Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaivalya penakut
"Huaaa Daddy!" pekik seorang pemuda berusia dua puluh tahun tahun yang bernama Kaivalya Rajasa Danendra.
Dia terbangun dari tidurnya setelah mendengar bisikan minta tolong dari sosok anak kecil yang sudah lima hari ini terus mengikutinya sejak dia ikut futsal bersama teman teman kuliahnya.
Kaivalya merupakan putera bungsu dari Sagara Danendra dan istrinya Safira Anindya Adiwinata, dia berkuliah di Smith university dan tahun ini dia sudah masuk semester akhir bahkan sedang mempersiapkan skripsi untuk kelulusannya.
Awalnya Kaivalya sama sekali tidak bisa melihat hal hal gaib, dia sama dengan anak pada umumnya yang selalu ceria dan bermain dengan tenang. Tapi semuanya berubah menakutkan ketika satu bulan yang lalu Sagara pulang dari sebuah kampung setelah lima bulan tinggal di sana dan menikah lagi dengan Safira, dia memberikan sepotong buah pada Kaivalya yang membuat Kaivalya tiba tiba demam selama tiga hari dan ketika sembuh, Kaivalya bisa melihat hantu sama seperti orang orang yang punya Indra keenam di keluarga Danendra.
"Kenapa nak?" tanya Sagara khawatir
"Itu dad, ada anak kecil yang ikutin Kai kemarin, dia masuk kamar Kai" jawab Kaivalya menunjuk sudut kamarnya yang terdapat sosok anak kecil berusia sekitar lima tahun dan memegang mainan mobil mobilan yang sudah rusak.
"Mana, Daddy tidak lihat apa apa di sana" ucap Sagara berbohong karena dia juga melihatnya.
"Huaa Daddy, itu ada di sana anaknya, Kai tidur dengan Daddy dan mommy saja ya, boleh ya dad?" rengek Kaivalya
"Ya sudah, ayo cepat, kamu harus kuliah besok, jangan sampai kamu punya alasan untuk tidak kuliah karena takut hantu" jawab Sagara
"Besok Kai akan protes pada kak Hamka, gara gara dia Kai jadi di ganggu hantu terus" kesal Kaivalya membuat Sagara terkekeh karena Sagara mengatakan buah yang dia bawa adalah pemberian dari Hamka.
"Hamka memberikan itu karena dia sayang kamu nak, kami juga di berikan, tapi yang dia berikan padamu itu istimewa, karena itu bukan hanya buah biasa, itu buah khusus untuk para penjaga pohon keramat" ucap Sagara merangkul Kaivalya
"Tapi Kai kan takut dad, apalagi kalau lihat Om Icang sedang jadi wujud aslinya, Kai takut" jawab Kaivalya
••••••••••••
Pagi harinya, rumah Sagara sudah ramai karena para keluarga Danendra sedang sarapan bersama, ada Andromeda dan istrinya Zara di sana, Altair dan istrinya Nayana bahkan cucu cucu Sagara juga ada di sana dengan Kaivalya yang selalu sarapan di suapi oleh Safira.
"Manja" ledek Gafi yang pagi itu mampir untuk mengantarkan Mustafa putra pertama Khalid yang berkuliah di tempat yang sama dengan Kaivalya.
"Abang kalau iri bilang saja bang" cibir Kaivalya memeluk Safira
"Dia mirip Altair dulu, manja dan penakut" ucap Sagara
"Padahal tadinya Kai senang karena Kai tidak perlu lihat hantu seperti kalian, tapi malah Kai bisa lihat juga, menyebalkan" gerutu Kaivalya
"Itu anugerah adik bungsuku" gemas Andromeda
"Daddy antar kita tidak dad? Atau kak Hamka yang ke sini sekalian jemput Zeeshan?" tanya Kaivalya
"Iya, kalian akan di antar Hamka, dia akan mengantarkan Liora dan juga anaknya sekolah sekalian" ucap Sagara pamit lebih dulu karena dia akan mampir ke rumah adiknya Laut untuk membahas iklan perusahaan yang akan di buat oleh tim produksi dari perusahaan milik keponakan Zaki.
"Hati hati mas, nanti aku kirim makan siangnya" ucap Safira
"Iya sayang" jawab Sagara mengecup kening Safira
Selesai sarapan, Kaivalya dan Mustafa langsung menuju ke rumah Hamka, mereka berjalan kaki karena jarak rumah Hamka tidak jauh dari perumahan tempat mereka tinggal. Kaivalya bisa merasakan kalau sosok anak kecil yang lima hari ini terus mengikutinya juga masih ada di sekitar Kaivalya. Tapi Kaivalya memilih untuk mengabaikan sosok itu dengan harapan agar dia pergi dan tidak mengganggunya lagi.
"Assalamu'alaikum papa" sapa Zeeshan yang sekarang berusia delapan belas tahun dan duduk di kelas dua belas.
Kaivalya juga turut masuk bersama Mustafa karena mereka akan ikut menumpang di mobil Hamka karena letak Smith internasional school berada bersebrangan dengan Smith university.
"Wa'alaikumussalam, masuk, kalian sudah sarapan?" tanya Hamka yang sudah menuntun Liora adik bungsu Lyra dan anak pertamanya yang bernama Haira Hamka Stuart yang berusia sepuluh tahun.
"Sudah kak, kami mau numpang karena Daddy mau ke rumah Om Laut dulu" jawab Kaivalya
"Ya sudah kalian masuk, Shan kenapa Eiliya dn Ethan tidak ikut?" tanya Hamka
"Mereka bareng dengan anak anak lain pi" jawab Zeeshan
Hamka berangkat mengantarkan anaknya sekolah sekalian ke kantor dia tidak lupa memeluk istrinya Lyra yang sedang sibuk mengasuh putra keduanya yang berusia lima tahun, bernama Haidar Hamka Stuart.
Sampai di kampus.
"Kai jangan takut, kamu belajar berkomunikasi dengan dia, mungkin dia hanya butuh bantuan saja" ucap Hamka
"Nggak mau, Kai takut, kenapa nggak Om atau Daddy saja yang ngobrol sama dia?" tanya Kaivalya
"Dia hanya mau dengan kamu, karena buah yang Daddy kamu berikan itu memang khusus untuk kamu dan Harsya, tapi kan Harsya sekarang sedang sekolah bersama Fatih di kampung Mahoni, dia tidak bisa bantu Kamu" jawab Hamka
"Ajak Mustafa, dia juga bisa melihat hantu" ucap Hamka
"Mustafa?"
"Iya, kamu lupa Mustafa anaknya siapa? Otomatis bakatnya juga menurun pada anak anaknya" jawab Hamka
"Ya sudah, Kai ajak Mustafa ngobrol sama anak itu nanti" jawab Kaivalya mencium tangan Hamka yang akan berangkat ke kantor.
"Ayo Haira, Abang antar kamu ke gedung SD" ajak Zeeshan berjalan ke arah Smith internasional school.
"Anak itu masih mengikuti kamu?" tanya Icang genderuwo penunggu Smith internasional school dan Smith university.
"Masih Om, dia ganggu tidur Kaivalya setiap malam" jawab Kaivalya
"Dia tidak mau bicara pada siapapun, mungkin dia hanya mau bicara dengan kamu" ucap Icang lalu menghilang dari sana
Kaivalya menatap sosok anak kecil itu yang terlihat senang karena Kaivalya tidak mengabaikannya lagi, dia mendekat dan menggenggam tangan Kaivalya sambil tersenyum manis. Dingin, tak ada rasa sentuhan yang di rasakan Kaivalya, tapi rasa dingin itu cukup menusuk kulitnya dan membuat dia kedinginan.
"Lepas dulu, aku harus pakai jaketku" ucap Kaivalya dan anak kecil itu mengangguk sambil memperhatikan Kaivalya mengambil jaketnya di dalam tas.
"Ayo, kita temui Mustafa, aku butuh beradaptasi sekarang, satu bulan melihat banyak hal aneh, cukup membuat otakku juga aneh" ajak Kaivalya meraih tangan anak itu dan berjalan ke arah fakultas tempat dia belajar karena tadi Mustafa pamit lebih dulu untuk memberikan tugas miliknya yang baru selesai.
Sampai di kelas, dia langsung mendekati Mustafa dan duduk di sampingnya sambil tersenyum manis, secara garis keturunan Mustafa adalah keponakan Kaivalya jadi Mustafa secara otomatis memanggil Kaivalya dengan panggilannya Om meskipun usia Mustafa lebih tua satu tahun di banding Kaivalya.
"Apa?" tanya Mustafa dengan nada ketus
"Tanya anak ini, anak ini anak kamu kan? Dia suka kamu katanya" jawab Kaivalya tanpa basa basi.