastikan kau benar-benar mati."
Khabir tersenyum tipis. "Cobalah… jika kau bisa."
Khabir berlari menerjang, pedangnya mengayun cepat. Karim menangkis dan membalas. Kilatan logam beradu tajam, percikan api muncul dari benturan pedang. Karim menendang dada Khabir hingga musuhnya mundur beberapa langkah, lalu menyerbu maju dengan pedang mengarah ke leher lawan.
Khabir menahan serangan itu hanya dengan tangan kosong—kekuatan yang membuat Karim terkejut. Bentrokan kembali pecah, lebih sengit dan brutal.
Mereka sama-sama ahli. Serangan demi serangan membelah udara. Tanah di sekitar mereka tergores pedang, api menyala menari di belakang mereka, menciptakan bayangan yang menegangkan.
Karim terengah-engah. "Kembalilah, Khabir… berjalanlah bersamaku ke jalan yang benar!"
Khabir menatapnya tajam. "Kau tidak berhak menentukan jalanku."
Karim kembali memasang kuda-kuda. "Kau benar-benar sudah tersesat, Khabir."
Dengan teriakan penuh amarah, Khabir menyerang. Karim yang sudah kehabisan tenaga terlambat menangkis.
Pedang Khabir menembus perutnya.
Karim terjatuh, darah membanjiri tanah. Tubuhnya gemetar.
Khabir mengangkat tubuh Karim yang sekarat, lalu melemparkannya ke dalam kobaran api yang menyala ganas.
Di detik-detik terakhir sebelum api menelannya, Khabir berbisik:
"Selamat jalan… Master."
Setelah membunuh Karim, Khabir segera memerintahkan pasukannya untuk kembali ke kerajaan dan melaporkan bahwa misi telah berhasil diselesaikan.
Sesampainya di kerajaan, Khabir langsung menghadap raja.
“Lapor, Yang Mulia. Tugas yang Anda berikan telah selesai,” katanya tegas.
Raja tertawa terbahak-bahak mendengar laporan itu.
“AHAHAHA! Kau memang bisa diandalkan, ksatria kepercayaanku,” ujar sang Raja. Ia bangkit dari singgasananya dan berjalan menuju peramal tua yang terikat pada salah satu pilar. Dengan tatapan angkuh, ia berkata, “Kau dengar itu, kan? Para prajuritku telah membabat habis semua anak laki-laki di desa seberang.”
Ia memegang dagu sang peramal dan melanjutkan, “Tak akan ada yang bisa menghancurkan kekuasaanku. Bahkan Tuhan sekalipun! AHAHAHA!”
Di tempat lain, Maryam dan saudarinya tengah mencari tempat bermalam di tengah angin malam yang berhembus kencang. Setelah berjalan cukup jauh, mereka melihat secercah cahaya dari kejauhan.
“Apakah yang kulihat ini benar, saudariku? Bukankah itu sebuah desa?” tanya Maryam.
Saudarinya mengangguk. “Kau benar, Maryam. Itu sebuah desa. Kita bisa mencari tempat untuk beristirahat di sana.”
Sambil menggendong sang buah hati, Maryam dan saudarinya berjalan mendekati desa tersebut. Setibanya di sana, saudarinya mulai mencari pertolongan sementara Maryam beristirahat. Ia mendatangi satu per satu rumah penduduk, namun tak satu pun yang dapat menolong mereka.
Maryam menanti dengan gelisah. Khalid kecil menangis kencang, membuat Maryam akhirnya menyusuinya hingga kembali tertidur pulas.
Tak lama kemudian, saudarinya kembali dengan wajah sedih.
“Ada apa, saudariku?” tanya Maryam.
“Maafkan aku, Maryam. Aku tak menemukan satu pun tempat untuk bermalam malam ini…”
Maryam tersenyum lembut dan memegang pipi saudarinya.
“Tak apa-apa. Kau sudah berusaha. Aku senang karena kau ingin membantu kami.”
“Terima kasih, Maryam,” balas saudarinya.
Karena tak memiliki tempat lain, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah gubuk tua terbengkalai yang terletak di ujung desa.
“Gubuk ini tampak tua dan kotor,” ujar saudarinya ragu.
Maryam tersenyum. “Ini sudah lebih dari cukup untuk kita bermalam.”
Mereka pun masuk ke dalam gubuk itu dan beristirahat.
Keesokan paginya, sinar matahari menembus atap yang berlubang dan menyilaukan mata Maryam. Ia melihat Khalid kecil yang masih tertidur pulas, begitu pula saudarinya. Ketika mencoba bangkit, tubuhnya terlalu lemah hingga membuatnya terjatuh. Suaranya membangunkan saudarinya.
“Maryam! Apa yang kau lakukan?!” serunya.
“Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terlalu lemah…”
Saudarinya menghela napas. “Kau baru saja melahirkan, Maryam. Kau butuh istirahat.”
Maryam menunduk. “Tapi kalau aku beristirahat, bagaimana kita bisa makan hari ini? Aku harus mencari pekerjaan.”
Saudarinya tersenyum lembut. “Tak apa. Biar aku saja yang bekerja. Kau harus beristirahat di sini, mengerti?”
Maryam tampak ragu. “Aku takut menyulitkanmu. Aku tak ingin merepotkan orang lain.”
“Kau tidak merepotkan, Maryam. Kita ini saudari. Bukankah saudari seharusnya saling membantu?” kata saudarinya lembut.
Perkataan itu membuat Maryam terdiam.
Saudari Maryam pergi mencari pekerjaan, sementara Maryam menjaga Khalid kecil. Hari berganti malam. Saudarinya pulang membawa makanan.
“Apa kau mendapatkan pekerjaan, saudariku?” tanya Maryam.
“Menurutmu aku membeli makanan ini dengan apa?” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Maryam terdiam.
“Ayo kita makan. Kau pasti lapar,” lanjut saudarinya.
Saat makan, Maryam berkata lirih, “Maaf, aku tidak bisa membantumu bekerja.”
“Tak masalah. Kau harus menjaga kesehatanmu dan anakmu. Nanti kalau sudah sembuh, kau bisa membantuku,” jawab saudarinya.
Hari-hari berlalu. Begitu Maryam sembuh, ia memaksa untuk ikut bekerja. Meski awalnya sang saudari melarang, akhirnya ia mengizinkan Maryam membantu.
Mereka bekerja setiap hari, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga akhirnya cukup untuk membuka usaha sendiri. Mereka membeli sebuah kedai kecil untuk berjualan, lalu bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik.
Dengan uang tabungan tambahan, mereka membeli sebuah rumah kecil di ujung desa.
“Akhirnya kita berhasil membeli rumah. Kita tak perlu tidur di gubuk itu lagi,” ujar sang saudari bahagia.
Tiga tahun berlalu. Suatu hari, saudarinya berkata,
“Besok aku akan menikah, Maryam. Setelah itu, aku akan pergi cukup jauh dari sini. Jadi, rumah ini akan menjadi milikmu.”
Maryam tersenyum. “Jangan lupa mengunjungi kami, ya? Khalid pasti merindukan bibinya.”
“Pasti. Aku akan datang jika sempat.”
Hari pernikahan pun tiba. Acara sederhana itu disaksikan oleh seluruh penduduk desa. Setelah selesai, sang saudari berpamitan.
“Aku pergi sekarang, Maryam. Tolong jaga kedai dan jaga Khalid.”
Maryam tersenyum. “Aku akan menjaganya baik-baik. Jaga dirimu, saudariku.”
Saudarinya membalas senyuman itu, lalu melangkah pergi bersama suaminya.