Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2_Kisah masa lalu
[Kilasan Balik]
Mataku meredup. Dunia di sekitarku jadi buram.
Sejak dulu aku selalu dijauhi oleh semua orang. Tidak ada yang mau mendekat.
*Tak! Tak! Tak!*
Batu-batu kecil menghantam tubuhku. Sakit. Perih. Dingin.
William dan anak-anak bangsawan lain tertawa terbahak-bahak sambil melemparinya dari atas. Suara tawa mereka menusuk telinga.
"Lihat itu... dasar sampah. Tidak berguna... mati saja kau," ejek mereka dengan wajah puas.
"Lihat... itu Kai. Sungguh menggelikan. Dia tidak memiliki bakat sihir seperti kita," kata salah satu dari mereka sambil menunjuk dengan dagu terangkat.
"Padahal dia lahir di keluarga kerajaan. Tapi dia benar-benar mirip rakyat jelata," timpal yang lain, meludah ke dekat kakiku.
*Puih!*
Mereka berdiri dengan dagu terangkat, menatapku dari atas dengan tatapan hina, seolah aku bukan manusia.
Angin berhembus pelan di atas tebing, membawa debu ke mataku yang sudah perih.
*Wuuussh...*
Sejak hari itu, aku terus berlatih ilmu bela diri dari Ibu. Setiap hari. Tanpa henti.
Setiap ayunan pedang kayu meninggalkan peluh dan darah di tubuhku.
*Swish! Swish!*
*Hah... hah...*
Aku melirik ke arah Ibu yang berdiri jauh di sana, memeluk dirinya sendiri dengan cemas.
Aku tidak ingin dilindungi olehnya terus-menerus. Aku benci terlihat lemah di depannya.
Dadaku terasa sesak. Nafasku tercekat, tenggorokanku seperti diikat.
_...Apa aku benar-benar tidak pantas hidup di dunia ini??_
_Apa aku harus terus menerima ejekan seperti ini seumur hidupku??_
Bahuku terkulai lemas. Luka di sekujur tubuhku sudah banyak yang membekas, perih setiap kali angin menyentuhnya.
Pandanganku kosong menatap Ibu dari kejauhan.
_Entah kenapa, sejak setahun berlatih ini, duniaku terasa abu-abu._
_Aku benar-benar kehilangan siapa jati diriku._
_Mungkin aku kehilangan sesuatu yang penting di hatiku._
_Tapi menurutku itu tidak masalah._
_Setidaknya aku tidak harus menderita lagi seperti dulu._
Hanya ketika melihat Ibu tersenyum dari jauh, sudut bibirku tanpa sadar ikut terangkat sedikit, meski mataku masih kosong.
_...Tapi satu-satunya orang yang bisa membuat semua itu berubah, hanya Ibu._
_Jika saja aku memiliki kekuatan, akan ku ubah seluruh dunia ini._
_Menjadi tempat di mana orang-orang seperti kami bisa hidup tenang._
_Tanpa perlakuan kasar setiap hari._
Kedua tanganku mengepal sampai buku-buku jariku memutih dan bergetar.
*Krek...*
[Akhir Kilasan Balik]
[3 hari setelahnya]
Hari ini. Upacara Berkah.
Aku berjalan menuju tempat upacara dilaksanakan. Langkahku berat, setiap pijakan terasa seperti menyeret rantai.
*Tap... tap... tap...*
Setiap anak di kerajaan ini wajib mengikutinya.
Untuk menentukan apakah kau "layak hidup" atau tidak saat berumur 8 tahun.
Dan yang "layak" itu selalu mereka. Yang berasal dari keluarga kerajaan.
Seperti Tia. Dia memiliki bakat sihir bawaan yang sangat bagus.
Bahkan dijuluki "Calon Sage".
William. Memiliki bakat langka.
Diberkahi langsung oleh "Dewi Kasih Sayang" dan diberi julukan "Pahlawan Cahaya".
Dewi sialan.
Padahal gereja selalu berkata bahwa Dewi itu akan selalu adil.
Aku meludah ke tanah dengan rahang mengeras.
*Puih!*
Terus menggerutu dalam hati, dadaku panas.
"Berikutnya! Kai!" panggil Paus Lumbergt, suaranya menggema di aula.
Langkahku berat. Bahuku tegang, keringat dingin mengucur di pelipisku.
Puluhan pasang mata menatapku. Sinis. Menghina. Menunggu aku gagal dan mempermalukan diri sendiri.
Di antara kerumunan itu, aku melihatnya. Ibu.
Dia tersenyum padaku. Lemah. Dipaksakan. Tapi tetap tersenyum.
Tangannya saling menggenggam erat di depan dada, gemetar, cemas.
_...Aku harus menjadi lebih kuat. Tolong beri aku kekuatan..._
"Baiklah, Kai. Mari kita lihat berkah dan bakat apa yang Dewi berikan kepadamu," kata Paus Lumbergt dengan senyum tipis yang meremehkan.
"Nah Kai, bisakah kau memegang bola kristal itu??"
Bola kristal putih. Besar. Mengilap. Dingin.
Tanpa ragu, aku meletakkan tanganku di atasnya dengan napas tertahan.
Hening.
*Hening...*
Tanganku terasa seperti es yang menusuk tulang. Napasku tertahan, jantungku berhenti sesaat.
*Deg!*
Detik berikutnya.
*DOOM!!!*
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Dingin. Tajam. Dan penuh benci. Mataku melebar, napasku tercekat.
Udara di aula membeku seketika. Lantai marmer retak dengan suara keras.
*Kraakkk!*
Aura hitam pekat meledak dari tubuhku.
*Bwoooosshhh!!!*
Menyambar ke seluruh ruangan seperti kabut kematian, membuat obor-obor padam.
"Aura itu... jadi dia anak yang ada dalam ramalan Sang Dewi..!?" seru seorang bangsawan dengan wajah pucat pasi, suaranya bergetar ketakutan.
Seruan panik menggema di seluruh aula.
*Bising! Gaduh!*
Bahkan Raja yang duduk di singgasana pun berdiri mendadak, kursinya terjatuh ke belakang.
*Brak!*
Wajahnya pucat ketakutan dan berteriak dengan suara melengking,
"PENGAWAL!! TANGKAP ANAK ITU!"
Tolong tambahin juga raut wajah sedikit