Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 01

Pagi itu, udara SMA Garuda terasa bagai medan perang bagi Kirana. Langit cerah, angin berhembus sepoi-sepoi, tetapi suasana di depan gerbang utama sekolah justru membakar emosi siapa pun yang terlambat walau cuma satu detik.

Di sana, berdiri seorang cowok berpakaian seragam amat rapi. Jas almamater sekolah terpasang sempurna di tubuh jangkungnya, dasi terikat presisi hingga ke kancing paling atas, dan jam tangan hitam melingkar elegan di pergelangan tangannya. Cowok itu adalah Kenan Alister, Ketua OSIS paling disegani, paling ditakuti, dan bagi Kirana dia cowok paling menyebalkan.

"Lari. Kurang dari sepuluh detik, gerbang gue kunci," suara Kenan terdengar datar, tanpa nada, tetapi sanggup membuat jantung belasan siswa yang tersisa di luar gerbang berdegup kencang. Wajar saja mereka takut mengingat hukuman dari seorang Kenan akan sangat merepotkan.

Kirana meremas tali tasnya. Napasnya terengah-engah setelah berlari dari perempatan jalan akibat angkot yang ditumpanginya mogok. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memacu langkahnya menyeberangi garis gerbang tepat saat Kenan hendak menggeser besi tua itu.

Brak!

Kirana berhasil melangkah masuk, jatuh berlutut di atas semen lapangan dengan ngos-ngosan. "Gue... gue nggak terlambat! Kaki gue udah masuk sebelum bel selesai berbunyi!" serunya dengan suara terbata sambil menengadah, menatap sosok tinggi di hadapannya.

Kenan menunduk sedikit, menatap Kirana dari balik maniknya yang hitam kelam dan dingin. Ia melirik jam tangan, lalu beralih pada papan berisikan formulir pelanggaran di tangannya.

"Bel berhenti tepat dua detik lalu. Kaki kanan lo memang masuk, tapi tali tas lo masih terseret di luar garis batas," ucap Kenan tenang, tanpa beban sedikit pun.

"Apa?! Tali tas?! Lo gila ya, Kenan?!" Kirana langsung berdiri, melupakan rasa pegal di kakinya. Wajahnya memerah menahan amarah. "Manusia mana yang ngitung keterlambatan dari tali tas?! Gue capek-capek lari dari perempatan gara-gara angkot mogok, dan lo cuma mempermasalahkan tali tas gue?!" Pekik Kirana mulai emosi.

"Aturan tetap aturan, Kirana," potong Kenan dingin. "Poin pelanggaran tiga dan hukuman Lo membersihkan perpustakaan lantai dua setelah jam pelajaran terakhir selesai." Ucap Kenan tanpa ekspresi membuat Kirana semakin kesal.

"Kenan! Lo tuh bener-bener nggak punya perasaan ya! Batu aja masih ada pori-porinya, hati lo itu terbuat dari apa sih?! bisa-bisanya Lo nyuruh gue bersihin perpustakaan seluas itu, gila ya Lo!" bentak Kirana antara gemas dan kesal. 

Sebenarnya dari hari pertama masuk sekolah dua tahun lalu, Kenan selalu menjadi momok baginya. Cowok itu selalu menemukan celah sekecil apa pun untuk menghukumnya, kelihatan sekali dia sengaja membuat nya emosi. 

Kenan merapikan lembaran kertasnya, lalu menatap Kirana tepat di manik mata. "Hati gue terbuat dari kedisiplinan. Kalau lo nggak mau kena hukum, makanya bangun lebih pagi. Bukan malah mengasihani diri sendiri di depan gerbang. Sekarang masuk ke kelas sebelum poin lo gue tambah karena tidak sopan pada pengurus OSIS. Dan soal perpustakaan lantai dua tidak seluas yang Lo pikirin. Lo nya aja yang malasan"

Kirana mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kalau saja membunuh orang tidak melanggar hukum, Kenan pasti sudah ia lempar ke dalam sumur tua di belakang sekolah. Dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, Kirana berjalan melewati Kenan sambil sengaja menyenggol bahu cowok itu keras-keras. 

Kenan sama sekali tidak bergeming. Ia hanya melirik bahunya yang tersenggol, lalu menghela napas tipis saat Kirana menghilang di balik lorong menuju kelas XII IPA 2.

Di dalam kelas, Kirana meluapkan kekesalannya dengan menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Maya, sahabat karibnya yang duduk di sebelahnya, hanya bisa menepuk-nepuk punggung Kirana kasihan.

"Kena sanksi lagi Lo sama pak ketos?" tebak Maya sambil mengunyah permen karet.

"Dia itu ngeselin banget May! Bayangin, dia ngitung keterlambatan gue cuman gara-gara tali tas gue masih di luar gerbang! Tali tas May, gila tuh cowok. Emangnya tas gue punya hak pilih dalam Pemilu sampai harus dinilai dipisah sama badan gue segala?!" oceh Kirana berapi-api.

"Ya mau gimana lagi, Kir. Kenan kan memang terkenal es batu tingkat dewa. Semua murid cowok takut sama dia, semua murid cewek ngefans sama dia tapi nggak ada yang berani mendekat. Lo doang satu-satunya cewek yang berani bentak-bentak dia tiap hari."

"Gue nggak sudi takut sama cowok tengil kayak gitu! Awas aja ya, kalau ada kesempatan, bakal gue bales itu tuh cowok es sok berkuasa!" janji Kirana penuh dendam. Maya hanya menggeleng melihat keseriusan sahabat nya itu, “Yakin Lo, dari dulu juga tapi nggak pernah jadi" Ujar Maya tepat sasaran membuat Kirana mendengus. 

“Nggak usah diingat, mungkin waktu itu gue belum siap aja” jengkelnya. 

….

Sore harinya, setelah menyelesaikan hukuman membersihkan perpustakaan sampai pinggangnya rasanya ingin patah, Kirana pulang ke rumah dengan langkah gontai. Ibu Kirana sudah memintanya pulang tepat waktu karena ada tamu penting yang akan berkunjung untuk makan malam bersama. Sebenarnya malas banget tapi daripada kena marah ibunya lebih baik ikuti aja. 

Kirana menyempatkan diri mandi dan mengenakan gaun kasual sopan pilihan ibunya sebuah dress kain berwarna merah muda lembut yang amat dibencinya karena terlalu feminim. Tetapi demi menyenangkan hati sang ibu, ia terpaksa menurut.

“Ck, sebenarnya acara apaan sih sampai nyuruh gue pakai dress segala, kaya acara tunangan aja” Gerutunya.

Suara bel rumah berbunyi tepat pukul tujuh malam. Kirana yang baru selesai menyisir rambut di kamarnya diminta turun oleh ibunya.

"Kirana, ayo turun Sayang! Tamu kitanya sudah datang!" panggil Ibunya penuh semangat dari lantai bawah.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mengumbar senyum manis buatan, “Semangat Kirana, jangan sampai buat ibu negara marah” lalu ia melangkah turun tangga. 

Di meja makan yang megah, sudah duduk sepasang suami istri paruh baya yang berpenampilan amat elegan. Sang pria tampak berwibawa dengan kemeja batik, sementara sang wanita tersenyum hangat memandangnya.

Tetapi perhatian Kirana tidak tertuju pada sepasang suami istri itu. Tatapannya terkunci pada sosok cowok yang duduk di sebelah wanita tersebut.

Cowok itu mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Rambutnya yang sedikit berantakan secara alami, memberikannya kesan tampan yang berbahaya. Cowok itu tengah menyesap teh hangatnya saat Kirana berjalan mendekat.

Ketika mata mereka berdua saling bertumbuk, Kenan tersedak pelan. Cangkir di tangannya berdenting keras saat bersentuhan dengan pinggir piring.

"Lo?!" pekik Kirana spontan, menunjuk muka Kenan dengan jari telunjuknya.

"Kirana! Nggak sopan!" tegur Ibunya cepat, meremas pelan tangan Kirana. 

"Maaf ya Jeng, Kirana ini memang kadang suka kaget kalau ketemu orang baru." Ibunya tertawa pelan, malu sekali dengan kelakuan putri.

Kenan segera menguasai diri. Ekspresi terkejut di wajahnya hilang dalam sekejap, berganti dengan raut dingin dan tenang yang amat dikenal Kirana.

"Nggak apa-apa, Tante. Kami... sudah saling kenal di sekolah," ujar Kenan pelan, suaranya tetap bernada datar namun ada sedikit jeda yang aneh.

"Wah, kebetulan sekali!" seru Ayah Kirana sambil tertawa lebar. "Kalau sudah saling kenal di sekolah, berarti urusan kita malam ini bakal jauh lebih mudah."

Kirana memiliki firasat buruk. Firasat yang amat sangat buruk, seolah-olah awan hitam mendung mendadak berkumpul tepat di atas kepalanya. Ia duduk di kursi kosong tepat di seberang Kenan, menatap cowok itu dengan tatapan penuh selidik.

"Jadi gini, Kirana, Kenan..." Papa Kenan membuka pembicaraan setelah menyapu pandang pada kedua remaja itu. "Tujuan kami mengumpulkan kalian berdua di sini adalah untuk menepati janji lama antara dua keluarga. Dulu, waktu kalian masih kecil, kami pernah berjanji kalau kalian sudah memasuki usia dewasa, kalian akan kami jodohkan."

Duar!

Rasa-rasanya ada bom atom yang baru saja meledak di tengah-tengah meja makan tersebut. Makanan beraroma lezat di hadapan Kirana mendadak kehilangan selera.

"What! P-perjodohan?!" jerit Kirana, refleks berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang. 

"Pa, Ma, ini bercanda kan?! Perjodohan apa zaman sekarang?! Yang benar saja” Kirana tertawa sumbang. Pasti mereka sengaja mengerjai nya.

"Kirana, duduk! Kita nggak bercanda. Jaga sikapmu di depan tamu!" tegur Ayahnya tegas namun tetap menahan emosi.

Kirana melotot, "Nggak bisa, Pa! Aku nggak mau dijodohin apalagi sama dia! Aku nggak suka sama cowok sok berkuasa” seru Kirana tanpa saringan.

Kenan yang duduk di seberangnya tidak menunjukkan reaksi berlebihan, tetapi rahangnya tampak mengetat. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap orang tuanya sendiri.

"Pa, Ma, apa tidak bisa dipikirkan lagi? Kami masih kelas dua belas. Kelulusan dan ujian nasional sudah di depan mata," ucap Kenan berusaha membujuk mereka.

"Justru karena itu, Kenan," potong Mama Kenan lembut. "Pernikahan ini akan dilangsungkan secara siri dan rahasia dulu minggu depan. Hanya keluarga inti yang tahu. Setelah kalian lulus nanti, barulah diresmikan secara hukum dan dirayakan. Ini adalah amanah dari almarhum Kakek kalian berdua sebelum meninggal."

Mendengar kata 'amanah almarhum kakek', Kirana langsung terbungkam. Ia tahu betapa besar rasa hormat keluarganya terhadap almarhum kakeknya.

"Tapi kenapa harus secepat ini? Kenapa harus minggu depan?! Apa nggak bisa setahun aja”  lirih Kirana, suaranya kini mulai bergetar. Ibunya yang mendengar kata setahun melirik putrinya tak percaya.

"Karena kondisi bisnis keluarga kita dan kepindahan tugas Papa Kenan ke luar kota bulan depan, Kirana. Kami ingin memastikan kalian sudah aman dan ada yang saling menjaga disini," jelas Ibunya lembut sembari mengelus jemari Kirana.

Kirana menatap Kenan. Cowok es itu kini hanya memandangi piringnya dengan tatapan sulit diartikan. Tidak ada penolakan keras lagi dari mulut Kenan. Apakah cowok ini menyerah begitu saja pada perjodohan gila ini?

“Sebenarnya gue buat kesalahan apa sih dimasa lalu, kenapa gue harus dijodohin sama cowok sok berkuasa ini, apa nggak ada cowok lain selain dia! Batin Kirana masih tak terima dengan kenyataan.

…. 

….

Seminggu berlalu bagaikan mimpi buruk yang berjalan sangat cepat bagi Kirana. Acara akad nikah digelar amat sederhana di kediaman keluarga Kirana pada Sabtu pagi. Hanya ada seorang penghulu, saksi dari keluarga dekat, dan kerabat inti.

Kirana mengenakan kebaya putih sederhana, sementara Kenan tampak amat tegap dalam balutan jas putih dan peci hitam. Saat Kenan mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu helaan napas yang mantap dan tegas, dunia Kirana rasanya runtuh seketika. Ingin sekali ia berteriak “Nggak sahhh!” Tapi mana berani dia bisa malu orang tuanya.

"Sah!"

Kata itu bergema di telinga Kirana. Dalam waktu kurang dari satu jam, statusnya berubah dari murid SMA biasa menjadi seorang istri dari Ketua OSIS terkejam dan menyebalkan di sekolahnya.

Setelah acara selesai dan kedua orang tua mereka pergi menuju bandara untuk urusan bisnis sekaligus meninggalkan mereka berdua agar belajar mandiri. Kirana dan Kenan akhirnya menginjakkan kaki di sebuah rumah minimalis dua lantai yang telah disiapkan oleh orang tua mereka.

Suara pintu depan tertutup rapat. Mengunci mereka berdua dalam keheningan yang amat canggung. Kirana melempar koper bajunya ke lantai ruang tamu, lalu menjatuhkan diri ke sofa empuk. Ia mengusap wajahnya yang lelah. 

"Gue pasti mimpi. Gue pasti lagi koma di rumah sakit gara-gara tersambar petir..."gumamnya.

Kenan melangkah masuk sambil melonggarkan dasi hitamnya. Ia melepas peci, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya, lalu menatap Kirana yang tampak mengenaskan di atas sofa.

"Terima saja kenyataan nya" kata Kenan datar.

Dia melangkah mendekat, lalu menyejajarkan posisinya dengan Kirana yang masih duduk di sofa. Aromanya yang segar dan maskulin langsung tercium jelas.

"Simpan emosi lo buat besok di sekolah. Di sana kita emang nggak saling kenal..." Kenan menatap Kirana tajam, tapi ada sedikit nada jahil di suaranya. "...tapi di rumah ini, lo nggak bisa lari dari gue. Mending lo mandi, terus beresin koper lo."

Kenan langsung jalan naik ke kamarnya tanpa nunggu balasan. Kirana cuma bisa melotot, meremas bantal sofa melampiaskan rasa kesal dan emosi nya. Kalau ia berani sudah ia cakar-cakar muka cowok itu.

“Cowok sialan! Awas Lo!” Jeritnya dalam hati.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!