Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbuang di Gelap Malam

Plak!

Suara tamparan keras bergema di sudut koridor mansion megah itu. Amara terhuyung, memegangi pipinya yang seketika terasa panas membakar.

Tamparan keras itu membuat alat bantu dengar yang terpasang di telinganya berdenging nyaring, mengirimkan rasa sakit yang menjalar hingga ke kepala.

"Jangan mempermalukan keluarga malam ini, Amara! Kau harus tunggu di halaman belakang sampai pesta itu selesai!" bentak Sisca, Mama tirinya, dengan mata memelotot tajam.

Amara menyentuh pipinya yang merona merah. Matanya berkaca-kaca menatap wanita yang berdiri anggun dengan gaun malam mewah itu—sangat berbanding terbalik dengan gaun lusuh yang melekat di tubuh kurusnya.

Jemari Amara yang gemetar mulai bergerak, mencoba membentuk bahasa isyarat.

‘Aku hanya minta sedikit air, Ma... Aku lapar,’ gerak jemarinya memohon, matanya menyuarakan penderitaan yang tak bisa keluar dari tenggorokannya.

Sisca menepis kasar kedua tangan Amara sebelum gadis itu selesai menggerakkannya.

"Jangan berakting menyedihkan di depanku! Gerakan tanganmu yang aneh itu membuatku muak. Kau itu cacat, bisu dan tuli! Jika ada tamu VIP yang melihatmu, wajah keluarga ini mau ditaruh di mana?!"

Tanpa rasa iba, Sisca menarik paksa lengan Amara yang kurus dan menyeretnya menuju pintu belakang yang menuju ke halaman luar.

Tubuh Amara yang sudah lemas karena tak diberi makan sejak pagi dihantamkan begitu saja ke luar.

Brak!

Pintu besi tebal itu dikunci rapat dari dalam.

Amara tersungkur di atas rumput halaman belakang yang basah. Udara malam yang menggigit langsung menusuk kulitnya.

Di dalam mansion, suara alunan musik klasik, denting gelas, dan gelak tawa para rekan bisnis ayahnya terdengar meriah. Semua orang bersenang-senang, sementara dirinya dibuang seperti sampah.

Dengan perut yang melilit hebat dan tubuh gemetar menahan dingin, Amara merangkak naik ke atas bangku taman batu.

Ia memeluk kedua lututnya rapat-rapat, menundukkan kepala, dan membiarkan air matanya menetes membasahi gaun lusuhnya.

Di sudut halaman yang gelap itu, Amara hanya bisa bertanya-tanya pada takdir, apakah hidupnya akan selamanya berada di dalam neraka ini?

Amara mengangkat wajahnya menatap langit malam itu dengan pandangan kabur oleh genangan air mata. Bintang-bintang di atas sana terlihat sangat jauh dan dingin, sama seperti tempatnya berpijak saat ini.

"Aku sangat lapar."gumam Amara dalam hatinya, meringkuk makin dalam saat angin malam kembali berembus kencang menembus gaun tipisnya.

Rasa melilit di perutnya kian tak tertahankan. Sejak kemarin sore, tak sebutir nasi pun boleh menyentuh bibirnya hanya karena ia tak sengaja menjatuhkan sebuah cangkir. Di mata keluarga ini, ia hanyalah beban yang tak berguna—makhluk cacat yang hanya membawa sial.

Srett.

Langkah kaki yang tenang menembus rumput basah tiba-tiba menghentikan tangis tanpa suara Amara.

Amara memegang alat bantu dengarnya, mengedipkan mata berkali-kali untuk memperjelas pandangannya yang samar.

Dari balik bayang-bayang pepohonan halaman belakang, sesosok pria tinggi tegap melangkah mendekat.

Cahaya rembulan malam itu menyinari separuh wajah tampan sang pria yang dingin dan tajam. Sebatang rokok menyala di antara jemarinya, mengeluarkan asap tipis yang membumbung ke udara. Namun, yang paling menarik perhatian Amara adalah leher pria itu.

Di sana, merambat sebuah tato bunga mawar berlekuk indah namun tampak berbahaya—kontras dengan setelan jas hitam mewahnya yang sangat rapi.

Pria itu—Gabriel—menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan bangku Amara. Tatapan matanya yang elang menatap lurus ke arah gadis kecil yang kurus kering dan gemetar di atas bangku batu itu.

Kruuuk...

Suara nyaring dari perut Amara yang lapar memecah keheningan di antara mereka. Wajah Amara seketika memerah karena malu.

Ketakutan langsung melingkupi dadanya. Ia buru-buru menunduk dalam, tangannya meragakan bahasa isyarat dengan sangat cepat dan gemetar.

‘Maafkan aku... Tolong jangan pukul aku... Aku akan pergi...’

Gabriel terdiam. Ia tidak menjauh, tidak pula memanggil pengawal. Tatapannya meneliti pergerakan jemari Amara yang lihai mempraktikkan bahasa isyarat, lalu berpindah pada alat bantu dengar tua yang terpasang di telinga gadis itu.

Keheningan melingkupi mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Gabriel mematikan rokoknya di tempat sampah batu dekat sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria bertato mawar itu melepas jas hangatnya yang tebal, lalu melangkah mendekati Amara.

Amara menyentuh bahan jas tebal yang menyelimuti tubuhnya, lalu matanya beralih menatap tato mawar di leher Gabriel.

"Ini apa?" tanya Amara dengan bahasa isyaratnya.

Gabriel mengernyitkan dahi. Ia berdiri tegak tepat di hadapan Amara, memperjelas posisi bibirnya agar bisa dibaca oleh gadis itu.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ucap Gabriel pelan dan jelas.

Amara terdiam sebentar, lalu dengan pelan menggeleng. Jemarinya bergerak lagi, kali ini ia meragakan gerakan makan, lalu menunjuk perutnya yang kempis.

"Kau... lapar?" tebak Gabriel, membaca gerakan tangan Amara secara intuitif.

Amara mengangguk cepat. Matanya berbinar kecil.

"Kenapa duduk di luar? Di dalam sedang ada pesta besar," tanya Gabriel lagi, menunjuk ke arah mansion yang megah.

Amara menunduk. Tangannya membuat isyarat silang di depan dada, lalu menunjuk ke arah pintu belakang yang terkunci.

"Diunci? Kau dikurung?" tanya Gabriel, alisnya menyatu tajam.

Amara mengangguk pelan, menyisakan raut takut di wajahnya.

"Siapa yang mengunci pintu itu?" suara Gabriel terdengar makin dingin.

Amara ragu-ragu. Ia menggerakkan jemarinya membentuk lambang 'Mama' dan menunjuk ke dalam mansion.

"Mamamu?" Gabriel terkekeh sinis, matanya memancarkan rasa tidak percaya. "Mereka bersenang-senang di dalam, sementara kau dibiarkan membeku di sini?"

Amara hanya bisa menatap gerak bibir Gabriel tanpa sanggup bersuara.

Gabriel mendesah pelan. Ia meraih ponsel di saku celananya dan menekan satu tombol.

"Bawakan mobil ke pintu belakang mansion sekarang. Dan siapkan makanan hangat terbaik," perintah Gabriel singkat melalui telepon, lalu mematikannya.

Ia kembali menatap Amara.

"Kau mau ikut denganku?" tanya Gabriel, menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk ke arah luar gerbang.

Amara membelalakkan mata. Jemarinya bergerak panik.

"Aku tak boleh pergi... Ayah akan marah..."

Gabriel mendekatkan wajahnya, memastikan Amara bisa membaca setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Biar ayahmu marah. Di sini kau disiksa. Kau mau tetap di sini?"

Amara tertegun. Ia menatap pintu besi mansion yang tertutup rapat, lalu beralih menatap Gabriel dan tato mawar di lehernya yang tampak kokoh.

Gabriel mengulurkan tangannya yang lebar ke hadapan Amara.

"Ikut aku," tegasnya. "Tidak ada yang boleh menyakitimu lagi."

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!